Kuliah di Luar Negeri Sambil Membesarkan Balita? Siapa Takut! (Part 1)

0
660
Dynamic Duo: 24-year-old Zika and 3-year-old Kira. Foto milik penulis.

Ekspektasi masyarakat terhadap perempuan terkadang cenderung seksis, terutama bagi yang telah berkeluarga. Akhirnya, tak sedikit yang menganggap bahwa menikah dan memiliki anak berarti harus melepaskan beberapa mimpi, termasuk mengenyam pendidikan lebih lanjut. Kontributor kami, Zika, membuktikan bahwa perempuan tetap bisa menjadi ibu muda yang luar biasa bagi anaknya, Kira, meskipun sambil mengenyam pendidikan lanjutan di luar negeri dan jauh dari keluarga. Simak perjalanannya!

Alkisah, berbekal pengetahuan dan kemampuan yang ala kadarnya namun kenekatan yang tinggi, saya nekat mendaftar S2 ke Belanda. Motivasinya? Di luar alasan idealis berbalut akademis, not surpisingly, adalah Kira!

Selain buat memberikan standar dan contoh lebih tinggi bagi Kira nantinya, entah kenapa, saya selalu mau anak-anak merasakan pengalaman menjadi pendatang di negara orang supaya mereka punya pandangan yang luas tentang dunia — bahwa dunia tidak melulu tentang dirinya dan kelompoknya; bahwa di ujung belahan bumi yang lain, ada wawasan yang baik; bahwa segala kebaikan, tidak hanya berasal dari kelompoknya, tapi bisa dicari di tempat lain; dan yang terpenting, bagaimana cara mempertahankan kebaikan nilai-nilai yang sudah ditanamkan nenek-moyangnya saat mengadopsi kebaikan dari sumber baru. Pengalaman dan pemahaman seperti ini yang saya rasa sulit ditanamkan kalau kita tetap berada di zona nyaman tanah air. We have to go somewhere!Walaupun cuma satu tahun dan Kira masih 3 tahun, jadi mungkin pas masuk SD juga udah lupa, setidaknya ibunya ingat, jadi semoga yang baik-baik tetap bisa dipertahankan nantinya.

 

Why Netherlands?

Waktu mengunjungi Belanda tahun 2016, saya mendadak jatuh hati dengan perilaku masyarakat sini. Ramah, helpful,menghargai orang lain, dan menganggap semua orang punya derajat yang sama. Saya merasa Belanda sangat ramah terhadap pendatang. Saya mau di lain waktu, Kira dapat menghargai, membantu dan berinteraksi dengan orang lain dari dalam maupun luar kelompoknya the way the Dutch do it!Serius tapi sambil ngelawak, helpful,ramah, peduli tapi nggak kepo,nggakada kasta sosial  (profesor & janitorBelanda kalo lagi ngopi bareng  ya seperti sahabat lama baru ketemu setelah puluhan tahun!), dan banyak hal lain yang saya rasa bisa di adopsi oleh Kira (dan saya) agar dapat menjadi warga dunia yang lebih menyenangkan.

Kira berpose di Leiden University. Foto milik penulis.
Kira berpose di Leiden University. Foto milik penulis.

Alasan lain adalah karena barrier bahasa di Belanda dengan negara lain yang dasar bahasanya non-Inggris cenderung kecil. Semua orang di Belanda (paling tidak di kota-kota besar) dari supir bus, penjaga parkiran sepeda, pedagang di pasar, siapa pun lancar berbahasa Inggris. Jadi aman.

Alasan selanjutnya adalah karena banyak makanan & mahasiswa Indonesia di Belanda. Sebagai manusia rapuh yang sok-sok-anbawa anak hidup berdua di negara orang, saya butuh support system. Ya apa lagi support systemnya selain mahasiswa Indonesia? Alasan terakhir namun salah satu yang terpenting adalah karena Ayahnya Kira yang berprofesi sebagai pilot cukup sering terbang ke Belanda, jadi sebulan sekali atau dua kali bisa ke Belanda.

Satu lagi, ya, karena topik spesialisasi yang saya minati ada disini. All in one package. Cocok. Let’s go!

Enrollment
Sejujurnya ini ngga bisa digambarkan dengan kata-kata, karena kalau ditulis terbaca mudah sekali, padahal ampun-ampunan. Segala drama bermula dari sini. Ada yang sudah keterima universitas,tidak dapat beasiswa, ada yang dapat beasiswa duluan, malah tidak diterima universitasnya, atau ada syarat krusial yang kurang. Ada yang bermasalah sama visa, housing, deeeeuuuuhh asleee dah.Saya kalau ngga dibantu suami sih akan menyerah sebelum berperang. Lelah mental.

Intinya begini:
1. Cari universitas dan spesialisasi yang diminati. Di website kampus lengkap informasi persyaratan, cara pendaftaran, dll. Semua pendaftaran dilakukan online.

