Optimisme dan Konsistensi: Si Penyelamat Mahasiswa Salah Jurusan

0
871

There is no easy path to reach our dreams. A perfect dose of optimism and consistency is essential to achieve that. In this article, Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha tells of how those two traits brought him to finally achieve his dreams after failing several times.

Enam tahun berlalu sejak keinginan untuk berkarya sebagai dokter menggelora dalam jiwa mudaku. Waktu itu, bagiku dokter adalah cita-cita paling strategis untuk membantu orang lain. Hingga pada akhirnya penolakan demi penolakan berhasil menghempaskan harapanku untuk mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK), baik dari gerbang Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan maupun tulis. Untung saja strategi bertahan hidup yang kumiliki telah cukup terasah, sehingga meski aku ditolak oleh pilihan pertama, tapi pilihan kedua menerimaku dengan tangan terbuka.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi (sekarang Departemen Teknik Material), Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menjadi penyelamat jalan cerita studiku di tahun 2012.

Yeay! Meski tak sesuai harapan, setidaknya inilah jalan studi yang diam-diam menjadi keinginan orang tua untukku (terutama Papa) meski tak pernah terucap sebelumnya,” gumamku dalam hati saat melangkah perlahan menuju meja registrasi mahasiswa baru ITS. Terus terang rasa tak enak hati dan gagal move on di awal-awal semester sempat menjadi satu-satunya alasan kurangnya semangat untuk belajar lebih giat pada saat itu. Beruntung sisa-sisa pemahaman masa SMP dan SMA sebagai anggota tetap klub Olimpiade Sains Nasional sekolah untuk bidang studi Fisika dan Kimia berhasil menyelamatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di tahun pertama. Karena pada dasarnya bidang ilmu bahan (dalam Teknik Material dan Metalurgi) adalah perpaduan antara ilmu-ilmu eksak seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan bahkan Biologi.

Perjalanan akademikku selama S1 bisa dibilang tak semulus dan secemerlang kawan-kawan yang sejak awal memiliki minat di jurusan ini. Bahkan, Indeks Prestasi Semester (IPS)-ku sejak semester 3 hingga semester ke-6 cenderung terjun bebas. Alhasil, nominal IPK pun tak valid jika harus dijadikan tolok ukur untuk melabeli diriku sebagai mahasiswa berprestasi. Tapi setidaknya, meski tak setinggi kawan-kawan yang memang otaknya kelewat encer dan transkripnya selalu dijadikan sarang huruf A, IPK akhirku masih masuk di area cumlaude. Oke, ini kisahku tentang kegagalan pertama yang kualami, yang justru membawaku terbang lebih jauh ke dalam kehidupanku saat ini. Ke dalam sebuah area unik yang bisa dibilang sedang hype dan didambakan setiap generasi milenial Indonesia di manapun berada.

Tak lama sebelum masa S1-ku berakhir, aku mendapatkan tawaran untuk melanjutkan studi di sebuah kampus top three di Taiwan. Tak tanggung-tanggung, rekomendasi kudapatkan dari Kepala Jurusan yang juga merupakan pembimbing utama Tugas Akhir (TA) yang tengah kukerjakan. Minat? Jelas, siapa sih yang tak ingin mendapatkan kesempatan international exposure semacam itu? Tapi nampaknya kegalauan masa-masa pengerjaan TA membuatku tak bisa fokus mempersiapkan berkas-berkas, yang pada akhirnya membimbingku pada keterlambatan pengumpulan dokumen. Bagiku, semester tujuh adalah semester paling neraka yang menelurkan dua kegagalan sekaligus; gagal mendaftar S2 lebih awal, dan gagal menyelesaikan studi S1 di tahun ke-3,5 (sesuai harapan orang tua) akibat keterlambatan pengiriman bahan dari Jerman ke Indonesia, untuk eksperimen TA-ku.

National Central University front gate
At the front gate of the National Central University

Satu Desember 2015, adalah tanggal di mana secercah harapan untuk melanjutkan studi S2 di luar negeri hadir kembali, yang menjadi keinginan pribadiku untuk balas dendam (masih akibat kegagalan pertama). Bahkan empat tahun pun belum bisa membuatku sepenuhnya move on. Di tanggal itu, Profesor yang menjadi pembimbingku di tingkat magister memberikan Conditional Letter of Acceptance pertamanya saat walk in interview yang dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi, serta dosen-dosen di ITS yang memiliki keinginan serupa. Singkat cerita, Graduate Institute of Materials Science and Engineering, National Central University/國立中央大學, Taiwan (R.O.C.) menerimaku sebagai mahasiswa pascasarjana mereka, di bawah naungan Energy Storage and Green Chemistry Laboratory.

