Selalu Optimis dan Penuh Syukur dalam Pendidikan dan Karir

Dalam rangka Hari Kartini, Alyssa Soebandono berbagi cerita ketika karirnya sedang sangat baik tetapi semangatnya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi juga tidak kalah menggebu.

0
3832
Alyssa Soebandono adalah sosok Kartini masa kini yang sukses menyeimbangkan antara keluarga, pendidikan dan karir

Bagi seorang Anindya Alyssa Soebandono, akrab disapa Icha, perjalanan menempuh pendidikan di luar negeri telah memberikan hikmah dan kesan tersendiri yang tidak akan pernah ia lupakan begitu saja. Mari kita simak artikel yang ditulis Icha berikut ini; ia bercerita tentang apa saja yang saat itu menjadi pertimbangannya ketika mempersiapkan kuliah di Australia saat karirnya di dunia hiburan tanah air sedang cukup baik.

Sudah 9 tahun berlalu dan masih teringat jelas dalam benak ini bagaimana saat itu saya mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan di Monash University, Melbourne, Australia. Tahun 2008 adalah tahun dimana saya, dengan tekad bulat, membuat keputusan yang bisa berdampak langsung terhadap perjalanan pendidikan dan karir saya. Pada tahun tersebut saya lulus dari SMA yang menggunakan program International Baccalaureate (IB) Diploma, yaitu program 2 tahun yang memberikan kualifikasi internasional bagi para lulusannya untuk dapat melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi dan kualifikasi ini juga diakui oleh banyak universitas di berbagai belahan dunia. Bermodalkan izin dan restu dari orang tua agar saya kelak menjadi sosok yang cerdas dan mandiri, saya pun mempertimbangkan matang-matang sebelum akhirnya membuat keputusan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.

Tentunya ini bukanlah sebuah keputusan yang mudah apalagi saat itu iklim karir saya juga sedang berjalan dengan cukup baik. Pikiran ini rasanya kalut dan penuh dilema dengan banyaknya masukan dan pertimbangan. Apakah ada yang menentang keputusan saya ini? Tentu saja ada. Tantangan ini terutama berasal dari berbagai pihak yang merasa karir saya di dunia hiburan tanah air akan terabaikan jika saya melanjutkan kuliah di luar negeri. Mereka mempertanyakan apakah tidak bisa jika saya berkuliah di salah satu universitas di Indonesia saja agar bisa melaksanakan keduanya berbarengan? Wah, ide yang cemerlang pikir saya saat itu karena saya percaya menempuh pendidikan di mana saja adalah sama baiknya, faktor penentu keberhasilan studi kita adalah cara kita berpikir dan bagaimana kita berjuang untuk meraih keberhasilan tersebut, termasuk keberhasilan untuk mendapatkan nilai yang diinginkan guna mengejar hasil akhir yang memuaskan.

Meskipun saya yakin bahwa kuliah di dalam dan luar negeri sama baiknya, saya merasa sangat sayang jika harus melewatkan kesempatan dan rezeki yang Alhamdulillah saya dapatkan untuk bisa menempuh pendidikan di luar negeri dengan sertifikat IB Diploma tersebut. Dan dari awal saya berkarir, prioritas utama saya adalah pendidikan. Apapun yang terjadi saya selalu bertekad untuk menomorsatukan pendidikan. Saya percaya bahwa kesempatan mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri adalah sebuah pelajaran hidup yang memberikan kesempatan bagi para “perantau” untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda, untuk mempelajari kultur dan budaya baru, untuk memahami cara berinteraksi dengan lingkungan yang belum pernah dikenal sebelumnya, dan juga untuk memahami etika yang berlaku di negara asing tersebut.

Setelah lulus SMA, saya masih memiliki kontrak kerja yang sedang berjalan sehingga saya tidak bisa langsung berangkat ke Australia. Syukur Alhamdulillah, Monash College & Monash University bekerja sama dengan Jakarta International College (JIC) sehingga saya bisa menjalani tahun pertama perkuliahan saya di JIC sembari menyelesaikan kontrak kerja. Pada tahun kedua perkuliahan, saya berangkat ke Melbourne, Australia, untuk menjalani studi disana hingga selesai.

