Mendaftar di Tokyo University

0
352

Mendaftar di universitas kelas dunia yang diminati banyak orang tentulah tidak mudah. Simak pengalaman Tri Atmojo Sutoro dalam prosesnya mendaftar untuk kuliah di Universitas Tokyo hingga akhirnya diterima.

Kemudahan akan datang seiring dengan doa dan tekad yang kuat. Meraih studi master di luar negeri menjadi impian sebagian besar orang. Salah satunya Jepang, negara dengan berbagai keindahan dan kemajuan berbagai aspek pendidikan hingga teknologinya. Tak ayal, banyak fresh graduate mengindam-idamkan untuk melanjutkan studinya di negara ini. Dan salah satu kampus yang paling diminati adalah The University of Tokyo atau lebih dikenal dengan Todai atau Tokyo Daigaku.

Bersekolah di Jepang adalah mimpi yang sudah lama saya rencanakan. 2018 menjadi kesempatan emas bagi saya untuk mulai mewujudkan mimpi tersebut. Ya, tahun tersebut saya mendapatkan peluang untuk masuk di jurusan Urban Engineering. Bukan hanya itu, kesempatan ini diiringi dengan bantuan khusus yang ditawarkan oleh pihak kampus melalui mekanisme beasiswa dari Asian Development Bank-Japan Scholarship Program (ADB-JSP).

Kuliah di The University of Tokyo

Semua orang pasti tahu kampus nomor wahid di Jepang ini. Ya, The University of Tokyo (Todai) merupakan kampus yang sangat prestisius di Jepang, bahkan dunia. Menurut QS World University Ranking (2018), Todai masuk pada peringkat ke-23 kampus terbaik sedunia. Kampus ini merupakan universitas nasional pertama di Jepang. Sebagai universitas riset terkemuka, Todai menawarkan berbagai program disiplin akademik mulai dari sarjana hingga doktor (https://www.u-tokyo.ac.jp/en/).

Kunci utama yang diperlukan dalam mendaftar kuliah di luar negeri, terutama di Jepang, adalah tentukan minat dan bidang kita, tentukan universitas yang akan dituju dan kenali calon pembimbingnya. Di samping itu, tentu saja kita perlu siapkan segala macam persyaratannya. Namun, untuk kuliah di Jepang, langkah yang paling utama adalah mengenali dahulu pembimbingnya. Selain sebagai motivasi, tentu saja kita juga bisa mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari Proffesor yang kalian minati. Langkah inilah yang mengantarkan saya ke Todai. Sejak Juni 2017, saya telah mencari dan mengeksplor siapa saja calon pembimbing yang sesuai dengan latar belakang, minat dan bidang saya. Akhirnya saya menghubungi beliau via e-mail. Calon pertama dan kedua tidak bisa karena habis masa kerjanya di University of Tokyo. Namun, beliau menyarankan saya dosen lain yang sekarang menjadi pembimbing saya. Beruntungnya, calon pembimbing saya ternyata sednag ada kegiatan di Jakarta, hingga saya dapat bertemu langsung dengannya di Bogor dan saya mendapat LoA sekitar satu bulan kemudian.

Singkatnya, kita perlu jelas menentukan minat dan latar belakang dengan jurusan yang akan diambil. Selanjutnya, cari informasi sebanyak-banyaknya siapakah profesor yang paling sesuai dengan minat dan latar belakang kita. Ingat, hubungi satu profesor terlebih dahulu. Jika belum membalas, silahkan di-email kembali dan apabila menolak, tanyakan apakah beliau punya saran profesor yang sesuai dengan kita. Kuncinya di sini adalah tetap berusaha dan berpikir positif. Jangan lupa, saat menghubungi calon profesor, kalian perlu menyisipkan biodata (CV atau Portofolio) dan Research Plan kita.

Selanjutnya, saya mencari informasi pendaftaran kuliah di Todai. Di Todai pendaftaran dilakukan melalui sistem T-cens (https://t-cens.iapply.t.u-tokyo.ac.jp/t-cens/login_screening.php). Ikuti petunjuk dan baca dengan baik perintahnya, berikutnya ikuti langkah-langkah di dalamnya hingga seluruh proses selesai. Proses ini akan memakan waktu cukup lama (kurang lebih satu tahun), namun pengisian form di dalam sistem akan dilakukan secara bertahap. Informasi baiknya adalah di dalam sistem ini terdapat informasi apa saja beasiswa yang dapat diikuti diantaranya ADB-JSP, Japan-Taiwan Exchange Association scholarship, JICA-FRIENDSHIP Scholarship Program IITH, Asian Future Leaders Scholarship Program, Todai-IIT Graduate Student Scholarship Program, dan Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). Dengan kata lain, beasiswa tersebut sudah masuk dalam sistem T-cens.

