Dari Konsultan Hukum ke NYU Wagner: Perpindahan Jurusan dari Hukum ke Administrasi dan Kebijakan Publik

0
1383
At 30 Rockefeller Plaza

Kebanyakan orang tidak kepikiran untuk mengambil S2 dengan jurusan yang berbeda dengan S1. Lalu, mengapa Ayu memilih untuk pindah jurusan, dari hukum ke Administrasi dan Kebijakan Publik? Apa saja langkah-langkah yang Ayu ambil sebelum memutuskan pindah jurusan?

Kok sudah jadi konsultan hukum malah kuliah MPA? Atau lo kenapa gak ambil hukum lagi S2 nya yu? Ini menjadi pertanyaan yang harus dijawab berkali-kali ketika saya diterima program Master of Public Administration in Public and Nonprofit Management and Policy (MPA-PNP) di New York University (NYU Wagner). Memang diantara kalangan teman dan keluarga, langkah yang saya ambil ini tidak biasa, karena umumnya setelah lulus S1, kita akan mengambil S2 dengan jurusan yang sama. Mungkin karena pemikiran yang “rebel” dan keinginan untuk arahan hidup lain yang membuat saya berani untuk “pindah jurusan”.

Kok bisa pindah jurusan?

Keputusan saya untuk pindah jurusan tidak terjadi dalam sehari. Alasan dibalik pindah jurusan adalah karena saya merasa kurang “sreg” dalam kehidupan konsultan hukum. Padahal saat kuliah saya ingin bekerja di bidang hukum. Ketika telah bergelut di dunia kerjanya, saya merasa tidak pas. Walaupun itu, saya tidak pernah menyesali masuk dunia hukum. Saya tidak menyesali empat tahun yang saya habiskan di sekolah hukum atau 2 tahun bekerja sebagai konsultan hukum. Malah saya mensyukuri itu, karena lewat pengalaman saya di dunia hukum inilah yang sebenarnya memberikan perspektif segar untuk mempelajari MPA-PNP. Saya melihatnya sebagai pengetahuan saya di bidang hukum memberikan sudut pandang praktisi privat, dan saya memilih MPA-PNP sebagai pelengkap saya untuk belajar dari sisi publik.

Me with my office pals
Me with my office pals

 

Ketahui apa keinginan kita

What do you want?” Terkadang pertanyaan ini membuat kita berpikir keras untuk menjawabnya. Pertimbangan terpenting untuk pindah jurusan bagi saya adalah hasil. Perlu diingat, pilihan jurusan juga berpengaruh lurus pada karir. Jadi, jangan lupa memikirikan apakah pilihan jurusan kita akan menunjang karir atau apakah pilihan jurusan akan membuat kita kesulitan mencari pekerjaan. We need to make a living after all.

It’s all about the perfect match

Cari program jurusan dan universitas itu seperti mencari jodoh, harus cocok. Tidak hanya dari segi peringkat universitas dan program yang ditawarkan, tapi kita juga harus mempertimbangkan segala syarat pendaftarannya. Dream big but also get real! Harus saya akui, saya lemah dalam matematika. Dan untuk kuliah magister di Amerika Serikat kita diwajibkan untuk mengikuti tes Graduate Record Examinations (GRE) yang terdiri dari aljabar, geometri, aritmatika dan kosa kata. Dan benar saja, saya lemas melihat soalnya.

Saya pun memutar otak, bagaimana bisa kuliah di Amerika Serikat tanpa GRE. Pertama, saya mencari sekolah yang menawarkan program MPA yang cocok dan tidak mewajibkan GRE. Tetapi saya tidak bisa hanya mendaftarkan diri ke satu universitas. Backup plan is a must. Kebetulan dalam waktu yang sama, saya juga mengejar beasiswa LPDP yang memiliki daftar universitas tersendiri. Jadi saya juga merujuk ke daftar universitas LPDP untuk mencari program universitas yang cocok. Akhirnya saya mulai melirik program MPA di London dan memilih University College London (UCL), dan London School of Economics and Political Science (LSE) dan NYU Wagner.

Timing is everything

Ketika saya ditanya kapan sebaiknya kuliah lagi, saya akan menjawab sebaiknya bekerja dulu selama 1-2 tahun selepas lulus S1. Karena dalam dunia kerja, gelar memang penting, tetapi pengalaman kerja lebih penting. Secara pribadi, saya kurang menganjurkan untuk langsung kuliah S2 selepas lulus S1. Hal ini untuk mencegah kita dikategorikan sebagai fresh graduate padahal kita memiliki gelar Master. Selain itu, banyak program-program S2 yang mengandalkan pengalaman kerja dalam subjek praktek kelas.

