Kehidupan Mahasiswa Tuli di Rochester

0
1048

Orang tuli sering dianggap tidak mampu berkontribusi dalam masyarakat, tetapi Surya Sahetapy dan Cristophorus Budidharma adalah contoh orang yang ingin mengubah stereotip itu.

“Lho, emang Tuli bisa kuliah di Amerika? Kan tidak bisa dengar terus pakai Bahasa Inggris lagi bagaimana bisa mengikuti di kelas?”

Kuliah di Amerika merupakan mimpi anak-anak Tuli karena negeri Paman Sam memberikan banyak kesempatan emas untuk teman-teman Tuli agar dapat mewujudkan cita-cita seperti sebagai Dokter Tuli, Pengacara Tuli, Ilmuwan Tuli, bahkan sebagai Kepala Distrik Tuli. Kesempatan yang diberikan karena Amerika Serikat sudah mengimplementasikan Undang-Undang Disabilitas atau Americans with Disabilities Act dimana pemerintah wajib memberikan hak orang-orang Disabilitas agar setara dengan orang non disabilitas.

Pada tahun 2018, terdapat 7 mahasiswa Indonesia di Rochester Institute of Technology (RIT) dan 2 merupakan mahasiswa Tuli. Rochester merupakan kota dimana komunitas Tuli terbanyak di Amerika Serikat bersama Washington D.C., Austin-Texas, dan California. Selain itu, RIT memiliki sembilan kampus komunitas, yaitu bisnis, sains, keseimbangan, desain, teknik, kampus tuli (National Technical Institute for the Deaf (NTID)), komputer, teknik terapan, dan seni liberal. NTID merupakan salah satu kampus yang memiliki sekitar 1.100 mahasiswa Tuli setiap tahun. NTID berdiri sejak 1964 dan merupakan tempat yang mempersiapkan mahasiswa Tuli agar siap bekerja pada zaman perkembangan teknologi secara global serta mengedepankan sebagai pelajar seumur hidup. Kampus khusus tersebut mendukung mahasiswa Tuli dalam bidang teknologi, sains, seni liberal, bahkan mendukung pengembangan akses untuk komunitas Tuli seperti program pengembangan juru bahasa isyarat (Sign Language Interpreter) yang spesialis seperti Juru Bahasa Isyarat (JBI) untuk sains, teknologi, dan seni liberal. Tidak hanya itu, tetapi juga memiliki program magister, pendidikan untuk kelas menengah untuk kaum Tuli. Selain itu, NTID terdapat profesor dan dosen baik Tuli dan Dengar yang menggunakan bahasa isyarat Amerika yang mempermudah mahasiswa Tuli untuk menimba ilmu.

Bahasa Inggris merupakan bahasa kedua atau ketiga untuk komunitas Tuli di Amerika setelah American Sign Language (ASL). NTID menyediakan program bahasa Inggris secara akademis agar mendukung mahasiswa Tuli dalam lingkungan RIT. Bahasa Inggris dan Bahasa Isyarat Amerika memiliki struktur tata bahasa yang berbeda dan banyak orang masih mengira bahwa bahasa isyarat Amerika dan Inggris itu sama. Oleh karena itu, komunitas Tuli di Amerika Serikat memiliki 2 bahasa yaitu Bahasa Isyarat Amerika dan Bahasa Inggris. Selain itu, pengajar Bahasa Inggris pun mengajari dengan bahasa isyarat sebagai bahasa natural Tuli.

Selain itu, NTID menyediakan 2 program untuk mahasiswa baru sebelum masa perkuliahan dimulai seperti New Signer Program (NSP) dan Summer Vestibule Program (SVP). NSP adalah program pelatihan bahasa isyarat Amerika dasar selama 1 bulan untuk mahasiswa baru yang tidak pernah belajar bahasa isyarat Amerika atau belum menguasai bahasa isyarat. Sedangkan SVP adalah program orientasi mahasiswa selama 2 minggu yang berisi perkenalan kampus, ujian penempatan kelas bahasa Inggris, menentukan jurusan yang diambil, dan persiapan sebelum masa perkuliahan dimulai. Kedua program tersebut sangat penting karena membantu mahasiswa Tuli, bahkan mahasiswa Tuli Internasional agar siap menjadi mahasiswa resmi di RIT/NTID.

RIT merupakan kampus inklusif dimana ada mahasiswa dengar, mahasiswa Tuli dan mahasiswa Disabilitas. RIT sangat mendukung keanekaragaman dalam lingkungan di RIT dimana mengajak setiap mahasiswa untuk menghormati perbedaan dan turut mempromosikan agar lingkungan di RIT inklusif. Selain itu, program bahasa isyarat dan kajian Tuli pun tersedia setiap jurusan sebagai mata kuliah pilihan. Dalam hal ini, RIT mendukung implementasi ADA (Americans with Disabilities Act) agar setiap orang Disabilitas mendapatkan hak penuh.

rochester-1 rochester-3

Akses di RIT sangat beragam dan menyesuaikan kebutuhan mahasiswa Tuli dan Disabilitas di RIT seperti juru bahasa isyarat, juru ketik, pencatat, dan kebutuhan disabilitas lainnya seperti waktu ujian akhir diperpanjang. Sebagai mahasiswa Tuli, kami bisa mengajukan akses juru bahasa isyarat dan juru ketik melalui website yang dibuat oleh NTID. Paling menarik, NTID mempekerjakan juru bahasa isyarat sebagai karyawan kontrak dan karyawan tetap.

