Menikah dan Berkeluarga atau Lanjut S2?

Sepenggal pengalaman seorang mamasiswi beranak dua di Kyoto, Jepang.

0
3998

Ada kalanya hidup adalah pilihan. Namun ketika kita punya mimpi, percayalah pilihan apapun yang kita pilih, akan selalu ada jalan untuk menggapai apa yang kita impikan. Seperti cerita Rosma yang membuktikan bahwa tidaklah mustahil bagi seorang wanita untuk mengejar mimpinya mengenyam pendidikan lebih lanjut, walau sudah berkeluarga. 

Mamasiswi adalah istilah unik untuk menyebut mahasiswi yang juga seorang mama. Istilah ini pertama kali saya dengar dari kakak kelas saya di Kyoto University yang juga berasal dari Indonesia. Sebagai salah seorang mamasiswi beranak dua, saya ingin berbagi sedikit pengalaman selama kurang lebih dua tahun berpetualang di Kyoto, Jepang.

Memilih untuk kembali ke bangku kuliah di saat telah memiliki karir yang bagus adalah keputusan yang cukup sulit untuk dilakukan. Namun langkah itulah yang saya ambil di awal tahun 2016 lalu dan membawa saya berserta keluarga berhijrah ke kota Kyoto, Jepang.

Setelah menamatkan program S1 di UGM Yogyakarta, saya meniti karir sebagai seorang pegawai di salah satu perusahaan multinasional di kawasan Cikarang. Dua tahun kemudian, saya berganti perusahaan dan kembali menetap di Yogyakarta. Selama 6 tahun dan 1 bulan menjadi karyawan, berbagai hal baru dan menarik datang silih berganti yang memaksa saya untuk terus belajar dan belajar. Saya juga berkesempatan untuk melihat bagaimana sebuah ‘big business’ berjalan dari dekat serta turut andil di dalamnya. Seiring berjalannya waktu, keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang master yang sudah saya kubur dalam-dalam setelah menikah muncul kembali. Hingga di awal 2014 saya membulatkan tekat untuk mewujudkan cita-cita saya sejak S1 dulu, yaitu S2 di luar negri. Hal ini bukanlah hal mudah bagi saya, terlebih lagi bidang keilmuan yang saya ingin saya pelajari tidak linear dengan S1 saya. Dari mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi menjadi mahasiswa Manajemen, membayangkan saja sudah membuat saya deg-degan dan ‘merinding disko’, kalau boleh memakai istilah anak SD tahun ‘90an.

Mengapa Jepang dan mengapa harus Kyoto?
Sembilan tahun yang lalu tepatnya April-September 2008, saya berkesempatan untuk mengikuti program riset selama 6 bulan di Kyushu University. Saya pikir disaat itulah rasa kekaguman saya terhadap negeri matahari terbit ini muncul. Keteraturan, kedisiplinan, integritas dan totalitas dapat saya lihat dari para Profesor dan tim lab saya waktu itu. Hingga terbersit-lah di hati kecil saya, bahwa kelak harus kembali ke Jepang untuk melanjutkan kuliah lagi.

Alasan mengapa saya memilih Kyoto adalah karena belum banyak universitas di Jepang yang menawarkan MBA course dalam bahasa Inggris, dan Kyoto University adalah salah satu dari sedikit universitas yang menawarkan program itu. Selain itu juga karena suami saya telah terlebih dulu memilih Kyoto untuk melanjutkan studi S3 nya.

unnamed-3

Memulai perkuliahan
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya cukup khawatir dan cukup takut untuk kembali berkuliah. Benar saja, rasa was-was ini kembali muncul saat saya mengikuti placement test untuk kelas bahasa Jepang. Sebagai informasi, tes tersebut dilakukan sebelum perkuliahan regular dimulai. Suara gesekan pencil yang beradu dengan kertas dari meja di sebelah saya saja, sudah membuat saya grogi tidak karuan dan mulai berkeringat dingin. Mungkin itu terdengar berlebihan, tapi begitulah kenyataannya. Saya merasa semua orang bisa mengerjakan tes dengan baik sedangkan saya, yah begitulah…

Minggu-minggu awal perkuliahan di kampus ini cukup unik. Kami dibebaskan untuk mencoba semua kelas yang tersedia di semester tersebut, untuk kemudian memilih maksimal sembilan kelas dalam satu semester. Beberapa kelas dasar seperti Macroeconomics, Microeconomics, Corporate Finance, Corporate Governance, dst merupakan kelas wajib yang harus diambil sebagai syarat kelulusan. Beruntungnya saya, hampir seluruh kelas dasar tersebut belum pernah saya pelajari sebelumnya, sama sekali! Hampir setiap hari saya harus meluangkan waktu untuk mengulang pelajaran dan mencoba membaca materi untuk kelas selanjutnya. Bukan hanya satu dua kali, bahkan sering kali saya harus membaca sebuah chapter dalam buku berkali-kali, bukan karena saya punya banyak waktu luang, tapi karena saya sama sekali tidak mengerti.

