Meski Kuliah Dalam Bahasa Inggris, Penting Bagimu Untuk Belajar Bahasa Lokal!

0
253

Ketika kamu kuliah di negara anglofon, seringkali kegiatan akademik diselenggarakan dalam bahasa Inggris. Terkadang pula, penduduk setempat cukup fasih berbahasa Inggris sehingga sebenarnya tak ada masalah jika kamu tak bisa bahasa lokal. Kontributor kami, Suci, berbagi pengalamannya hidup 1,5 tahun di Swedia dan bagaimana ia melihat pentingnya belajar bahasa Swedia untuk menungjang kehidupan sehari-hari.

Sudah hampir satu setengah tahun terakhir saya menjalani perkuliahan di Swedia. Masih teringat proses beberapa tahun lalu ketika menjalani berbagai rangkaian proses kelengkapan dokumen sebagai persyaratan program pascasarjana dan pendaftaran beasiswa, dan bagi saya, satu syarat yang paling sulit adalah bukti kemampuan berbahasa inggris.

Kemampuan bahasa Inggris adalah persyaratan mendasar dari berbagai negara yang menyediakan program perkuliahan internasional, baik berlokasi di negara yang berbahasa resmi Inggris maupun negara non-Inggris.

Lalu, seberapa penting kah mempelajari bahasa lokal kalau kamu akhirnya kuliah di negara yang tidak berbahasa Inggris? Berikut pengalaman dan pandangan yang saya simpulkan setelah tinggal di Swedia selama 1,5 tahun terakhir.

Pekerjaan rumah untuk kursus Bahasa Swedia. Foto oleh penulis.
Pekerjaan rumah untuk kursus Bahasa Swedia. Foto oleh penulis.

1. Komunikasi sehari-hari

Svenska adalah bahasa resmi di Swedia. Namun, bahasa Inggris merupakan bahasa kedua mereka. Kemampuan penduduk asli dalam menuturkan bahasa inggris berada di atas rata-rata, sebagai negara non-anglofon, Swedia berada di peringkat terbaik ke-2 di dunia. Jadi, sebenarnya selama kamu memiliki tingkat kemahiran berbahasa inggris yang cukup, tidak ada kesulitan komunikasi yang berarti disini karena semua orang cukup fasih dalam memahami dan menjelaskan sesuatu dengan bahasa inggris. Bertanya dimana supermarket, harga barang, maupun moda transportasi, tidak ada kendala yang cukup berarti.

2. Perkuliahan

Ketika datang sebagai mahasiswa, perkuliahan berlangsung dalam bahasa Inggris. Pengajar, lingkungan akademik, perpustakaan, dan layanan mahasiswa, semuanya tersedia dalam bahasa Inggris. Berdasarkan diskusi saya dengan beberapa kawan yang pernah menjalani beberapa program perkuliahan di berbagai negara seperti Perancis, Estonia, Belanda, dsb., hal yang sama berlaku seperti ini. Hukum bilingual selalu berlaku di lingkungan akademik – bahasa Inggris dan juga bahasa lokal.

Pada dua poin tersebut, saya tidak merasakan kebutuhan untuk mempelajari bahasa lokal. Dua aktivitas penting dalam menjalani kehidupan mahasiswa: perkuliahan dan belanja kebutuhan perut, semuanya teratasi dengan bahasa Inggris.

Daftar kata Bahasa Swedia dan Bahasa Inggris.
Daftar kata Bahasa Swedia dan Bahasa Inggris.

3. Tujuan setelah studi

Disini lah poin dimana pertimbangan mempelajari bahasa lokal menjadi penting. Apa rencana kamu setelah studi? Dalam kasus mahasiswa Indonesia, ada dua pilihan yang biasanya dipertimbangan: 1) Mahasiswa datang ke negara asing murni untuk belajar dan pulang ke Indonesia setelah studi, karena kewajiban persyaratan beasiswa ataupun karena niat pengabdian kepada negeri. 2) Berperang di lapangan kerja atau menetap di negara tersebut setelah studi. Untuk pertimbangan kedua, di sinilah mempelajari bahasa lokal menjadi suatu kebutuhan.

Di Swedia sendiri, mencari pekerjaan dengan kemampuan ’hanya’ berbahasa Inggris bisa dibilang sulit. Lowongan pekerjaan untuk penutur bahasa Inggris cukup terbatas di kota-kota besar, itupun biasanya didampingin dengan kemampuan berbahasa Swedia. Meskipun tentu terkadang keberuntungan turut andil dalam proses berburu pekerjaan, tapi mayoritas di negara manapun di Eropa, kemampuan berbahasa lokal berperan penting sebagai pertimbangan utama rekrutmen kerja.

4. Asimilasi atau akulturasi

Memutuskan tinggal di negara asing, menurut saya ini adalah tahapan tertinggi sebagai pendatang. Diskusinya tidak lagi di tingkat adaptasi ataupun akulturasi, namun kemampuan berasimilasi dengan budaya lokal. Dikutip dari Wikipedia, asimilasi ditandai dengan pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Umumnya, individu akan berubah dan menyesuaikan diri dengan kelompok baru, tentunya pemahaman bahasa memiliki peranan sangat penting di level ini.

5. Belajar dan mempraktikkan bahasa lokal

Mempelajari bahasa baru membutuhkan komitmen yang sangat tinggi. Proses belajar saya di Swedia yaitu perkuliahan berbahasa Inggris, lidah berbahasa Indonesia, dan menyempatkan diri menanamkan tambahan bahasa Swedia di kepala, menjadi tantangan berat. Untungnya, terdapat aplikasi yang bisa saya unggah untuk belajar santai menggunakan telepon genggam. Di Swedia sendiri, pemerintah menyediakan kursus bahasa Swedia gratis bagi pendatang dan terdiri dari beberapa tingkatan. Tantangan terbesar adalah mempraktikan bahasa tersebut dengan berbicara dengan warga setempat. Menurut observasi saya, mendapatkan pekerjaan dengan menggunakan bahasa lokal sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan berbicara masing-masing individu.

6. Bangga berbahasa ibu

Belajar satu tambahan bahasa asing membuat saya menyadari betapa indahnya berbicara bahasa lokal. Contohnya dalam pelafalan merek baju, saya terbiasa melafalkan dalam alfabet Inggris. Namun ternyata, berbagai negara menyebutkan merek tersebut sesuai pelafalan bahasa lokal nya masing-masing. Dengan 2 bahasa asing yang saya pelajari, saya selalu memperhatikan tatabahasa dan pelafalan kata yang benar menurut orang-orang setempat. Hal tersebut membuat saya kembali belajar menggunakan bahasa baku Indonesia, yang ternyata terdengar lebih indah.

Jadi, apakah penting untuk mempelajari bahasa lokal di negara setempat? .

SHARE
Previous articleStudying Doctoral Degree in Kyoto University, Japan
Next articleMendaftar di Tokyo University
suci.ariyanti
Suci Ariyanti is a postgraduate student in Sweden with a scholarship from Swedish Institute, one of Swedish government agencies. She flew from her hometown to pursue her study in Strategic Entrepreneurship at Halmstad University. Before pursuing master study, she worked for 3.5 years at one of the financial institutions in Indonesia. She graduated from Bogor Agricultural University, represented the university for a short course to Tokyo University of Agriculture, Japan, and a former scholar of summer course at Tömer, Ankara University, Turkey.