Ad Astra Per Aspera: What You Need to Know before Applying to Harvard

0
1072

“Bagaimana caranya diterima di Harvard?” adalah pertanyaan yang sering sekali diterima oleh Andhyta Firselly Utami (“Afu”) selama beberapa tahun terakhir. Ketika kami berkata “sering”, maksud kami sering sekali. Dalam artikel ini, Afu akan menjawab pertanyaan tersebut secara lebih terstruktur dan elaboratif – memberikan berbagai tips bagi kamu yang ingin mendaftar ke Harvard University, khususnya program Master of Public Policy (MPP). Ad astra per aspera – “menuju bintang setelah melalui berbagai rintangan”, selamat mempersiapkan aplikasimu ke Harvard University dan mewujudkan seluruh mimpi untuk masa depan! 

Alright. This is happening.

Kalau teman-teman mengikuti saya di Instagram, kemungkinan besar kalian sudah tahu bahwa saya tidak terlalu senang ketika identitas utama saya diakarkan pada fakta bahwa saya lulus dari salah satu institusi pendidikan paling elit ini. Saya—seperti halnya semua orang—tiga-dimensi, tersusun oleh pemikiran, kata sifat, dan kata kerja yang perlahan-lahan membentuk ‘diri saya’. Karena itu, saya lebih suka menerima apresiasi untuk apa yang saya buat, tulis, atau ucapkan alih-alih nama alma mater.

Pada saat bersamaan, saya juga sadar ada rasa lapar yang tak terbendung di antara pemuda-pemuda Indonesia yang beberapa tahun belakangan ini terbangun dari tidur panjang dan mendadak sadar bahwa kita yang tidak terlahir dari keluarga kaya—dengan kerja keras dan beasiswa yang tepat—bisa juga menikmati pendidikan berkualitas di kampus-kampus terbaik dunia.

Look. I get it.

Karena itu, setelah puluhan (mungkin juga ratusan) kali ditanya, “Kak Afu, gimana caranya masuk Harvard?” saya putuskan untuk menulis blogpost ini sebagai upaya menjawab teman-teman dengan lebih terstruktur dan konsisten.

[Disclaimer: program yang saya ikuti adalah Master In Public Policy di Harvard Kennedy School jadi kemungkinan kurang menjawab untuk program dan sekolah lain.]

Harvard University - Afu

[May 24, 2018. One of the best days of my life.]

1. Start with the right mindset.

Frasa Latin yang saya gunakan sebagai judul tulisan ini berarti, “to the stars through difficulties“. Memang, untuk mendarat di antara bintang-bintang, kita seringkali harus melalui berbagai kesulitan.

But here’s the thing: Harvard is NEVER supposed to be your stars. At best, it’s a transit planet that would allow you to fly further, maybe twice as fast. That said, not everyone has to go through the same route—your aim should be much bigger than a transit planet.

Beberapa orang bertanya pada saya tentang apakah mereka harus ikut organisasi X alih-alih Y atau kerja di perusahaan A alih-alih Z agar bisa diterima di Harvard. Bukan jarang, ada yang mendeklarasikan diri ingin masuk Harvard bahkan sebelum tahu program apa yang ingin mereka pilih/yang ada di sana.

Ini cara berpikir yang keliru.

Salah satu alasan Harvard akan menerima orang-orang yang mereka terima—menurut saya—justru adalah karena mereka memiliki (atau setidaknya mulai mencari) raison d’etre alias tujuan jangka panjang yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Raison d’etre ini lah yang kemudian memandu keputusan-keputusan besar seperti memilih tempat bekerja atau kegiatan luar kampus, dan tercermin dalam CV/resume mereka. Nantinya, ‘bintang’ ini juga yang menjadi justifikasi untuk memilih kuliah di jurusan tersebut.

Raison d’etre ini bisa berbentuk sangat abstrak—misalnya melakukan ‘pelayanan publik’, atau ‘sektor pembangunan’ tanpa bidang spesifik—karena bagian dari sekolah bisa jadi menemukan astra yang lebih konkrit. Sedikit seperti ayam dan telur, tapi poin saya: see beyond the brand.

2. Know your stuff.

Setelah astra teman-teman sudah sedikit lebih jelas terlihat, coba cari tahu kampus dan program mana yang akan membawamu ke sana. Jurusan yang saya ambil di Harvard Kennedy School, Master In Public Policy bisa jadi ada di mana-mana (termasuk di Berkeley atau Chicago), tapi tiap sekolah memiliki menu kuliah yang sangat berbeda-beda.

