Serunya Menjadi Penari Dadakan di Australia

0
245
Menari bersama komunitas Lenggok Geni

Belajar di luar negeri bukan berarti hanya menghabiskan waktu untuk belajar di kampus. Kolumnis Destari Puspa Pertiwi membuktikan bahwa belajar bisa sambil mempromosikan budaya Indonesia. Berikut cerita Destari saat membawakan tarian Indonesia saat sedang menjalankan kuliah di Melbourne, Australia.

***
Kuliah di luar negeri sambil belajar menari tradisional? Wah, memang bisa? Jawabannya adalah bisa banget! Apalagi jika kita melakukannya bersama teman – teman yang juga tengah menempuh studi. Saat ini saya sedang menjalani hari – hari perkuliahan sebagai mahasiswa master di Monash University, Melbourne Australia. Selain kuliah formal, ada keseruan tersendiri ketika saya mempelajari dan juga bisa menampilkan kebudayaan Indonesia saat jauh dari kampung halaman. Rasa kangen akan suasana Indonesia dan keinginan untuk bisa belajar menari membuat saya mencari beberapa komunitas Indonesia yang ada di Melbourne. Dari beberapa  komunitas yang ada dan saya temukan salah satunya adalah Komunitas Lenggok Geni. Di samping itu, saya merasa penting juga untuk mencari kegiatan positif yang berguna sebagai proses aktualisasi diri karena terkadang saya jenuh ketika harus berhadapan dengan seabrek tugas kuliah dan bahan bacaan yang diberikan oleh dosen.

Komunitas tari tradisional “Lenggok Geni” di Melbourne yang pada awalnya merupakan bagian dari Grup Saman Monash Indonesian Islamic Society (MIIS). Tetapi ternyata antusiasme akan komunitas tari ini semakin diminati terutama untuk penampilan tari tradisional sehingga membuat Lenggok Geni kemudian berdiri sendiri pada 13 Maret 2015. Untuk saat ini, para anggota dari Lenggok Geni tidak terbatas hanya mahasiswa dari Monash University saja namun beberapa mahasiswa dari universitas lain seperti Deakin University dan William Angliss Institute serta masyarakat Indonesia yang sudah  bekerja dan bermukim di Australia. Beberapa bentuk kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini adalah latihan tari tradisional, workshop bagi sekolah – sekolah di Australia, pentas tari dan festival budaya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Victoria. Sederet acara yang sudah diikuti oleh komunitas ini adalah Celebration of Indonesia di Melbourne Town Hall (2017), Nusantara Street Food Festival di Victoria Market (2017), Indonesia Multicultural Festival (2017 & 2018) di Dandenong Market, Melbourne, Australia. Bahkan, komunitas ini sempat menjadi salah satu pengisi acara pada perhelatan ASEAN Games 2015.

Picture2
Kemeriahan menari Maumere di Federation Square, Melbourne

Dengan mengikuti kelompok tari ini, saya jadi memiliki peluang untuk bisa terlibat dalam acara – acara yang mempromosikan kebudayaan di Melbourne. Buat saya yang masih kategori pemula dan bisa dibilang sebagai penari dadakan ini menjadi motivasi buat saya untuk terus memperbaiki penampilan di setiap manggung. Salah satu momen yang tidak bisa saya lupakan adalah kesempatan untuk mengisi perayaan hari kemerdekaan Indonesia dengan menampilkan tarian khas dari Jawa Barat yaitu Jaipong di Federation Square. Sebelumnya, saya belum pernah belajar tarian ini dan tampil di depan ratusan pasang mata tentu membuat saya sedikit grogi. Walaupun saya sempat salah gerakan tapi saya tetap harus menyelesaikan pertunjukan di momen spesial perayaan hari kemerdekaan itu. Jujur saya pun terharu bisa ambil bagian di acara tersebut apalagi ketika saya sedang berada jauh dari Indonesia. Karena untuk mempersiapkan acara ini, saya dan anggota yang lain kadang harus berlatih sampai larut malam karena memang jadwal kuliah kami yang tengah padat atau anggota yang juga harus bekerja. Hal tersebut akhirnya terbayar melihat antusiasme dari masyarakat Indonesia maupun Australia.

Kami juga sempat mengajak pengunjung untuk menari bersama dengan irama musik Maumere. Semua orang ikut membaur berdendang sambil bergoyang mengikuti irama musik membuat acara semakin semarak. Beberapa pengunjung yang merupakan warga lokal pun sempat mendatangi kami para penari dan bertanya tentang pertunjukan yang kami tampilkan. Mereka pun mengaku sangat senang karena juga bisa ikut menari bersama di akhir acara.

Picture3
Menari Jaipong

Hal menyenangkan lainnya adalah ketika saya dan anggota team yang lain berkesempatan untuk mengisi materi workshop di salah satu sekolah di Australia. Itu juga pengalaman pertama kalinya saya memberikan pelajaran singkat tentang kesenian tari tradisional di depan siswa – siswi sekolah menengah pertama di sana. Kami membawakan tarian Betawi karena relatif lebih mudah untuk diajarkan kepada para siswa. Saat mengisi sesi, kami menjelaskan terlebih dahulu tentang sejarah tarian tersebut lalu kemudian mengajak mereka untuk mengikuti gerakan tarian. Hal yang kemudian menjadi lucu adalah saat para siswa mencoba mengikuti tempo dengan berbagai gerakan tambahan yang mereka buat – buat sendiri. Untuk membuat mereka juga bersemangat, kami juga memberikan kuis seputar penjelasan tarian dan bagi mereka yang bisa menjawab ada souvenir khas Indonesia untuk mereka.

ondel - ondel 6
Persiapan sebelum menari Betawi

Banyak hal positif yang saya rasakan setelah mengikuti kegiatan ini karena saya jadi berusaha menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan non akademik dengan mengikuti komunitas tari. Pengalaman menari bersama teman – teman baru selama di Australia juga membuat rasa kekeluargaan kami sebagai anak rantau menjadi semakin kuat. Tak jarang kami pun juga membuat acara perpisahan jika ada anggota kami yang harus pulang duluan ke Indonesia. Tetapi juga selalu tetap optimis ketika nantinya akan ada wajah – wajah baru yang juga ikut menari bersama. Pengalaman – pengalaman menari di komunitas ini juga tentunya memperkaya pengetahuan saya tentang beberapa tarian tradisional khas Indonesia sehingga mau tidak mau ketika ada jadwal tampil kami harus piawai dalam membawakannya. Komunitas ini dapat berjalan hingga sekarang karena para anggota senang bisa menyalurkan hobi dan sarana melepas penat dengan rutinitas walaupun terkadang kami menari juga untuk acara – acara yang sifatnya sukarela sehingga tidak selalu mendapat bayaran. Yang terpenting bagi saya dan anggota tim yang lainnya adalah tentang bagaimana kami bisa terus mempromosikan kebudayaan Indonesia di kancah mancanegara sehingga makin banyak orang yang ingin belajar tentang kebudayaan kita.

***

Sumber foto : Destari Puspa Pertiwi