Despite being important, going back to school is delayable. Secara tidak sadar, sering kali kita menunda untuk kuliah. Kerja, keluarga, distraction sering membuat kita menunda kuliah. Jujur saja, saya merencanakan untuk kembali kuliah setelah 1 tahun bekerja. Mendadak saya ditawari posisi di kantor yang kemudian menjadi comfort zone. Padahal 6 bulan sebelumnya saya sudah semangat 45 untuk kuliah lagi. Despite being comfy, comfort zone is sometimes a major villain. Seperti lagu Go Now dari Adam Levine dari film Sing StreetWe’re never gonna go if we don’t go now”. Sama seperti kuliah, kita harus berkata “Ya ayo sekolah sekarang”. Because that’s what I did.

Daftar sekolah dan beasiswa

Setelah memilih jurusan dan universitas, sekarang saatnya mempersiapkan syarat pendaftaran. Menurut pengalaman saya, sebaiknya kita telah diterima di universitas yang diinginkan sebelum kita mendaftarkan beasiswa. Ketika kita sudah memiliki Letter of Acceptance (LOA), otomatis presentase kita untuk mendapatkan beasiswa lebih besar. Bayangkan seperti ini, jika kita pemberi beasiswa, kita akan merasa kurang pasti jika kita memberikan beasiswa untuk orang yang belum diterima di universitas. Karena masih ada kemungkinan kita tidak diterima di universitas yang diinginkan.

Salah satu persyaratan umum adalah tes bahasa. Untuk negara berbahasa Inggris, dalam bentuk TOEFL IBT atau IELTS. Harus saya akui, tes-tes ini tergolong mahal. Disinilah saya melihat lagi persyaratan universitas dan beasiswa. IELTS merupakan tes yang umum di Inggris, sementara TOEFL populer di Amerika Serikat. Dan terlihat bahwa pilihan universitas saya  dan LPDP menerima IELTS dan TOEFL dan tidak ada preferensi diantara keduanya. Jadi saya mengambil IELTS yang kemudian digunakan untuk seluruh pendaftaran universitas dan beasiswa. Dalam persiapan, saya sengaja tidak mengikuti les. Pertama dari segi waktu yang tidak efisien selepas jam kantor, dan finansial. Jadi saya mengumpulkan soal-soal IELTS gratisan di Internet sebagai bahan latihan, dan saya berhasil menekan pengeluaran saya.

Tetapi syarat pendaftaran terpenting yang selalu ada dalam daftar persyaratan universitas maupun beasiswa adalah Motivation Letter . Secara garis besar essay-essay ini berfungsi untuk  melihat hasil apa yang akan berbuah setelah kita lulus atau mendapatkan beasiswa. Saya memberikan penjelasan singkat mengenai kehidupan saya sebagai konsultan hukum, berikut alasan mengapa saya pindah jurusan. Dan terakhir apa yang bisa saya hasilkan dengan latar belakang karir hukum dan gelar MPA-PNP saya. Remember, it’s all about selling the outcome.

Yang perlu dipersiapkan dengan baik adalah tahap wawancara. Ketika kita pindah jurusan, siap-siap akan ditanya terus-menerus mengenai keputusan kita untuk pindah jurusan. Defense! Defense! But don’t be defensive. Beri alasan yang jelas tetapi jangan menghindar kritik dari panel wawancara. Dan jangan lupa tetap tenang. Terkadang dalam interview, jika kita diberi pertanyaan terus-menerus kita akan panik dan akhirnya memberikan alasan yang tidak jelas. Jangan! Di sini panel wawancara juga akan melihat ketahanan kita terhadap tekanan.  The interview will be difficult, but it won’t last forever. Keep calm and stay strong.

The result

My capture of the NYC Skyline from Top of The Rock
My capture of the NYC Skyline from Top of The Rock

Dan bagi saya, all the struggle did pay off. Saya pun akhirnya mendapatkan beasiswa LPDP. Lucunya ketika saya mendapatkan hasil pengumuman pendaftaran universitas dan LPDP, saya sedang di kantor. Pagi-pagi ketika saya berangkat ke kantor saya mendapatkan email dari NYU yang memberitahukan bahwa status pendaftaran saya telah berubah. Berhubung saya sudah ditolak UCL dan LSE, saya pun sudah malas melihat hasil NYU. Tetapi akhirnya saya iseng melihat hasil NYU dan saya kaget sejadi-jadinya ketika saya diterima. Saking kagetnya, saat meeting dengan klien dan Deputy CEO kantor saya hanya bisa mangut-mangut saja, sementara otak saya sudah loncat entah kemana.

Dengan beberapa teman-teman PK-123 LPDP
Dengan beberapa teman-teman PK-123 LPDP

Jadi, saya tidak akan sugar coating bahwa kenyataannya mendaftarkan ke universitas dan mencari beasiswa bukan hal yang mudah dan instan. Tapi akan menguntungkan untuk waktu yang panjang dan hal ini sangat mungkin. There are no goals that are too high. Memang perjuangannya sulit, tapi ketika kita telah berhasil, perjuangan itu akan menjadi one hell of a story.