Program “ExcelL on Campus” di Victoria University of Wellington

Sebuah program pengenalan budaya yang diselenggarakan khusus untuk mahasiswa internasional yang baru memulai studi di Victoria University of Wellington

0
713
After Attending the Last Session of ExcelL

Gegar budaya (culture shock) adalah salah satu hal yang kerap menghampiri mahasiswa yang baru memulai perkuliahan apalagi jika ia berkuliah di lingkungan yang sama sekali baru baginya, seperti di luar negeriPada artikel berikut ini, Dwi Wahyuningtyas akan berbagi informasi mengenai program ExcelL on Campus yang diselenggarakan oleh kampus tempat ia berkuliah, Victoria University of Wellington.

Ada begitu banyak hal baru yang ditemui dan dihadapi ketika kita baru saja tiba di negara tempat studi; mulai dari perbedaan budaya, kebiasaan, hingga sistem perkuliahan seringkali membuat mahasiswa tersebut merasa asing dan canggung. Jika hal ini tidak segera diatasi, maka ia bisa kesulitan beradaptasi dan bahkan bisa memicu depresi. Ada banyak universitas di luar negeri memiliki program pengenalan budaya untuk mahasiswa internasional yang baru bergabung dalam civitas akademika agar bisa beradaptasi dengan lingkungan kampus. Kampus saya, Victoria University of Wellington, menawarkan sederet program bagi mahasiswa internasional; program ExcelL on Campus adalah salah satunya. Program yang biasanya dibuka dua kali setahun ini bertempat di Student Learning Victoria University of Wellington. Progam ini dibagi menjadi dua, yaitu untuk mahasiswa program sarjana (undergraduate) dan mahasiswa program pasca sarjana (postgraduate students). Program ExcelL on Campus untuk mahasiswa sarjana biasanya dilaksanakan lebih dahulu dibandingkan untuk mahasiswa pasca sarjana.

Program ini bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa internasional Victoria University of Wellington, khususnya mahasiswa baru, dengan budaya dan sistem perkuliahan di Wellington. Untuk mengikuti program ini, mahasiswa bisa mendaftar melalui situs Student Learning Victoria University of Wellington. Setelah mendaftar secara online, maka mahasiswa wajib membayar NZD 10 untuk biaya sertifikat yang akan diberikan jika peserta bisa mengikuti program dengan baik dan hadir di semua sesi ExcelL yang berjumlah 10 pertemuan. Peserta kemudian akan diberi modul yang berisi beragam materi untuk dibahas di setiap sesi. Misalnya, pertemuan pertama membahas tentang perbedaan orang barat dan timur dalam mengutarakan pendapat, kemudian pertemuan kedua dan seterusnya akan membahas materi yang berbeda. Setiap sesi ExcelL berlangsung sekitar dua jam yang diselingi dengan rehat kopi dan teh.

Diskusi yang berlangsung antara peserta sangat menarik. Dua orang pengajar dan satu relawan akan menjelaskan materi pada hari tersebut dan memfasilitasi diskusi. Materi juga disampaikan melalui pemutaran video dan dilanjutkan dengan tanya jawab peserta. Setelah itu, peserta akan mempraktekkan apa yang telah dijelaskan oleh pengajar. Dalam sesi praktek, peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil di mana setiap kelompok akan didampingi oleh satu pengajar atau relawan. Sesi ini berlangsung santai dan ringan yang membuat para peserta semakin bersemangat untuk berpartisipasi. Di sesi terakhir, para peserta yang telah mengikuti ke sepuluh sesi akan dipanggil satu per satu ke depan untuk mendapatkan sertifikat.

Hal yang paling mengesankan dan membekas ketika mengikuti program ini adalah, para peserta dapat mengenal dan berinteraksi dengan teman-teman dari negara yang berbeda sekaligus mempelajari budaya mereka. Selain itu, program ini menimbulkan rasa senasib di antara para peserta yang merupakan mahasiswa internasional, serta menumbuhkan pemahaman bahwa mereka harus belajar beradaptasi dan menyesuaikan diri di negara yang menurut mereka masih asing ini. Melalui program ini juga, para peserta akan mendapatkan pemahaman baru bahwasanya hidup di negara lain dengan sistem perkuliahan dan budaya yang berbeda memang tidak mudah. Itu semua membutuhkan proses pemahaman dan pengertian di mana semuanya bisa dipelajari. Melalui program ini peserta juga dapat memahami bahwa perbedaan budaya bukanlah hal yang patut ditakuti dan menjadi penghalang, namun justru bisa menjadi topik yang menarik untuk dibahas dan tidak jarang juga bisa menambah teman.

SHARE
Previous articlePost-Graduation Job Hunting: How to Win The Game
Next articleVancouver, My Beloved Arena
Dwi Wahyuningtyas
Dwi is currently doing MA in TESOL at Victoria University of Wellington, New Zealand under the scholarship of Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). She previously worked as an instructor at Language Center, University of Muhammadiyah Malang.