Beberapa informasi dasar yang mungkin membantu:

  • Harvard Kennedy School adalah sekolah profesional, bukan sekolah akademis. Karena itu, kebanyakan kelasnya bersifat praktis dan tidak teoretis. Tugas akhirnya pun berupa capstone project dalam bentuk analisis kebijakan publik dan bukan tesis master pada umumnya yang menjawab pertanyaan ilmiah.
  • Sekolah ini juga membanggakan diri sebagai rumah bagi para generalis yang ingin belajar sedikit-sedikit tentang banyak hal, alih-alih banyak hal tentang satu topik. Kalau ada spesialisasi, itu dilakukan berdasarkan konsentrasi dan topik tugas akhir yang dipilih (bagi para MPP). Karena itu aku terpapar mulai dari isu pembangunan, growth diagnostics, perubahan iklim, behavioral economics, sampai keamanan. Namun, keterampilan dasar yang dibangun tetap sama, yaitu analisis kebijakan publik—yang di dalamnya termasuk ilmu ekonomi, ilmu politik, negosiasi, serta kepemimpinan.
  • Program-program yang tersedia—mulai dari MPP, MPA, MC-MPA, MPA/ID sangat berbeda antar satu sama lain. Secara umum aku merasa bahwa jika teman-teman ingin kuat secara kuantitatif lebih baik pilih MPA/ID, kalau MPA lebih keterampilan kualitatif dan pemahaman isu, sedangkan MPP yang relatif berimbang di keduanya.

Two years is a long time to be away from your loved ones back home—make sure it’s for the right reason.

3. Have some work experience first.

Salah satu cara paling mudah untuk ‘menemukan’ raison d’etre kita adalah dengan memiliki pengalaman bekerja terlebih dahulu, paling tidak selama 2 tahun.

Ketika lulus dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia di tahun 2013, saya belum memiliki bayangan sama sekali untuk mengambil jurusan kebijakan publik. Baru setelah bekerja kurang lebih 2 tahun di sebuah lembaga riset, saya menemukan permasalahan kebijakan publik sebagai puzzle yang ingin saya pecahkan.

Beberapa pengecualian terhadap aturan ini: (1) jika teman-teman ingin menjadi seorang akademisi, (2) sudah punya pengalaman ‘dunia nyata’ karena bekerja selama kuliah, atau (3) alasan profesional atau pribadi lain yang menjadikan gelar master sangat penting.

Secara keseluruhan, pengalaman kerja sepertinya akan lebih menguntungkan teman-teman daripada kampusnya sendiri. Harvard Kennedy School sendiri tidak memiliki persyaratan tegas (hanya ‘disarankan’ punya pengalaman 3 tahun untuk program MPP, tapi saya punya teman yang langsung ke HKS setelah S1).

Namun, selain sebagai proses self discovery, pengalaman kerja juga memungkinkan teman-teman untuk berkontribusi lebih aktif dalam diskusi di kelas. Seringkali, diskusi yang dilakukan dapat diperkaya oleh pengalaman profesional para mahasiswanya. Kalau belum punya pengalaman kerja, takutnya teman-teman malah tidak bisa berpartisipasi dengan maksimal.

4. Do your research.

Setelah sering menerima pertanyaan terkait proses aplikasi, aku bisa mengkategorikan penanya ke dalam dua kelompok: (1) penanya dengan informed questions, dan (2) dengan pertanyaan malas.

Contoh pertanyaan malas: “Kok bisa masuk Harvard?” (Yang biasanya aku jawab dengan, “Karena daftar.” LOL.)

Contoh informed question—alias pertanyaan yang sudah spesifik karena dilandasi riset sebelumnya: “Di program MPP ada tugas akhir berupa capstone project dengan klien. Itu nanti cara mencari kliennya seperti apa?”

Riset awal menunjukkan bahwa kita cukup berkomitmen untuk menginvestasikan waktu ke dalam proses mencari tahu jawaban. Terkadang, jawaban yang teman-teman cari sudah ada versi lengkapnya di Google.

Percaya atau tidak, semua informasi terkait proses aplikasi yang saya lakukan sampai akhirnya diterima sumbernya dari Google, karena saya tidak kenal orang Indonesia yang diterima di Harvard Kennedy School sebelum saya.

