Kehidupan di National Central University, Taiwan

0
531

Merantau di Taiwan memang tidak mudah, terlebih lagi budayanya beda jauh dengan tanah air. Meski begitu, penting untuk bisa keluar dari zona nyaman agar kita bisa berkembang. Dalam artikel berikut ini, Iffandya Popy Wulandari bercerita tentang pengalamannya beradaptasi di Taiwan dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswi S2 di National Central University.

Masih terpatri dalam pikiranku, pertama kali tiba di Taiwan tanggal 12 Februari 2018. Saat itu 3 hari sebelum Tahun Baru Imlek, dan karena itu libur 3 hari dan susah mencari toko yang buka untuk menjual makanan. Seminggu pertama setelah sampai di Taiwan, aku merasa sedih tiap bangun tidur. Meskipun pernah merantau 4 tahun di Surabaya, namun ini pertama kali aku merantau di luar negeri. Seiring berjalannya waktu, tidak terasa sudah hampir satu tahun aku menjadi seorang mahasiswi S2 jurusan Opto-Mechatronics Engineering di National Central University, Taiwan. Jika ada yang bertanya-tanya, S2 itu susah atau mudah? Itu tergantung bagaimana kita menjalaninya. Ibarat hobi, kalau kita melakukan dengan senang hati pasti takkan terasa berat. Saat proses adaptasi dari semester 1 ke semester 2, sebagai motivasi, aku selalu meyakinkan diri sendiri bahwa aku bisa menyelesaikan ini. Selama masa adaptasi, hal yang membuatku merasa beda adalah sistem pendidikannya. Yang ketika dulu di D4 sistemnya paket, sekarang setiap semester harus memilih sendiri dan konsultasi ke dosen pembimbing untuk mengambil mata kuliah. Diusahakan mata kuliah yang diambil berhubungan dengan riset yang kita ambil. Di sini kita juga diperbolehkan untuk mengambil mata kuliah di departemen lain, contohnya aku yang tiap semester hanya sekali mengambil mata kuliah di Mechanical Engineering, dan itupun mata kuliah English Seminar. Jika berkuliah di negara yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris, mau tak mau kita harus mengeluarkan usaha lebih untuk memahami apa yang disampaikan dosen, itu pun kalau kebetulan saja kita mengambil mata kuliah yang bahasa pengantarnya Mandarin atau bahasa Inggris parsial. Untuk mahasiswa S2, di sini kita harus menyelesaikan 24 SKS. Ditambah lagi, kalau biaya kuliahnya dibiayai oleh beasiswa National Central University International Scholarship wajib mengambil 1 kali kelas bahasa Mandarin. Waktu semester 1 aku udah mengambil kelas Chinese listening and speaking 1, kelas yang mengajarkan dasar-dasar bahasa Mandarin, seperti belajar kosakata, berhitung, serta percakapan sehari-hari untuk beli makan. Untuk kegiatan di Lab, komunikasi dengan dosen pembimbing dan teman – teman di Lab E4-454 menggunakan bahasa Inggris, tapi terkadang tidak semua anggota lab bisa berbahasa Inggris dengan lancar, jadi harus menggunakan aplikasi penerjemah.

Di Taiwan, sistem S2-nya adalah Master by research. Kita bergabung dalam proyek dosen kita, yang kelak akan menjadi tesis kita dan proyek ini juga menjalin kerja sama dengan perusahaan. Saat ini aku sedang melakukan riset tentang Internal Resistance Li-ion Battery pack. Ini riset yang tergolong baru di labku, karena pada dasarnya labku fokus ke diagnosis and measurement biomedic. Berikut ini fotoku dengan dosen dan teman-teman lab saat akhir semester atau awal semester baru dosen kami rutin mengajak kami makan bersama.

