Bersekolah di Negeri Sakura untuk Mendukung Karir di Indonesia

0
901

Memiliki kesulitan ekonomi menjadi sebuah wake up call untuk Dikky, seorang pegawai perusahaan otomotif Jepang, untuk mengembangkan diri dengan mengambil pendidikan tingkat lanjut di Negeri Sakura. Melalui artikel ini, Dikky menceritakan pada Astrid, kolumnis IM, bagaimana ia mempersiapkan diri dan menempuh pendidikan tingkat lanjut di Jepang tahun 1990-an demi mendapatkan karir yang lebih baik di masa depan.

Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Pesan sederhana ini selalu menjadi pegangan dalam perjalanan karier Dikky Burhan, Senior General Manager Divisi R&D PT Astra Daihatsu Motor.

Dikky mengawali kariernya di Daihatsu sejak lulus dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada tahun 1997. Jabatannya kala itu cukup bagus, yakni sebagai Supervisor di Divisi Product Development. Akan tetapi, krisis ekonomi yang menimpa Indonesia di akhir tahun 1990-an berimbas buruk pada kondisi keuangan Dikky dan keluarga. Nilai Rupiah menurun tajam, harga-harga barang melambung tinggi dan banyak orang kehilangan pekerjaan mereka dalam semalam. Meski Dikky kala itu merupakan salah satu yang beruntung karena masih dipertahankan perusahaan, ia dan keluarga tetap tidak lepas dari imbas negatif krisis ekonomi. Lebih buruknya lagi, keluarga Dikky juga harus menanggung biaya cukup besar untuk membiayai perawatan ibunya yang kala itu sedang sakit.

Kesulitan ekonomi yang kian hari kian mencekik menjadi wake-up call bagi Dikky untuk melanjutkan pendidikannya di Jepang. Ia percaya bahwa dengan melanjutkan pendidikannya di Jepang, hal tersebut akan menjadi added-value bagi kemampuan dan pengalamannya dalam bekerja, terlebih karena perusahaan tempatnya bekerja merupakan hasil kerja sama antara perusahaan Indonesia dengan investor Jepang.

Namun demikian, meraih cita-cita untuk bersekolah di Jepang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dikky bukan generasi zaman now tahun 2000-an yang fasih menggunakan internet. Tidak banyak orang yang menggunakan internet pada tahun 1990-an. Banyak informasi tentang beasiswa dan pendidikan luar negeri masih harus diakses secara konvensional. Dikky kala itu harus rutin pergi ke Kedutaan Besar Jepang dan membaca berbagai majalah dan surat kabar untuk mencari tahu informasi tentang studi di Negeri Sakura tersebut.

Tidak cukup soal mencari informasi, Dikky yang tidak pernah belajar bahasa Jepang sebelumnya juga harus membiasakan diri berkomunikasi, membaca dan mendengar dalam bahasa Jepang. Acap kali selepas pulang kantor, Dikky menghabiskan malamnya dengan membaca buku-buku bahasa Jepang. Ia juga kerap bertanya pada rekan-rekan ekspatriat Jepang di kantornya untuk melatih kemampuan bahasanya tersebut. Ketekunannya membuahkan hasil. Dikky berhasil beating the odds dan memperoleh beasiswa Monbusho dari Kementerian Pendidikan, Olahraga dan Pemuda Jepang untuk melanjutkan studi S-2 dan S-3-nya di Nagaoka University of Technology.

Photo from The Telegraph News
Photo from The Telegraph News

Namun, perjuangan belum berhenti di situ. Meski beasiswa yang diperolehnya cukup besar, biaya hidup di Jepang yang begitu tinggi mengharuskan Dikky untuk memutar otak untuk memperoleh penghasilan tambahan. Belum lagi ia juga memiliki kerinduan untuk membantu biaya pengobatan ibunya di Indonesia. Beruntung, Dikky mendapatkan penawaran untuk bekerja sampingan di pabrik keripik. Syaratnya adalah bekerja pada malam hari dari pukul 10 malam sampai dengan pukul 2 pagi. Bagi Dikky, syarat tersebut tidak masalah karena tidak mengganggu jadwal kuliahnya dari pukul 7 pagi hingga 4 sore, apalagi upahnya cukup besar, yakni 4.400 yen per hari.

Alhasil, selama studinya di Jepang, Dikky bekerja sampingan memproduksi keripik setiap malam hingga menjelang subuh. Sedangkan dari pagi hingga sore harinya, ia belajar dan melakukan penelitian di kampus. Meskipun lelah harus membagi waktu dan tenaga dengan studinya, Dikky sangat bersyukur karena kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Setiap bulan ia dapat mengirimkan uang kepada keluarganya di Indonesia untuk pengobatan ibunya. Berkat ketekunan dan kedisplinannya, Dikky juga berhasil menyelesaikan studi magister dan doktoralnya dalam waktu 5 tahun saja, bahkan dengan nilai tertinggi di seluruh angkatan. Sungguh pencapaian yang membanggakan.

Sekembalinya ke Indonesia, Dikky kembali bekerja di Daihatsu. Ia bersyukur bahwa melalui pengalamannya hidup dan menempuh pendidikan lanjutan di Jepang, ia dapat lebih memahami ekspektasi, harapan, dan cara berpikir orang-orang Jepang. Ini tentunya sangat bermanfaat karena ia dapat menjadi pintu komunikasi antara manajemen pihak Jepang dan pihak Indonesia dalam mengelola dan mengembangkan perusahaan.

989716a1-9954-4ed1-8bb9-d559e4f238a4Sebagai penutup, Dikky kembali mengulangi pesan bijak dari Bung Karno untuk bermimpi tinggi.  Ia juga menambahkan bahwa untuk menggapai cita-cita yang tinggi tersebut, kedisiplinan dan kemauan keras sangatlah diperlukan. Untuk mereka yang bercita-cita melanjutkan studi di luar negeri, Dikky secara khusus berpesan agar menyiapkan seluruh dokumen dan persyaratan selengkap dan sedini mungkin. Ia juga mengingatkan para pelajar Indonesia di luar negeri untuk selalu fokus pada kegiatan akademik mereka dan proaktif dalam mencari informasi dan kesempatan-kesempatan kerja/belajar lebih lanjut di luar negeri.

Terakhir, Dikky berpesan, “Jangan pedulikan suara-suara sumbang atau suara-suara sirik di kiri kanan yang meremehkan Anda. Maju terus selangkah demi langkah untuk mewujudkan impian Anda. Jangan menggantungkan pengharapanmu pada orang lain, tapi percayalah pada diri sendiri dan disiplinkan diri sendiri untuk merubah nasib. Jangan lelah mencari alternatif, apalagi jika Anda masih muda, coba terus dan jangan takut gagal. Kegagalan adalah akar dari kesuksesan kita.”