Manisnya Budaya Indonesia di Negeri Sakura

0
1171

Menyenangkan rasanya jika mendapat kesempatan untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia di luar negeri. Tidak hanya rasa bangga akan negara sendiri, namun juga ada rasa senang ketika melihat reaksi positif orang asing akan kebudayaan kita. Dalam artikel ini, Sadya Azzahra akan bercerita tentang salah satu acara dalam ajang kebudayaan tahunan di APU, yaitu Indonesian Week tahun 2017.

Di tengah pergantian musim semi ke musim panas, hujan terus datang dan tak kunjung henti. Pada hari itu, kami hanya berharap akan cuaca yang indah, bahkan untuk lima belas menit saja. Waktu semakin cepat berlari, hatiku semakin gelisah, suara penonton semakin terdengar, dan parade pembukaan acara kami akan segera dimulai.

 

Pekan Kebudayaan Indonesia atau Indonesian Week merupakan salah satu pekan kebudayaan terbaik di Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang. Diselenggarakan dari tahun ke tahun dengan ratusan partisipan dari mancanegara, acara ini menjadi bagian penting bagi kehidupan mahasiswa Indonesia yang sedang menjalankan studinya di universitas ini. Saat itu saya berpartisipasi sebagai panitia tari massa, saat puluhan mahasiswa menari bersama untuk membuka pekan budaya ini. Pertunjukannya berlokasi di jantung kampus kami, di depan air mancur, tempat semua orang lalu lalang pada waktu pergantian kelas. Akhirnya, di tengah semua kegelisahan, datanglah matahari yang bersinar tepat di atas parade kami.

 

Indonesia sepanjang masa

Parade kami memilih konsep “Indonesia from time to time”, atau Indonesia sepanjang masa, yang di situ kami menampilkan berbagai tarian yang sudah ada di Indonesia dari puluhan tahun yang lalu. Walaupun pada awalnya sangat sulit untuk belajar tarian-tarian tradisional, kami berhasil mengajarkannya kembali ke peserta internasional lainnya.

 

Diawali dari musyawarah untuk memilih panitia yang terbaik, bekerja sama dengan orang yang tidak kita kenal, memperdebatkan perbedaan dan mendengar banyaknya kritik dari berbagai divisi, proses yang panjang ini alhasil bisa membuat kami menjadi lebih erat satu sama lain. Tak disangka, semua kerja keras kami bisa terbalaskan pada hari itu. Dengan doa yang kuat, Tuhan memberikan kami cuaca yang indah di waktu yang tepat.

 

Sejak pagi saat kampus dibuka, panitia teknis telah bekerja keras mempersiapkan semua kebutuhan parade kami. Dari alat musik, tenda, hingga memberikan semangat kepada para penari. Hal yang paling spesial dari parade ini bukanlah penarinya saja atau kemeriahan para penonton, melainkan bagaimana semua yang bekerja didepan dan belakang panggung bisa mengapresiasi satu sama lain. Kami hanya ingin menunjukan semangat untuk mewakilkan Indonesia yang kaya akan budaya di negeri Sakura ini.

 

Kegembiraan para penonton telah dimulai, bahkan sejak para penari bersiap di belakang pohon. Terlihat bahwa kerja keras panitia tata rias kami tidak perlu diragukan lagi, karena kostum dan corak yang ada di tubuh para penari menjadi sorotan para penonton. Dimulai dengan tarian asal Papua yang diiringi oleh lagu Sajojo, suara yang kami tunggu-tunggu mulai terdengar, dan para penari tanpa tanpa alas kaki ini langsung berlari ke tengah arena pertunjukan mempersembahkan tarian yang sangat berkarakter ini.

 

Selanjutnya, suasana yang lucu dan romantis menyusul setelah tarian Papua selesai. Tarian Abang None asal betawi dengan Abangnya yang menggonceng si None dengan sepeda ke tengah arena membuat para penonton tersenyum manis. Baju koko, kebaya, dan selendang warna warni khas Betawi sangat menarik perhatian dan menunjukan keceriaan Indonesia.

