Student Exchange di Dankook University, Korea

0
1487

Merasakan pengalaman belajar di luar negeri adalah salah satu impian Henny. Kesempatan itu datang padanya saat kuliah di ITS: tawaran untuk student exchange di Dankook University, Korea. Seperti apa pengalaman Henny selama di sana? Yuk baca di artikel ini!

March 2014 was the first time I stepped my foot in Korea. Saat itu dingin dan saya sendirian, hanya ditemani dua buah koper besar. Saya berjalan tanpa ragu dari Bandara Incheon menuju sebuah hostel di Seoul. Saya belum terbiasa membaca baliho-baliho bertulisan hangul, namun saya tetap saja melangkah cool, seakan memang sudah terbiasa ke Korea. Bukan bermaksud arogan, namun saya selalu bertindak seperti itu dimanapun saya traveling ke tempat baru. Personally, saya yakin cara itu sangat ampuh meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan (pencurian, perampokan, penipuan – who knows?), karena wisatawan yang terlihat kebingungan itu justru jadi “sasaran empuk” bagi pihak-pihak kriminal. Dengan bekal kelihaian membaca Google Maps, Google Translate, dan banyak informasi sebelum keberangkatan, saya bergerak dari bandara ke kota dengan menggunakan kereta Metro. Saya akan segera memulai program pertukaran pelajar di Dankook University, Korea. Here’s a quarter of my story.

Pre-Departure
Menjajaki semester 4 saya di jurusan Matematika Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), saya iseng mendaftar program pertukaran ke Dankook University. Saya memilih program itu bukan karena keingintahuan terhadap negara Korea Selatan. Jujur, saat itu, saya bukan penggemar dari that-so-called-Korean-Pop ataupun Drama Korea, dan bukan juga anti-fan. Sederhananya, saya hanya ingin merasakan pengalaman belajar di luar negeri dan tinggal bersama orang dengan budaya yang berbeda, no matter where it is.

Setelah melalui berbagai seleksi cukup panjang akhirnya terpilih 2 mahasiswa. Kami berdua berada di kampus yang berbeda, major yang saya ambil berada di Cheonan, sedangkan major teman saya ada di Jukjeon. Jarak kedua kota tersebut cukup jauh, sehingga kami masing-masing menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia di tiap kampus. Beasiswa kami hanya mencakup tuition fee dan biaya asrama, living cost kami tanggung sendiri. Saya sempat ragu, namun atas restu keluarga, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti program ini.

Sebulan sebelum keberangkatan, pihak International Office ITS menghubungi saya untuk menawarkan program KGSP (Korean Government Scholarship Program), yaitu beasiswa dari pemerintah Korea yang mencakup keseluruhan tanggungan. “Wah, what a deal!, pikir saya.

Walau kesempatan ini sangat menarik, pihak International Office ITS memperingatkan saya, “Hen, this is your last chance. The documents should be received by next week, by mail, to South Korea.” Like, really? Next week itu cuma 4 hari dari saat itu!

Dengan doa bertumpah ruah, keringat, dan restu Yang di Atas, akhirnya dokumen, vaksinasi, asuransi dan lain-lain dapat selesai dalam 3 hari. Terdengar mudah, ya? Padahal saya skip kuliah 3 hari tersebut (jangan ditiru ya), kurang tidur, keliling kesana-kesini di Surabaya. Saya rela merogoh kocek untuk paket yang tercepat, berharap semoga aplikasi saya dapat diterima tepat pada waktunya. Lord hear my prayer, akhirnya saya diterima KGSP dengan pengecualian. Hal ini dikarenakan untuk beasiswa KGSP, pemerintah Korea sudah menunjuk beberapa universitas untuk menjadi universitas tujuan penerima beasiswa, namun karena saya terlanjur mengantongi Letter of Acceptance (LoA )dari Dankook University, maka saya adalah peserta KGSP di kampus selain daftar tersebut.

54b724f5-eaf5-49b6-8032-442933fd86de

Campus Life
Di Dankook University, saya mengambil major Matematika, Desain Komunikasi Visual dan Bisnis Manajemen. Tiga hal menarik yang sangat berbeda, bukan? Major tersebut terdapat di Dankook University kampus Cheonan, sebuah kota kecil yang terletak di selatan kota Seoul. Menurut saya, Cheonan merupakan kota yang sangat optimal bagi pelajar, karena Cheonan bukan kota Urban yang penuh hiruk pikuk bisnis, hiburan, atau politik. Saya tinggal di gisuksa (asrama kampus) bersama mahasiswa asing dari Vietnam. Ia tidak terlalu lancar dalam bahasa Inggris, namun fasih dalam bahasa Korea. Saya belajar banyak darinya tentang bahasa Korea, dan sebaliknya ia belajar bahasa Inggris dari saya. Setiap malam kami tidak pernah melewatkan waktu untuk saling bercerita hal yang telah kami lakukan pada hari itu.

