Beating the Odds: Meraih Impian dengan Keterbatasan yang Ada

0
855

Dalam artikel ini, Zulfa menceritakan perjuangannya hingga bisa berkuliah di Jepang dengan beasiswa dan jurusan yang diinginkan. Pesannya jelas: Jangan pernah menyerah, berbagai hambatan pasti dapat diatasi dengan usaha yang keras! 

Dahulu, saat kelas 3 SMP, saya sangat menyukai hal-hal yang berbau Jepang. Bukan hanya manga dan anime, namun juga musik J-Pop serta serial televisi Jepang. Bahkan, saya pun bertekad mempelajari bahasanya, agar suatu saat bisa tinggal di sana.

Tak kunjung menemukan tempat les untuk bahasa Jepang yang sesuai, akhirnya saya memutuskan untuk belajar secara otodidak. Saya pun meminjam buku-buku panduan serta kamus untuk belajar bahasa Jepang dari tante saya yang pernah tinggal 5 tahun di Jepang menemani paman yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah disana. Demi menambah perbendaharaan kata, saya tak hanya belajar dari buku-buku, namun juga dari lagu-lagu dan drama Jepang. Biasanya ketika belajar melalui lagu, saya berusaha untuk menghafalnya dengan melihat dan membandingkan 3 versi lirik, yaitu kanji (huruf Jepang asli), romaji (cara pembacaan yang ditulis dengan huruf Latin), dan terjemahannya. Tiap  menemukan huruf baru, saya akan menyalinnya hingga 5 kali, lalu menuliskannya ulang dalam suatu paragraf yang ditulis dengan huruf kanji dengan hanya mengacu pada versi romaji dan buku latihan kanji.

Melelahkan, memang. Adakalanya saya malas, dan beberapa kali dimarahi  orangtua karena tidak fokus belajar untuk Ujian Nasional (UN). Namun, saya tetap berusaha menyeimbangkan antara pelajaran sekolah dan bahasa Jepang. Pernah setelah 1-2 minggu tak belajar bahasa Jepang, saat mencoba untuk membaca kembali huruf-hurufnya, saya tak bisa karena telah lupa. Maka dari itu, saya selalu sempatkan belajar bahasa Jepang meski hanya sebentar.

Waktu berlalu. Saya yang tadinya berminat mendaftar ke SMA negeri yang mempunyai pelajaran bahasa Jepang ataupun kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan Jepang akhirnya dimasukkan ke sebuah MA swasta yang baru berdiri, yaitu MA Al-Azhar. Jumlah muridnya hanya 20 orang, dan kami tak mempunyai gedung sekolah, ruang kelas, bahkan guru tetap!

Saat itu, saya pesimis bahwa impian saya akan terwujud. Saya belum pernah bersekolah di sekolah agama, dan saya terkaget-kaget dengan pelajaran agamanya yang terkadang diajarkan dalam bahasa Arab, banyaknya jumlah hafalan pelajaran agama, dan setoran hafalan Qur’an. Duh… saya teringat waktu itu amat tidak betah, juga iri dengan teman-teman di SMA negeri.

Teman-teman saya kebanyakan berasal dari MTs Al-Azhar juga, dan semuanya berasal dari sekolah Islam. Bisa dibayangkan betapa saya harus mengejar ketinggalan dari teman-teman saya yang sudah lebih familiar dengan bahasa Arab dan ilmu agama.

Saya juga agak kesulitan dalam beradaptasi. Saya yang terbiasa berteman dengan yang memiliki kesukaan sama, tiba-tiba harus berteman dengan yang mempunyai latar belakang berbeda. Selain itu, saya melihat bahwa ada jarak dalam pergaulan beda jenis kelamin, suatu hal yang belum pernah saya alami.

 

Saat saya menginjak kelas 2, saya terpikir  mengambil jurusan Hubungan Internasional saat kuliah. Namun, untum penjurusan di SMA, saya memilih Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dengan asumsi bahwa anak IPA akan bisa dengan mudah ‘menyeberang’ ke jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjelang ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Secara spesifik, saya bermimpi agar bisa berkuliah Hubungan Internasional di Jepang.

 

Namun, impian itu perlahan terlupakan. Pasalnya, tidak ada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jepang yang menawarkan jurusan tersebut, sementara program beasiswa Monbukagakusho dari pemerintah Jepang hanya menawarkan jalur ke PTN.

 

Pada saat yang bersamaan, saya menyadari bahwa nilai-nilai saya di jurusan IPA tidak terlalu bagus. Rasanya nilai ulangan saya begitu-begitu saja meskipun sudah belajar keras. Adakalanya saya merasa sia-sia mendalami pelajaran-pelajaran seperti Fisika, Kimia, dan Matematika, toh saya sama sekali tak berminat untuk memasuki jurusan Sains dan Teknologi di perguruan tinggi. Saya terus terbayang ingin kuliah jurusan Sosial Humaniora, khususnya ekonomi.

 

Akhirnya, suatu hari pada pertengahan semester 2 saat kelas 2, saya mengambil keputusan mendadak untuk pindah ke jurusan IPS. Saya bercerita pada sahabat dan berkonsultasi dengan seorang guru. Hati saya semakin mantap, dan saat itu juga memberitahukan Wakil Kepala Sekolah. Ajaibnya, Beliau langsung memperbolehkan asalkan bpersetujuan dari orangtua. Saya teringat betapa antusiasnya saya untuk bisa mendalami bidang yang saya senangi.

