Riset di Tanah Rantau demi Kemakmuran Tanah Air

0
531

Proses riset seringkali membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, namun jika sudah menghasilkan dampak pada masyarakat, terlebih lagi di negara sendiri; semua kerja keras itu takkan terasa sia-sia. Dalam artikel ini, Indriyani Rachman bercerita bagaimana ia meriset tentang pengelolaan pendidikan lingkungan di Jepang agar kemudian bisa diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

Walau pergi ke luar negeri dapat dikatakan sebagai salah satu impian orang Indonesia, tetapi saya yakin tidak semua terpikir untuk tinggal lama atau bahkan menjadi penduduk di luar negeri. Tidak terkecuali saya yang tahun ini merupakan tahun ke-17 tinggal di masa perantauan di negeri Sakura.

Pepatah ‘hijaunya rumput tetangga selalu lebih menggoda’ rasanya tidak berlaku saat ini, karena keinginan untuk pulang faktanya lebih mengganggu dibandingkan untuk tinggal lebih lama lagi di sini. Meski begitu, ada banyak hal yang menjadi alasan saya untuk bertahan cukup lama hingga hari ini.

Beruntung saya dikelilingi oleh orang-orang yang banyak memberikan masukan, ide, dan semangat, baik suami, anak, dan teman-teman baik yang berasal dari Indonesia maupun penduduk lokal. Mereka adalah orang-orang luar biasa yang kemudian mendorong saya untuk menguasai bahasa Jepang dan melanjutkan studi di sini sehingga jenjang S3.

Sebagaimana diakui banyak orang, Jepang terkenal dengan lingkungannya yang bersih, penduduk yang ramah, serta disiplin dan konsisten dalam penerapan peraturan. Kondisi ini saya coba sandingkan dengan pengalaman saya saat menjadi pengajar di Bandung, sehingga memunculkan ide untuk meneliti lebih jauh tentang pola pendidikan pelestarian lingkungan terhadap anak usia sekolah dasar dan menengah pertama. Mengapa lingkungan? Apa yang tersirat dalam benak saya waktu itu adalah, ‘Kok bisa sih Jepang membuat lingkungan seperti ini?’, ‘Saya yakin Indonesia juga bisa’, dan beberapa hal lain yang berkecamuk dalam benak.

Ide ini juga yang kemudian digunakan sebagai hipotesa atau pertanyaan ketika memasuki gerbang perkuliahan S2. Sejak saat itu, aktivitas dan kesibukan saya selalu berada di seputar ‘lingkungan’ yang secara perlahan menyempit menjadi dunia sampah.

Perlahan kekaguman saya semakin bertambah, manakala saya mengetahui bahwa pendidikan lingkungan di Jepang mendapatkan porsi yang sangat besar pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah. Saya pun teringat sebuah cerita yang tersebar di media sosial; bahwa mengajarkan anak untuk antri harus diawali sejak dini dibanding pelajaran matematika. Sepintas seperti sebuah candaan, namun faktanya hal itu terjadi di negara-negara yang dianggap maju.

Saat pertama kali mengantar anak ke sekolah, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk sekalian menyelidiki keseharian para siswa dalam merawat lingkungan sekolah. Saya perhatikan, mulai dari halaman luar, masuk gerbang sekolah, kelas, bahkan toilet, sama sekali tidak ada sampah bertebaran ataupun bau yang tidak mengenakkan.

Tiba-tiba, seorang anak yang kira-kira masih kelas 1 SD terlihat sedang membawa sampah plastik bekas kemasan menuju lokasi tempat sampah. Sejenak dia berdiri di depan tempat sampah, lalu membuangnya ke tempat sampah paling kiri. Rasa penasaran mendorong saya untuk juga mendatangi tempat sampah tersebut, dan sepertinya anak tadi berpikir terlebih dahulu tempat sampah mana yang tepat untuk sampah yang dibawanya.

‘Luar biasa,’ bisik saya dalam hati.

Bahkan memilih tempat sampah pun termasuk dalam pelajaran sekolah.

