Memoar Perjalanan Haji Pelajar Asal Indonesia dari Selandia Baru (Bag 2)

Labbaik! O Allah, here I come

0
980
Nurul hanya bisa mengusap peta Indonesia di layar ini sambil meneteskan air mata dalam perjalanannya dari Selandia Baru ke Arab Saudi

Setelah bercerita proses persiapan perjalanan haji pada bagian 1 artikel ini, pada bagian 2 artikel ini Nurul akan menuliskan agenda haji yang ia jalani dan pengalaman spiritual yang ia dapatkan. Nurul juga berbagi beberapa tips ketika melaksanakan haji berdasarkan pengalamannya. Nah, berhaji di tengah-tengah studi S3 ternyata tidak mustahil. Nurul sudah membuktikannya. Berminat?

***

Di Indonesia, biasanya akan dilaksanakan acara doa untuk calon jemaah haji lalu ia akan dilepas oleh keluarga, tetapi saya tidak mendapat kemewahan tersebut karena saya berangkat haji dari Negeri Kiwi ini. Bahkan ketika saya dan suami menyeret koper kami pada Sabtu pagi, 11 Agustus 2018, kami melewati bar dengan botol minuman keras sisa pesta malam sebelumnya dan orang-orang asing kulit putih yang menatap kami tanpa tahu kami akan berangkat haji, sebuah perjalanan yang sangat sakral jika dilakukan dari Indonesia. Tetapi justru dalam kesunyian itu, saya merasa begitu dekat dengan Allah dan hanya Allah yang membawa kami ke rumah-Nya.

Yak, saya dan suami pun meninggalkan Auckland dan memulai perjalanan haji kami. Benar-benar perjalanan panjang. Kami menempuh waktu selama 4 jam dari Auckland ke Melbourne, lalu 11 jam dari Melbourne ke Colombo, Sri Lanka. Kami menginap  satu malam di Colombo lalu meneruskan perjalanan menuju Jeddah selama 6 jam. Sepanjang jalan saya hanya bisa menelepon Abah saya saat ada wifi di bandara dan cukup sering menangis di telepon. Abah pun cuma bisa berkata “Hati hati Nak lah”. Subhanallah, sungguh perjalanan haji ini sangat mengharu biru buat saya.

Nurul dan suami berfoto di depan Ka'Bah. Jika Allah berkehendak maka apapun bisa terjadi.
Nurul dan suami berfoto di depan Ka’Bah. Jika Allah berkehendak maka apapun bisa terjadi.

Kami tinggal di Makkah selama 7 hari sebelum musim haji dimulai. Alhamdulillah, biaya 103 juta yang kami keluarkan ternyata sungguh berkah. Kami menginap di hotel bintang lima di Clock Tower Makkah. Kami hanya perlu jalan kaki sebentar untuk memasuki masjid Al Haram. Hari itu saya menyelesaikan umrah pertama saya, lalu umrah kedua untuk ibu saya yang sudah berpulang ke sisi Allah. Saya juga berniat untuk mengkhatamkan Al-Quran untuk ibu saya selama di tanah suci. Bayangkan saja, saya berangkat ke Auckland sebagai anak kos yang tidak punya apa apa ketika memulai perjalanan PhD saya di 2015, namun 3 tahun kemudian saya dipanggil oleh Allah untuk bisa melihat Ka’Bah dan kebesaran-Nya secara langsung. Subhanallah.

Setelah 7 hari di Makkah, kami pun berpindah ke Mina. Kami tinggal selama 5 hari di Mina untuk menyelesaikan seluruh ritual haji. Dengan senang hati saya ingin berbagi detail ritual haji saya:

Hari 1 (8 Dzulhijah): Kami ditransfer dari hotel menuju tenda di Mina. Ada 4,5 juta muslim yang memenuhi Mina saat itu, tidak termasuk para penduduk Makkah yang bisa datang langsung ke Arafah pada musim haji. Bisa dibayangkan, dari Selandia Baru yang tingkat kepadatan penduduk sangat rendah, tiba tiba saya dihadapkan dengan lautan manusia. Meskipun saya dan suami mendapatkan tenda VIP bersama dengan para jemaat maktab 41A, dari Australia, Amerika dan Eropa namun ternyata jumlah jemaat memang sangat banyak. Tenda kami bergoyang-goyang di malam pertama kami di Mina. Di sini saya belajar bahwa sekaya pun kita, di Mina semuanya sama, tidur bersempit-sempitan dan berbagi toilet dengan 800 orang lainnya, maka jangan lah sekali-sekali kita menjadi manusia yang sombong.

Suasana wukuf di Arafah, Jabal Rahmah, 9 Dzulhijjah 1439 H
Suasana wukuf di Arafah, Jabal Rahmah, 9 Dzulhijjah 1439 H

Hari 2 (9 Dzulhijah): Pagi hari, kami sudah naik bus menuju Arafah. Ini adalah hari puncak haji. Kami akan wukuf di Arafah dari selepas Zuhur hingga terbenam matahari. Trust me, saat ini kita tidak akan kuat untuk tidak menangis. Kita harus kuat secara fisik karena akan berjemur di bawah matahari dan tidak disarankan berada di dalam tenda kecuali memang benar-benar tidak kuat. Kita disarankan untuk banyak baca zikir, berdoa memohon ampun pada Allah. Benar-benar berasa seperti di Padang Mahsyar. Suasana juga begitu mencekam karena banyak helikopter di atas kepala kami yang merupakan fasilitas dari pemerintah Arab Saudi bagi para jamaah haji yang sakit di rumah sakit untuk hadir di Arafah. “Hajj is Arafat”, itu sabda Rasulullah SAW. Tidak ada haji tanpa hadir di Arafah meski hanya 5 menit saja.

