Catatan Mahasiswa di Negeri Sakura: Perbandingan Aneka Moda Transportasi di Jepang dan Indonesia

0
485

Tinggal di luar negeri tentunya membawa pengalaman yang berbeda dari kehidupan sehari-hari di Indonesia, salah satunya adalah penggunaan aneka moda transportasi. Dalam artikel ini, Editor IM yang sekaligus adalah mahasiswa di Jepang, Anissa, akan berbagi pengalaman dan pengetahuannya mengenai sistem transportasi di Jepang, dan membandingkannya dengan Indonesia. Silakan menyimak!

1. Mobil dan taksi
WhatsApp Image 2018-08-25 at 11.14.38(5)

Sebelum tinggal di Jepang, saya tinggal di Bekasi. Mengingat lokasi rumah saya yang kurang terjangkau oleh transportasi umum selain angkot (angkutan umum), seringkali saya bepergian dengan mobil pribadi. Di Jepang, ternyata naik mobil menjadi sebuah kemewahan bagi saya. Begitu pula dengan taksi. Karena harga taksi di Jepang cukup mahal (argo mulai dari ¥450-660 atau Rp 60,000-Rp 85,000), menggunakan taksi biasanya saya lakukan jika benar-benar perlu dan untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Masyarakat Jepang sendiri sangat jarang menggunakan mobil dan taksi kecuali ada keperluan khusus untuk bepergian ke wilayah yang sulit dijangkau oleh transportasi umum, yang kemudian menyebabkan sangat jarang terjadinya kemacetan di Jepang. Selama 3 tahun tinggal di Jepang, saya baru 1 kali saja mengalami kemacetan yang cukup parah. Sangat berbeda dengan keseharian saya di Indonesia, di mana kemacetan menjadi bagian dari keseharian.

2. Sepeda

WhatsApp Image 2018-08-25 at 11.14.38
Foto: Rizky Ramadhan

Berbeda dengan Indonesia yang terkenal dengan ruwetnya jalanan akibat sepeda motor, melihat keberadaan sepeda motor di Jepang dalam satu hari mungkin bisa dihitung dengan jari. Untuk kehidupan sehari-hari, masyarakat Jepang memang terbiasa menggunakan sepeda sebagai moda transportasi. Sungguh berbeda dengan di Indonesia, di mana bersepeda teas seperti kegiatan berolahraga khusus. Di Jepang, kita tidak harus menggunakan pakaian olahraga ketika bersepeda. Tidak jarang saya melihat pekerja kantoran dengan kemeja dan dasi atau business woman dengan dress dan high heels bersepeda. Menjadi mahasiswa di Jepang, saya juga jadi terbiasa untuk berpergian dengan sepeda ke tempat-tempat yang berjarak maksimal sekitar 10 kilometer dari tempat tinggal.

Di Jepang, fasilitas parkir sepeda juga tersedia cukup banyak. Beberapa tempat parkir sepeda bersifat gratis, seperti di mall-mall besar atau di ward office (kantor kecamatan setempat). Namun, ada juga yang berbayar, seperti di sekitar stasiun atau pusat perbelanjaan. Biaya yang dibayarkan untuk parkir sepeda bervariasi, tergantung lokasi dan perusahaan yang menyediakan jasa parkir. Sebagai gambaran, salah satu lokasi tempat parkir sepeda di stasiun terdekat dengan tempat tinggal saya mematok biaya senilai ¥100/6jam (Rp 13,000/6jam).

Walaupun Jepang dikenal sebagai negara yang aman, namun sepeda menjadi salah satu barang yang perlu dijaga dengan ekstra hati-hati. Tidak jarang terjadi pencurian sepeda yang lupa dikunci di tempat umum. Selain itu, parkir sembarangan juga bisa menyebabkan sepeda kita raib – diambil oleh polisi setempat yang sedang inspeksi. Untuk mengambil sepeda dari Pak polisi, kita harus membayar denda sekitar ¥2,000 (Rp 260,000).

3. Bus kota

Photo: Bayu Prawiro
Foto: Bayu Prawiro

Salah satu transportasi umum yang biasa saya gunakan di Jakarta adalah bus Transjakarta. Ketika tinggal di Kyoto, ternyata saya kembali menggunakan bus sebagai moda transportasi umum utama. Berbeda dengan penduduk kota metropolitan seperti Tokyo dan Osaka yang umumnya menggunakan kereta/subway, penduduk Kyoto lebih umum menggunakan bus karena jangkauan haltenya cukup banyak. Sebagai contoh, halte bus terdekat dari apartemen saya di Kyoto berjarak hanya 1-2 menit jalan kaki.

Bentuk bus di Kyoto mirip dengan bus Transjakarta, hanya mungkin interior dalam bisnya lebih compact dengan tempat duduk yang lebih banyak. Perbedaan lainnya, bus Kyoto tidak memiliki jalur khusus seperti Transjakarta.

Selain itu, jika harga tiket naik Transjakarta Rp 3,500 saja untuk satu arah,  naik bus Kyoto satu arah mengharuskan kita membayar tiket seharga ¥230 (Rp 30,000). Namun, ada pilihan one day pass senilai ¥600 (Rp 78,000). Dengan one day pass tersebut, kita bisa naik bus sepuasnya dalam 1 hari. Tidak jarang saya dan teman-teman mahasiswa menggunakan one day pass ini ketika bepergian di Kyoto, karena sangat menghemat biaya perjalanan.

