Mencari Beasiswa Setelah Sampai Di Jerman? Pasti bisa!

0
1201

Tidak mendapatkan beasiswa dari Indonesia untuk studi master-mu bukanlah akhir dari segalanya. Widi membuktikan bahwa dengan perjuangan lebih dan sedikit kenekatan mencari beasiswa di negara tujuan, kamu tetap bisa kuliah master

Saya ingin berbagi sedikit tentang pencarian beasiswa studi setelah sampai ke negara tujuan saya, yaitu Jerman. Sebenarnya sebelum berangkat saya mencoba mencari beasiswa dari pemerintah Indonesia, tapi memang bukan rejekinya, saya ditolak dua kali di tahap wawancara. Walaupun sudah ada surat penerimaan dari TUM (Technische Universität München), tapi tanpa beasiswa saya tidak yakin untuk berangkat.

Untungnya, keluarga mendukung keberangkatan saya dan mau membantu pembiayaan di tahun pertama. Alhasil, sejak berangkat otak saya sudah harus berputar keras untuk mencari pekerjaan paruh waktu serta beasiswa studi.

Di pertengahan semester pertama, saya mendapat kerja paruh waktu di lab biogas. Memang tidak banyak, hanya sekitar 20 jam per bulan maksimal (kira-kira €250 per bulan), tapi lumayan untuk menambah uang saku atau bahkan liburan. Merasa tidak cukup, saya mencari kerja sambilan lagi di toko kacamata sebagai shop assistant: menyambut pelanggan, menjelaskan konsep toko, menanyakan kacamata seperti apa yang mereka cari, dan sebagainya. Pekerjaan ini ternyata berguna sekali untuk melatih skill bahasa Jerman saya!

Setelah urusan perut dan jajan sedikit terbantu, saatnya saya memikirkan pencarian beasiswa untuk kelanjutan studi saya. Untuk mencari beasiswa sejak semester pertama rasanya agak susah, karena biasanya diharuskan melampirkan surat rekomendasi dosen dan kita perlu menunjukkan nilai kita di kampus. Mengingat semester pertama biasanya adalah proses mengenal dosen dan berusaha mendapat nilai yang baik, saya baru bisa mendaftar beasiswa di semester kedua.

Seminar wajib peserta beasiswa KAAD (Jahresakademie) di mana setiap benua harus menampilkan pertunjukan khusus. (Foto oleh penulis)
Seminar wajib peserta beasiswa KAAD (Jahresakademie) di mana setiap benua harus menampilkan pertunjukan khusus.

Berikut ini beberapa pengalaman saya dalam mencari dan mendapatkan beasiswa dari dua lembaga di Jerman.

1. TUM Scholarships for International Students

Di semester kedua, saya mendapat beasiswa dari TUM (mewakili pemerintah Bavaria) untuk pelajar internasional. Setelah semester pertama selesai dan nilai keluar, saya langsung mendaftar program ini. Kalau kamu tertarik, jangan sampai lupa cek deadline-nya ya!

Pendaftaran beasiswa ini tidak terlalu merepotkan. Tinggal cek link di atas dan ikuti prosedurnya.

Beasiswa ini diberikan per semester dan jika kamu mau memperpanjangnya, kamu harus mengulang prosedur yang sama. Saya cuma mendaftar sekali karena kesempatan mendapatkan perpanjangan beasiswa lebih kecil. Biasanya, beasiswa ini diberikan satu periode dengan nilai finansial €500 – €1,500 per semester (tergantung juga berapa banyak yang mendaftar).

Untuk mendaftar, dokumen yang harus dilengkapi adalah:

  • Formulis pendaftaran (termasuk CV and motivation letter di dalam formulirnya);
  • 2 surat rekomendasi dari dosen (formulir bisa di-download di link di atas);
  • Bukti penghasilan orangtua (misalnya: slip gaji, rekening, bukti pembayaran pajak, surat pajak bumi dan bangunan). Asal bisa dijelaskan, bukti-bukti ini gak ‘saklek’ harus diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, kok!;
  • Transcript semester 1 dan bukti enrolment. 
  1. KAAD (Katolischer Akadamischer Ausländer-Dienst) 

Beasiswa ini ditujukan khusus bagi yang akan melanjutkan studi master atau PhD. Walaupun dari organisasi keagamaan (Katolik), tapi beasiswa ini tidak terbatas untuk orang yang beragama Katolik saja. Selama kamu bisa membuktikan keterlibatan kamu di aktivitas sosial atau keagamaan lainnya, kamu bisa daftar.

Screen Shot 2018-04-07 at 18.10.37
Seminar wajib peserta beasiswa KAAD (Jahresakademie) di mana setiap benua harus menampilkan pertunjukan khusus.