Dua tahun merasakan riset dan eksperimen dengan fokusan topik baru membuatku cukup kelabakan. Dari biomaterials ortopedi ke baterai, beserta beberapa kali pergantian topik yang harus kujalani. Dari mulai dua kali pergantian bahan riset katoda untuk baterai Magnesium, beralih ke studi elektrolit, hingga pada akhirnya jatuh cinta pada Silicon sebagai anoda untuk baterai Lithium-ion. Wow, cukup melelahkan bukan? Belum lagi, beban 24 SKS kuliah (percayalah, 9/24-nya berbahasa pengantar bahasa Cina) yang harus ditempuh di tengah-tengah riset penyelesaian tesis. Meski harus menempuh perjuangan yang tak mudah, namun setelah empat tahun merasakan sakitnya gagal move on, akhirnya aku berhasil jatuh cinta pada dunia advanced research di bidang ini. Apalagi setelah menganalisis lebih jauh tentang seberapa Indonesia tertinggal dari negara-negara lain, bahkan dari negara serumpunnya sendiri di Asia Tenggara, dalam bidang riset ilmu bahan.

“Yakin akan berhenti sampai di sini?” tanyaku pada diri sendiri, menjelang penghujung masa studi S2. Hingga akhirnya pertanyaan itu bermuara pada hasil kontemplasi mendalam tentang salah satu cara berkontribusi positif untuk Indonesia di masa depan, yang bisa jadi kutempuh melalui jalur riset di bidang ilmu paling potensial di dunia: Materials Science and Engineering. Mengapa demikian? Karena tak bisa dipungkiri, toh para pebisnis, pelaku industri, dan pelaku ekonomi di seantero bumi berhasil menggerakkan roda perputaran finansial dari sektor-sektor yang membutuhkan unsur fisik dan infrastruktur. Lalu, para arsitek, desainer interior bangunan, dan para kontraktor sipil, semuanya membutuhkan bahan-bahan berkualitas untuk menunjang pekerjaan mereka. Belum lagi para insinyur di bidang elektronika, otomotif, manufaktur, hingga pertambangan, yakin mereka tak membutuhkan ilmu-ilmu bahan terapan untuk melakukan inovasi dalam pekerjaan yang mereka tekuni?

Graduation ceremony with Professor Jou-Jing Yang
Graduation ceremony with Professor Jou-Jing Yang

Demikianlah sedikit ulasan tentang betapa pentingnya optimisme dan konsistensi untuk dapat mengalahkan rasa sakit dari kegagalan, yang secara happy ending dikisahkan oleh seorang mahasiswa salah jurusan dengan tiga kali kegagalan terbesar dalam hidupnya. Oh iya, ngomong-ngomong apa kalian masih ingat paragraf tentang kampus top three Taiwan yang gagal kumasuki akibat terlambat mengumpulkan berkas? Tahun ini aku berhasil menjadi mahasiswa di sana; tepatnya di Materials Science and Engineering Department, National Chiao Tung University/國立交通大學, Taiwan (R.O.C.) melalui jalur Doctoral degree-seeking student yang seleksinya dilakukan di bulan Maret-Juni lalu.

“Setidaknya, meski gagal jadi dokter, sekarang bisa merasakan pendidikan sebagai calon doktor ya, nak!” kata orang tuaku di sela-sela obrolan dalam prosesi rutin video call untuk melepas rasa rindu akibat hubungan Long Distance Relationship yang tak terlalu jauh: Taiwan-Indonesia.

Photo credit goes to author.

SHARE
Previous articleChalmers University of Technology: Di Mana Work-Life Balance Bukan Sekadar Mitos!
Next articleKartika Jala Kridha 2013: Taruna Akademi Angkatan Laut Berlayar ke Australia
Known as Ozha, a young Indonesian student, author, and freelance online media writer. He got his bachelor’s degree from Materials and Metallurgical Engineering, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (Surabaya) before continuing his study in Graduate Institute of Materials Science and Engineering, National Central University (Zhongli, Taiwan) since 2016. Besides doing his research, Ozha was also a General Secretary of Indonesian Student Association in Taiwan for the 2017/2018 period and Communication Office staff of Overseas Indonesian Students Association Alliance for the same period. After got his M.Sc. in June 2018, now he is studying as a doctoral student in Materials Science and Engineering Department, National Chiao Tung University (Hsinchu, Taiwan). Furthermore, he is also starting his second novel series, titled Achrodiag trilogy (the first was already published in March 2018) with #KotakAjaib as his author-name.