So there you go.

5. Build a solid story arc.

Sebagai orang Indonesia (untuk saya lebih spesifik lagi—Sunda), kita dibesarkan di dalam budaya yang mengutamakan kerendahan hati. Sama sekali tidak ada yang salah dengan itu, namun kita sering mencampuradukkan kerendahan hati dengan rasa rendah diri.

Bagian penting dari aplikasi S2 ke sekolah di Amerika pada umumnya, adalah kemampuan ‘menjual diri’.

Almost literally.

We Indonesians have *not* been trained for this (not to mention the additional English-as-second-language handicap) so half of the battle is about finding that humble-yet-confident voice inside your head.

Setengahnya lagi adalah kemampuan membangun cerita yang koheren tentang ‘siapa kita’. Untuk melakukan ini kita perlu ‘menjebrengkan’ semua hal yang sudah kita lakukan dan capai di waktu lalu, untuk kemudian kita hubungkan sebagai satu cerita keseluruhan yang utuh.

Tentu, secanggih-canggihnya mengarang tidak akan membawa kemana-mana jika tidak ada ‘bahan’ yang bisa dipakai dalam membangun cerita tersebut. Karena itu, penting juga untuk kita ‘menabung’. Buatku yang bisa ditabung ada tiga hal—kredensial, jaringan, dan kapasitas, dan harus dimulai seawal mungkin. Lagi-lagi, proses menabung ini kalau bisa dilakukan karena raison d’etre tadi.

6. Strategize your test preparations.

Sampai di sini teman-teman sudah riset, menemukan program yang diinginkan, dan membangun cerita tentang diri sendiri yang siap dijual. Great.

Bad news, though. There’s still a couple of tests you need to pass: the GRE and TOEFL.

Berdasarkan pemahamanku, HKS tidak punya batas ambang spesifik yang menentukan teman-teman diterima atau tidak, karena setiap aplikasi dilihat sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain, misalkan TOEFL atau GRE teman-teman kurang dikit, tetep bisa diterima asalkan kuat dari aspek lain misalnya CV atau surat rekomendasi.

Meskipun demikian, penting untuk menyiapkan diri kita sebaik-baiknya dalam menghadapi tes ini. Salah satu strategi yang bisa dipakai, berdasarkan pengalaman saya, adalah melakukan tes terhadap diri sendiri (dengan buku yang bisa dibeli di toko buku impor seperti Kinokuniya atau gratis secara online) untuk tahu di mana kita sudah jago dan di mana kita masih kurang.

Misalnya, bisa jadi teman-teman sudah kuat dalam bagian quantitative dari GRE tapi masih lemah di analytical writing. Lalu alokasikan waktu secukupnya (1-2 bulan?) untuk lebih banyak berlatih di kelemahan kita tersebut.

Baik juga untuk mengetahui seawal mungkin apakah teman-teman tipe belajar sendiri atau ramai-ramai. Sesuai dengan kebutuhan, teman-teman bisa bentuk kelompok belajar atau dengan investasi yang cukup besar (sayangnya), ikut kelas persiapan yang tersedia di Jakarta dan kota-kota lain.

7. Don’t pursue a recommendation letter from a famous person for the sake of it.

Aplikasi ke HKS membutuhkan tiga surat rekomendasi, dua dari atasan profesional dan satu dari pembimbing akademis atau skripsi kita ketika S1. Pada umumnya, surat rekomendasi menjadi tempat untuk memvalidasi klaim-klaim yang kita buat di dalam resume.

Perumpamaan lain yang sering aku pakai: kalau kita adalah rumah berdinding, setiap surat rekomendasi adalah jendela untuk melihat ke ‘dalam’ kepribadian kita. Sebisa mungkin, setiap jendela diposisikan di lokasi berbeda agar komite seleksi dapat melihat kita secara menyeluruh, dengan tetap memiliki benang merah yang sama.

Contohnya, kualitas yang ingin ditunjukkan adalah bahwa kita memiliki komitmen tinggi. Penulis rekomendasi A membicarakan komitmen kita di kantor, B di kampus, dan C di kegiatan kerelawanan.

Salah satu mitos terbesar tentang surat rekomendasi untuk keperluan aplikasi sekolah adalah bahwa semakin tinggi jabatan pemberi rekomendasi kita, semakin tinggi pula kesempatan kita diterima. Sehingga kadang aku temui kasus di mana seseorang meminta rekomendasi dari Menteri atau orang penting lain, meskipun baru membantu mereka sebagai penerjemah selama satu hari (which is cool, by the way, but your relationship isn’t intense enough to get you a robust story).

