Lika-Liku Menuju Madinah

0
546

Segala hal terjadi karena ada maksudnya. Kemalangan hari ini bisa jadi berujung pada kesuksesan di esok hari. Dalam artikel berikut, Tomi Diki Nisyadin bercerita pengalamannya sejak SMA hingga dia akhirnya bisa mencapai impiannya, berkuliah di Universitas Islam Madinah, dan bagaimana kegagalannya saat SMA bisa membantu dia mencapai impiannya.

Berawal dari ketertarikan saya dalam pendidikan agama, pada saat SMA saya lebih memilih mengambil jurusan MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) daripada jurusan IPA atau IPS. Setelah lulus awalnya saya berniat melanjutkan study di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Pada saat kelas 6 Aliyah (3 SMA) saya aktif berorganisasi di pesantren, dan saat itu saya menjabat sebagai ketua bagian Koordinator Pramuka dalam OSIS atau yang dikenal di pesantren saya OSDN (Organisasi Santri Darunnajah) karena memang saya aktif berpramuka dari SMP.

Cerita saya melanjutkan studi di Madinah berawal dari saya di-skors dari pesantren saya yang di Jakarta karena membawa HP, yang termasuk pelanggaran berat di lingkungan pesantern. Saya dipindahkan ke pesantren cabang yang berada di Banten. Saat itu saya merasa sangat down karena mengecewakan orang tua saya, sebelumnya kakak-kakak saya yang di pesantren tidak pernah terkena hukuman seperti ini. Alhamdulillah, walau mengecewakan tapi saya tetap mendapatkan dukungan penuh dari keluarga saya karena jika saat itu hanya tekanan yang saya dapat mungkin saya tidak bisa melanjutkan studi di sini.

Skorsing ini terjadi 5 bulan sebelum kelulusan SMA, jadi tentu saja hal ini membuat saya down karena seharusnya saya bisa lulus bersama teman-teman saya. Jadi ketika di-skorsing, yang ada di pikiran saya hanyalah belajar dan bagaimana menebus kesalahan saya kepada keluarga terutama.

5 bulan pun berlalu dan akhirnya saya melaksanakan ujian nihai, yang merupakan ujian terakhir sebelum kelulusan dengan materi dari SMP sampai SMA. Jadi kelulusan ini sangat menentukan nilai rapor pondok. Ketika saya lulus saya akan mendapatkan 2 rapor, yang pertama rapor dari Departemen Agama yang nilainya didapat dari Ujian Nasional, dan yang kedua rapor pondok yang nilainya didapat dari ujian nihai. Saya hanya memikirkan bagaimana caranya saya bisa mendapatkan Nilai Mumtaz (cum laude), karena mungkin saja hal itu bisa menebus kesalahan saya karena di-skorsing.

Akhirnya tiba saatnya acara perpisahan sebelum lulus, momen terakhir sekaligus mengumumkan nilai ujian nihai. Ketika itu keluarga saya datang semua dan acara itu juga dihadiri oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah. Ketika nama saya disebutkan “Muhammad Khotami Diki Nisyadin, lulus dengan kriteria Mumtaz” Alhamdulillah, saya langsung sujud syukur dan menghampiri orangtua saya dan saya juga berharap hal ini bisa menebus kesalahan saya.

Acara pun selesai, dan tiba tiba Pak Kiyai Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah menawarkan saya untuk melanjutkan kuliah di Madinah, Arab Saudi karena memang saat itu tes untuk kuliah di Madinah dilaksanakan di Pesantren Darunnajah. Seketika itu juga, orang tua saya menyuruh saya untuk mengambil kesempatan itu.

Cara-Muqobalah-Langsung-Ke-Universitas-Islam-Madinah

Saya akhirnya mengikuti ujian muqabalah (wawancara) Universitas Islam Madinah. Sebelum melakukan ujian, syarat pertamanya adalah mengikuti dauroh (bimbingan) selama sebulan di Darunnajah, baru setelah itu kita diperbolehkan untuk mengikuti ujian. Ujiannya terdiri dari ujian tulis dan lisan. Ujian tulis meliputi pelajaran-pelajaran agama seperti fiqih (hukum Islam) dan nahwu (tata bahasa Arab), dan untuk ujian lisannya meliputi wawancara dan hafalan Qur’an.

