Kuliah S2: Perpanjangan S1?

0
671

Setelah lulus S1, apa yang teman-teman lakukan? Mungkin ada yang ingin bekerja, namun mungkin ada juga yang ingin langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Bagi kalian yang ingin memilih pilihan kedua, di artikel ini Adhi Priamarizki berbagi tentang pengalamannya langsung menempuh pendidikan S2 di Nanyang Technological University setelah selesai S1. Selamat membaca!

Sebagian dari teman-teman mungkin ada yang langsung melanjutkan pendidikan dari jenjang S1 langsung ke S2 tanpa bekerja lebih dulu. Saya sendiri termasuk di dalam kategori ini. Walau sekarang sudah banyak tawaran beasiswa yang bisa memfasilitasi pilihan ini, pilihan ini sebenarnya dapat  berujung pada problema lain. Pada beberapa kasus, ada rekan-rekan yang setelah mendapatkan gelar master tanpa pengalaman kerja mengalami kesulitan untuk mencari kerja karena over qualified atau memang bingung untuk menentukan pilihan karir. Melihat problema ini, saya hendak sedikit berbagi mengenai beberapa poin yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan S2 langsung setelah S1 berdasarkan pengalaman saya dan juga berdasarkan cerita dari kawan-kawan yang saya temui.

1. Tentukan Jalan Karir Dahulu
Pada saat memutuskan akan mengambil S2 dulu, saya sedang menjadi pegawai magang di sebuah konsultan politik / think tank bagi sebuah fraksi di DPR. Tugas saya saat itu adalah melakukan riset berkaitan dengan bidang studi saya, yakni soal politik luar negeri dan pertahanan. Pengalaman ini membuat saya tertarik untuk meniti karir di dunia riset. Maka saya berusaha mencari S2 yang berhubungan dengan bidang dan yang dapat menopang kemampuan riset saya kedepannya.

2. Memilih Universitas
Saat memilih universitas yang akan saya tekuni, hanya dua hal yang menjadi prioritas saya: kualitas universitas dan ketersediaan beasiswa. Saya berusaha mencari universitas yang memiliki jurusan yang sesuai dengan bidang saya tekuni dan tentunya memiliki kualitas yang mumpuni. Tak hanya itu, saya juga berusaha mengontak beberapa teman yang memiliki koneksi ke universitas tersebut untuk menanyakan bagaimana perkuliahan di tempat itu. Untuk mengecek kualitas, mungkin yang termudah adalah mengecek peringkat dunia universitas tersebut. Namun menurut saya alangkah lebih baik jika usaha mengecek kualitas universitas ditambah dengan  mengecek publikasi dan rekam jejak dari pengajar-pengajar yang ada untuk memberikan gambaran yang lebih detil.

Hal berikutnya adalah ketersediaan beasiswa. Ini sangat penting bagi saya karena sangat tidak mungkin untuk membayar biaya kuliah dari uang sendiri saat itu. Meski pada akhirnya saya tidak mendapatkan beasiswa penuh, namun saya menikmati potongan biaya kuliah yang sangat meringankan. Selain beasiswa dari dalam negeri, ada juga beberapa universitas yang menyediakan beasiswa langsung, atau potongan biaya kuliah. Sebagai catatan, secara personal, saya tidak pernah terpikir untuk memilih tempat S2 saya berdasarkan negara mana yang akan saya tinggali. Saya hanya fokus terhadap dua hal di atas.

Suasana kantin kampus Nanyang Technological University (NTU)
Suasana kantin kampus Nanyang Technological University (NTU)

3. Saat Kuliah
Setelah beberapa pertimbangan, pada akhirnya saya memutuskan untuk kuliah S2 di jurusan Strategic Studiesdi S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Pada awalnya saya cukup kaget dengan sistem perkuliahan di NTU, karena perkuliahan dilakukan dengan sistem kelas seminar yang mengharuskan mahasiswa aktif di ruang kelas. Menghabiskan bahan bacaan menjadi sebuah kewajiban selama saya berkuliah di sini.

Selain belajar di kelas, sebenarnya ada hal lain yang tak kalah penting: membangun jejaring atau networking. Sangat disayangkan jika melewatkan kesempatan ini. Membangun tali pertemanan baik dengan teman-teman se-negara dan internasional adalah salah satu kesempatan yang muncul saat saya kuliah S2. Saya bisa berkenalan dengan orang-orang dengan latar belakang dan usia yang berbeda jauh. Selama saya S2, saya juga mengamati beberapa teman-teman Indonesia ada yang hanya mau bergaul dengan orang-orang internasional dan ada juga yang hanya bergaul dengan sesama orang Indonesia. Ada baiknya hal seperti ini dihindarkan karena akan membatasi pergaulan kita. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kita tahu masa lalu, tapi kita tidak tahu masa depannya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan teman-teman sekelas kita akan raih di masa depan. Ada kemungkinan, jalan karir kita akan bersinggungan kembali dengan teman-teman sekelas kita dulunya. Jangan lupa juga pelajari kebiasaan orang-orang lokal karena ini bisa jadi nilai tambah di masa depan. Pada saat di Singapura, saya sangat suka belajar di perpustakaan umum karena termotivasi oleh anak-anak sekolah yang bahkan pada akhir pekan pun berkunjung kesana.

Kampus Nanyang Technological University (NTU)
Kampus Nanyang Technological University (NTU)

4. Mencari Pekerjaan
Untuk mencari pekerjaan, saya melakukannya sekitar 4 bulan sebelum kelulusan. Saya mengirimkan aplikasi ke beberapa institusi. Beberapa perusahaan dan institusi tidak hanya menerapkan syarat nilai, tetapi juga rekomendasi. Oleh karena itu, membangun relasi dengan pengajar dan pembimbing saat S2 juga tidak kalah penting. Salah seorang teman saya pernah menasehati saya dalam mencari pekerjaan. Dia menyarankan saya untuk tidak langsung pulang ke Indonesia. Langsung pulang dan tidak bekerja di luar negeri itu hanya akan membawa pengetahuan akademis tapi tidak dengan kemampuan mengimplementasikannya serta budaya kerja negara tempat kita belajar. Selain itu, tentunya akan menjadi beban negara terutama jika tidak ada pengalaman kerja sebelumnya. Saya sendiri akhirnya bekerja kurang lebih selama tiga tahun di Singapura sebelum melanjutkan kuliah S3.

Kota Singapura
Kota Singapura

5. Pilihan Lain
Apakah harus S2? Jawabannya tergantung bagaimana kita mau mengembangkan diri kita. Lalu ketika ditanya apakah ada opsi lain untuk mengembangkan diri kita? Tentu jawabannya selalu ada. Sekolah bahasa merupakan salah satu opsi yang mungkin teman-teman bisa pertimbangkan. Mungkin saat ini menguasai bahasa Inggris sudah menjadi nilai tambah. Akan tetapi, di masa depan hal itu bisa saja menjadi sesuatu yang biasa saja karena semua orang bisa melakukannya. Oleh karena itu, menambah kemampuan bahasa asing lainnya mungkin dapat menjadi bekal yang berharga.

Ada baiknya teman-teman memikirkan secara matang-matang apakah dengan mengambil S2 sesuai dengan kebutuhan masa depan teman-teman atau tidak. Satu hal yang pasti, jangan pernah menganggap mengambil S2 adalah perpanjangan dari studi S1 – apalagi hanya ajang untuk tinggal di luar negeri (alasan ini juga ada lho!). Semoga sukses!