Prinsip umumnya: semakin dekat hubungan atau semakin lama kalian bekerja dengan pemberi rekomendasi, semakin baik. Jika ada dua orang yang kenal pada tingkat yang sama, maka semakin tinggi jabatannya semakin baik.

Kualitas dan intensitas hubungan profesional tersebut menjadi penting karena nantinya kredibilitas klaim dalam surat rekomendasi akan ditentukan oleh banyak-tidaknya ‘bukti’ dalam bentuk anekdot-anekdot nyata. Jadi semakin *personal* surat tersebut semakin baik.

Jika sang pemberi rekomendasi cukup terbuka, teman-teman bisa diskusikan elemen apa yang ingin ditekankan dalam masing-masing surat sehingga dapat tersinkronisasi dengan keseluruhan aplikasi.

8. Write shitty first drafts. Then have your confidants and/or mentors to review them.

Yang juga memakan banyak waktu adalah esai-esai (biasanya ada 1-4 dengan pertanyaan yang berbeda-beda). Kuncinya berasa di menulis draft pertamamu seawal mungkin, karena itu memungkinkan teman-teman untuk punya banyak waktu untuk melakukan revisi.

Penting juga untuk memiliki teman atau mentor yang dapat membaca dan memberikan masukan kepada draft awal teman-teman. Aku secara spesifik berhutang pada beberapa orang terdekat untuk hal ini.

Kadang, kita merasa malu atau protektif terhadap esai yang sangat personal. Karena itu aku juga tidak menyarankan untuk mengirim ke terlalu banyak orang, cukup 1-3. Perlu diingat bahwa ketertutupan itu juga akan menutup kesempatan untuk mengembangkan esai teman-teman untuk menjadi lebih baik lagi.

9. Take your time.

Finally, remember that everyone lives in their own time zone. Some people might do their master’s earlier than others but it doesn’t mean it would’ve been good for you. Maybe waiting longer means you can get more out of your study later.

Point is, there’s no use comparing yourself to others—but it’s generally a good practice to look at how far you’ve grown from your past self.

Sebagai referensi tambahan, aku ingin membagi beberapa tautan untuk mempelajari proses aplikasi Harvard Kennedy School lebih lanjut, serta organisasi Indonesia Mengglobal yang sudah memuat banyak sekali informasi:

Kalau ada tautan lain yang bisa berguna, ataupun pertanyaan lebih lanjut, silakan tinggalkan di kolom komentar di bawah.

I’ll stop here because I run out of points to make. If I think of anything else, I’ll update this post in the future.

Dengan ini, saya mengucapkan selamat dan semoga sukses untuk teman-teman yang, seperti saya dulu, mulai dengan ingin.

You’ll be surprised to find out where that willpower could take you.

 

(Catatan: Artikel ini sudah pernah dipublikasikan sebelumnya di blog pribadi Afu, The Conundrum Journal: Of Ideas and Sentiments, yang dapat dibuka melalui tautan berikut https://afuta.me).

SHARE
Previous articleUN General Assembly Role Play from Engineering Student Perspective
Next articleYou and Your Palate: The Food Wisdom of An Exchange Student in France
Andhyta Firselly Utami (Afu) is a Master in Public Policy graduate from Harvard University’s JFK School of Government. Her capstone analysis focused on the implementation of Village Fund in Indonesia and received a distinction title. After grad school, she decided to focus on development economics issues, and currently works as an analyst at the World Bank in Jakarta. Prior to this, Afu worked with a team at World Resources Institute on initiatives that radically improved transparency in forest and land use governance and climate policy in Indonesia. Last summer, she also interned at the Adaptation Programme at UN Climate Change (UNFCCC) Secretariat in Bonn, Germany. Afu’s actively involved in youth empowerment activities, including through co-founding Indonesian Future Leaders in 2009, leading political education initiative Parlemen Muda Indonesia in 2013-2014, as well as contributing member of Indonesia Youth Diplomacy community since her appointment as Indonesia’s Head of State to Y20 Summit in 2013. Afu also has an online personality as the co-producer of Frame & Sentences, a YouTube channel of video essays promoting critical thinking. In her free time, Afu plays board games, sorts out her electronic folders, and performs spoken word poetry.