Kerja, Kuliah, dan Tepian Black Forest

0
576
Pemandangan danau Gifiz di Offenburg, Jerman. Photo oleh Agus Praditya

Kamu sudah bekerja beberapa tahun dan ingin kuliah lagi tapi bingung harus mulai dari mana? Simak cerita perjalanan kontributor kami, Agus, dari bagaimana ia menemukan bidang studi lanjutan yang tepat hingga pindah dan belajar ke kota Offenburg di tepian Black Forest,untuk mendalami konservasi dan manajemen energi.

Perjalanan menemukan ketertarikan studi baru

Setelah selesai sarjana aku bekerja selama tiga setengah tahun di perusahaan tambang multinasional. Aku diterima di program Management Trainee-nya sehingga di tahun pertama aku dan teman-teman seangkatan berkesempatan untuk belajar di berbagai departemen di perusahaan. Bahkan selesai program trainee, beberapa dari kita cukup beruntung untuk ditempatkan di departemen bernama Indonesian Growth Project(IGP) yang memiliki tanggung jawab meningkatkan kapasitas produksi pabrik pengolahan di Sulawesi Selatan.

Tahun pertama di IGP atasanku bernama Kevin, seorang warga negara Kanada yang telah tinggal hampir sepulah tahun di Indonesia. Orangnya teliti dan sabar dalam menjelaskan. Penugasan pertama dari dia adalah menghitung konsumsi listrik di salah satu gedung di pabrik. Dengan penugasan ini aku pun akhirnya mengunjungi Sulawesi Selatan dan bahkan diminta untuk tinggal selama beberapa bulan. Selain untuk membantu mencari data demi keperluan IGP, juga agar aku mengenal pabrik dan mulai membangun kontak dengan orang-orang yang bekerja di situ.

Dua tahun berlalu. Aku bekerja sebulan di Jakarta dan dua bulan di Sulawesi, seperti sebuah siklus. Aku tidak keberatan bekerja di lapangan, bahkan aku menikmatinya. Hanya saja dari penugasan selama dua tahun ini aku mengenal lebih jauh tentang diriku, tentang di mana aku cocoknya bekerja. Aku merasa bekerja di pabrik pengolahan hasil tambang bukanlah buatku.

Memasuki tahun ketiga Kevin pensiun dan balik ke Kanada. Aku pun mendapatkan bos baru, Juan dari Chile.

What can I do for you my young padawan?”, begitu selalu dia menyapaku tiap kali aku mengetuk pintu kantornya. Selain pekerjaan keteknikan, Juan memberikanku tugas dan tanggung jawab terkait manajerial. Aku diminta bekerja sama dengan perusahaan konsultan teknik untuk menyusul jadwal pekerjaan di pabrik, menentukan paket-paket pekerjaan yang harus mereka selesaikan selama periode kontrak, dan mengevaluasi seberapa jauh mereka telah menyelesaikan paket-paket pekerjaan tersebut, untuk tahu, apakah mereka berhak mendapatkan bayaran yang telah disepakati atau belum. Dengan penugasan ini aku jadi belajar cara membuat timeline sebuah proyek, menyusun metode evaluasipencapaian target pekerjaan, membangun sistem pembukuan untuk pembayaran upah, dan belajar banyak tentang diplomasi. Dari semua itu yang terpenting adalah aku menjadi tahu, kalau aku memiliki ketertarikan dengan bidang manajemen.

Mencari Jerman

Akhir Juli 2014 aku menemukan informasi akan sebuah program bernama “Make It in Germany” dari giz. Tertulis di situ bahwa Jerman kekurangan engineerdan membutuhkan tenaga-tenaga ahli dari berbagai negara, salah satunya dari Indonesia. Aku mendaftar, namun gagal di tahap wawancara. Kata mereka, tenaga ahli di bidang pertambangan tidak dibutuhkan lagi di Jerman.

Program “Make It in Germany” yang ditawarkan saat itu adalah program beasiswa untuk belajar bahasa Jerman sampai level B2 di Goethe Institut. Setelah lulus ujian level itu dan ketika ada kebutuhan dari Jerman, maka peserta yang lolos seleksi akan mendapatkan prioritas sebagai kanditat untuk posisi tersebut.

Saat itu aku sudah sadar bahwa masa depanku tidak lagi di perusahaan tambang. Terinspirasi dari kegiatan bakti sosial yang pernah kulakukan saat sarjana dan ditambah latar belakang pendidikanku di teknik elektro, aku pun memutuskan ingin bekerja di sektor energi, khususnya yang berhubungan dengan energi terbarukan. Hanya saja dengan berbekal pengalaman yang kumiliki saat itu, hal ini tidak akan mudah. Aku harus kuliah lagi.

