Kuliah di Luar Negeri Sambil Membesarkan Balita? Siapa Takut! (Part 2)

0
796
Dynamic Duo: 24-year-old Zika and 3-year-old Kira. Foto milik penulis.

Pada bagian pertama, Zika telah menceritakan alasannya nekat kuliah di Belanda dengan membawa anaknya yang berumur tiga tahun, serta jauh dari keluarga, termasuk suaminya. Kini, ia akan melanjutkan kisahnya serta berbagi beberapa tips yang bisa dijadikan bekal jika kamu tertarik melakukan hal yang sama.

Campus life
Enaknya kuliah di Belanda, semua orang di kampus kooperatif dengan dengan keadaan mahasiswanya, termasuk saya. Awalnya saya segan banget bawa Kira ke kampus, nggaenak dengan temen kelompok atau thesis supervisor. Tapi karena Mayang (ibuku) tidak selamanya di Belanda, saya harus mulai memberi tahu orang-orang sekitar kalau saya punya anak dan nantinya hanya akan tinggal berdua di Belanda, sehingga mungkin di beberapa pertemuan saya harus bawa anak karena beberapa pertemuan tidak sesuai jadwal perkuliahan.

Kira berpose di Leiden University. Foto milik penulis.
Kira berpose di Leiden University. Foto milik penulis.

Alhamdulillah, semua menyambut baik. Pesan thesis supervisorhanya satu: boleh dibawa asal anaknya tidak terlalu mengganggu. Wah, kalau begitu sih sebenarnya agak menantang, tapi mau bagaimana lagi.

Akhirnya, sebelum perdana membawa Kira ke kampus pertama kali, saya sudah mewanti-wanti kalau nanti di kampus harus tenang, nggaboleh berisik, kalo ngomong pelan-pelan. Hari pertama ikut ke kampus saya menyiapkan bekal untuk Kira luar biasa banyak – supaya kalau rewel bisa ditenangkan dengan makanan hehe. Saya juga menyiapkan pensil warina dan kertas mewarnai karakter Frozen. Bekal ini berhasil juga menenangkan Kira. Anak ini juga sebenarnya mudah tidur, sehingga di kampus pun ia sering tidur siang sambil saya pangku.

Warga kampus menyambut baik kehadiran anak kecil, walaupun awalnya saya ragu karena tidak ada yang membawa anak kecil sama sekali, ternyata semua orang welcome. Justru mungkin karena Kira satu-satunya anak di kampus, jadi mainan semua orang? Atau karena pada dasarnya orang Belanda begitu welcomedan suportif? Entah.

Yang jelas, semua yang berpapasan dengan Kira cengar cengir, nggaada yang menunjukkan rasa terganggu atau menghakimi. Tidak jarang pula Kira diajak mengobrol oleh dosen atau karyawan, dikasih permen sisa halloween, lollipop, atau si dosen ikut mewarnai… Betul-betul mengurangi beban emak-emak seperti saya!

Kalau ada kelas wajib otomatis saya harus cari tempat “penitipan” buat Kira. Opsi awal adalah playgroup umum Belanda, atau daycare. Tapi daycare mahal sekali dan ternyata anak harus di daycare selama 7 jam di hari yang sudah di daftarkan. Saya pikir tadinya bisa pas jam-jam saya kuliah saja, ternyata harus satu hari penuh. Padahal tarifnya per-jam.

Akhirnya, Kira sekolah di playgroup umum, dengan durasi tiga jam per hari.

Nah, ini Alhamdulillah cocok dengan jadwal kuliah.

Kenapa bisa pas? Ini sih atas kehendak Allah alias saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Waktu mau daftar, saya telepon ke playgroupnya dan menanyakan ada jadwal jam berapa saja, dan langsung passsss semua!

Ada satu kelas kuliah yang tidak cocok sama jadwal sekolah Kira, tapi saya minta pindah ke kelas lain yang jadwalnya sesuai. Dosen-dosennya sangat kooperatif dan benar-benar mempertimbangkan aspirasi mahasiswa, jadi dengan mudahnya saya dipindah ke kelas yang jadwalnya cocok sama sekolah Kira. Jadilah saya “menitipkan” Kira di playgroup umum.

Kira saat ikut thesis meeting ibunya di perpustakaan kampus. Foto milik penulis.
Kira saat ikut thesis meeting ibunya di perpustakaan kampus. Foto milik penulis.