Hal-hal kecil inilah yang kemudian saya ramu menjadi materi penelitian, yang kemudian mendapat persetujuan Prof. Toru Matsumoto sebagai dosen pembimbing di kampus. Tidak saja pada jenjang master, bahkan saya terus menjadikan isu ini sebagai bahan penelitian lebih mendalam saat menjadi doctoral student di Kitakyushu University, sebuah kampus kecil milik Pemerintah Kota Kitakyushu yang terkenal dengan fokus studi hal-hal terkait lingkungan.

Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu metode yang saya gunakan dalam menyusun disertasi, yaitu sebuah metode yang mengawali pengenalan lingkungan melalui potret dari situasi yang ada di sekitar kita. Metode ini memancing banyak pertanyaan dari para siswa, ‘Mengapa bisa begini?’, ‘Mengapa bisa begitu?’, ‘Ini kan sampah, kok ada di sini?’, dan seterusnya. Dari sini, para siswa memberikan masukan-masukan bahwa seharusnya barang-barang ini tidak di sini, seharusnya barang-barang ini diperlakukan seperti ini atau seperti itu, dan seterusnya.

Ketika sedang mengadakan workshop PBL untuk para guru di kota Bandung
Ketika sedang mengadakan workshop PBL untuk para guru di kota Bandung

Karena yang ditampilkan adalah gambaran lingkungan di sekitar manusia, maka tentunya alat terbaik yang digunakan harus dalam bentuk visual, baik film maupun gambar (kertas). Oleh karenanya, dalam bahasa Jepang praktek seperti ini disebut Kamishibai (‘Kami’ artinya kertas, dan ‘shibai’ artinya pertunjukan).

Selama masa pendidikan, untuk memenuhi kebutuhan penelitian, saya mengujicobakan metode ini kepada siswa dan guru sekolah dasar di 8 kota besar di Indonesia, dengan 32 sekolah secara keseluruhan. Ahaaa… lumayan juga bisa menikmati pulang kampung tanpa harus mengeluarkan uang sendiri.

Dibantu oleh para guru di masing-masing sekolah, kertas-kertas bergambar mulai dibagikan kepada para siswa. Belum pun sampai di tangan, terlihat mata mereka menunjukkan rasa penasaran dan keingintahuan terhadap gambar-gambar tersebut. Beberapa sudah berteriak menebak atau menyebutkan maksud dari masing-masing gambar.

Semula saya ragu dengan proses ini, karena apa yang akan ditampilkan adalah gambaran lingkungan sehari-hari yang saya pikir anak-anak tak akan acuh dan menganggapnya biasa saja. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, seolah-olah mereka menemukan gambar baru.

Terdengar bisikan dari seorang anak, ’Iihhh… jorok, buang sampah sembarangan.’ Terdengar juga bisikan lain, ’Kasihan ikannya mati gara-gara makan sampah’, dan beberapa bisikan lain yang membuat saya tersenyum, ternyata banyak siswa terpancing dengan gambar-gambar yang saya suguhkan. Dengan menggunakan metoda gambar kamishibai, saya mencoba mengajarkan kepada siswa bagaimana caranya menemukan masalah, melihat masalah, dan memecahkan masalah. Kamishibai ini adalah bentuk pembelajaran yang digunakan oleh masyarakat Jepang sejak jaman kerajaan Edo sebagai alat untuk menyampaikan sejarah kepada masyarakat.

Satu cerita memiliki beberapa gambar, yang kemudian disusun hingga menjadi satu cerita. Metode ini saya ujicobakan dan berhasil memancing siswa untuk berpikir dan menjadi peka terhadap masalah yang muncul di lingkungannya.

Saat ini, setelah saya membuat penelitian di Course of Environment and Resources Systems, Graduate Programs in Environmental Systems, Graduate School of Environmental Engineering, University of Kitakyushu, saya mulai merambah ke bahasan lain, bukan hanya pendidikan lingkungan tetapi manajemen lingkungan. Untuk itu, saya banyak melakukan Memorandum of Understanding (MoU) penelitian bersama dengan 12 universitas di Indonesia dan 2 pemerintah daerah.  Saya masih terus berusaha belajar di negeri Sakura ini, untuk Indonesia yang lebih ramah lingkungan.