Berorganisasi di PPI: Is it worth it? – Pengalaman Menjadi Ketua PPI Kyoto-Shiga, Jepang

0
367
Piknik warga Kyoto-Shiga ke UNESCO World Heritage Shirakawa-go

Berkuliah di luar negeri tidaklah semata-mata tentang pendidikan formal di dalam kelas. Banyak kesempatan yang terbuka bagi kita untuk mengembangkan diri, salah satunya dengan menjadi pemimpin organisasi. Melalui artikel ini, Rizky Ramadhan, Ketua PPI Kyoto-Shiga dan mahasiswa doktoral (S3) tahun ketiga di Kyoto University, Jepang berbagi pengalaman dan lesson learned yang ia dapatkan dengan terlibat di organisasi PPI di tanah rantau.

Proses Menjadi Ketua PPI Kyoto-Shiga
Menjadi Ketua PPI tidak pernah ada dalam rencana hidup saya. Saat berangkat ke Jepang pada Oktober 2015, tujuan utama saya hanyalah untuk menempuh pendidikan doktoral (S3). Namun sesampainya di Kyoto, saya mengikuti beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh PPI Kyoto-Shiga  (PPI-KS) dan mulai merasa tertarik karena melalui kegiatan-kegiatan PPI ini saya dapat bertemu dengan banyak mahasiswa Indonesia dengan beragam keilmuan. Walau demikian, tidak ada ambisi atau keinginan spesifik saya untuk menjadi bagian pengurus saat itu – semua terjadi mengalir begitu saja. Pada tahun pertama saya di Kyoto, saya diajak menjadi staf divisi kajian ilmiah PPI-KS. Tahun kedua, saya menjabat sebagai wakil ketua. Tahun ketiga, nama saya muncul sebagai salah satu tiga besar kandidat Ketua PPI-KS 2017/2018.

Proses pemilihan ketua PPI-KS yaitu dengan pencalonan nama dari warga dan musyawarah. Selama tiga tahun saya di Kyoto, suasana musyawarah penentuan Ketua PPI-KS ini bisa dibilang cukup unik. Jika kita sering melihat para calon pemimpin berdebat dan memaparkan visi misi demi mendapatkan kursi, di PPI-KS, para calon malah seringkali menolak atau enggan mengemban amanah sebagai Ketua PPI-KS. Tidak ada pemaparan visi misi, malah lebih sering ada pemaparan alasan mengapa mereka tidak bisa menjadi Ketua.

Sebenarnya, saat sesi pemilihan saya pun, saya melakukan hal yang sama – menolak dicalonkan sebagai Ketua, menimbang tahun ini adalah tahun terakhir program doktoral saya. Namun, saat itu tidak satu pun dari calon lainnya bergeming untuk menyanggupi menjadi Ketua PPI-KS. Selain itu, karena posisi saya sebelumnya sebagai wakil, saya kenal baik dengan beberapa Ketua PPI-KS sebelumnya, dan kehadiran mereka di sesi musyawarah itu akhirnya membuat saya memutuskan untuk menerima amanah sebagai Ketua PPI-KS periode 2017/2018 demi keberlanjutan organisasi ini.

Serah terima jabatan Ketua PPI Kyoto-Shiga 2016/2017 ke 2017/2018
Serah terima jabatan Ketua PPI Kyoto-Shiga 2016/2017 ke 2017/2018. Foto: Eko Heru Prasetyo

Perjalanan mengurus PPI Kyoto-Shiga 2017/2018
Berkaca dari pengalaman-pengalaman pemilihan Ketua PPI-KS sebelumya di mana seringkali calon yang ditunjuk menolak atau enggan menerima amanah, tujuan utama saya dalam kepengurusan tahun ini hanya satu: meningkatkan antusiasme dan rasa kepemilikan  warga Kyoto-Shiga terhadap PPI, sehingga mau mengemban amanah untuk menjaga PPI Kyoto-Shiga agar tetap eksis – baik sebagai Ketua, ataupun pengurus PPI-KS selanjutnya.

