Seputar Studi Bahasa Mandarinku Kala Musim Panas di Beijing

0
448
Gambar dari www.yz.kaoyan.com

Pada kesempatan ini, Penulis IM Astrid Kohar akan mengangkat kisah studi bahasa mandarin yang ditempuh Fiona Priscilla Kohar, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Salah satu kegemaran Fiona adalah mengikuti program studi bahasa asing selama libur semester kuliah. Berikut adalah cerita Fiona seputar studi bahasa Mandarin kala musim panas di Beijing pada tahun 2017 lalu.

Hi Fiona, apa kabar? Aku dengar kamu baru-baru ini pergi ke Beijing untuk belajar bahasa Mandarin saat libur semester kuliah. Mengapa kamu memilih untuk belajar bahasa di Beijing ya?
Hi, Astrid, Ya, betul. Aku tahun 2017 lalu baru saja pergi ke Beijing untuk mendalami bahasa Mandarinku. Aku memilih belajar Mandarin karena bahasa Mandarin sekarang merupakan salah satu bahasa yang semakin hari semakin banyak digunakan oleh orang-orang di berbagai belahan dunia, bahkan bahasa Mandarin juga telah diakui sebagai bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain itu, investor asal Tiongkok semakin hari semakin banyak yang datang ke Indonesia, sehingga menurutku jika aku bisa menguasai bahasa Mandarin, hal tersebut bisa menjadi nilai plus bagiku ketika melamar kerja nanti.

Untuk mengapa di Beijing dan bukan di kota lain, sepengetahuanku pusat bahasa Mandarin itu di Beijing karena penduduk Beijing terkenal memiliki lafal bahasa Mandarin yang paling baku. Aku juga mau melihat-lihat ibukota Negara Tiongkok untuk tahu bagaimana perkembangannya dan juga mengenal lebih dalam budaya Negeri Tiongkok.

Bisa Fiona ceritakan sedikit tentang studi Mandarin Fiona di Beijing?
Kebetulan selama aku belajar bahasa Mandarin di Beijing, aku tinggal dan belajar di China Youth University for Political Sciences (CYU). Di sana, aku belajar bahasa Mandarin intensif selama sebulan. Dari hari Senin sampai dengan Jumat, aku bersama kawan-kawan (baik itu sesama teman dari Indonesia maupun dari negara-negara lain, misalnya Korea Selatan, Polandia, Jepang) belajar bahasa Mandarin dari sekitar pukul 9 pagi sampai dengan pukul 3 siang.

Di programku tersebut, kita diwajibkan untuk mengikuti 2 tipe kelas, yakni kelas bahasa Mandarin secara komprehensif (di kelas ini, penekanan paling utama adalah pelatihan lafal bahasa dan kemampuan membaca serta memahami tulisan Mandarin) dan kelas berbicara (speaking). Dalam kelas berbicara, aku biasanya akan dipasangkan dengan teman sekelas untuk membuat dan mempraktikkan dialog berbahasa Mandarin. Kadang-kadang (kalau gurunya sedang baik hahaha) kita juga diberi kesempatan untuk menonton film-film berbahasa Mandarin. Satu hal yang aku suka dari menonton film berbahasa asing adalah aku tidak hanya enjoy menonton cerita dari film itu tapi juga bisa belajar budaya dan bahasa-bahasa gaul/slang yang belum tentu dapat dipelajari di buku teks semata.  

