Magang dan Belajar tentang Permukiman Berbasis Masyarakat di Thailand

0
1450

Memiliki ketertarikan yang berbeda dengan arsitek kebanyakan, Dea memutuskan untuk mendalami hubungan arsitektur dengan manusia dan lingkungan di jenjang master. Di masa kuliah master inilah Dea berkesempatan untuk magang di Community Organizations Development Institute, Thailand. Yuk simak ceritanya!

Berkuliah di jurusan arsitektur bagi sebagian orang mungkin merupakan jalan menuju mimpinya menjadi arsitek. Namun tidak demikian bagi saya. Walau mengambil kuliah S1 jurusan Arsitektur di Universitas Indonesia, bisa dikatakan saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang arsitek. Ketika lulus S1, Bapak saya menyarankan untuk mengikuti tes CPNS dan ternyata saya lulus sebagai pegawai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Setelah beberapa tahun bekerja di Kementerian PUPR, saya semakin menyadari bahwa ketertarikan saya terhadap arsitektur sedikit berbeda dengan mainstream yang ada. Saya tertarik dengan arsitektur dan alam di sekitarnya yang menurut saya menjadi suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Lebih spesifik lagi, saya memiliki perhatian lebih pada hubungan arsitektur dengan manusia, baik itu hunian maupun ruang publik. Berangkat dari hal tersebut saya ingin meneruskan studi saya di bidang arsitektur yang berfokus pada manusia dan lingkungan hidup. Setelah melewati beberapa proses seleksi, akhirnya saya diterima berkuliah S2 di Graduate School of Global Environmental Studies (GSGES), Kyoto University, di mana saya tergabung dalam laboratorium Global Environmental Architecture.

GSGES memiliki mata kuliah wajib yaitu magang atau internship selama kurang lebih 3 bulan di instansi pilihan yang sesuai dengan minat atau topik riset. Sebenarnya saya berniat untuk mengambil program internship di organisasi internasional di Jepang, namun karena kendala bahasa maka saya segera menyiapkan untuk dapat melaksanakan internship di Indonesia. Seiring berjalannya waktu perkuliahan, supervisor saya menyarankan untuk tidak hanya internship di Indonesia tetapi juga di negara lain yang memiliki metode atau percontohan yang baik sehingga saya dapat melakukan perbandingan untuk kemudian saya jadikan bahan menulis tesis. Saya sangat senang dengan saran supervisor saya tersebut, terlebih lagi pada saat itu salah satu senior lab saya dari Thailand sedang dikunjungi oleh koleganya yang bekerja di salah satu badan non-pemerintah di Thailand bernama Community Organizations Development Institute (CODI). Salah satu tugas CODI yaitu mendukung pemberdayaan komunitas di bidang pengembangan permukiman hingga peningkatan kualitas lingkungan hidup. Pada kunjungan tersebut, saya diperkenalkan kepada kolega senior saya dan diajak melihat pemaparan kegiatan-kegiatan CODI. Kemudian supervisor saya menawarkan apabila saya tertarik maka pihak kampus akan menghubungi CODI secara langsung untuk dapat menerima saya magang selama 1 bulan di sana. Saya pun menyetujui dan menyambut penawaran beliau dengan bersemangat.

Wawancara dengan tim CODI dan community leader
Wawancara dengan tim CODI dan community leader

CODI merupakan badan non pemerintah yang disupervisi langsung oleh Thailand Ministry of Social Development and Human Security. Salah satu program CODI yaitu Baan Mankong, suatu program nasional Thailand untuk meningkatkan kualitas permukiman dan jaminan akan kepemilikan rumah tinggal bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Selama kurang lebih 1 bulan magang di CODI, saya melakukan riset terkait program Baan Mankong ini melalui wawancara dengan pejabat serta tenaga ahli yang bekerja di CODI dan juga observasi terhadap kegiatan-kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Saya diajak ke beberapa lokasi kegiatan Baan Mankong dan melihat langsung proses pendekatan yang dilakukan oleh arsitek maupun perencana kepada masyarakat. Saya sangat tertarik dengan kegiatan para arsitek dan perencana muda yang secara intensif melakukan pertemuan dengan masyarakat untuk menyampaikan informasi dan mengajarkan kepada mereka mengenai berbagai keuntungan yang bisa didapat melalui program Baan Mankong ini. Sebagian besar lokasi yang saya kunjungi adalah kegiatan relokasi rumah tinggal masyarakat yang menghuni di lahan ilegal. Ada yang direlokasi ke tempat baru, ada pula yang tetap di lokasi yang sama namun bangunannya ditata sehingga lingkungannya menjadi lebih sehat, nyaman, dan layak huni.

