Memulai Petualangan di Australia dengan Work & Holiday Visa

0
2461
Sasha menyempatkan berfoto di depan Indonesia Building ketika berkunjung ke Hong Kong

“Riri!”, seorang wanita manis berbaju biru memanggil nama saya sembari menuruni anak tangga memasuki sebuah restoran Indonesia di bilangan Causeway Bay, Hong Kong.

Ternyata saya masih mengenali pemilik suara renyah itu. Sosok itu adalah Faatih Natasha Putri, yang akrab dipanggil Sasha; Kami lulus dari SMP dan SMA yang sama di Kota Medan. Sudah saling mengenal kurang lebih selama 2 windu. Sasha yang saya kenal memang penuh keceriaan dan aura positif maka meskipun sudah hampir 10 tahun kami tidak pernah benar-benar bercengkrama, tidak ada kecanggungan sama sekali dan pertemuan kami selama 3 jam itu berlalu dengan sangat cepat.

* * *

Sasha dan Riri di sebuah restoran Indonesia di Hong Kong
Sasha dan Riri di sebuah restoran Indonesia di Hong Kong

“Sasha baru aja selesai kuliah, Ri… Jadi sekarang mau nyantai dulu lah, sambil mempersiapkan langkah selanjutnya.” Ternyata kunjungannya ke Hong Kong adalah dalam rangka mengapresiasi diri sendiri karena sudah sukses menuntaskan studi S2 dari Charles Darwin University, di Darwin, Australia pada November 2018 lalu. Sasha tidak mendapatkan sponsor dari lembaga beasiswa manapun, seluruh biaya perkuliahan ia tanggung sendiri dengan bekerja. Ini yang membuat saya tertarik untuk mengulas cerita hidupnya di Australia.

Sejak dulu, Sasha ingin sekali berkesempatan melanjutkan kuliah di luar negeri, terutama di Jerman, tetapi tidak cukup percaya diri kalau ia bisa mewujudkan mimpinya. “Jangankan Bahasa Jerman, Bahasa Inggris saja masih pas-pasan,” pikirnya saat itu. Namun, pola pikir ini berubah ketika ia melakukan perjalanan ke Eropa dan bertemu dengan anak-anak muda di Eropa melalui jaringan situs coachsurfing.com. Mereka lah yang pertama kali mengenalkan Sasha dengan skema Work & Holiday Visa (WHV) di Australia dan New Zealand yang memang sering dicoba oleh anak-anak muda asal Eropa. Dari hasil penelusuran lebih lanjut, ternyata hanya Australia yang membuka skema WHV bagi warga negara Indonesia.

Bagi yang tertarik, ragam persyaratan untuk aplikasi WHV ke Australia bisa dilihat di sini. Sampai saat ini, Indonesia hanya diberikan kuota WHV sebanyak 1000 orang per tahun oleh pemerintah Australia. Pada saat Sasha mendaftar di tahun 2014, durasi WHV hanya 1 tahun tanpa perpanjangan. Tetapi kini sudah diperbolehkan hingga 2 tahun, jadi setelah visa tahun pertama habis kita bisa mengajukan perpanjangan untuk tahun berikutnya.

* * *

Berbekal WHV yang sudah disetujui dan tekad yang kuat, Sasha memulai perjalanannya di negeri kangguru itu pada tahun 2014. “Awalnya sih Sasha muter-muter Australia, Ri. Hidup dan bekerja di kota yang dikunjungi, sambil jalan-jalan lah. Nah, abis itu menetap di Darwin deh.” Ada beberapa pertimbangan Sasha kenapa saat itu ia memutuskan untuk tinggal dan melanjutkan studi S2 di Darwin. Pertimbangan pertama mengacu pada sistem poin yang ditetapkan pemerintah Australia yang akan berpengaruh terhadap peluang aplikasi Permanent Residency. Jika kita berkerja dan berkuliah di daerah yang lebih terpencil, maka kita akan mendapatkan poin lebih tinggi karena wilayah-wilayah ini memang kekurangan sumber daya manusia. Misalnya, poin yang didapatkan Sasha dengan bekerja dan berkuliah di Darwin akan lebih tinggi dibandingkan di jika ia di Sydney.

Pertimbangan keduanya adalah besaran upah minimum. Menurut Sasha, upah minimum di Australia ‘bagian atas’ seperti Darwin lebih besar daripada di ‘bagian bawah’. Di Darwin, Sasha bekerja di sektor hospitality, yaitu pada bagian katering sebuah perusahaan tambang yang letaknya di pelosok. Dikarenakan lokasi yang terpencil dan tidak strategis, Sasha bisa mengantongi upah sebesar $25 per jam dari yang umumnya diberikan (yaitu $23 per jam untuk Australia ‘bagian atas). Sementara di Australia ‘bagian bawah’ biasanya kisaran upah per jam bahkan lebih rendah daripada di ‘bagian atas’ dikarenakan banyaknya jumlah pekerja dan daya saing yang lebih tinggi sehingga mereka bisa menekan besaran upah per jam. “Sasha di Australia kan semuanya pakai uang sendiri dan terkadang juga masih bantuin orang tua biayain sekolah adik-adik di Medan. Jadi hasil kerja di Darwin ya lumayan banget.”