Sejalan dengan tujuan utama saya ini, program-program yang dilaksanakan selama kepengurusan saya pun adalah hasil masukan dari pengurus maupun warga, bukan dari ambisi saya pribadi. Kegiatan diutamakan yang tujuannya mempererat silaturahmi warga dan penyelenggaraannya disesuaikan dengan kapasitas pengurus serta warga (mengingat kegiatan yang di luar kapasitas bisa menjadi salah satu faktor yang menghambat keinginan warga untuk mau bergabung dengan PPI di kepungurusan berikutnya). Tidak jarang saya mengecek terlebih dahulu kesibukan perkuliahan pengurus atau warga yang mau dilibatkan dalam acara PPI seperti apa, karena jangan sampai kegiatan PPI yang merupakan ekstrakurikuler mengganggu tujuan utama sebagai mahasiswa.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh PPI-KS contohnya Welcome Party untuk mahasiswa baru di musim semi dan musim gugur, piknik warga ke lokasi yang diminta oleh warga (tahun ini ke desa UNESCO World Heritage Shirakawa-go), sesi diskusi ilmiah berbagi ilmu dari warga yang baru selesai sidang, meminjamkan yukata (pakaian tradisional Jepang) untuk warga saat Festival Gion, dan lain-lain. Sebagian besar acaranya berskala kecil dan internal warga di wilayah Kyoto-Shiga saja – sesuai dengan tujuan saya meningkatkan antusiasme warga. Acara khas dwi-tahunan PPI-KS yang berskala besar, Malam Indonesia, tidak diselenggarakan tahun ini. Namun, ada acara besar lainnya yang dilaksanakan oleh PPI-KS tahun ini yaitu menjadi panitia acara Pekan Olaharaga Masyarakat Kansai (Pormas Kansai) 2018. Melalui acara ini, PPI-KS berinteraksi dengan PPI dari wilayah lain seperti Osaka-Nara, Kobe, Okayama, juga dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Osaka.

Suasana piknik welcome party autumn 2017
Suasana piknik welcome party autumn 2017. Foto: Nisita Pradipta
Warga Kyoto-Shiga mengenakan yukata pinjaman hasil kerjasama PPI-KS dengan Asosiasi Persahabatan Jepang-Indonesia (APJI) di Festival Gion
Warga Kyoto-Shiga mengenakan yukata pinjaman hasil kerjasama PPI-KS dengan Asosiasi Persahabatan Jepang-Indonesia (APJI) di Festival Gion
PPI Kyoto-Shiga menerima piala Juara Umum Pormas Kansai 2018 dari Ketua PPI Kansai
PPI Kyoto-Shiga menerima piala Juara Umum Pormas Kansai 2018 dari Ketua PPI Kansai. Foto: Anissa Ratna Putri

Lesson learned berorganisasi di PPI Kyoto-Shiga
Menjabat sebagai Ketua PPI-KS tentunya ada tantangan dan pelajaran yang diambil.  Ada dua tantangan paling signifikan yang dihadapi. Pertama, tantangan berkomunikasi dengan warga dari berbagai generasi yang memiliki pola pikir yang berbeda. Kedua, tantangan menengahi aspirasi warga dengan kapasitas dan ambisi pengurus.Namun dari tantangan inilah, saya dapat mengambil pelajaran. Beberapa pelajaran yang saya dapatkan dengan menjadi Ketua PPI-KS yaitu:

  1. Manajemen waktu: walau sempat keteteran, kini saya belajar mengukur kapasitas diri agar tetap bisa memenuhi kewajiban saya sebagai pelajar dan menjalani amanah sebagai Ketua PPI-KS.
  2. Menentukan sikap: saya dilatih untuk bisa menentukan kapan bisa bernegosiasi, kapan harus mengambil sikap tegas.
  3. Berkomunikasi lintas generasi: saya mulai terbiasa untuk menggunakan cara komunikasi yang berbeda jika berinteraksi dengan warga yang berbeda generasi dengan saya.
  4. Belajar sabar, ikhlas, dan mau memahami orang lain.

Dari pengalaman saya ber-PPI, apakah bergabung dengan PPI worth it? Saya bisa bilang, dengan adanya pelajaran yang saya ambil, saya tidak menyesal pernah bergabung dengan organisasi ini. Apakah saya akan merekomendasikan teman-teman yang akan atau sedang berkuliah di luar negeri untuk bergabung dengan PPI? Ya, jika kamu adalah orang yang mau belajar, idealis namun berani untuk fleksibel, dan tidak mudah ‘baper’. Tidak, jika kamu adalah orang yang keras dengan idealismemu. Karena saya percaya, dalam bermasyarakat perlu pikiran yang terbuka dan kelapangan hati yang luas.

SHARE
Previous articleAre the Differences Between the SAT and the ACT a Big Deal?
Next articleIs It Time For You To Consider Graduate School?
Rizky Ramadhan
Rizky Ramadhan is a third-year doctoral degree student at Kyoto University. He is majoring in environmental management, with focus on ecological economics. Rizky received his bachelor degree from Management Department of Universitas Padjajaran and his master degree from Environmental Science Department of Universitas Padjajaran. Other than working on his doctoral research, Rizky currently leads Indonesia Student Association (PPI) in Kyoto-Shiga.