2. Buat akun pendaftaran, penuhi semua persyaratan, kirim (Nah kan sepertinya gampang. Padahal saya sendiri butuh satu tahun buat menyelesaikan semua persyaratan)

3. (Kalau butuh) Daftar beasiswa, ikuti segala proses dan kerempongannya. Ini saya ngga bisa cerita panjang karena ada berbagai macam penyedia beasiswa dengan proses seleksi yang berbeda-beda, tapi semua punya dramanya masing-masing.

4. Buat visa. Ini juga drama. Yang lebih drama bikin visa Kira sih— tapi ini cerita panjang lainnya. Kalau visa studentnya sendiri (biasanya) ditangani universitas, jadi saya tinggal kirim persyaratan ke universitas, mereka yang mengajukan ke imigrasi Belanda. Jadi saya tinggal tunggu persetujuan, datang ke kedutaan buat menyerahkan paspor dan pasfoto, tunggu kurang lebih 1-2 minggu, jadi deh.

5. Cari tempat tinggal. Lebih drama lagi. Jumlahhousing di Leiden tidak sebanding dengan permintaannya. Jadi, banyak sekali mahasiswa yang berujung homeless selama 1-2 bulan, kebanyakan international studentsyang berasal dari negara EU karena student housingdi prioritaskan untuk mahasiswa dari luar EU. Tapiii, jangan sedih, yang dari luar EU pun banyak yang ditolak student housingkarena kuota. Saya pikir cuma saya yang ditolak karena bawa anak, ternyata teman-teman Indonesia yang jomblo pun banyak yang homeless.Cari housingdan bikin visa adalah tantangan pertama yang sudah dihadapi dari masih di tanah air. Jadi, siapkan mental untuk menghadapi drama dari hari pertama mendaftar.

Daily life

Don’t ask. My daily routine is not even a routine,alias berantakan! Apa yang perlu dikerjain ya dikerjain.Kalo lagi ada deadlinetugas ya nggak beberes sampe Kira protes kamarnya kotor; nggak nyuci sampai pas mau pergi bingung pakai baju apa dan ujung-ujungnya ambil baju dari keranjang kotor; nggak masak, Kira makan nasi-abon atau roti-keju, saya makan apa aja sisaan Kira. Kalo lagi ga ada deadline….. eh enggak pernah sih, selalu ada. Jadi ya berantakan terus :-)

Kira saat ikut thesis meeting ibunya di perpustakaan kampus. Foto milik penulis.
Kira saat ikut thesis meeting ibunya di perpustakaan kampus. Foto milik penulis.

Sebagai gambaran, kurang lebih begini nih:Bangun pagi – Siap-siap (terkadang ditambah drama: ada yang tidak sengaja menumpahkan susu, atau makanan yang mau dibawa Kira ternyata sudah busuk, atau kartu bus mendadak raib, dan keajaiban ajaib lainnya) — Berangkat pagi buta, kalau dingin Kira kadang crankyminta gendong (gendong Kira sambil bawa gembolan + ransel + payung? Luar biasa!) — Naik sepeda ke sekolah Kira — Naik sepeda ke kampus — Kuliah atau mengerjakan tugas — Jemput Kira — Kembali ke kampus bersama Kira kalau ada tugas kelompok atau thesis meeting— Terkadang mengejar bis lalu Kira ketiduran di bis, dan ketika bangun malah rewel minta digendong, eh sampai lantai 4 sudah segar bugar — Masak — Makan sore merangkap malam — Tugas lagi — Menemani Kira hingga tidur — Tugas lagi — Tidur.

Besoknya begitu lagi, ditambah sesi membersihkan rumah kalau ada waktu dan energi. Kalau harus mengejar deadline hari Senin (yang tugasnya harus dituntaskan pas weekend), mendadak saya jadi manusia paling handal multitasking.Mengetik tanpa melihat karena sambil disisir-sisir rambutnya oleh Kira sampai menutupi mata; mengetik sambil digelendotin punggungnya sampai jarak antara mata dan layar laptopkurang lebih 10cm saja, sampai hidung menempel di layar pun pernah; lagi asik ada inspirasi mendadak bisa ngetik panjang tiba-tiba ada yang tumpah pun pernah.

Malah, di awal-awal kedatangan Kira ke Leiden, kami berdua sempat sakit bersama. Jangan ditanya rasanya. Cluelessharus ngapain. Untung waktu itu masih ada Mayang (neneknya Kira), kalo ngga ada Mayang, entah apa yang terjadi.

Di bulan pertama, tenaga saya terkuras habis. Tiap sampe kasur rasanya segan menyambut esok hari. Tapi setelah lebih terbiasa dengan ritmenya ya lumayan membaik.

Eventually, things got better and I wouldn’t trade this adventure for anything else!

Sampai jumpa di bagian kedua petualangan ini!