Program Beasiswa ADB-JSP

Foto Bersama ADB-JSP Scholar of Urban Engineering
Foto Bersama ADB-JSP Scholar of Urban Engineering

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ADB-JSP dan JICA telah masuk dalam sistem T-cens. Oleh sebab itu, pada langkah awal dalam sistem T-cens, Saya hanya perlu mencamtumkan beasiswa yang akan diambil, yaitu ADB-JSP dan JICA. Kita bisa memasukkan maksimum 3 pilihan di dalam sistem.

Sebagai informasi, sebelumnya saya telah mendaftar beasiswa INPEX. Sayangnya, saya tidak mendapatkan kesempatan mendapat beasiswa ini. INPEX mengumumkan pada Rabu, 24 Januari 2018. Dan tepat sehari setelahnya, Kamis 25 Januari 2018, calon professor saya menghubungi bahwa saya menjadi short list kandidat penerima beasiswa JICA. Bukan hanya itu, sehari setelah itu, 26 Januari 2018, saya dihubungi oleh bagian administrasi departemen Urban Engineering atau dikenal FSO UBE bahwa saya menjadi short list kandidat penerima beasiswa ADB-JSP. Nikmat Allah luar biasa bukan? Ringkas cerita, proses seleksi beasiswa ADB-JSP dilakukan terlebih dahulu melalui sistem T-cens dan sampai akhirnya pada 27 April 2018, informasi penerimaan beasiswa ADB-JSP diumumkan dan saya menjadi salah satu penerimanya. Sangat lega rasanya mengetahui hal tersebut.

ADB menawarkan beasiswa jenjang magister untuk negara berkembang yang menjadi peminjam dari ADB. Program beasiswa yang disebut ADB-JSP ini melingkupi bidang ekonomi, manajemen, sains dan teknologi, dan kajian pembangunan. Indonesia sebagai salah satu negara anggota dari ADB masuk dalam daftar negara yang bisa mendaftar untuk program ini. Dari program ini, telah lahir banyak alumni yang mengabdi di tanah air. Program ini membuka kesempatan hingga 150 orang untuk berkuliah jenjang master di universitas-universitas di berbagai negara. Kalian bisa melihat informasinya di https://www.adb.org/site/careers/japan-scholarship-program/main.

Banyak sekali manfaat yang diberikan oleh beasiswa ini. Beasiswa ini memberikan biaya kuliah penuh, tunjangan bulanan untuk pengeluaran termasuk perumahan, buku dan materi pengajaran, asuransi kesehatan dan perjalanan. Bukan hanya itu, bagi para mahasiswa yang akan melakukan penelitian tersedia biaya khusus di dalamnya.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan pesan kepada seluruh pembaca. Pertama, rencana perlu dibuat sebelum melakukan sesuatu layaknya sekolah di luar negeri dan tidak semua rencana berjalan sesuai kehendak kita. Oleh sebab itu, kita perlu improvisasi dan membuat rencana dengan matang, serta menyiasati berbagai kemungkinan termasuk menyusun rencana B, C dan rencana tidak terduga lain. Seiring dengan berjalannya waktu terkadang motivasi turun dan naik, jadi usahakan selalu mengingat rencana dan impian dibalik itu semua, kenapa kita memilih jalan ini dan itu, serta membaca atau berinteraksi dengan orang-orang yang kita anggap memberikan dampak positif terhadap diri kita. Seluruh usaha kita perlu diiringi pula dengan doa dan dukungan keluarga. Selain menambah motivasi, hal ini juga menambah kepercayaan diri kita. Dan yang terakhir adalah penerapan ilmu yang akan kita dapatkan pada masyarakat dan kehidupan secara umum. Ini adalah tujuan yang paling penting. Jadilah orang yang dapat memberikan manfaat kepada khalayak.

Photo credit goes to author.