Daniar: From Humble Beginnings to Exploring the World

0
1865

‘Mereka yang bisa pergi ke luar negeri adalah mereka yang berasal dari kota besar, kaum ‘berada’ atau mereka yang beruntung’. Pola pikir semacam ini ditepis jauh-jauh oleh Daniar, seorang PhD Candidate University of Chicago, Amerika Serikat yang berasal dari keluarga sederhana di Trenggalek, Jawa Timur. Melalui artikel ini, Daniar menunjukkan bahwa ke luar negeri untuk exchange, internship, maupun kuliah itu mungkin bagi siapapun, selama ada kemauan yang kuat dan usaha untuk terus meningkatkan kapasitas diri menjadi lebih baik.

From Trenggalek to The World
Daniar berasal dari keluarga sederhana di Trenggalek, Jawa Timur. Setelah menempuh pendidikan 12 tahun di Trenggalek, Daniar kemudian kuliah S1 jurusan Teknik Informatika di ITB, Bandung, Jawa Barat – yang ia selesaikan dalam lima tahun. Walau memakan waktu lebih lama daripada teman-teman lainnya untuk lulus, Daniar ternyata memanfaatkan waktunya yang lebih di dunia perkuliahan untuk mengikuti program-program student exchange, internship, & research abroad.

“Di tahun 2014, saya mengikuti AIESEC Global Volunteer di Thailand. Kemudian di 2015 saya mengikuti internship di Tokyo dilanjutkan dengan riset di JAIST, Ishikawa, Jepang. Di 2016, saya kembali berkunjung ke Jepang untuk mengikuti International Student Program di Toyohashi University of Technology. Selanjutnya, di tahun 2017 saya berkesempatan untuk mengunjungi CERN yang berlokasi di Geneva, Swiss, bersama dengan 36 mahasiswa lain setelah lolos seleksi pendaftaran dari 1580 peserta dari seluruh dunia. Selain itu, saya juga cukup aktif melakukan publikasi ilmiah dan berhasil menjadi pembicara di beberapa konferensi internasional, diantaranya: ICEEI 2015 di Bali, ICAICTA 2016 di Penang, dan ICEEI 2017 di Langkawi, Malaysia. Saat ini, saya tercatat sebagai mahasiswa PhD di University of Chicago, Amerika Serikat dengan kesibukan riset di bidang Cloud Computing dan Distributed Systems,” tutur Daniar menceritakan pengalamannya mengikuti berbagai program di luar negeri.

Visiting CERN in Sweden
Berkunjung ke CERN, Swiss
Saat internship di Jepang
Saat internship di Jepang

Tantangan Menuju Program Abroad
Di tahun pertamanya berkuliah di ITB, Daniar mendapat banyak cerita-cerita menarik dari dosen tentang serunya kuliah di luar negeri. Meski terdengar seru, banyak juga yang bilang bahwa kuliah atau ikut program ke luar negeri itu sulit. Walau demikian, hal ini malah membuat Daniar merasa tertantang dan punya mimpi untuk melanjutkan studi S2/S3 di luar negeri. “Banyak yang berkata kalau ikut program ke luar negeri itu sulit. Saya jadi tertantang, kemudian saya mencoba mencari berbagai peluang untuk mempersiapkan diri. Saya mulai mencari-cari daftar universitas bergengsi di dunia dan membaca cerita-cerita orang yang berhasil diterima di sana. Dulu, saya ingin lanjut S2 ke Jepang saja karena banyak dosen lulusan sana dan universitas kami cukup dikenal di sana. Namun saya mencoba bermimpi lebih tinggi lagi, saat itu saya membaca tentang Beasiswa LPDP dan saya ingin mendapatkan Presidential Scholarship. Jadilah saya bermimpi untuk lanjut ke Top 50 Universities di Amerika Serikat. Akhirnya saat itu saya benar-benar sadar bahwa mimpi saya sangat tinggi dan butuh persiapan banyak agar bisa bersaing. Parameter yang bisa meningkatkan daya saing di antaranya adalah: pengalaman riset, internship, dan IPK. Kalau pengen lanjut kuliahnya di Jepang, pengalaman being abroad in Asia is enough, tapi kalau pengennya ke US, pengalamannya pun harus level internasional,” ucap Daniar.

Selama mempersiapkan diri mengikuti program abroad, jalan yang ditempuh Daniar pun tidak selamanya mulus. Daniar menyatakan, salah satu tantangan yang dihadapi adalah masalah biaya, “Saya tidak bisa mengandalkan bantuan biaya dari orang tua karena keluarga saya sendiri cukup kesulitan memenuhi kebutuhan harian.” Menyadari hal ini, Daniar menseleksi program abroad yang ada dan mendaftar hanya pada program-program yang menawarkan setidaknya beasiswa 90% fully funded. Hal ini membawa Daniar pada tantangan selanjutnya: sulitnya diterima program yang fully funded karena peminatnya sangat banyak. Daniar mengaku, tidak sekali dua kali lamarannya ditolak. Namun, hal itu tidak memutuskan semangatnya untuk terus mencoba.