Foto disediakan oleh penulis
Foto disediakan oleh penulis

Apa saja manfaat yang Fiona dapatkan seusai studi Mandarin di Beijing tersebut?Meskipun studi musim panasku di Beijing tersebut hanya memakan waktu satu bulan, aku jujur banyak melihat perkembangan positif pada kemampuan berbahasa Mandarinku. Saat ini aku lebih lancar dan lebih percaya diri berbicara dalam bahasa Mandarin. Aku juga lebih termotivasi untuk latihan bahasa Mandarin setelah pulang dari Beijing. Aku juga melihat bagaimana kemampuan bahasa Mandarinku telah bertumbuh amat pesat semenjak menjalani studi Mandarin di Beijing. Dulu Mandarin merupakan ‘momok’ bagiku, bahasa yang amat sulit karena jauh berbeda dari bahasa Indonesia, baik dari segi lafal maupun penulisannya. Hal yang menurutku paling sulit dari bahasa Mandarin adalah intonasi dari setiap karakternya. Aku sangat tidak terbiasa dengan penggunaan intonasi/nada karena baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris tidak ada abjad yang menggunakan nada. Seringkali karena aku salah menggunakan nada dalam bahasa Mandarin, arti yang kumaksud menjadi berbeda, sehingga menimbulkan kesalahpahaman. Itulah mengapa sebelumnya aku kurang percaya diri dalam berbicara Mandarin.

Selain manfaat dalam kemampuan bahasaku, aku juga bersyukur aku bisa mengenal banyak teman baru dari berbagai negara. Aku ingat bahwa beberapa kali selama studiku di Beijing aku pergi jalan-jalan dan makan bersama mereka. Aku jadi melihat dan mengenal budaya dan cerita-cerita baru dari teman-teman baruku tersebut. Manfaat lainnya adalah aku juga jadi lebih mandiri karena ketika di Beijing aku melakukan semuanya sendiri dari mulai mencuci baju, memasak, membersihkan kamar, dan sebagainya.

Kira-kira hal-hal apa yang harus dipersiapkan untuk belajar bahasa asing di luar negeri? Mungkin ada tips-tips yang bisa dibagikan oleh Fiona bagi para pembaca?
Jika ada dari teman-teman pembaca yang akan belajar bahasa asing secara singkat di luar negeri, aku menyarankan agar jangan takut atau minder dalam melatih bahasa asing kalian ketika sampai di negeri yang dituju tersebut. Karena waktu studi kalian singkat (misalnya, 1-3 bulan), setiap hari menjadi sangat berharga untuk pelatihan kemampuan bahasa asing kalian. Tekunlah dalam melatih bahasa asing kalian baik di dalam maupun di luar kelas. Aku pribadi melihat banyak kemajuan positif dalam bahasa Mandarinku bahkan meskipun aku hanya menghabiskan waktu 1 bulan di Beijing.

Untuk hal-hal lain di luar bahasa, aku menyarankan agar melakukan research terlebih dahulu tentang iklim/musim dan biaya hidup sehari-hari di negara yang kalian tuju. Bawalah pakaian yang tepat untuk musim di mana kamu akan berkunjung dan pastinya, jangan lupa untuk mempersiapkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhanmu di sana.

Ada pesan penutup, Fiona?
Kalau aku boleh berpesan, untuk mereka yang ingin belajar bahasa Mandarin di Beijing, coba untuk mengecek sekolah-sekolah bahasa Mandarin di Beijing yang tepat untuk kebutuhanmu, cara paling mudah adalah kamu bisa search sendiri lewat internet atau coba bertanya ke agen-agen studi bahasa asing di luar negeri. Selain itu aku juga menyarankan agar tetap melatih bahasa Mandirin kalian setelah pulang dari Beijing, karena kemampuan berbahasa itu sangat bergantung pada biasa atau tidaknya kalian dalam menggunakan bahasa tersebut. Semakin kita terbiasa menggunakan suatu bahasa, apakah itu dalam membaca, mendengar, menulis, atau berbicara, kemampuan berbahasa asing kalian juga pasti akan menjadi semakin lancar.

Foto dari www.yz.kaoyan.com
Foto dari www.yz.kaoyan.com
SHARE
Previous articleTravelling During Blizzards in the US
Next articleHow I Scored A Scholarship Even With GPA Of Less Than 3
A law and business enthusiast, Astrid is currently pursuing her budding career as an attorney at one of Indonesia's oldest international corporate law firms. She holds a Bachelor's Degree from Universitas Gadjah Mada (Indonesia) and a Master's Degree from University of Cambridge (UK). Having spent a year in Beijing, Astrid is fluent in Mandarin. In her spare time, Astrid enjoys reading, shopping and daydreaming about more bags to collect.