Beasiswa ini khusus ditujukan untuk mahasiswa dari negara berkembang seperti Afrika, Asia, Timur Tengah, dan juga Eropa Timur. Penerima beasiswa juga diwajibkan untuk mengikuti seminar yang diadakan sepanjang tahun. Setiap tahun sudah ada program yang dibuat dengan tema seminar yang berbeda-beda dan bertempat di seluruh Jerman. Biaya transportasi dan akomodasi selama seminar pun akan ditanggung. Jadi selain dapat ilmu, saya bisa kontak dengan penerima beasiswa dari berbagai negara lain, plus bonus jalan-jalan gratis!

Ada 2 tipe program beasiswa yang ditawarkan, yaitu:

Pendaftaran program S1 dilakukan di negara asal melalui perwakilan di negara yang bersangkutan. Untuk Indonesia, contact person-nya adalah:

Dr. Juliana Murniati

KAAD Committee Indonesia

University of Atma Jaya

Nusa Loka – Bumi Serpong Damai

Tangerang Selatan 15318

Karena saya tidak mendaftar di program yang ini, jadi mungkin saya tidak bisa cerita terlalu banyak. Yang pasti di program ini, kamu wajib kursus bahasa Jerman di Bonn selama beberapa waktu (1 atau 3 bulan). Kalau ingin mendaftar beasiswa ini, saya rasa kamu bisa terlebih dahulu kontak Referat KAAD Asia (kontaknya ada di link).

Program 2 ditujukan untuk mahasiswa yang sudah berada di Jerman. Saya mendaftar di semester ketiga dengan catatan sudah lebih kenal beberapa dosen untuk permohonan surat rekomendasi juga. Untuk program ini, pendaftaran hanya bisa dilakukan melalui organisasi Katolik di universitas, atau dalam bahasa Jerman disebut KHG (Katolische Hocshculegemeinde) atau HSG (Hoschsulgemeinde). Tiap universitas biasanya punya organisasi seperti ini (cek di http://www.fhok.de/strukturen/hochschulgemeinden-vor-ort/).

Jadi, untuk mendaftar, kita kontak KHG atau HSG dan mereka akan membantu proses pendaftaran dan kelengkapan dokumennya. Untuk mendaftar, kita diharapkan mampu berbahasa Jerman at least untuk komunikasi sehari-hari. Formulir dan motivation letter  juga disiapkan dalam Bahasa Jerman. Jangan khawatir kalau bahasa Jerman-mu tidak sempurna, karena contact person di KHG atau HSG siap membantu perihal dokumennya.

Beberapa syarat kelengkapan dokumen:

  • Formulir (diperoleh dari KHG atau HSG);
  • Surat rekomendasi dosen (2 Dosen dari Universitas);
  • Surat rekomendasi dosen di Indonesia;
  • Surat rekomendasi tokoh masyarakat atau tokoh keagamaan di negara asal;
  • Surat referensi dari tempat bekerja dullu (sekiranya ada);
  • Surat rekomendasi dari KHG atau HSG;
  • Surat rekomendasi dari perkumpulan keagamaan atau sosial yang aktif kamu ikuti di Jerman, misal: Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI) di Jerman. Menurut KAAD, pendaftar dari Indonesia tidak terlalu banyak. Jadi mereka menginginkan lebih banyak pendaftar dari Indonesia loh sebenarnya!;
  • Motivation letter (dalam bahasa Jerman);
  • Rencana studi;
  • Ijazah, transkrip, dsb.

Memang agak repot untuk melengkapi dokumennya, terutama yang mengharuskan kita kembali berhubungan dengan orang-orang di negara asal. Tujuannya supaya kamu punya kontak dengan negara asal dan sekiranya ketika kamu pulang, kamu sudah memiliki network yang sudah terbentuk ketika proses mencari kerja. Beasiswa KAAD memang mengharuskan awardee-nya untuk kembali ke negara asal. Jika kamu ingin tinggal lebih lama terlebih dahulu di Jerman, alasannya harus jelas.

Nominal beasiswa KAAD per bulan nya €700, tapi menurutku, added value-nya banyak, misalnya bisa ikut seminar dengan topik-topik global yang aktual.

Jadi, jangan takut untuk cari beasiswa di negara asal. Asal ada kemauan dan rain mencari tahu dan bertanya, pasti ada jalan kok! Kalau ada keberanian, ‘kenekatan’, mau kerja atau pun beasiswa, saya yakin pasti semua orang bisa support biaya studinya di luar negeri.

Selamat mencoba dan semoga beruntung!

Photos are provided by the author. 

SHARE
Previous articleBerkuliah di Jepang dengan Beasiswa dari ADB-Japan Scholarship Program
Next articleShould You be a Resident Assistant?
Widiana Mutyasari
Widiana Mutyasari, or Widi, graduated from Environmental Engineering Department of Institut Teknologi Bandung. She worked for an environmental consultant focusing on sustainable waste management and in an intergovernmental organisation focusing on climate change policy framework. Widi then pursued her master’s degree in Technical University of Munich majoring Sustainable Resource Management with specialisation in Forest Ecosystem Management and Renewable Resources. Widi currently lives in Munich and will graduate soon. In her spare time, she enjoys hiking, travelling, swimming, reading, and photography.