Karena mengambil 3 major berbeda, maka circle pertemanan saya menjadi lebih luas. Sebagai satu-satunya mahasiswa asing di kelas itu, maka ada kesadaran batin untuk mencoba going extra miles mengajak berteman mahasiwa kelas tersebut. Ada yang terbuka dengan pertemanan, ada yang tertutup, ada juga yang justru mengajukan diri.

Selain itu, atas dasar rasa senasib sepenanggungan, saya berteman baik dengan mereka yang juga mahasiswa asing di Korea. Kami semua belajar di departemen berbeda, namun selalu menyempatkan waktu entah hanya di makan siang, maupun secara random bercengkerama di pinggir danau, berbicara dan makan es krim semalaman. We’re there in each other ups and downs, and their existence strengthen me.

Ada juga mahasiswa asing yang randomly approach you just to make friends. Mereka suka bergaul untuk membuka pikiran. Dari sekedar mengajak makan, traveling ke tempat baru, main bowling, atau kegiatan lainnya. Walau asik, namun saya tetap berhati-hati dengan mereka yang belum benar-benar saya kenal.

Selama melakukan pertukaran pelajar, saya juga menjaga hubungan baik dengan pengajar dan profesor. Walau keberadaan mahasiswa asing seperti saya pastinya memberi tantangan tersendiri bagi mereka, mereka tetap dengan senang hati mendengarkan masukan, saran, dan juga pertanyaan dari saya. Untitled

Kegiatan lain
KGSP mewajibkan kami untuk mengikuti Korean language course, sekedar cukup untuk membantu kehidupan kami sehari-hari dengan masyarakat lokal. Di language course tersebut, kami wajib memilih kegiatan ekstra seperti Korean Pop Dance, Theater, Arts, dan Traditional Music. Saya memilih ekstra Traditional Music, alat musik bernama samul nori. Samul nori adalah perangkat alat musik tradisional yang konon katanya dulu ditampilkan untuk merayakan panen raya. Saya dan beberapa teman memainkan ensemble dari janggo (drum berbentuk seperti jam pasir). Karena pengajar tidak fasih berbahasa Inggris, nada dan pukulan diinstruksikan dengan simbol-simbol unik. Setiap hari rabu, kami menjalani jam ekstra untuk kegiatan tersebut. Tidak disangka, di akhir semester, tim Traditional Music diminta tampil di National Folk Museum of Korea. Kami yang awalnya hanya main-main saja mulai serius untuk tampil yang terbaik. Kami tampil di depan seluruh mahasiswa asing Korea Selatan di gedung tersebut. What an amazing experience!
1

Perks of being a Moslem
Sebenarnya, tidak ada masalah dalam urusan beribadah. Shalat 5 waktu tidak akan jadi kendala asal bisa mengatur waktu kegiatan dan tidak sungkan menjalankan shalat di tempat yang tidak terduga, apabila keadaan tidak memungkinkan: di lorong kampus, di perpustakaan di bis, dll. Ada beragam reaksi penduduk lokal ketika melihat kita shalat di tempat umum: ada yang memperhatikan kita, ada yang memotret, ada yang memberi makanan dan uang, dan lain-lain.

Tantangan yang saya rasakan selama di Korea terkait menjadi muslim yaitu sedikit sekali tempat yang menyediakan makanan halal. Untungnya, saya bukan orang yang memasukkan nasi dalam menu wajib, sehingga sudah sangat cukup setiap hari sarapan dengan pisang dan yogurt, kemudian cemilan di jam 10. Tapi untuk kalian yang harus makan dengan nasi, saran saya kalau bisa memasaklah sendiri. Oh iya, if you’re not sure what’s halal and what’s not, kalian bisa cek di website Korean Moslem Federation. Jadi, gak perlu jauh-jauh ke toko halal yang ada di Seoul buat beli snack, cukup ke convenience store terdekat seperti: GS25, CU, 7-Eleven, Family Mart dan ikuti daftar item halal dari website tersebut.

Berbicara tentang pergaulan, menjadi muslim tidak menjadi kendala, kok. When you’re nice to your friends, they will respect you no matter what. Beberapa dari teman saya menganut agama lain, dan ada yang tidak menganut agama apapun, namun jangan membatasi pertemanan karena itu. Manusia semua pada dasarnya baik, jadi kalo kamu baik, you’ll also be a good representative of moslem for them. Kami sering jalan bersama, makan bersama, but they still pay respect for prayer time, and my eating restrictions tanpa keluhan. I believe if you’re a good person you deserve good friends like them too :)

—————

I learned a lot of things about life, faith, friendship, culture, love, history, academics, survival, and thousand other things I can’t mention. Exchange program IS ASTONIGSHING! If you’re adventurous enough to throw yourself into another side of the world, and explore the best of yourself, let’s give it a try! Live a life!