“Penolakan adalah teman sejati saya yang selalu menemani dan bisa menyapa kapan pun ia mau. Biasanya, kalau saya ditolak oleh satu program, saya akan apply at least ke tiga program lain. Namun sayangnya saya sudah tidak memberlakukan prinsip itu lagi saat ini, karena ada prioritas lain. Either way, saya tidak merasa gagal walaupun ditolak, gagal itu ketika saya berhenti mencoba dan berusaha.”

Satu hal yang Daniar syukuri, selama perjalanannya berusaha mengikuti program abroad, kedua orang tuanya selalu mendukung “Di Trenggalek, kuliahnya memang harus jauh kalau mau kualitas pendidikan yang lebih baik. Saya sering dengar curhatan orang tua yang merasa kalau anaknya tidak akan bisa bersaing untuk sekolah jauh dan tidak bisa dapat beasiswa – sesuatu yang menurut saya terlalu pesimis dan dapat menghambat potensi anaknya. Alhamdulillah, hal ini tidak berlaku bagi saya. Saya dapat melanjutkan sekolah ke berbagai tempat yang saya inginkan, adik saya pun tahun ini akan melanjutkan sekolahnya di ITB. Orang tua saya senang-senang saja kalau anaknya yang dibesarkan di pinggir gunung ini bisa sekolah sampai ke luar negeri.”

Desa tempat Daniar dibesarkan
Desa tempat Daniar dibesarkan

Lesson learned from being abroad

 Selama beberapa kali keluar negeri, pengalaman atau lesson learned apa yang paling berkesan untuk Daniar?
We are just humans, and the place that we call “abroad” is still on the earth. So, strong mentality and confidence are the most important factors in this life. Kalau kita terlalu takut atau ragu untuk mencoba, kita tidak akan dapat apa-apa.

What is the best or most worthwhile investment you’ve made (time/money/energy/other resources). How did that investment help you to become the ‘current’ version of you?
Saya fokus berinvestasi untuk belajar satu skill yang menurut saya jarang dikuasai orang, yaitu tentang manajemen dan investasi uang. Saya tidak takut meminjam dan berhutang asalkan saya punya perhitungan yang jelas tentang cara membayarnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada beberapa kesempatan saya ikut program ke luar negeri, beasiswanya baru diberikan belakangan sementara pendapatan keluarga saya tidak memungkinkan untuk cover sementara, sehingga saya atau orang tua perlu meminjam uang untuk keperluan tersebut. Sebenarnya keputusan ini tidaklah se-mengerikan yang orang-orang bayangkan, asalkan kita punya kemampuan dasar matematika penjumlahan dan pengurangan, serta komitmen untuk mengembalikan setelah menerima beasiswa. Alhamdulillah selama ini dengan kemampuan manajemen keuangan yang ada, saya dapat mengatur alur masuk dan keluar uang untuk mengikuti program abroad dengan baik. Salah satu yang memotivasi saya untuk menguasai manajemen uang ini kemungkinan adalah karena keluarga saya yang sederhana, di mana sejak 5 tahun yang lalu, pemasukan keluarga saya hanya dari hasil ibu jualan yang rata-rata untungnya per hari sekitar 50 ribu rupiah.

Apa mimpi dan cita-cita Daniar untuk kedepan?
Bisa membuat teknologi yang bermanfaat buat orang sekitar. Hopefully, bisa jadi Professor di universitas ternama dunia.

Ada pesan untuk pembaca IM yang mungkin tidak berasal dari kota besar di Indonesia namun punya cita-cita untuk sekolah/kerja di luar negeri?
Hey..! You can do it although it seems hard!! If you wait until you think that you’re ready, you will never start. There is no such thing as waking up in the morning and then suddenly screaming “I am ready!!”. So, just begin and improve your skills as you go. If you are wondering about money, well.. there are plenty of scholarships and fully funded programs. I encourage you to be anti-mainstream since you have your own way to success and you shouldn’t rely on others’ way of life.

photo1_me and my wife

SHARE
Previous articleFind Your Answer in Philly
Next articleIt’s Okay to (Get A) Fail: How to Survive Grad School with Minimum Stress
Daniar Heri Kurniawan
Daniar Heri Kurniawan is a Ph.D. student at the University of Chicago. His research is about Cloud Computing and Distributed Systems. After graduating from SMAN 1 Trenggalek, he finished his bachelor degree at Institut Teknologi Bandung majoring in Computer Science. Born in a small town called Trenggalek, he is a villager who loves going abroad for student exchange, joint research, or internship program. In 2017, he skipped his bachelor graduation for joining an Openlab program at CERN (European Research Organization that operates the largest particle physics laboratory in the world). In addition, he is also a husband to the most beautiful woman in the world, Ilma Hidayati.