Setelah matahari terbenam, kami dibawa ke Musdalifah. Di sini kami harus mengumpukan batu untuk lontar jumrah. Ada 3 hari lontar jumrah dan setiap hari akan dilaksanakan di 3 tempat yang berbeda. Untuk 1 hari melontar diperlukan 21 batu maka untuk 3 hari dibutuhkan 63 batu, tetapi untuk jaga-jaga jika ada batu yang jatuh atau tidak kena dinding lontar jumrah, maka sebaiknya kita mempersiapkan lebih. Bagi saya, yang paling syahdu adalah saat saya tidur di Musdalifah beralas matras dari pemerintah Arab Saudi di bawah langit Musdalifah setelah saya selesai mengumpulkan batu. Saya berpikir, “God, here I am, under your Musdalifah’s sky”. Terasa sekali saat itu, Allah begitu dekat dengan saya.

Hari raya Idul Adha paling berkesan. Tanpa baju baru hanya baju yang berdebu dan ihram suami.
Hari raya Idul Adha paling berkesan. Tanpa baju baru, Nurul mengenakan baju yang berdebu dan ihram suami.

Hari 3 (10 Dzulhijjah): Pagi hari 10 Dzulhijjah, saya berada diantara muslim Australia, Eropa dan Amerika (maktab saya dan suami) ketika mendengar takbir Idul Adha di Musdalifah. Lalu, kami harus berjalan kaki menuju tenda kami di Mina karena jalanan macet sekali, kemudian langsung melanjutkan berjalan kaki menuju tempat melontar jumrah.

Lebih kurang kami berjalan kaki sejauh 12 km hingga tiba di jumratul aqabah, sehingga saya sangat menyarankan untuk memakai sepatu yang benar-benar nyaman. Meskipun saya sudah mengenakan sepatu yang menurut saya nyaman, tetap saja kulit kaki terkelupas dan berdarah, tetapi saya harus tetap berjalan. Ini panggilan Allah, saya harus menjalani ini dengan ikhlas.

Sesaat setelah tahalul dan suami telah melepas ihram.
Nurul sesaat setelah tahalul dan suaminya telah melepas ihram.

Sebaiknya memulai berjalan kaki sebelum shalat subuh karena sungguh sesak sekali. Saya melihat banyak jamaah Indonesia yang pingsan dan dirawat di tepi lintasan. Sebenarnya saya sedikit terenyuh karena tidak bisa berjalan mengikuti bendera Indonesia dan harus tetap berjalan di bawah bendera Selandia Baru. Setelah selesai jumratul aqabah dan berkurban, kami pun bertahalul dan suami saya boleh melepas ihram. Malamnya kami kembali ke Makkah untuk melakukan thawaf ziyarah. Jadi setelah kaki berjalan 12 km siang harinya ditambah berjalan dari Musdalifah ke tenda kami di Mina, malamnya kami masih harus melakukan thawaf ziyarah dan sa’i. Setelah ritual ini, maka seluruh wajib haji telah selesai kami lakukan.

Sesaat setelah Nurul dan suami melaksanakan jamarat terakhir (sunnah haji selesai) 12 Dzulhijjah 1439 H
Sesaat setelah Nurul dan suami melaksanakan jamarat terakhir (sunnah haji selesai) 12 Dzulhijjah 1439 H

Hari 4 & 5 (11 & 12  Dzulhijjah): Pada kedua hari ini kami hanya melakukan jamarat yang sebenarnya sudah tidak wajib lagi melainkan hanya sunnah saja dan para orang tua yang tidak kuat bisa menitipkan batu pada anak atau kerabat mereka untuk dilemparkan di jamarat. Kembali kami berjalan 12 km di dua hari ini. Tapi senang sekali, Ya Allah, meski suhu mencapai 45 derajat celsius kami tetap kuat berjalan. Hanya Allah yang memampukan kami. Setelah seluruh ritual haji selesai, kami pun kembali menuju Makkah.

Nurul dan suami berfoto di depan Mesjid Nabawi, Madinah.
Nurul dan suami berfoto di depan Mesjid Nabawi, Madinah.

Saya ingin menyampaikan secara khusus betapa puasnya saya dengan pengelolaan perjalanan haji kami. Di Makkah, saya dan suami diinapkan di Movenpick dan Conrad Makkah yang langsung berada di pelataran masjid Al Haram. Begitu pun ketika kami di Madinah, hotel kami dekat sekali dengan gerbang 7 Masjid Nabawi. Dalam sisa perjalanan haji ini, saya masih terus berusaha menyelesaikan bacaaan Al-Quran untuk ibu saya dan akhirnya niat baik ini berhasil saya tuntaskan. Suami saya pun berhasil shalat di hadapan makam Rasulullah di Raudah. Akhirnya, perjalanan haji kami selesai dan kami kembali ke Auckland pada tanggal 30 Agustus 2018 untuk kembali menjalani rutinitas pekerjaan kami pada awal September 2018.

Ini adalah perjalanan yang tidak saya sangka bisa terjadi di tengah-tengah studi S3 saya di Selandia Baru. Pertama, saya ini seorang muslim yang masih koboy. Kedua, saya hanya pelajar yang hidup dengan dana beasiswa yang umumnya habis untuk biaya sewa apartemen di Auckland yang luar biasa mahalnya. Ketiga, saya masih punya banyak komitmen lain baik di ranah pekerjaan maupun ranah studi S3. Tetapi, ingatlah, when Allah Calls, He makes the way.

***

Sumber foto: Nurul Kasyfita Church