 

Saat saya menyampaikan keinginan saya pada orangtua, alhamdulillah mereka pun membolehkan. Keesokan harinya, saya pun berpindah status menjadi murid IPS. Gila, bukan? Namun, sampai detik ini, saya tak pernah sekalipun menyesal dan berhenti bersyukur atas keputusan tersebut. Alhamdulillah, nilai-nilai saya di jurusan IPS lebih bagus, dan antusiasme belajar pun lebih tinggi. Meskipun ada kesulitan di sana-sini, saya sangat menikmati apa yang saya pelajari.

 

Menginjak kelas 3, saya pun fokus belajar untuk SBMPTN. Atas anjuran orangtua, saya memutuskan untuk tidak mengikuti bimbingan belajar (bimbel) karena keterbatasan kondisi fisik. Otomatis, saya harus berusaha lebih keras dibanding teman-teman yang ikut bimbel. Saya juga telah melupakan impian berkuliah Hubungan Internasional di Jepang, namun entah mengapa tetap berpikir mendaftar beasiswa Monbukagakusho apabila nilai UN saya memenuhi persyaratan, jaga-jaga juga bila saya tak diterima SBMPTN. Saya juga terpikir mengambil jurusan Sastra Jepang saja, karena passing grade jurusan Hubungan Internasional teramat tinggi.

Saat kelas 3, saya pun mulai belajar habis-habisan untuk SBMPTN. Adakalanya saya juga jatuh sakit karena terlalu memaksakan diri belajar, juga karena terlalu banyak khawatir.

 

Sekitar 1-2 minggu menjelang UN, saya kaget menemukan ada kesempatan beasiswa S1 ke Australia dan Selandia Baru. Awalnya saya begitu semangat ingin mendaftar, namun saya melihat tenggat waktunya 30 April, sementara waktu itu sudah awal April, menjelang UN. Tidak mungkin saya menyiapkan dokumen yang diperlukan dalam beberapa minggu saja. Terlebih lagi, setelah UN saya juga harus mengikuti ujian Al-Azhar, semacam UN namun dengan materi agama dan dalam bahasa Arab gundul. Saya kecewa dan sedih, menyesalkan mengapa saya baru mengetahui info tersebut.

 

Waktu berlalu, dan UN pun dimulai. Karena Al-Azhar berafiliasi dengan MAN 4 Jakarta, kami harus melaksanakan UN di MAN 4 dan menginap di sana selama 3 hari pelaksanaan UN. Saat hari kedua UN, orangtua saya menelepon dan memberitahu bahwa saya akan didaftarkan untuk beasiswa ke Jepang yang diadakan oleh Kementerian Agama. Saya mengiyakan saja walau tak berharap banyak.

 

Setelah UN selesai, saya harus mengikuti ujian seleksi pertama yang merupakan tes tulis IPS, Matematika, dan Bahasa Inggris. Ujian tersebut diadakan pada hari Sabtu, 4 hari setelah selesai UN. Beruntungnya, saya sudah mempelajari materi SBMPTN hari sebelumnya, sehingga bisa mengerjakan ujian seleksi dengan cukup lancar.

 

Pada hari Selasa, hari kedua ujian Al-Azhar, saya mengetahui bahwa saya telah lolos seleksi tahap pertama. Esoknya, saya pun mulai menyiapkan dokumen untuk tahap seleksi kedua, yang akan diadakan hari Jumat. Waktu itu, saya harus menyiapkan dokumen transkrip nilai dalam Bahasa Inggris, melegalisir rapor semester 1-5, serta menulis 3 esai yang masing-masing panjangnya 500-600 kata. Bersamaan dengan itu, saya juga tetap harus mempelajari materi untuk ujian Al-Azhar. Bayangkan betapa repotnya saya saat itu!

 

Untunglah, semua dokumen telah selesai diurus pada Kamis sore, dan Jumat saya pun izin mengikuti seleksi tahap 2, yakni wawancara dan tes dalam Bahasa Inggris. Alhamdulillah, saya bisa menjalaninya dengan lancar.

Kira-kira seminggu setelah itu, saat sedang menjalani kegiatan perpisahan bersama teman-teman seangkatan, saya dikabari oleh orangtua bahwa saya lolos seleksi kedua dan berhak lanjut ke tahap wawancara dengan pihak universitas. Betapa bahagianya saya!

 

Sebulan kemudian, saya pun menjalani tes wawancara dengan pihak universitas. Saya ditanya mengenai berbagai hal, tapi fokusnya pada esai-esai yang telah saya tulis, seperti motivasi untuk bersekolah disana, rencana saya setelah lulus, dan peminatan yang ingin saya ambil. Omong-omong, universitas yang saya tuju ini adalah Ritsumeikan Asia Pacific University (APU).

Beberapa minggu kemudian, saya dinyatakan diterima sebagai mahasiswi APU. Akhirnya saya dapat menjalani impian saya untuk berkuliah di Jepang dengan jurusan Hubungan Internasional! Lebih spesifiknya, International Relations and Peace Studies.

Pesan saya, jangan pernah ragu untuk mengejar mimpi. Berjuanglah keras, karena suatu saat akan berbuah manis. Jangan lupa juga untuk selalu bersabar dengan berbagai hambatan yang ada.

Foto-foto disediakan oleh penulis. 

Artikel ini sudah dipublikasikan sebelumnya di blog pribadi penulis supzuppa.blogspot.com