popy 2

Aku tinggal di women dormitory G-14 di NCU. Ada banyak alasan mengapa aku tinggal di dormitory, seperti lebih murah, bebas listrik, bebas mandi pakai air hangat tiap hari, mencuci baju hanya 10ntd (New Taiwan dollar) dan itu sekitar Rp.5000, mesin pengering juga 10ntd. Kalau tinggal di luar akan lebih mahal. Bisa masak di dapur, dan ada fasilitas cooker, kulkas, oven dan microwave. Satu kamar dalam dormitory berisi 4 orang. Kebetulan teman sekamarku 3 orang dari Taiwan semua, dan orang Indonesianya aku sendiri. Alhamdulillah, mereka mau bertoleransi dengan kegitan ibadahku, dan mereka juga membuat jadwal piket kamar dan bersih-bersih. Sejauh ini aku merasa mereka juga baik kepadaku, jadi aku merasa cukup nyaman tinggal di dormitory.

popy 3

Berbicara tentang NCU, NCU itu letaknya di atas bukit, tepatnya di Zhongda Road, Zhongli District, Taoyuan City sekitar 30 menit dari Zhongli. Kalau di Indonesia, mungkin district itu semacam kecamatan. Tapi, meskipun begitu, suasananya kondusif buat belajar, jauh dari keramaian, tenang dan asri. Terkadang saat sedang berada di NCU, tidak terasa seperti sedang berada di Taiwan. Kalau dulu mau melihat pohon pinus yang banyak harus ke Yogyakarta dulu, sekarang ketika di NCU bisa tiap hari liat pohon pinus beserta tupainya. Kalau mau ke pusat kotanya di Zhongli, kita harus naik bis dulu, bis 132 yang bisa masuk kampus. Aku merasa bersyukur dengan adanya fasilitas ini, karena sebenarnya bis 132 ini bukan bis kampus, tapi bis umum yang bisa masuk ke dalam kampus, karena jarak dari pintu utama ke jalan raya lumayan jauh.

popy 4

Setelah hampir setahun di sini, terkadang ada perasaan ingin pulang atau homesick. Tapi kalau kuliah di NCU itu nggak perlu khawatir akan kesepian. Di sini lumayan banyak anak Indonesianya. Mungkin NCU termasuk salah satu kampus dengan jumlah terbanyak untuk mahasiswa Indonesianya, terbukti dengan adanya Perhimpunan Pelajar Indonesia di NCU (PPI NCU). Jika sedang bosan, bisa jalan bersama-sama ke Hsin Ming Night Market yang menjadi salah satu short escape yang terjangkau untuk mahasiswa di NCU. Selain itu, kalau di NCU ada catering masakan Indonesia. Jadi PPI NCU bekerja sama dengan warung masakan Indonesia untuk pre-order makanan tiap minggunya. Selain itu, ada beberapa mahasiswa yang juga berjualan masakan Indonesia. Kalau tempat makan di luar kampus ada juga yang halal, tapi nggak banyak juga yang menyediakan di sekitar foodstreet dan backdoor NCU. Tapi, tetap perlu hati-hati juga kalau makananya nggak halal. Kalau terkait dengan salat, di NCU ada musala; lebih tepatnya sebuah ruangan kecil yang dipakai mahasiswa muslim untuk ibadah. Tapi ada rencana Office of International Affairs ingin memperluas musala, karena mahasiswa Muslim di NCU tidak hanya dari Indonesia saja. Ditambah lagi, di NCU selain ada PPI NCU juga ada NCU Muslim Club(NCUMC) yang sering mengadakan kegiatan seperti salat berjamaah, Friday gathering, dan kegiatan lainnya. Jika sedang jalan-jalan atau nggak di sekitar kampus, untuk salat biasanya kita menyiapkan sajadah dan mukena, lalu cari tempat kosong untuk salat. Untuk mengecek waktu salat, kita memakai aplikasi di hp.

Akhir cerita, tinggal di negara lain awalnya memang berat tapi juga nggak menakutkan kok. Aku percaya masih ada orang baik di sekitar kita, dan aku yakin pasti bisa bertahan. Karena keluar dari zona nyaman pada awalnya akan merasakan gegar budaya. Dibawa asik saja sambil keliling Taiwan, jika begitu, tanpa sadar sudah waktunya untuk lulus.