Karena pengumuman nama-nama yang diterima diumumkan setahun setelahnya, saya sempat mengikuti tes untuk kuliah di UIN Jakarta dan di Universitas Al-Azhar, Mesir. Alhamdulillah semuanya keterima, jadi setelah lulus saya kuliah di UIN Jakarta jurusan Dirasat Islamiyah selama 2 bulan, setelah itu saya berangkat ke Mesir. Saat di Mesir, warga asing yang ingin kuliah di Al-Azhar diwajibkan mengikuti bimbingan bahasa terlebih dahulu selama setahun, jadi selama setahun saya di Mesir saya baru mengikuti program bahasanya saja.

Jujur, sebenarnya saya sudah merasa pesimis untuk diterima di Madinah karena pengumuman yang tidak juga keluar sampai melewati batas biasanya. Saya ingat nasihat dari guru saya, “Mintalah doa kepada siapapun, karena kita tidak tahu dari mulut siapa doa kita dikabulkan.” Saya hanya bisa berdoa dan meminta doa kepada orang lain khususnya kepada orang tua saya, karena saya sangat yakin doa orang tua kepada anaknya pasti mustajab.

Akhirnya tiba saat pengumuman nama-nama yang diterima di Universitas Islam Madinah. Alhamdulillah setelah bertahap nama-nama yang diterima keluar, nama saya akhirnya keluar pada tahap akhir. Saya langsung sujud syukur dan memberi tahu orang tua saya. Akhirnya seminggu setelah itu saya langsung pulang ke Indonesia.

Selama di Indonesia, saya menunggu hampir selama 6 bulan untuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk berangkat ke Arab Saudi. Pada tanggal 9 Oktober 2017, akhirnya saya berangkat ke Arab Saudi untuk melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah.

Sesampainya di sana, saya dan teman-teman dari Indonesia langsung mengurus kebutuhan untuk kuliah mulai dari tes masuk kuliah, tempat tinggal dan cek kesehatan yang dibantu oleh teman teman dari PPMI Madinah. Karena kuliah di sini beasiswa, semua biaya yang dipakai untuk mengurus berkas sejak di Indonesia hingga di sini semuanya dibiayai seperti tiket pesawat dan lain-lain.

Di Universitas Islam Madinah terdapat jurusan Hukum Syari’ah, Dakwah dan Ushuluddin, Hadits, Al-Quran dan Bahasa. Saya mengambil jurusan Hukum Syari’ah yang dikhususkan di bidang Fiqih dan tidak terasa sekarang saya sudah berada di semester 3.

Menurut saya, saya bisa berangkat ke sini karena memang sudah jalannya. Dimulai dari saya di-skorsing sampai akhirnya saya mendapatkan beasiswa. Dari awalnya saya menginginkan kuliah di Mesir sampai saya meninggalkan Mesir untuk kuliah di sini. Ketika kita jatuh kita harus terus bangkit, karena dari suatu musibah pasti terdapat suatu hikmah atau pelajaran, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Mau hanya diam dan meratapi nasib atau bangkit mengejar impian. Janganlah berputus asa ketika mendapat suatu musibah, karena sesungguhnya rencana Allah sungguh indah. Siapa yang menyangka, saya yang dulunya mendapat hukuman di-skorsing sekarang bisa mendapatkan beasiswa di Universitas Islam Madinah; kampus yang hanya berjarak 7 km dari Masjid Nabawi. Tentu tidak ada kaum muslim yang enggan untuk tinggal di kota yang suci ini. Semoga sedikit cerita saya bisa memotivasi teman-teman yang ingin kuliah di luar negeri, terutama bagi yang ingin kuliah di Timur Tengah.

Photo courtesy goes to the author.