Ramadhan dan Lebaran: Jepang vs Indonesia

0
548
Masjid Kobe, masjid pertama di Jepang

Bagaimana rasanya menjalani ibadah bulan Ramadhan dan merayakan hari Raya Lebaran sebagai kaum Muslim di tanah perantauan? Hidup di Jepang selama 3 tahun terakhir, Anissa Ratna Putri dalam artikel ini membandingkan pengalaman Ramadhan dan Lebaran-nya di Jepang dan di tanah air. Walau tak semeriah di Indonesia, menjalani ibadah puasa dan merayakan Lebaran di Jepang telah memberikan Anissa sudut pandang yang baru dan pengalaman yang berharga.    

Hampir tiga tahun terakhir, saya mengalami bulan Ramadhan dan Lebaran di Jepang. Tinggal di negara di mana kaum Muslim adalah minoritas, tentunya suasana Ramadhan dan Lebaran di Jepang tidak semeriah di Indonesia. Walau demikian, punya pengalaman berpuasa di negara orang telah memberikan saya sudut pandang yang berbeda. Bagaimana rasanya berpuasa dan merayakan Lebaran di negara orang dan apa bedanya dengan berpuasa dan merayakan Lebaran di Indonesia?

Waktu Berpuasa: 14 Jam vs. 16 Jam
Di Indonesia bagian Barat tempat saya tinggal, sahur biasanya dilakukan pukul setengah 4 pagi, lalu subuh datang sekitar pukul setengah 5 pagi dan maghrib tiba pukul 6 sore. Di Jepang, saya biasa sahur pukul 2 pagi, lalu subuh datang pukul 3 pagi dan maghrib tiba pukul 7 malam. Kira-kira, di Jepang, saya berpuasa lebih lama dua jam dibandingkan di Indonesia.

Jeda waktu antara berbuka dan sahur di Jepang lebih dekat dibandingkan dengan di Indonesia. Mahasiswa yang kadang perlu lembur biasanya memilih untuk tidak tidur sampai waktu sahur tiba. Berbeda dengan di Indonesia, di mana selarut-larutnya lembur, biasanya masih punya 2-3 jam untuk tidur sebelum sahur. Selain itu, jeda waktu yang cukup dekat ini juga berpengaruh pada perut. Kadang perut masih kenyang setelah berbuka, namun tiba-tiba sudah waktunya sahur. Cara mengakalinya yaitu dengan makan dengan porsi tidak berlebihan saat berbuka agar masih dapat menikmati hidangan sahur.

Matahari terbenam jam 7 malam di daerah Kameoka, Kyoto
Menuju waktu berbuka ketika matahari terbenam jam 7 malam di Kameoka, Kyoto

Toleransi: Restoran Ditutup Kerai atau Buka Sore Saja vs. Restoran Terbuka
Atas nama toleransi, di Indonesia banyak restoran yang mendadak pasang kerai di bulan puasa. Beberapa restoran dan warung bahkan memilih baru buka sekitar jam 4 sore. Ketika saya sedang tidak berpuasa di bulan Ramadhan, saya merasakan betapa sulitnya mencari makan di daerah yang memang bukan pusat kota, di daerah yang untuk makan biasanya mengandalkan warung-warung kecil. Sementara, selama menjadi minoritas di Jepang, di bulan Ramadhan saya terbiasa melewati restoran-restoran yang terbuka sebagaimana biasa. Namun, di depan kami yang sedang berpuasa, teman-teman saya yang asli orang Jepang biasanya minta maaf atau permisi kalau mau menikmati makanan mereka.

Di Jepang, saya jadi memikirkan ulang makna toleransi, dan sampai pada kesimpulan bahwa saya baik-baik saja tuh melihat orang makan ketika sedang puasa. Saya sudah berniat untuk puasa, sehingga saya percaya tidak akan semudah itu menghampiri teman saya untuk meminta makanannya hanya karena tergiur melihat wujud atau mencium bau makanannya. Saya merasa arti toleransi lebih mengena ketika saya berpuasa di Jepang, karena kami yang berpuasa bisa menjalani ibadah kami sementara yang tidak berpuasa tidak menderita kesulitan mencari makan.