Pertimbangan terakhirnya, selain sistem poin dan besaran upah minimum, adalah faktor iklim. Iklim di Darwin ternyata mirip dengan Indonesia yang hanya terdiri dari dua musim, yaitu musim kering dan musim hujan. Sehingga tidak sulit bagi orang Indonesia beradaptasi di Darwin. “Ya berasa kayak di Indonesia aja, gak ada yang berbeda.”

* * *

Selama bekerja dan jalan-jalan, Sasha tidak pernah lupa menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk melanjutkan pendidikan. Memasuki bulan ke-9 di Australia, Sasha semakin serius mempersiapkan diri untuk mengenyam perkuliahan di Australia. Kemampuan bahasa Inggris Sasha memang menjadi semakin baik setelah tinggal di Australia karena selalu digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari, tetapi menurutnya belum cukup mumpuni untuk menjadi modal S2. Maka ia memutuskan untuk mengambil kelas intensif bahasa Inggris selama 10 minggu di Navitas English Darwin. “Bayarnya mahal sih, $300 per minggu, tapi mau gimana lagi soalnya kan Sasha butuh.”

Sasha saat menghadiri peluncuran studyNT Ambassador tahun 2016 di Darwin
Sasha saat menghadiri peluncuran studyNT Ambassador tahun 2016 di Darwin

Dalam hal izin tinggal selama berkuliah, visa Sasha berubah dari WHV menjadi visa pelajar. Seseorang dengan visa pelajar di Australia juga masih diperbolehkan bekerja jadi Sasha masih bisa mengalokasikan waktu untuk bekerja dan berkuliah di saat bersamaan. Ketika masa perkuliahan sedang berlangsung, ia diperbolehkan bekerja paruh waktu (20 jam per minggu), sementara ketika masa liburan, ia diperbolehkan bekerja penuh waktu (40 jam per minggu). Sasha sempat mendapatkan pekerjaan di bidang akuntansi selama 9 bulan. Setelah itu, ia kembali ke sektor hospitality dengan atasan yang suportif dengan perkuliahannya. “Alhamdulillah, bosnya baik, Ri. Sasha dikasi jadwal kerja di hari Sabtu dan Minggu jadi gak mengganggu jadwal kuliah. Trus kalau kerja di hari Sabtu upah per jam-nya lebih tinggi 75% dari hari biasa dan kalau di hari minggu upahnya bahkan bisa dua kali lipat.” Ia pun banyak menabung ketika libur perkuliahan dimana ia bisa bekerja penuh waktu.

* * *

Saya penasaran kira-kira setelah Sasha menyelesaikan studi S2 dari CDU, rencana petualangan hidup apa lagi yang ada di benaknya. Ternyata Sasha sedang merintis bisnis di bidang konsultansi bersama teman-temannya di Indonesia. Selain itu, ia juga sedang memproses aplikasi Permanent Residency (PR) di Australia. Poin yang ia kumpulkan dengan bekerja dan berkuliah di sana sudah mencukupi untuk dapat mengajukan aplikasi PR ini. Sekembalinya Sasha dari Hong Kong, ia harus dihadapkan dengan tes bahasa Inggris berupa Pearson Test of English (PTE) atau  International English Language Testing System (IELTS) dengan hasil minimal 7 di setiap komponen penilaian. Jika Sasha berhasil mendapatkan status PR maka ia akan lebih mudah melamar pekerjaan kerah putih ataupun menjalankan bisnis di Australia. Dengan status PR nantinya bukan berarti Sasha sama sekali tidak ingin kembali ke Indonesia, ia hanya menggunakan kesempatan ini sebagai batu loncatan karir dan juga modal usaha. Justru ia ingin sekali berkecimpung di sektor sosial dan kemanusiaan di Indonesia; sebuah mimpi lainnya yang akan ia wujudkan kelak.

Apakah kamu juga ingin membuka jalanmu menuju Australia? Apa yang dilakukan Sasha bisa menjadi salah satu cara yang kamu tempuh loh untuk hidup, bekerja dan berkuliah di Australia.

* * *

Artikel ini ditulis oleh Siti Octrina Malikah dan diedit oleh Indira Pranabudi. Berikut adalah biografi singkat dari Faatih Natasha:

Sasha saat pelaksanaan program diskusi bulanan PPIA di Darwin
Sasha saat menghadiri pelaksanaan program diskusi bulanan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Darwin

Faatih Natasha Putri, lahir dan besar di Medan, Sumatera Utara, menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan Charles Darwin University di
Australia. Ia aktif dalam kegiatan organisasi dan volunteer seperti BEM FEUI, StudyNT Ambassador, dan terakhir menjabat sebagai Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia NT. Ia mendapatkan penghargaan sebagai International Business Student of The Year oleh pemerintah Northern Territory Australia dan juga merupakan kontributor buku Anak Rantau Indonesia Working Holiday di Australia. Saat ini, ia aktif dalam pengembangan bisnis sederhana dengan rekannya yang fokus pada research support dan development project implementation. Silahkan hubungi Sasha melalui email faatihnatasha@gmail.com.

Sumber foto: Siti Octrina Malikah & Faatih Natasha Putri