Kejadian paling parah yang saya alami di semester pertama adalah saat mengikuti kelas tentang Finance. Kelas tersebut berlangsung selasa dua sesi dan hebatnya saya, di akhir kelas tersebut saya tidak mampu memahami kurang lebih 95% dari konten yang disampaikan. Sementara saat kelas berlangsung, beberapa teman sekelas nampak dengan mudahnya turut aktif dalam diskusi dengan Profesor pengampu, sementara saya hanya bisa melongo sambil mencatat seadanya. Masih dari kelas yang sama, sesampainya dirumah saya segera mengecek kembali materi kuliah yang disampaikan, dan mi apah saya tetap tidak kunjung mengerti. Selama seminggu saya mencoba untuk terus berusaha memahami buku teks Finance yang tebalnya setara 3-4 buku komik terbitan Indonesia, hingga akhirnya saya putuskan untuk drop kelas tersebut dan mengambil mata kuliah tersebut di tahun depan. Dengan harapan saat itu saya sudah sedikit lebih pintar dan mampu mengikuti perkuliahan dengan baik.

Secara umum di awal semester satu, saya mengalami jet lag dan roaming ilmu pengetahuan yang sangat hebat. Setiap kali membaca buku, jurnal dan materi perkuliahan lainnya, saya ingin menangis, dan kadang memang benar-benar menangis. Namun dalam waktu 1-2 bulan perlahan saya mulai mampu mengikuti ritme kampus, dan sedikit demi sedikit bisa mengejar ketertinggalan saya.

WhatsApp Image 2018-04-24 at 21.26.58

Tentang keluarga
Selain masalah perkuliahan, tantangan berat yang menanti saya di semester awal adalah tentang keluarga. Saat memulai kuliah, saya adalah mamasiswi beranak satu yang bersuamikan mahasiswa doktoral tahun kedua. Hingga bulan kedua menetap di Kyoto, saya belum bisa mendapatkan tempat penitipan anak dikarenakan hampir seluruh tempat sudah terisi penuh. Alhasil, saya dan suami harus bergantian untuk menjaga anak dan berkuliah. Saya mendapat jatah untuk pergi ke kampus di shift 1 yaitu pagi sampai siang hari, sementara suami mendapat bagian shift 2 yaitu dari sore hingga subuh. Kondisi ini berjalan hingga anak saya akhirnya diterima di sebuah sekolah penitipan anak di sekitar kampus. Setelah kondisi berjalan 3 bulan, kami sekeluarga mulai terbiasa dan bisa cukup menikmati keseharian kami.

Di awal semester dua, kami mendapat rezeki yang luar biasa besarnya yaitu saya dinyatakan hamil anak kedua. Dari situlah tantangan baru dimulai. Saya yang cukup kerepotan dengan morning sickness harus tetap menjalani kuliah seperti biasa, hingga beberapa hari sebelum melahirkan saya masih kuliah seperti biasa. Istilah dalam bahasa jepangnya yang saya kutip dari OST Ultraman kesukaan anak sulung saya adalah ‘ギリギリまでがんばって’, yang bisa saya terjemahkan bebas sebagai ‘berjuang sampai akhir’. Setelah melahirkan putri kedua saya, seminggu setelahnya saya kembali berkuliah seperti biasa dan kehidupan shift antara saya dan suami dimulai kembali yang tentunya jauuuh lebih menantang dari sebelumnya. Alhamdulillah dengan segala kemudahan dan pertolongan dari kekuatan Yang Maha Dahsyat, kami dapat menyelesaikan perkuliahan dengan baik dan tepat waktu. Di akhir semester ke empat pun, saya berhasil mendapatkan Best Workshop Award, sebuah penghargaan atas proyek kelulusan yang saya kerjakan selama tahun kedua di Kyoto University.

WhatsApp Image 2018-04-24 at 21.26.58(1)

Menyesalkah?
Berkeluarga dan melanjutkan studi itu berat, tapi menurut saya bikin nagih. Yang pasti dibutuhkan semangat, usaha, dan doa yang tak putus-putus. Hal lain yang juga penting adalah keluarga yang saling memahami dan mendukung. Saya tidak dalam kapasitas untuk memberikan saran atau tips, karena di luar sana jauuuuh lebih banyak mamasiswi yang menghadapi tantangan super hebat dalam studi dan keluarganya. Namun berdasarkan pengalaman saya, seorang mama sekalipun juga mampu untuk terus mengejar cita-citanya dalam dunia pendidikan, terutama jika suami turut memberikan dukungan dan semangat.

Sewaktu saya akan berhenti bekerja untuk melanjutkan kuliah, beberapa kali orang berkata ‘Enggak capek ya mbak sekolah? Kenapa sih sekolah lagi?’

Bagi saya hal ini penting, karena ini adalah wujud determinasi dan idealisme saya dalam mengejar cita-cita, yang kelak bisa saya ceritakan ke anak-anak saya.

Selain itu, kuliah di luar negeri telah memperluas pandangan dan pengalaman saya beserta keluarga, dan semoga akan membuat saya menjadi manusia yang lebih baik. Saya semakin mengerti bahwa, di dunia ini baaaanyak sekali orang pintar, dan yang ilmu saya miliki hanyalah sebatas remah-remah roti saja. Saya merasa beruntung bisa mendapatkan pengalaman ini yang cukup menyadarkan saya yang kadang merasa sudah cukup ‘pintar’ ternyata hanyalah sebutir debu micron di gurun Sahara, masih di bagi dua dan harus dilihat pakai mikroskop. Semakin saya melihat dunia, semakin kecil saya memandang diri saya namun semakin besar bersemangat saya untuk lebih baik. Dan alangkah senangnya jika semakin banyak anak Indonesia yang berkesempatan untuk mencoba pengalaman berkuliah di luar negeri :). Jadi, menikah atau S2? Kalau ada kesempatan untuk keduanya, kenapa tidak?

unnamed-7