Selama di Melbourne, hari demi hari saya lalui dengan sesuatu yang baru. Sungguh berbeda. Bachelor of Arts (Global) adalah jurusan yang saya ambil, dengan major di International Studies dan minor di Communication. Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda budaya dan latar belakang membuat pikiran saya menjadi lebih terbuka. Saya dapat memahami ide dan pemikiran yang sebelumnya tidak saya ketahui; saya pun mempunyai cara pandang tersendiri akan bagaimana memposisikan diri tanpa merasa asing.

Tahun 2011, saya terpilih menjadi salah satu duta Monash University untuk program pertukaran pelajar. Saya memilih Sussex University di Brighton, Inggris. Selama 6 bulan saya habiskan belajar di lingkungan yang baru; di mana saya hanya berangkat seorang diri tanpa mengenal kerabat yang tinggal disana. Sungguh menjadi satu pengalaman yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Selamanya.

Tahun demi tahun telah dilewati. Tiba saatnya saya wisuda pada tahun 2012. Target untuk mendapat gelar sarjana di usia 19 tahun? Checked. Alhamdulillah. Menyelesaikan studi dengan nilai yang memuaskan bagi saya adalah kebanggaan tersendiri karena pada akhirnya saya mampu melewati semuanya terlepas dari segala tantangan yang menerpa. Saya belajar bahwa jika kita menginginkannya, berusahalah.

Saya beruntung. Ya, saya sangat beruntung. Bisa menjadi salah satu di antara sekian banyak pelajar asal Indonesia yang dapat menempuh pendidikan di luar negeri. Namun perlu diingat, berkuliah di luar negeri bukan sekadar menuntut ilmu agar terlihat keren. Semua tempat itu sama, yang membuatnya menjadi beda adalah karena apa yang kita terapkan di dalam diri kita dan bagaimana kita menerapkannya. Kita harus berbagi apa yang kita dapatkan dari berkuliah di luar negeri kepada mereka yang berhak untuk mendapatkannya. Jadi jangan mudah terpengaruh dengan sifat-sifat pesimistik, apalagi menjadi tinggi hati.

Saya yakin semua orang bisa menjadi sukses ketika mereka ingin dan mau menjadi orang sukses. Segala cara baik musti dilakukan untuk bisa mewujudkan impiannya. Namun yang perlu diingat adalah, ketika sudah mencapai titik kesuksesan tersebut, bersyukurlah. Jangan terbuai dan terbutakan oleh apa yang kamu miliki sekarang karena sewaktu-waktu, segala sesuatu yang dimiliki bisa dihancurkan dalam sedetik. Yang terpenting adalah kamu harus mengenali dirimu agar tau seberapa berharganya dirimu untuk bisa membantu sesama.

Selamat berjuang, sahabat. Karena suatu hari nanti, akan ada seseorang yang berterima kasih dengan pilihan yang kamu ambil saat ini, yaitu diri kita sendiri. Jangan pernah berhenti belajar. Sampai kapanpun.

Terima kasih, pendidikan. Semua pengalaman belajar akan selalu mendapatkan tempat spesial dalam hidup saya sebagai salah satu pengalaman terindah untuk membawa nama harum Indonesia. Semoga pengalaman saya bisa menjadi inspirasi semua pembaca.

Selamat Hari Kartini!

Photo is provided by author

SHARE
Previous articleMooting Experience as Part of Being a Law Student
Next articleChoosing Between Two Major Scholarships
Anindya Alyssa Soebandono
Anindya Alyssa Soebandono, well-known as Alyssa Soebandono, is an Indonesian actress, singer and presenter. She debuted her career in 2000 and, since then, has risen to fame by becoming the lead female actress in many soap operas and tv commercials. She earned a bachelor's degree from Monash University, Australia, in 2011 when she was only 19 years old. During her undergraduate study, she was also chosen to represent her university in an exchange programme at Sussex University, UK. Alyssa believes education is important; therefore, although her beautiful family is still number one priority, she is also planning to do a doctoral degree in the future.