Catatan Seorang ‘Aucklander’: Wanita Yang Memegang Kendali Atas Hidupnya

0
1719
Nurul Kasyfita

Ketika kita sekadar melihat foto-foto para mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri, apalagi yang berkesempatan mendapatkan beasiswa penuh, maka yang biasanya kita pahami hanyalah ekpresi wajah merona, bersemu bahagia dan penuh rasa bangga yang kerap mereka tampilkan di berbagai akun media sosial. Padahal setiap mahasiswa tentunya memiliki sejarah hidup yang tak selalu manis, cenderung getir. Kita baru akan tahu tentang kepiluan mereka ketika tersiar kabar bahwa si anu mengakhiri hidupnya, atau si dia pulang ke tanah air tanpa menyelesaikan studinya.

Salah satu kontributor Indonesia Mengglobal, Nurul Kasyfita, kembali membuka diri dan menuliskan pengalaman pribadinya. Baginya cerita ini tak indah dan ia berkali-kali bertanya pada Content Director Indonesia Mengglobal apakah tidak apa-apa, apakah tidak sensitif, karena ia cukup khawatir jika masyarakat bisa menerima kisah ini. Tetapi, sungguh cerita seperti ini harus lebih sering lagi dituliskan dan disebarluaskan agar kita semakin yakin bahwa  sepahit apapun pengalaman hidup kita, jangan sampai takut bercita-cita! Mari kita simak tulisan Nurul berikut ini.

***

He gave her pain. She gains power.
He took her house away. She buys a new home, 6 times the price.
He took her gold wedding ring. She gains a white gold diamond ring.
He burnt her school certificates. She gains an international certificate.

He blocked her in one country. She gains opportunity internationally.
He threw 2 plastic bags of her clothes. She buys 2 closets of clothes.
He trashed her books. She buys a kindle with millions of books in it.
He thought he kicked her out. She just kicks life back.
With a better explosion. Again, he gives her pain.
She gains power! You can’t beat her.
The woman who dare to live.

Saya menulis puisi di atas dengan tetes air mata, bukan lagi sedih dan getir yang saya rasa saat merangkai kata-kata itu, tetapi senyum penuh syukur. Syukur atas nikmat hidup yang saya miliki sekarang. Tulisan ini juga sebagai respon kepada para pembaca artikel saya sebelumnya tentang mengatasi depresi yang berjudul My PhD Journey: Every Cloud Has a Silver Lining. Ternyata ada banyak teman-teman di luar sana yang membutuhkan dan menghargai tulisan penuh kejujuran dan apa adanya. Ternyata ‘bekas luka’ dari pengalaman pahit yang saya miliki bisa menularkan kekuatan dan keyakinan pada orang lain untuk bangkit dan bersemangat. Ternyata bercerita melalui tulisan seperti ini juga menjadi metode self-healing yang cukup efektif, suatu terapi untuk membuat saya lebih menerima diri saya, menghargai perjuangan saya, dan mengikhlaskan segala kekurangan saya. Saya harap teman-teman pun dapat mencintai diri sendiri apa adanya.

Baiklah, saya akan lebih terbuka pada tulisan ini. Semoga berkenan ya.

Jika diingat-ingat, begitu panjangnya perjalanan yang saya lalui hingga sampai di titik ini, pedihnya masa lalu, dan tantangan di kala itu yang sepertinya tak pernah usai. Saya pernah diberikan cobaan oleh Allah di mana saya harus kehilangan anak, rumah tangga, dan juga nama baik. Semuanya terjadi di dalam satu hari yang sama, terlalu menyedihkan dan membuat trauma yang cukup dalam bagi seorang manusia biasa seperti saya. Tetapi di hari itu pula saya nyatakan cukup atas segala kekerasan yang saya alami selama bertahun-tahun lamanya. Meski tertatih, saya akhirnya mantap untuk keluar dari pernikahan tersebut.

Sungguh berat. Saya sempat terduduk di pojokan kamar kos, tak lagi memiliki akses terhadap anak saya. Saya kehilangan anak saya hanya karena saya tidak sanggup lagi menjalani rumah tangga dengan laki-laki itu. Saya kira semua wanita tak ingin rumah tangganya kandas, kita pastinya ingin menikah hanya satu kali seumur hidup, dan tentunya ingin jauh cinta kepada lelaki yang sama dan dicintai setiap hari. Saya pun ingin. Tetapi bukan berarti kita, para wanita, harus diam di dalam hubungan yang membuat kita sengsara, berada dalam kesedihan konstan, hingga mengorbankan kesehatan fisik dan mental kita hanya karena takut akan stigma masyarakat dan standar sosial atas wanita yang bercerai.

Mudah untuk diucapkan. Sulit untuk dilakukan. Saya pun kesulitan keluar dari permasalahan pribadi saya itu, hingga akhirnya saya ‘kabur’ ke India. Kabur? Loh, kok. Nah, setelah permohonan cerai (yang saya sampaikan baik-baik) ditolak mentah-mentah oleh lelaki itu, bahkan saya menerima ancaman yang sungguh memilukan, saya tidak sanggup memperjuangkan harga diri dan hak saya, atau melaporkan kepada pihak berwajib atau posko perlindungan perempuan, tetapi saya malah ‘kabur’ ke India dengan beasiswa. Selain karena saya ingin sekali menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, juga karena saya saat itu merasa tak sanggup lagi menghadapi gonjang ganjing rumah tangga saya. Ternyata, mau ‘kabur’ pun tak mudah. Untuk mendapatkan buku nikah istri yang ditahan oleh lelaki itu saja harus saya perjuangan lewat KUA, dan ijazah SMA yang harus saya urus kembali karena juga ditahan lekaki tersebut.

