Beating the Odds: Menggapai Impian Dengan Keterbatasan IPK

0
2582

Banyak di antara kita yang mungkin ingin mendaftar berbagai macam kesempatan, namun merasa tidak mampu, entah itu karena keterbatasan finansial, rendahnya nilai sekolah, ataupun skill yang kurang memadai. Meski begitu, meraih impian dengan keterbatasan yang ada bukan tidak mungkin. Di artikel ini, Bernadeta Erica menceritakan pengalamannya meraih berbagai macam kesempatan meski IPK-nya tidak terlalu memuaskan dikarenakan keterbatasan finansial.

Banyak teman yang merasa kurang percaya diri atau bahkan putus asa saat akan mendaftar beasiswa keluar negeri. Biasanya karena nilai IPK yang kurang memuaskan ataupun masalah finansial. Itulah yang saya rasakan dulu. Tapi ada dua istilah dalam kamus hidup saya: ‘nekat’ dan ‘iseng-iseng berhadiah’.

Saya mendapat beasiswa untuk belajar Politics and Economy selama satu bulan termasuk biaya hidup di Charles University, universitas nomor satu di Republik Ceko. Beruntungnya, saya diterima padahal IPK saya biasa saja dan saya juga hidup pas-pasan di Jepang dengan gaji kerja paruh waktu, dengan berbekal tekad dan kenekatan.

Sejak SMA, saya memang ingin kuliah di Eropa, terutama Belanda. Tapi, kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan. Nasib mengantarkan saya ke Jepang karena ada universitas internasional yang menawarkan beasiswa. Hidup di Jepang juga tidak mudah. Terlahir dari keluarga sederhana, saya sering minder dengan teman-teman Indonesia di sini karena banyak di antara mereka terlahir dari keluarga berada. Untuk bertahan hidup, selain dari uang beasiswa, saya juga kerja paruh waktu. Karena terlalu sibuk dengan kerja dan kegiatan kampus, IPK saya di semester tiga menurun drastis. Kemudian di semester berikutnya saya berusaha memperbaikinya. Tidak mudah untuk membuat IPK saya di atas 3,6, karena dalam satu minggu saat kuliah, jam kerja saya berkisar sekitar 28-35 jam. Jika ingin menaikkan IPK hingga di atas 3,6, saya harus mengurangi jam kerja paruh waktu. Jelas tidak realistis, bagaimana saya bisa makan, bayar kos dan beli tiket bus? Saya memutar otak, IPK saya memang tidak mencapai 3,6, tapi saya mencoba menggali potensi lain yang mampu menjadi nilai lebih selain IPK. Saya sangat suka berorganisasi, mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak, serta travelling. Ketika masih kecil, saya membuka kelas belajar Bahasa Inggris untuk teman-teman yang kurang mampu. Hal ini membuat rasa cinta pada anak-anak tumbuh terutama bagi mereka yang membutuhkan. Saat SMA, saya juga bekerja sebagai guru les Bahasa Inggris bagi anak SD.

Hobi saya ini membawa berkah di manapun saya berada. Tahun pertama di Jepang, ada sebuah tawaran dari pemerintah Jepang untuk menjadi relawan di Hirokawa, sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 19 ribu orang.  Selama satu minggu saya tinggal di rumah orang tua asuh, mengajar bahasa Inggris dan budaya Indonesia di beberapa sekolah, termasuk sebuah SLB. Pengalaman ini membantu saya membangun relasi dengan pemerintah setempat, terutama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Keberuntungan juga mengantarkan saya pada lembaga pendidikan KUMON yang berpusat di Osaka, Jepang. Saya bekerja di KUMON setiap tahunnya sebagai camp leader dalam kegiatan summer camp ataupun acara-acara berbahasa Inggris. Saat saya mendaftar KUMON pertama kali, banyak kakak kelas yang menjatuhkan mental saya, karena sulit sekali untuk lolos seleksi KUMON, terlebih lagi saya mahasiswa baru. Tapi, saya pantang menyerah untuk mencoba dan siapa tahu iseng-iseng berhadiah. Karena saya mendaftar atas rasa cinta saya pada anak-anak, alhasil keberuntungan berpihak pada saya.