Master“ dan “Energy and Management“ adalah kata-kata kunci yang kumasukkan di mesin pencari google. Dari sekian banyak hasil pencarian, ada menemukan tiga negara yang menawarkan jurusan di bidang Energy and Management, yakni Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Amerika Serikat dan Inggris sebernarnya pilihan yang lebih mudah sebab aku menguasai bahasanya. Hanya saja, biaya kuliahnya sangat mahal. Di masa itu aku memang tidak punya rencana untuk balik ke Indonesia setelah S2 sehingga tidak berniat untuk melamar beasiswa LPDP. Karenanya, pilihanku pun jatuh ke negara Jerman yang saat itu uang kuliahnya masih gratis.Energy Conversion and Management(ECM) adalah program studi di Offenburg University of Applied Science(Hochschule Offenburg) yang menjadi pilihanku. Walaupun programnya adalah program internasional, di semester tiga ada kuliah dalam bahasa Jerman sehingga sertifikat bahasa Jerman level A2 merupakan salah satu syarat pendaftarannya.

Aku cukup beruntung. Jadwal pekerjaanku di tahun ketiga mayoritas di Jakarta sehingga aku pun memutuskan untuk les bahasa Jerman di Goethe. Dengan sisa waktu delapan bulan kurang hingga batas akhir pendaftaran, aku mengambil kelas intensif (tiga kali seminggu).

Offenburg University of Applied Science. Foto oleh Agus Praditya.
Offenburg University of Applied Science. Foto oleh Agus Praditya.

Memasuki Black Forest dan mendalami manajemen energi

Offenburg adalah sebuah kota kecil di barat daya Jerman di tepian Schwarzwald (Black Forest), yang terkenal tidak hanya karena alamnya yang indah, namun juga karena kue “Black Forest” asalnya dari daerah ini. Di Offenburg hanya terdapat sebuah universitas, Hochschule Offenburg, dengan salah satu program studinya, ECM, yang menawarkan modul pembelajaran yang menarik. Pada semester pertama dan ketiga kami kuliah di kampus, sementara di semester kedua dan keempat kami harus magang (internship) dan mengerjakan Tesis. Dengan besarnya peluang melakukan magang dan menulis tesis di perusahaan, ECM memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i yang baru saja lulus sarjana untuk mendapatkan gelar master sekaligus pengalaman kerja, setidaknya satu tahun.

ECM menawarkan mata kuliah yang bervariasi, mulai dari bidang keteknikan hingga manajemen energi. Ekonomi Energi adalah salah satu mata kuliah di semester pertama yang telah memperkenalkan konsep energi sebagai sebuah komoditas kepadaku. Berbeda dengan di Indonesia, di Jerman (bahkan di beberapa negara Eropa) listrik diperjualbelikan di sebuah bursa, layaknya jual beli saham di Bursa Efek Indonesia. Lalu di semester ketiga kami mendapatkan mata kuliah tambahannya, Operation Research in Energy Economics, yang menitikberatkan kepada metode untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan biaya. Konsep listrik sebagai sebuah komoditas yang keuntungan penjualannya dapat dimaksimalkan dan biaya produksinya dapat diminimalkan benar-benar telah mencuri perhatianku. Aku pun berkeinginan untuk mendalaminya  sehingga aku memilih tema ini menjadi topik tesisku.

Demonstration of economical potential from Virtual Power Plant of Mini and Micro Combine Heat and Power (CHP) Plantsmerupakan judul tesisku. Sebagai informasi, CHP adalah mesin yang membangkitan tenaga listrik, layaknya genset, dan menghasilkan panas pada saat yang bersamaan. Panas ini kemudian digunakan untuk menghangatkan air yang akan dialirkan melalui pipa-pipa untuk menghangatkan rumah ataupun ruangan. Karena kemampuannya untuk menghasilkan energi listrik dan panas (thermal) pada saat yang bersamaan, CHP dikategorikan sebagai mesin yang mampu memaksimalkan utilisasi energi primer (baik gas ataupun bahan bakar minyak).

Dalam tesis ini aku mengembangkan sebuah metode optimisasi menggunakan Mixed-integer Linear Programming (MILP) untuk mengontrol suplai panas menggunakan CHP, boiler,dan thermal storage. Metode yang kutuliskan dalam algoritma ini akan mengatur produksi energi termal dan juga energi listrik, sehingga diperoleh laba yang maksimum berdasarkan harga jual beli listrik untuk tiap lima belas menit. Model ini kemudian aku aplikasikan pada beberapa utilitas yang memiliki CHP dan yang tergabung dalam proyek micro VKK. Hasilnya kemudian dianalisis berdasarkan objektif yang telah ditentukan sebelumnya, apakah sudah optimal atau belum.