Teman-teman, bercerai itu bukan hal sederhana. Berlarut-larut, menguras energi, dan finansial juga. Bagi yang membaca artikel saya sebelumnya pasti mengetahui kalau setelah pulang sekolah dari India, saya mengalami kesulitan ekonomi. Sulit sekali mencari peluang kerja di kota kelahiran saya tersebut, entah karena minimnya peluang kerja atau karena diskriminasi atas status pernikahan saya. Meski saat it saya belum resmi bercerai karena kasusnya masih menggantung di pengadilan tetapi kisah rumah tangga saya mudah tersebar di kota kecil seperti itu. Apakah benar dinding bisa ngomong? Mungkin saja ya. Dengan kesulitan ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan, saya hidup hanya dengan 1,7 juta rupiah per bulan dan masih berniat memberi orang tua saya meski tak banyak. Sangkin sulitnya kondisi saat itu, saya juga pernah memungut kardus dari tempat sampah untuk dijadikan meja tulis saya.

Singkat cerita, saya meneruskan S3 di Selandia Baru yang telah saya ceritakan juga kegetiran dan perjuangan saya pada artikel sebelumnya. Yang belum saya ceritakan adalah bahwa proses perceraian saya di pengadilan pun belum tuntas, sudah 5 tahun lamanya. Mungkin dikarenakan tarik ulur, berselisih paham, dan tidak cukup uang untuk menyelesaikan semuanya. Oiya, rumah di kampung yang saya cicil dengan gaji kecil selama bertahun-tahun pun direnggut dari saya. Tetapi ketika saya berkuliah di Auckland, Selandia Baru, saya tekadkan untuk mengumpulkan dolar demi dolar dengan bekerja di universitas agar bisa segera menyelesaikan masalah perceraian di pengadilan hingga saya seutuhnya terbebas dari hubungan yang tidak sehat itu. Saya terus berdoa agar Allah memudahkan jalan saya.

Ketika saya melakukan penelitian disertasi di tanah air, saya sempatkan bolak-balik ke pengacara dan pengadilan, hingga akhirnya pada Januari 2018 saya mendapatkan surat cerai dan memiliki status yang jelas. Sungguh saya tak menyombong, apalagi merasa bangga dengan status baru yang saya sandang. Selembut apapun saya menyebutkannya, kata ‘janda’ tak terdengar enak di telinga. Tetapi saya sangat berbahagia karena surat cerai itu adalah simbol kebebasan dan kemerdekaan saya sebagai seorang manusia, seorang wanita. Ibarat kata, saya membalik lembaran buku ke halaman selanjutnya. Saya bisa melangkah maju dan terbebas dari segala kekerasan, baik fisik maupun psikis yang saya alami dari hubungan itu. Saya menangis. Tentunya bukan perjalanan yang mudah. Butuh bertahun-tahun lamanya bagi saya untuk bisa membalik lembaran buku tersebut. On that day, I was reborn.

Kalau melihat dari artikel saya sebelumnya, sepertinya kehidupan saya saat ini baik-baik saja dan seolah perjuangan saya telah berakhir; Memiliki progres studi S3 yang baik, bekerja penuh waktu di universitas dan memiliki suami yang mencintai saya. Padahal, sebenarnya saya pun masih terus berjuang. Ada relung di hati saya yang masih hampa. Anak saya belum kembali ke pelukan saya. Tapi saya yakin, saya hanya perlu berjuang terus. Allah maha baik. Beruntungnya nama belakang saya ‘Kasyfita’ ini sepertinya cukup unik dan sejauh ini satu-satunya yang muncul kalau diketikkan di google. Anak cerdas itu suatu saat pasti akan bisa menemukan saya. Jika ia sendiri yang mencari ibunya, maka tak ada siapapun yang akan bisa mencegahnya. Mohon doa ya teman-teman. Mari kita saling mendoakan!

Para mahasiswa yang berkesempatan berkuliah di luar negeri seperti saya menyimpan banyak kisah perjuangan, banyak dari kami yang berangkat dari sosok penuh bekas luka, bukan anak pejabat tinggi negeri, tidak pula selalu memiliki kemampuan di atas rata-rata. Tetapi jika ada satu hal yang saya pelajari dari teman-teman saya yang berkuliah di luar negeri adalah kegigihan. Tekad yang begitu besar dan sikap tidak mudah menyerah lah yang mengantarkan kita pada mimpi-mimpi besar kita. Rintangan dan halangan akan terus berdatangan, tanpa henti. Meskipun demikian, kita harus tetap kokoh dan kuat untuk mencapai apa yang kita inginkan. Man Jadda Wajada.

***

Photo is taken from Author’s Facebook account

SHARE
Previous articleManisnya Budaya Indonesia di Negeri Sakura
Next articleTravelling During Blizzards in the US
Nurul Kasyfita
Nurul Kasyfita – commonly called as “Mbak Nurul” - is currently a PhD candidate from the Faculty of Education and Social Work at the University of Auckland sponsored by Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). Her research area is on green chemistry and chemical literacy in Indonesia. She is a lecturer of chemistry education in Mulawarman University, Samarinda, Indonesia. She completed a Master of Education (2009) in Indonesia and a Master of Science in India (2014), where she developed her initial interest in green chemistry. She supports the idea of synthesizing THE HUMAN ELEMENT in chemistry. Her ambitious dream is to develop chemically literate society to support green environment.