Pusat jajanan di Osaka, Jepang - walau bulan puana tetap ramai
Pusat jajanan di Osaka, Jepang – walau bulan puasa tetap ramai

Jajanan Ngabuburit: Street Food vs. Convenience Store
Waktu ngabuburit, atau waktu tunggu menjelang buka puasa adalah momen paling ramai di jalanan kota-kota Indonesia. Bukan hanya karena di waktu tersebut banyak orang bermacet-macet mengejar buka puasa di rumah atau restoran, tapi juga karena banyak penjual makanan yang tiba-tiba buka lapak di pinggir jalan, menyajikan berbagai cemilan khas berbuka: kolak, kolang-kaling, kurma, dan lain-lain.

Di Jepang, tentu saja, tidak ada macet ataupun keramaian akibat waktu menjelang berbuka puasa. Namun, bagi mahasiswa yang belum berkeluarga dan punya kesibukan sehari-hari di kampus sampai larut, jajanan di convenience store terdekat menjadi ta’jil penyelamat untuk berbuka. Selain itu, di waktu berbuka, tidak ada adzan berkumandang seperti di Indonesia. Saya personally beberapa kali memasang suara adzan via YouTube atau streaming TV Indonesia, supaya lebih ‘terasa’ berbuka puasanya.

Budaya Buka Bersama: Rangkaian Buka Bareng vs. Buka Bareng Per Minggu dengan Orang Indonesia
Bulan Ramadhan di Indonesia bisa dikatakan menjadi momen silaturahmi dan reuni dengan berbagai jenis kelompok pertemanan yang dimiliki. Hari ini buka bersama geng Sekolah Dasar (SD), besok buka bersama geng Sekolah Menengah Pertama (SMP), lusa bersama geng kuliah, dan seterusnya. Mendadak, jadwal weekend sudah penuh dengan janji kesana-kesini. Pulang kantor pun kadang ada panggilan juga untuk berbuka bersama. Tidak jarang bulan Ramadhan menjadi salah satu bulan paling boros karena banyak momen makan di luar.

Momen berbuka bersama di Jepang yang saya alami selama tinggal di Kyoto ada tiga tipe: skala kecil kasual bersama teman-teman yang tinggal di sekitar rumah, skala menengah bersama orang Indonesia per wilayah, dan skala besar untuk Muslim Indonesia dan Malaysia se-Kyoto. Makanan yang dihidangkan pada momen-momen buka bersama di Kyoto biasanya adalah hasil memasak bersama warga Indonesia yang tinggal di kota ini – berbeda dengan budaya berbuka di Indonesia yang biasanya menggunakan restoran sebagai tempat berkumpul.

Di Kyoto sendiri ada Kyoto Muslim Association (KMA) dan Keluarga Muslim Indonesia (KMI) yang bekerjasama dengan PPI Kyoto-Shiga dan beberapa pihak lainnya untuk menyelenggarakan rangkaian buka bersama selama bulan Ramadhan. Buka puasa per wilayah, yang skalanya menengah, adalah kegiatan khusus orang Indonesia saja. Karena orang Indonesia di wilayah Kyoto-Shiga tersebar di 4 wilayah, maka buka bersama pun dilakukan di 4 wilayah ini secara bergantian setiap weekend. Sedangkan buka puasa atau ifthar akbar dahulunya diperuntukkan untuk kaum Muslim se-Kyoto, namun kini lingkupnya mengecil menjadi untuk kaum Muslim Indonesia dan Malaysia di Kyoto saja. Pada momen ifthar akbar ini, kaum Muslim Indonesia dan Malaysia diperbolehkan mengundang teman atau rekan asli Jepang, untuk diajak merasakan makanan khas Indonesia dan Malaysia sambil belajar budaya Islam selama bulan Ramadhan.