Diskusi dengan tim CODI dan community leader
Diskusi dengan tim CODI dan community leader
Contoh perencanaan penataan permukiman bantaran sungai
Contoh perencanaan penataan permukiman bantaran sungai

Bekerja dengan masyarakat tentu tidak mudah, apalagi harus meyakinkan mereka yang telah tinggal di lahan ilegal selama lebih dari 1 generasi. Namun program Baan Mankong ini sangat berpedoman pada konsep berbasis masyarakat, dengan minat penataan dan konsep perencanaan diinisasi oleh komunitas itu sendiri untuk kemudian CODI memfasilitasi secara teknis dan keuangan berupa uang pinjaman (loan). Komunitas masyarakat yang ingin lingkungan permukimannya ditata harus mengajukan proposal kepada CODI dan membuktikan bahwa mereka sanggup menabung untuk mendapatkan pinjaman dari pemerintah. Sebagai contoh, warga yang tinggal di bantaran sungai terancam oleh rencana pemerintah yang akan melakukan normalisasi dan pelebaran sungai. Di sini lah peran komunitas menjadi sangat penting karena mereka dapat mengajukan kepada CODI bahwa mereka mau permukimannya ditata agar tidak kehilangan tempat tinggal. Selain itu, keuangan yang diusahakan oleh masyarakat sendiri memberikan rasa kepemilikan lebih kuat sehingga keberlanjutannya menjadi lebih terjamin. Pada proses ini saya sangat salut dengan metode CODI yang tidak memaksakan masyarakat yang tidak mau ikut serta dalam program ini. Saya melihat sendiri warga yang semula menolak rumahnya ditata akhirnya sukarela mendaftarkan diri untuk ikut program dan menabung. Hal ini karena warga tersebut melihat sendiri dampak positif yang dihasilkan selama proses perencanaan pada saat diskusi antar warga dengan CODI yang dilakukan secara intensif.

Kunjungan ke lokasi penataan permukiman
Kunjungan ke lokasi penataan permukiman

Selama menjalani internship bersama CODI, hambatan utama yang saya alami adalah kendala bahasa. Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, ternyata di Thailand hanya sedikit orang yang mampu berbahasa Inggris. Hanya di lingkungan tertentu di Bangkok saya dapat menemukan orang-orang yang fasih berbahasa Inggris seperti di kantor atau universitas. Selain itu juga cukup sulit mencari makanan halal karena menu yang tertulis adalah dalam aksara yang tidak dapat saya pahami. Namun setelah beberapa hari tinggal di sana, saya mempelajari sedikit bahasa Thailand yang dapat membantu saya memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti jenis makanan atau sekedar menanyakan arah.

Saya sangat beruntung dapat berkesempatan melakukan riset dan internship di Thailand, khususnya di instansi yang cukup terdepan seperti CODI. Sangat menarik bagi saya bahwa CODI dan program Baan Mankong ini pada awalnya belajar dari program yang diinisasi oleh Indonesia, namun dapat berlanjut dan berkembang menjadi seperti sekarang ini. Hal ini menyadarkan saya bahwa tugas kita dalam membangun dan mengembangkan lingkungan permukiman yang layak huni masih sangat banyak. Saya juga bersyukur setelah lulus S2 dan kembali bertugas di Kementerian PUPR, saya ditempatkan di Direktorat Jenderal Cipta Karya yang memiliki tugas dan fungsi di bidang pengembangan kawasan permukiman. Saya merasa seperti diberikan amanah untuk dapat menerapkan ilmu dan pengalaman yang telah saya peroleh selama studi S2 ini sehingga saya dapat memberikan kontribusi pada pembangunan Indonesia khususnya di bidang perumahan dan permukiman.