Catatan Seorang ‘Melbie’: Minoritas di tengah Kemayoritasan

0
637
Author, Sherly Annavita

Berbeda tidak lantas memicu perpecahan, apalagi membuat kita menjadi sombong karena merasa superior atau membuat kita tidak percaya diri karena merasa inferior. Pada artikel berikut ini, Sherly akan berbagi pengalamannya menjadi minoritas di Australia dan bagaimana pengalaman itu membuat ia berkontemplasi atas kemayoritasan yang selalu ia nikmati selama hidupnya di tanah air, Indonesia. Sherly ingin menunjukkan bagaimana ketika ia menjadi minoritas di Australia baik dari segi kewarganegaraan, ras, dan agama, ia banyak belajar untuk bertoleransi atas perbedaan dan sangat menikmati menjadi minoritas. Yuk kita simak!

Tahun lalu, Februari 2017 tepatnya, aku meminang Swinburne University of Technology, Melbourne, sebagai sekolah lanjutan dan mengambil jurusan Master of Social Impact Investment. Jurusan yang sangat spesifik memang, tak jarang orang yang mendengar akan bertanya, “itu jurusan apa, Sher?”. Untuk memberikan sedikit gambaran, Social Impact Investment adalah sebuah jurusan yang mempelajari tentang bagaimana menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan dan sistemik dari permasalahan yang ada namun juga membuka peluang investasi, atau dengan kata lain “generating impact while you are creating money”.

Menikmati menjadi minoritas…

Sherly bersama teman-teman di CERES
Sherly bersama teman-teman di CERES

Seru! Aku adalah satu-satunya orang Indonesia di kelas, jurusan, bahkan fakultasku. Wajar, jurusan ini belum begitu populer di Indonesia. Di Amerika dan Eropa mungkin sudah cukup populer. Di Australia sendiri hanya 3 universitas yang menyediakan jurusan ini, yaitu Swinburne University di Melbourne, UNSW di Sydney dan University of Western Australia di Perth. Tapi, bukan itu yang ingin aku ceritakan dalam tulisan ini. Justru, aku ingin menceritakan pengalaman menjadi satu-satunya orang Indonesia yang belajar jurusan ini, yang membuat aku pribadi merasakan langsung hidup sebagai ‘minoritas’ dalam segala hal; pola pikir, bahasa, cara hidup, agama dan ras, sehingga membuatku cukup tertekan untuk beradaptasi selama kurang lebih 2 bulan pertama setelah tiba di Melbourne.

Dua bulan berlalu, aku mulai terbiasa dengan bahasa, makanan, pola pikir, hingga tingkat kekritisan orang-orang Australia dalam melihat segala sesuatu. Apapun! Mulai dari politik hingga kebersihan toilet, dari masalah kesetaraan jender hingga tertib lalu lintas. Namun, ada satu hal terkait minoritas yang masih belum bisa melebur disini, bahkan bagi kebanyakan orang-orang Indonesia yang statusnya sudah berubah menjadi warga negara Australia, yaitu menjadi minoritas dalam hal agama atau kepercayaan.

Sherly saat mengerjakan Project Social Impact di Chile dengan tim CERES Global 2017.
Sherly saat mengerjakan Project Social Impact di Chile dengan tim CERES Global 2017.

Saat ini sudah memasuki tahun kedua aku berproses dan berdinamika sebagai minoritas di kota Melbourne. Beberapa kegiatan seperti mengerjakan Social Impact Measurement dengan team CERES Global, menjadi penyiar di SBS Radio, hingga tugas kelompok di kampus menyeretku pada satu antitesis mengenai konsep minoritas; bahwa minoritas itu hanyalah tentang cara berpikir dan menjadi minoritas itu sangat menyenangkan bahkan bikin nagih! Aku jadi bisa membuka pikiran jauh lebih luas, mengetahui jauh lebih banyak tentang sesuatu yang baru, memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya, mendapat lebih banyak teman dari beragam etnis, bangsa bahkan agama, dan ini semua bermuara pada kesimpulan: “Kalau yang dicipta saja sebegini indah dan luas tingkat keberagamannya, maka sehebat apa Sang Pencipta semua ini? Kalau memang bumi ini dihadirkan dengan tingkat keberagaman yang sebegini apik, maka kenapa masih ada yang merasa enggan untuk saling kenal karena merasa hidup dalam kemayoritasan?”

Menjadi ‘mayoritas’ di Indonesia bisa membuat kita terbuai loh

Sherly saat menjadi penyiar di SBS radio
Sherly saat menjadi penyiar di SBS radio, Australia

Lahir dan besar di sebuah kota kecil bernama Lhokseumawe, Aceh, membuatku merasa sangat akrab dengan kehidupan religius. Benar saja, Aceh dikenal sebagai Serambi Mekah dan memiliki otonomi khusus dalam mengatur sistem syari’ah di wilayahnya. Jadi, berhubungan dengan agama yang terepresentasi sebagai simbol sudah menjadi identitas yang lazim bagiku. Begitu pun saat aku merantau ke Jakarta untuk melanjutkan studi S1 Hubungan Internasional di Universitas Paramadina. Merasakan kehidupan yang lebih plural adalah lazim di ibukota, namun tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia masih tercatat sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, 85% dari total jumlah Indonesia adalah muslim. Sehingga dulu, bagiku menunjukkan ‘identitas’ kemusliman adalah hal yang mudah dan biasa di Indonesia, karena aku hidup di tengah kemayoritasan.