Makanan Indonesia di acara iftar akbar KMA
Makanan Indonesia di acara ifthar akbar KMA 2015
Suasana ifthar akbar KMA 2018
Suasana ifthar akbar KMA 2018. Foto: Hairi Cipta

Lebaran: Libur Panjang vs. Tidak Libur
Di Indonesia, libur Lebaran biasanya minimal satu minggu, yang dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dan untuk pulang ke kampung halaman (mudik). Selama satu minggu tersebut, kaum Muslim biasanya pindah-pindah lokasi dari satu rumah ke rumah lain, saling berkunjung dan saling minta maaf. Pekerjaan dan sekolah ditinggalkan untuk sementara, untuk menyucikan diri dan melahirkan diri yang baru.

Bagaimana dengan di Jepang? Pastinya tidak ada libur, karena orang-orang Jepang mayoritas tidak merayakan Idul Fitri. Tidak jarang hari Lebaran jatuh di hari ujian akhir semester atau hari presentasi tugas akhir mata kuliah. Ritual Lebaran yang saya alami selama beberapa tahun terakhir adalah shalat Ied di sebuah hall yang disewa oleh KMA bersama kaum Muslim dari seluruh dunia, kemudian menjalani hari seperti biasa. Tahun pertama saya berlebaran di Kyoto malah diwarnai dengan taifun yang menyebabkan Sungai Kamo meluap dan beberapa mode transportasi umum di Kyoto mandek– sebuah tantangan untuk pergi shalat Ied. Namun, meski setelah shalat Ied hari berjalan sebagaimana biasa, di pagi hari setelah shalat tetap ada salam-salaman silaturahmi dan makan-makanan hasil potluck bersama warga Indonesia di Kyoto. Tidak jarang ada pula keluarga Indonesia yang mengundang anak-anak single mahasiswa untuk makan-makan di rumah mereka. Hal ini membuat Idul Fitri di perantauan lebih terasa kehangatannya.

Suasana Shalat Ied di Kyoto
Suasana Shalat Ied di Kyoto
Suasana makan-makan setelah Shalat Ied di Kyoto
Suasana makan-makan setelah Shalat Ied di Kyoto, 2015
Keluarga Indonesia di Kyoto setelah Shalat Ied
Keluarga Indonesia di Kyoto setelah Shalat Ied. Foto: Aria Sungsang

Penutup
Apakah sedih dan kesepian mengalami bulan Ramadhan dan Idul Fitri di negara orang tanpa keluarga? Ada masanya saya kangen dengan es buah buatan mama saya, suara adzan dan bedug maghrib, serta ayam opor dan sayur godog buatan eyang di hari Idul Fitri. Namun, mengalami bulan Ramadhan dan Idul Fitri di negara orang juga membuka mata saya tentang bentuk lain dari toleransi: bahwa meskipun menjadi mayoritas, bukan berarti kita harus selalu diutamakan dan membuat yang lain kesulitan. Saya rasa, saya tidak akan merasakan hal ini kalau saya tidak tinggal di negara di mana kaum Muslim adalah minoritas. Selain itu, tinggal di Jepang juga memberikan rasa senasib sepenanggungan saat berpuasa dengan sesama kaum Muslim lainnya, baik dari Indonesia maupun negara lain, menjadi lebih kuat.

Bagi teman-teman yang sedang berniat untuk kuliah atau kerja di negara orang, khususnya Jepang, jangan takut! Insya Allah bulan Ramadhan dan Lebaran kalian di sini akan baik-baik saja. Justru ketika berada di negara orang, banyak orang Indonesia dan orang Muslim lainnya yang dengan senang hati berbagi suka duka (juga makanan) dengan kalian.

Selamat Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan!

 

Foto-foto disediakan oleh penulis.

Artikel ini sudah dipublikasikan sebelumnya di blog pribadi penulis (https://ar-putri.blogspot.com).