Being a Minority in a Japanese Campus: Experience and Lesson Learned

0
982

Di Chuo University Korakuen Campus Jepang, Ery ternyata adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia dan mungkin juga satu-satunya muslim yang ada. Bagaimana Ery survive dalam kesehariannya? Yuk simak di artikel ini!

“Di kampus, kamu gabung PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) enggak?” Pertanyaan ini adalah salah satu yang lumayan sering ditanyakan teman-teman Indonesia begitu tahu saya sedang kuliah di Jepang. Dan jawaban saya adalah, “Enggak, bahkan di kampus aku enggak ada PPI.” Iya, karena jumlah mahasiswa Indonesia yang sangat sedikit di kampus, di kampus saya belum dibentuk PPI.

Kampus saya, Chuo University dibagi menjadi dua lokasi, Tama Campus sebagai main campus dan Korakuen Campus untuk jurusan teknik. Karena kebetulan saya kuliah di jurusan teknik, sehari-hari saya berkuliah di “kampus cabang” dan jadilah saya satu-satunya mahasiswa Indonesia di Chuo University Korakuen Kampus. Selain itu, ini adalah kali pertama dosen pembimbing saya menerima mahasiswa Indonesia (dan muslim) di laboratoriumnya. Tahun ini saya juga satu-satunya mahasiswa asing di laboratorium, selebihnya adalah mahasiswa Jepang. Lalu, bagaimana rasanya?

Jauh sebelum sampai di Jepang, staf kampus dari bagian International Center dan dosen pembimbing saya mengirimkan email yang menjelaskan kondisi di kampus dan menanyakan mengenai kebiasaan sehari-hari saya. Salah satu yang menjadi perhatian utama mereka yaitu mengenai makanan halal dan cara saya beribadah sebagai muslim. Kata mereka, “We want you to feel like home in the campus.” Ternyata begitu saya sampai di Jepang, pihak kampus menambahkan menu makanan halal untuk pertama kalinya di kantin dan di food truck kampus. Mereka juga menyediakan makanan ringan dari Indonesia! Selain itu, dosen pembimbing saya menyediakan satu tempat yang tertutup agar saya bisa beribadah di gedung yang sama dengan laboratorium dan mengatur jadwal kuliah agar saya tetap bisa beribadah tepat waktu.

Halal corner dan halal menu di kampus
Halal corner dan halal menu di kampus

Di kegiatan perkuliahan, karena saya tidak mengambil program internasional, maka saya betul-betul bergabung dengan mahasiswa Jepang pada umumnya. Kelas diadakan dalam bahasa jepang, dan untuk penelitian, semua alat di laboratorium serta komputer menggunakan bahasa jepang. Begitupun jika ada peralatan yang harus dibeli untuk penelitian, semua percakapan melalui email maupun telepon dilakukan dalam bahasa Jepang. Hal ini bisa dibilang menjadi hal yang paling menantang selain tujuan utama saya untuk berkuliah dan melakukan penelitian. Meskipun saya mahasiswa asing, namun tuntutan sebagai seorang master student tidak dibedakan (walaupun untuk zemi—seminar, masih diperbolehkan dalam bahasa Inggris). Saya harus bisa mandiri dan hal ini mengharuskan saya untuk belajar dua kali lebih cepat agar bisa menyesuaikan kecepatan dengan teman-teman yang tidak menghadapi language barrier, cara belajarnya bisa dari paper, buku, manual book alat, dan tentu banyak bertanya kepada teman, kakak tingkat, termasuk adik tingkat.

Di samping kegiatan perkuliahan, laboratorium ini termasuk “sibuk” dengan aneka acara, misalnya welcoming party, company visit, open campus, lab party, lab trip, sampai nonton bola bareng. Acara-acara ini biasanya diisi dengan makan-makan. Pada masa awal kedatangan saya, teman-teman lab bertanya apa makanan yang tidak bisa saya makan dan apa yang bisa saya makan. Yang menarik adalah, terkadang pertanyaan “what?” ini diikuti dengan “why?”, Misalnya, “Ery-san, kamu enggak minum sake ya? Kenapa kamu enggak boleh minum sake?”