Selain itu, kami pun bisa menelpon di Rochester tanpa bantuan orang dengar karena ada layanan komunikasi seperti CONVO dan lain lain. Proses nya adalah ketika kita menghubungi seseorang melalui aplikasinya di smartphone atau laptop maka di layarnya muncul seorang Juru Bahasa Isyarat yang siap menjurubahasakan dari ASL ke bahasa Inggris maupun sebaliknya. Oleh karena itu, akses layanan itu membuat kami semakin mandiri. Kemudian, setiap restoran di seluruh Rochester dan mereka selalu siap berinteraksi dengan komunitas Tuli. Tidak hanya itu, RIT pun mempersiapkan aplikasi 911 untuk mahasiswa Tuli sehingga kami bisa melaporkan setiap kejadian melalui aplikasi tertentu tanpa harus menelpon.

Sebagai Mahasiswa Tuli dari Jakarta di RIT/NTID merupakan sebuah pencapaian yang tidak terduga. Mengingat bahwa dunia Pendidikan di Indonesia masih sedang pengembangan agar bagaimana setiap universitas dapat menjadi universitas yang ramah untuk mahasiswa-mahasiswa disabilitas, khususnya Tuli. Sebagai mahasiswa transfer di RIT/NTID, kami merasakan bahwa kampus ini sudah mengakui dan menyadari apakah yang dibutuhkan mahasiswa Tuli. Sekedar informasi bahwa di Amerika Serikat, kami menggunakan istilah Deaf (Tuli) dan Hard of Hearing (Setengah mendengar) dan istilah tersebut lebih baik daripada Hearing Impaired (Tuna Rungu).

Harapan kami untuk Indonesia adalah komunitas Tuli di Indonesia bisa mewujudkan mimpi dalam menggapai cita-cita seperti dosen Tuli, ilmuwan Tuli dan sebagainya. Sampai sekarang, di Indonesia belum memiliki lulusan S3 yang Tuli bahkan pengacara Tuli masih sedikit. Selain itu, ahli kebijakan publik dan ilmuwan Tuli belum ada serta akses seperti TV di Indonesia belum ada teks secara berlangsung. Jika dibandingkan di Amerika Serikat dimana ada ratusan pengacara Tuli dan salah satunya berhasil memaksa Netflix agar memberikan akses melalui teks tertutup (Closed Captioning). Selain itu, masyarakat dengar bisa menjadi teman Tuli seperti Juru Bahasa Isyarat, Juru Ketik dan sebagainya.

rochester-4

Artikel ini ditulis untuk Surya Sahetapy dan Cristophorus Budidharma. Semua foto disediakan oleh penulis.

Berikut adalah profil Cristo:

cristo

Cristo adalah seorang mahasiswa Tuli yang memiliki ambisi yang besar dan berasal dari Jakarta. Dia menempuh studi biomedik, khususnya pra-medis. Sekarang, dia mahasiswa tahun akhir, dan akan menempuh program magister, School of Individualized Studies (SOIS), khususnya mata pelajaran medik dan pendidikan tahun depan 2019. Tujuan Cristo adalah menjadi profesor bagi calon dokter yang mengajarkan anatomi dan fatosiologi. Cristo juga mau membuktikan bahwa kaum Tuli dari Indonesia bisa menjadi ilmuwan dan dokter yang tidak memandang disabilitas Tuli. Dia berharap komunitas Tuli di Indonesia bisa menempuh studi, khususnya sains, matematika, dan medis.

SHARE
Previous articleThe Chicken and Egg Situation of Pursuing a Master’s Degree
Next articleCollege Park Parkrun: Maintaining A Healthy Life While Studying Abroad
Surya Sahetapy
Surya adalah seorang aktivis Tuli dari Jakarta yang sedang menempuh studi kajian global - internasional dan kebijakan publik di RIT untuk dual degree yaitu sarjana dan master sejak Agustus 2018. Surya sering mengangkat isu hak-hak Tuli dan komunitas Tuli agar bahasa isyarat diterima masyarakat luas sehingga komunitas Tuli dan komunitas Dengar dapat saling berinteraksi. Tujuan Surya adalah menjadi ahli kebijakan publik yang berkaitan dengan hak-hak komunitas Tuli dalam akses pendidikan dan pekerjaan melalui bahasa isyarat dan teks Bahasa Indonesia. Surya berharap Indonesia bisa menjadi negara yang ramah disabilitas sehingga komunitas Tuli dan Disabilitas diterima masyarakat serta terlibat dalam pembangunan Indonesia.