Nantinya, kalau Kira sudah di atas 4 tahun lebih enak lagi, karena sekolahnya seharian dari jam 08.45 sampai 15.00. Ibunya jadi bisa lebih bebas deh untuk kuliah dan beberes rumah!

Itulah enaknya kuliah di Leiden University. Kalau ada kesulitan atau hal-hal yang memberatkan studi, tinggal bilang ke dosen pengampu, pasti dibantu. Kalau tidak bisa menemukan solusi yang kita harapkan, pasti akan dicarikan solusi yang paling mendekati sempurna.

Dan, seperti yang saya bilang sebelumnya, tidak ada “kasta” di Belanda, jadi di sini, dosen dengan mahasiswa sudah seperti teman. Diskusi di kelas tidak terasa seperti diskusi formal: dosennya ikut berdiskusi, tidak bertindak seperti Yang Maha Tahu, malah sering minta pendapat mahasiswa, seperti berdiskusi dengan teman, deh!Suasana diskusi jadi nyaman dan bikin betah.

Kadang ngga mau udahan, tapi harus jemput Kira.

Kadang, ada juga kelas “darurat” dimana jadwal kuliah tiba-tiba dipindah ke hari atau jam lain. Kalau ini sudah terjadi, rekan PPI to the rescue!

Saya sering menitipkan Kira ke teman yang jadwalnya sedang kosong. Kalau terpaksa, saya bilang ke dosen pengampu bahwa karena perubahan jadwal, saya kemungkinan harus bawa anak ke kelas. Biasanya, kalau tidak terlalu mengganggu mereka mengizinkan.

Pilihan lain adalah mencari nanny yang dibayar per-jam. Ada websitenya sendiri untuk pilih & kontak nanny-nya, tapi ini harus di kontak satu minggu sebelumnya. Untungnya jadwal kuliah selalu keluar satu minggu sebelumnya! Tapi saya menghindari opsi ini karena lebih repot dengan urusan bahasa. Membayangkan Kira yang fasihnya Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan bahasa tubuh dijaga oleh orang yang berbahasa Belanda atau Inggris membuat saya pening sendiri. Belum lagi tarifnya lumayan. Sebisa mungkin ini opsi terakhir, deh.

Additional notes

Catatan tambahan untuk yang berniat bawa anak kuliah di Belanda, first and foremost: biaya jadi dobel!

Terasa sekali perbedaan pengeluaran sebelum dan sesudah Kira datang (sebulan pertama Kira dititip ke ibuku supaya saya bisa adaptasi dan beberesdulu). Jadi, kalo ada rencana kuliah membawa bocah, siapkan uang minimal 2 kali lipat ya! Selain pengeluaran uang, pengeluaran tenaga juga dobel! Jadi siapkan saja kekuatan fisik dan mental 3-4 kali lipat. Ingaaaat, Anda akan menjadi single fighter!

Oh ya! Yang tidak kalah penting, mungkin ada baiknya orang tuanya berangkat lebih dulu daripada anaknya, karena kamu akancluelesswaktu pertama kali sampai di tempat studi: nggatau kondisi rumah akan seperti apa, kuliahnya gimana, lingkungan rumahnya gimana, dan lain-lain.

Waktu saya sampai, ternyata bagian kamar dan kamar mandi saya baru selesai direnovasi, bahkan beberapa bagian belum selesai. Kebayang, kan, debunya ruangan baru di renovasi, masih bau cat, harus di pel sehari 2x buat menghilangkan debunya?Jadi saran saya, jika memungkinkan, tega-tegainmeninggalkan anak di keluarga atau orang tua selama 2-3 minggu untuk adaptasi, “beresin”rumah, cari sekolah, dan sebagainya.

Saya nggakebayang sih kalau Kira ikut berangkat bareng saya repotnya jadi seperti apa. Apalagi sekolah Kira tidak bisa langsung masuk begitu saja, harus ada pendaftaran, menunggu ketersediaan tempat, dan proses lainnya yang bisa memakan waktu hingga satu bulan.

Catatan berikutnya, (ini khusus buat di Belanda, khususnya Universitas Leiden), kampus tidak menyediakan housinguntuk mahasiswa master yang membawa anak. Jadi, deritamu,cari sendirituhrumah sampai pusing.