4. Kereta dan subway

Processed with VSCO with a6 preset

Transportasi unggulan Jepang yang sangat saya kagumi adalah kereta. Walaupun di Jakarta telah tersedia Kereta Rel Listrik (KRL), namun saya jarang sekali menggunakan moda transportasi tersebut karena jarak dari rumah saya ke station KRL cukup jauh.

Ada beberapa keunggulan sistem kereta dan subway di Jepang dari kacamata saya sebagai pengguna. Pertama, sistem kereta dan subway yang sangat terintegrasi. Di Tokyo contohnya, hampir setiap sudut kotanya telah dilalui oleh subway atau kereta sehingga pejalan kaki pun dapat dengan cepat menjangkau stasiun terdekat dari tempat tinggal.

Kedua, adanya rute alternatif. Ada lebih dari 1 perusahaan yang mengoperasikan kereta dan subway di Jepang, sehingga jika salah satu jalur bermasalah, kita dapat menggunakan rute lainnya untuk mencapai tujuan.

Ketiga, ketepatan waktu. Kendaraan umum di Jepang terkenal dengan ketepatan waktunya. Sangat jarang kereta maupun subway terlambat dari jadwal. Kalaupun ada keterlambatan, penyebab dan estimasi waktu keterlambatan selalu diumumkan langsung di layar pengumuman yang ada di stasiun.

5. Kendaraan antar kota: shinkansen dan bus malam

WhatsApp Image 2018-08-25 at 11.14.38(1)

Untuk bepergian antar kota di Indonesia, sebagian besar perjalanan saya menggunakan pesawat. Sementara itu, untuk perjalanan antar kota di Jepang, ada Shinkansen atau kereta cepat. Dengan Shinkansen, jarak antar Tokyo – Hiroshima (seperti Jakarta – Surabaya) dapat ditempuh dalam waktu 4 jam saja. Shinkansen terutama sangat memudahkan para pekerja dan pebisnis yang perlu bertemu relasi di kota lain – mereka dapat menempuh business trip mereka dalam 1 hari saja, tanpa perlu menginap. Selain itu, Shinkansen juga memudahkan turis di Jepang untuk berpindah ke kota lain tanpa perlu menggunakan pesawat terbang. Meskipun demikian, Shinkansen memang tidak memiliki harga yang murah. Untuk perjalanan satu arah Kyoto – Tokyo selama 2 jam (seperti Jakarta – Semarang), biaya yang dibutuhkan yaitu sebesar ¥14,110 (Rp 1,834,300).

Sebagai mahasiswa yang ingin berhemat, tidak jarang saya memilih untuk menggunakan bus malam untuk bepergian antar kota. Selain karena harga yang  jauh lebih terjangkau, bus malam juga cukup nyaman. Perbedaan utamanya memang hanya di waktu perjalanan yang lebih lama daripada dengan Shinkansen.

Ketika melakukan pemesanan bus malam di Jepang, kita dapat memilih fitur-fitur apa saja yang diinginkan di bus. Untuk saya sendiri, yang penting adalah fitur stopkontak dan women priority. Ketika konsumen memilih fitur women priority, perusahaan bus sepias mungkin mengusahakan agar penumpang di sebelah konsumen adalah perempuan. Untuk saya pribadi, hal ini menambah kenyamanan karena saya berencana untuk tidur di sepanjang perjalanan. Selain itu, ada juga fitur-fitur lain yang biasanya tersedia, seperti kursi single yang memungkinkan kita memiliki jarak lebih dengan penumpang sebelah.

Harga bus malam sendiri bervariasi, tergantung perusahaan, tujuan, dan hari pemesanan. Best rate yang pernah saya dapatkan yaitu untuk perjalanan pulang-pergi Kyoto-Tokyo selama 7 jam (seperti jarak Jakarta-Semarang) hanya membayar ¥4,600 saja (Rp598,000)!

6. Transportasi online
Dari segi kenyamanan kendaraan, akurasi waktu kedatangan, dan trayek perjalanan, sistem transportasi di Jepang bisa dikatakan jauh lebih nyaman dari Indonesia. Namun, ada satu moda transportasi di Indonesia yang belum banyak beroperasi di Jepang: moda transportasi online.

Ketika saya di Indonesia, saya merasa sangat terbantu dengan moda transportasi online yang tidak hanya mampu menjadi moda transportasi namun juga bisa menyediakan jasa antar makanan, antar barang, dan sebagainya. Dengan kondisi transportasi umum di Indonesia yang belum terintegrasi dengan baik, saya sangat dimanjakan oleh moda transportasi online.

Sebaliknya, transportasi online di Jepang masih sangat jarang digunakan. Satu atau dua perusahaan mungkin sudah beroperasi di kota metropolitan seperti Tokyo, namun, penggunaannya masih tidak umum. Apalagi di kota yang lebih kecil seperti Kyoto! Walaupun demikian, keterbatasan transportasi online di Jepang telah memberikan saya kesempatan untuk menjadi lebih mandiri dibandingkan sebelumnya.

Foto disediakan oleh penulis.