Pic2

Pada akhirnya, tim dari tari massa memulai penampilannya secara berkelompok. Diawali dengan tari pasangan ala tahun 80an dan 90an yang diiiringi lagu Oh oh Astaga oleh Ruth Sahanaya, suasana saat itu menjadi semakin penuh dengan fantasi dan kesenangan. Dilanjutkan oleh penampilan perkusi yang semangat dan menawan, seluruh anggota tari massa datang menyusul dan membuat barisan yang sangat panjang nan lebar. Semua budaya Indonesia sepanjang masa menjadi satu dalam satu tempat, satu tarian, dan satu irama. Penampilan lima belas menit yang berwarna ini menjadi momen yang sangat indah bagi saya, bagi kami, dan untuk Indonesia. Tangisan haru pun tak bisa dihindari, parade pembukaan yang menakjubkan memberikan kami harapan yang lebih baik untuk acara-acara di hari berikutnya.

 

Indonesian Week adalah suatu ajang pembelajaran bagi para panitia dan partisipannya. Menjadi tempat kami bisa belajar tentang kebersamaan, kedispilinan, kebaikan, kesenian, dan tentunya tentang diri kita sendiri. Salah satu poin yang bisa saya ambil adalah belajar tentang prioritas. Saya melihat bahwa semua orang itu punya keunikannya masing-masing, dan saya juga bisa merasakan bahwa dalam kepanitiaan dan kerja kelompok, setiap individu memiliki persepsi yang berbeda tentang waktu, tentang prioritas.

 

Menjadi panitia Indonesian Week 2017 memberikan saya kesempatan untuk tumbuh menjadi lebih dewasa, saat saya harus bisa mengkoordinasikan waktu yang saya dan orang lain punya. Mungkin terkadang memang benar jika kita selalu mendahulukan hal yang kita sukai. Tapi di sini saya belajar bagaimana memprioritaskan kepentingan bersama, berusaha adil, tanpa mengorbankan kepentingan saya sendiri sebagai mahasiswi. Adakalanya waktu ketika saya sangat lelah mendengar puluhan opini yang masuk, senang kalau itu positif, tapi juga sering sebaliknya. Selain itu, juga bisa dibilang bahwa waktu yang saya gunakan untuk mempersiapkan Indonesian Week mengurangi waktu saya untuk belajar dan untuk bekerja paruh waktu. Walaupun begitu, melalui proses ini, saya bisa mengembangkan kemampuan manajemen waktu yang mungkin tidak bisa saya dapatkan jika hanya punya satu kesibukan saja. Mengingat kembali apa tujuan saya ke Jepang, saya bersyukur bisa bergabung di acara ini. Selain belajar untuk diri sendiri atau meningkatkan kemampuan berorganisasi, saya bisa membuktikan rasa cinta saya pada Indonesia di negeri orang. Indonesia memiliki banyak potensi, harapan kami akan selalu ada untuk menjadi bangsa yang lebih baik, dan menginspirasi sahabat muda lainnya. Kami ingin maju bersama, menjadi satu untuk mengangkat Indonesia terus berkembang dan mempunyai citra yang baik di seluruh dunia.

SHARE
Previous articleJangan Sampai Kehilangan Kunci di Jerman!
Next articleCatatan Seorang ‘Aucklander’: Wanita Yang Memegang Kendali Atas Hidupnya
Sadya Azzahra is a student at Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan that majors in International Relations and Peace Studies. Currently, she is participating in an exchange program at Karlshochschule International University, Germany. She has a strong interest towards journalism and continues her passion by freelancing as a writer at Marie Claire and Kartini magazine. She believes that opportunities exist indefinitely and does not worry about missing one because each second is the chance for her and for everyone to be a better version of themselves. She loves to see new places and spend time with her family.