Ini sungguh bikin frustasi karena susahnya bukan main. Kebanyakan  properti yang mengizinkan ada anak, penyewa utamanya harus expat, tidak boleh mahasiswa. Kalau properti untuk mahasiswa, tidak boleh ada anak-anak. Lah, aku kudu piye?

Setelah curhat di grup Facebook, akhirnya ada gadis baik hati yang menawarkan lantai atas rumahnya buat saya dan Kira.  Awalnya saya masih kurang sregkarena rumahnya sharing sama pemilik rumah. Tapi setelah mengalami sakit berbarengan dengan Kira, sepertinya tinggal serumah dengan orang lain (apalagi buat ibu-ibu yang cuma berdua dengan anak) justru ide yang lebih baik! Karena jadi ada bala bantuan kalau ada emergency,mulai dari emergencybetulan hingga, atau emergencydungu seperti lupa bawa kunci rumah.

Catatan lain: siap-siap ngerepotin orang!Ya tentu, pasti akan ngerepotin orang. Pokoknya siapkan mental buat ngerepotin orang, ya. Jangan lupa dari sebelum berangkat kamu catat juga kisaran orang-orang yang bisa direpotin nantinya.

Little tips for you, super parents!

In sum, beberapa poin yang bisa saya highlight untuk bertahan hidup bersama balita sambil kuliah di Belanda adalah:

  1. Harusbisa naik sepeda, kalo tidak bisa, kamu tidak akan bisa mengejar kelas setelah mengantar anak sekolah.
  2. Cari rumah yang sharing dengan orang lain.Akan sangat membantu kalau kita sakit atau ada hal-hal lain yang bikin kita tidak sefungsional biasanya. Lebih bagus lagi kalau dapat rumah di lantai dasar, sangaaaatttt signifikan tenaga yang harus dikeluarkan dibanding kalau rumah di loteng. Selain gotong anak, gotong belanjaan kalau habis belanja mingguan ke supermarket juga berasa sulit loh kalau diangkut ke loteng.
  3. Kalau memungkinkan, berangkat lebih dulu untuk adaptasi & membereskan segala urusan.
  4. Cari support system.Dari PPI masing-masing kota sudah cukup membantu menurut saya. Lebih enak lagi kalau bisa menemukan sesama pelajar yang bawa keluarga, akan sangat terasa hangat dan akrab karena kalian akan saling membutuhkan bantuan!
  5. Sebelum daftar ke universitas juga sebaiknya cari mahasiswa Indonesia yang sedang atau sudah menyelesaikan studi di program itu. Tanya sejelas-jelasnya soal jadwal kuliah, programnya, dll. Ini penting buat mengira-ngira kemungkinan menitipkan anak dimana kalau pas jadwalnya kuliah. Ada program yang seharian penuh terus, kalau seperti itu, harus memikirkan menitipkan anak di daycare atau mulai studinya setelah si anak berusia 4 tahun, di usia sekolah basisschool (TK & SD) dengan jadwal sekolah dari pagi sampai sore.
  6. Komunikasikan kondisimu ke dosen pengampu, bisa dengan bertemu langsung atau melalui email. (Kalau di Belanda) semua kesulitan kita akan dibantu sama mereka, jangan khawatir.
  7. Tetap lakukan hobi atau refreshing biar tidak stres. Traveling, nonton, atau makan, yang penting sempatkan waktu untuk dirimu sendiri meski sulit.

Semoga kisah ini bermanfaat dan menjadi penguat motivasi bagi ibu-ibu nekat lainnya bahwa lanjut studi bersama anak itu mungkin! Bikin gila sih, tapi mungkin! I consider mothers are the strongest creature God ever created. Since God made us strong, so be it! Pursue anything you wish, strong mamas!

 

SHARE
Previous articleToastmasters: Wadah Belajar bahasa Mandarin
Next articleLika-Liku Menuju Madinah
Azzikra Aviantari
Azzika Aviantari, or Zika, graduated from Universitas Gadjah Mada’s Psychology department. After university, she went on to start her career in Human Resources. She currently lives in Leiden, the Netherlands, to pursue a Master’s degree in Economic and Consumer Psychology. She also shares her adventure with her daughter, Kira, at her blog: wanderwithkira.blogspot.com.