Pertanyaan seperti ini terkadang membuat saya harus mendalami pengetahuan saya tentang agama agar bisa menjawab dengan benar dan bisa diterima dengan mudah. Sejak teman-teman lab memahami aturan makanan yang perlu saya ikuti, setiap ada acara lab, makanan dan minuman untuk saya selalu disajikan tersendiri, tidak dicampur dengan makanan teman-teman yang lain. Bukan hanya tentang makanan dan minuman, karena saya menggunakan hijab, beberapa teman juga bertanya, “Ery-san, kenapa kamu pakai hijab? Kalau di rumah sama ayah ibu, pakai juga?”, dan banyak pertanyaan lain yang baru kali ini saya dapatkan. Di Indonesia, tidak ada yang pernah menanyakan hal ini. Karena di Indonesia, saya tidak “berbeda”.

Bersama teman lab saat hiking
Bersama teman-teman lab saat hiking
Bersama teman-teman lab di Disneyland
Bersama teman-teman lab di Tokyo Disneyland

Dari cerita di atas, saya ingin membagikan beberapa hal yang saya pelajari berdasarkan pengalaman saya menjadi satu-satunya mahasiswa asing di laboratorium dan “kampus cabang” ini:

  1. Jangan takut atau malu untuk bertanya dan mengobrol dengan orang sekitar

Mengingat masa-masa awal saya di Jepang, rasanya saya tidak akan bisa survivetanpa ada bantuan dari orang sekitar. Di Jepang, saya selalu memberanikan diri untuk mengajak ngobrol teman duluan. Pada dasarnya, orang Jepang selalu tanggap dan helpful kalau kita butuh bantuan, asalkan kita berani untuk menyampaikannya. Jangan sungkan juga untuk mengajak ngobrol tentang hal-hal ringan, ataupun mengajak makan siang bersama, karena ini bisa membantu mendekatkan diri kita dengan teman-teman.

  1. Jangan takut menjadi ‘berbeda’ di antara teman-teman lainnya

Berbeda di sini dalam artian menjadi minoritas diantara teman-teman lain, karena orang di Jepang (setidaknya selama saya berkuliah) ternyata sangat respect dengan perbedaan. Bisa dibilang setelah saya tinggal di sini malah menambah motivasi saya untuk belajar lebih dalam tentang budaya Indonesia maupun tentang agama, agar bisa menjawab pertanyaan orang-orang disini dengan baik. Selain itu juga ada pemikiran saya seperti “bahkan orang disini benar-benar niat untuk membantu saya agar tetap konsisten beribadah, jadi saya harus semakin rajin juga nih..

  1. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

Peribahasa yang saya dengar sejak SD, tapi baru saya maknai ketika saya tinggal di Jepang. Meskipun sesama negara asia, tapi tata krama di Jepang berbeda dengan di Indonesia. Mulai dari tata cara makan, hubungan adik tingkat dan kakak tingkat, tingkat kesopanan dalam berbicara, jokes, cara antri, sampai cara naik eskalator pun berbeda. Jadi, jangan lupa untuk selalu menghormati tata krama di mana kita tinggal ya. Hal penting lainnya adalah, akan lebih baik jika kita menggunakan bahasa Jepang ketika berkomunikasi dengan teman-teman Jepang, mereka sangat mengapresiasi usaha kita untuk belajar bahasa jepang. Ini menjadi kesempatan juga untuk belajar bahasa Jepang gratis langsung dari ahlinya.

  1. Stay connected dengan teman-teman Indonesia

Tidak dipungkiri karena sehari-hari dengan lingkungan sekitar mayoritas orang Jepang, rasa rindu dengan teman-teman Indonesia selalu ada. Jadi jangan lupa juga untukstay connecteddengan mereka, baik yang di Jepang ataupun di Indonesia. Saya biasanya mengisi weekend dengan bertemu teman-teman Indonesia di Jepang. Selain itu meskipun tidak ada PPI di kampus, saya bergabung dengan Radio PPI Jepang, di mana saya bisa mengobati rasa kangen dengan Indonesia sekaligus belajar beroganisasi.

Kesempatan untuk bisa tinggal dan belajar di luar negeri merupakan hal yang sangat memberikan pelajaran berharga untuk saya, bukan hanya belajar tentang penelitiannya, tapi juga banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan – seperti bagaimana untuk survive ketika menjadi minoritas. Yuk tetap semangat untuk belajar, dan bagi yang juga sedang belajar di luar negeri, mari kita manfaatkan kesempatan yang sudah diberikan sebaik-baiknya!

4Foto disediakan oleh penulis.