Sejenak terbayang, bagaimana polemik yang terjadi di era Pak Harto, ya? Dimana teman-teman etnis Tiongkok harus keluar dari Indonesia, atau kasus Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tahun 1998 di Aceh yang mengharuskan orang-orang jawa angkat kaki dari Tanah Rencong, atau Kasus Poso di Maluku, ahhh rasanya tak habis jika kita angkat kasus ketidakadilan terhadap minoritas di Indonesia. Seolah berulang dengan wajah berbeda. Bagaimana rasanya jadi mereka? Kehidupan minoritas seperti apa yang mereka jalani ditengah mayoritas kehidupan muslim di Indonesia?

Minoritas di negeri asing: tantangan atau peluang?

Fakta yang benar-benar berbeda kutemukan di Australia, namun uniknya tak ada masalah hidup sebagai minoritas disini. Kehidupan beragama memang menjadi Hak Asasi manusia, namun bukan berarti menjalankannya gampang. Di Melbourne sendiri, komunitas muslimnya bisa dikatakan lumayan. Ada banyak masjid, pun perkumpulan orang muslim dari berbagai suku, bangsa, etnis bahkan aliran. Tapi bukan itu yang special, toh, di Indonesia juga begitu. BERAGAM.

Sherly bersama teman-teman dalam program CERES
Sherly bersama teman-teman dalam program CERES

Menjadi muslim di Australia penuh tantangan, apalagi menggunakan hijab. Aku yakin teman-teman yang berdiaspora di negara yang penduduk muslimnya minoritas juga sama, baik dalam menemukan tempat sholat, makanan halal, berinteraksi, menghadiri party dan undangan, hingga menjawab pertanyaan-pertanyaan logis yang terlontar dari teman-teman bule. Tidak akan bisa menjawab pertanyaan, “kenapa kamu menggunakan penutup kepala?” dengan ayat Al-Qur’an (Annur:31) atau menjawab pertanyaan “kenapa kamu harus sholat lima waktu?” dengan hadist nabi. 😊

Disitulah letak tantangannya, kawan! Bahwa menjadi minoritas justru membuka kesempatan kepada kita untuk menjadi agen yang menyampaikan apa yang kita ketahui tentang islam sebagaimana adanya sehingga mereka tahu dari penganut Islam langsung. Tidak harus ‘berkoar-koar’ untuk menunjukkan siapa kita. Cukup memperlihatkan lewat tindakan. Menjadi agen Muslim bisa dimana saja, bahkan menjadi sangat menarik saat kita menjadi minoritas di negeri orang. Yang heran justru ‘tetap bertahan dengan kemayoritasan meski hidup sebagai minoritas’.

Menjadi minoritas membuatku lebih bertoleransi dengan perbedaan…

Benar bahwa Rasul bilang, “carilah teman yang bisa mengingatkan dalam kebaikan”. Tapi Rosul juga tidak sungkan untuk berbaur dengan mereka yang ‘berbeda’. Benar bahwa sahabat dan teman dekat kita merepresentasikan siapa kita. Tapi bukan berarti nggak mau keluar dari ‘zona nyaman’ dan melihat menggunakan sudut pandang helikopter. LUAS.

Sherly menjadi "minoritas" saat kegiatan makan bersama teman-temannya
Sherly menjadi “minoritas” saat kegiatan makan bersama teman-temannya

Bukankah justru dengan berbeda kita cenderung lebih banyak belajar? Belajar sesuatu yang baru, memahami sudut pandang baru, dan merasakan pengalaman baru. Karena pada dasarnya, nurani akan kembali pada hakikat. Hakikat yang sesuai dengan keharusan dan kesemestiannya. Kalo begini pola pikirnya, baru benar menggunakan ayat, “berjalanlah di muka bumi Allah, agar semakin banyak yang kau lihat. Semakin besar ketundukanmu pada Sang Pencipta dan semakin banyak kita bersyukur”. Lihat, dengar, pahami.

Bukankah sudah seharusnya kita mengenal Sang Pencipta melalui CiptaanNya. Indah, jika perjalanan singkat kita ini terwarnai dengan dan termaknai dengan syukur. Luas, jika kita melihat dunia tidak sesempit melihat ‘hitam dan putih’. Bebas, saat kita tak lagi terpaku pada simbol-simbol dan mendikotomikan kebenaran berdasarkan penafsiran dangkal manusia terhadap ayat-ayat-Nya, baik Naqli maupun Aqli.

Untuk itu, melalui tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman Indonesia yang saat ini sedang berdiaspora, dimana pun, yuk kita luaskan sudut pandang dalam memahami keberagaman dan perbedaan. Punya prinsip adalah sebuah keniscayaan, tapi bukan berarti kita menafikan dan mengkerdilkan yang tak seprinsip. Lihat perbedaan lebih dekat, supaya kita bisa melihat segalanya dengan lebih bijaksana.

Photos are provided by author.