Erica 2

Waktu terus berjalan dan saya selalu berusaha fokus dengan tujuan hidup saya, yaitu mendukung kesetaraan pendidikan bagi anak-anak, terutama yang kurang mampu. Bermula dari rasa keprihatinan saya dan teman-teman sesama asisten dosen di kampus, kami prihatin akan kurangnya kesadaraan kaum muda di Jepang terhadap krisis global, termasuk kemiskinan di negara berkembang. Tahun 2017, kami mendirikan education camp bagi pelajar SMA di Jepang dengan misi meningkatkan kesadaran kaum muda akan empat isu global yakni kemiskinan, terorisme, lingkungan hidup, dan gender. Seluruh keuntungan dari kegiatan ini sepenuhnya disumbangkan untuk organisasi sosial yang saya dirikan, yaitu sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang amal dan penggalangan dana di Jepang yang kemudian disalurkan pada anak-anak Indonesia. Rasa cinta saya pada anak-anak selalu membuat saya ingin mengabdi bagi mereka, sehingga setiap kali saya berkunjung ke suatu negara, saya tak pernah lupa menyempatkan waktu untuk belajar dan bermain bersama anak-anak meskipun hanya satu atau dua hari. Begitu pula saat saya berkunjung ke Thailand, Kamboja, Belanda, dan Spanyol, saya selalu mencari informasi mengenai komunitas lokal ataupun NGO setempat di mana saya mampu menjadi relawan mengajar untuk anak-anak. Orangtua saya selalu berpesan, “Jadikanlah dirimu saluran berkah bagi sesama. Setiap hal yang kita lakukan harus berguna bagi diri kita dan orang lain.” Jadi, ketika saya berkunjung ke luar negeri, tidak pernah saya habiskan waktu sepenuhnya untuk berlibur. Tujuan utama saya pasti mengikuti kegiatan volunteer, education camp, atau hal lain yang mampu memberikan dampak positif bagi diri saya dan juga orang lain.

Dengan berbekal beberapa pengalaman, saya mencoba mendaftar beberapa beasiswa dan forum akademik yang berfokus pada pendidikan anak-anak dan pemberantasan kemiskinan. Terakhir saya berangkat ke Rusia pada Oktober 2017 untuk menghadiri undangan World Festival for Youth and Students di mana kami bisa bertemu dan menghadiri diskusi dengan tokoh hebat seperti Vladimir Putin, Komisaris Besar PBB, Wakil Perdana Menteri India, Kuba, dan masih banyak lagi.

Erica 3

Sehari sebelum berangkat ke Rusia tahun lalu, kakak kelas saya dari Uzbekistan menawarkan beasiswa summer course mengenai Political and Economic Systems di Charles University. Awalnya saya tidak yakin bisa diterima, tapi kembali lagi dengan moto hidup: nekat! Berbekal dengan beberapa pengalaman berorganisasi, magang, dan academic forum yang saya rangkum dalam satu lembar CV singkat, motivation letter, dan esai saya mencoba mendaftar, alhasil iseng-iseng berhadiah lagi.

Nah, bagi teman-teman yang sudah membaca artikel saya, jangan berkecil hati apabila IPK kalian tidak kumulatif karena IPK tidak bisa menjadi parameter murni bagaimana kualitas seseorang. Tapi, bukan berarti IPK tidak penting. Tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Temukan hal positif yang menonjol dari diri kalian, terus gali dan selalu fokus. Jangan pernah merasa putus asa apabila terlahir dari keluarga sederhana. Buktinya saya yang pertama kali ke luar negeri waktu kuliah di Jepang, kini dalam waktu tiga tahun saya telah mampu mengunjungi 11 negara di Asia dan Eropa. Jangan pernah malu untuk mencoba karena kita tidak akan pernah tahu potensi kita apabila hanya diam. Dan yang paling penting, setiap hal yang kalian lakukan harus berguna bagi diri sendiri dan sesama.

 

Foto disediakan oleh penulis.

SHARE
Previous articleUnderstand Yourself and Set Your Future. It’s Yours. [IM Mentorship Testimonial]
Next articleOn Being an Indonesia Mengglobal Mentee and Getting Accepted to Stanford
Hello guys! My name is Erica, from Semarang, Indonesia. Currently, I am studying at Ritsumeikan Asia Pacific Japan, majoring in Culture, Society, and Media. I am a full-time student, part-time teacher, and nomadic traveler. My life motto is to always believe in love and kindness because when you are kind to others, they will treat you in the same way. I am an energetic, passionate, and positive person who desires to spread happiness among children in the world. I love playing with kids, traveling, writing, and taking pictures. If you want to know more about me, please kindly add me on social media and we can share some stories :)