Menuntut Ilmu di Prefektur Shiga, Jepang

0
1290

Bagi orang Indonesia, Jepang mungkin terlihat sebagai negara maju di mana tinggal di sana akan difasilitasi berbagai kenyamanan. Ternyata, tidak semua yang kita bayangkan tentang tinggal di Jepang itu benar. Di artikel ini, Jason berbagi pengalamannya tinggal di Shiga – prefektur yang ternyata sangat berbeda dari kota besar seperti Kyoto, Osaka, ataupun Tokyo.

Apa yang terlintas di pikiran kalian ketika kalian mendengar kata “Jepang”? Mungkin yang akan muncul di pikiran kalian adalah anime, teknologi yang maju, dan juga orang-orang yang ramah. Sebelum saya berangkat ke Jepang sebagai mahasiswa internasional Ritsumeikan University, hal-hal itu juga terbayangkan di pikiran saya. Namun, ternyata apa yang saya bayangkan sedikit berbeda dengan realita saat saya menginjakkan kaki di Prefektur Shiga.

Prefektur Shiga adalah salah satu prefektur Jepang yang terletak di Area Kansai. Seringkali tidak banyak orang yang tahu tentang keberadaan prefektur Shiga –  saya sendiri masih belum menjelajah lebih dalam di prefektur ini. Salah satu hal yang terkenal dari Prefektur Shiga adalah danau terbesar di Jepang, yaitu Danau Biwa atau biasa disebut Biwako. Pada saat musim panas, danau ini menyelenggarakan festival kembang api (Hanabi) yang cukup mengagumkan untuk disaksikan.

Kembang api di Biwako di musim panas
Kembang api di Biwako di musim panas

Di Prefektur Shiga, hal pertama yang menurut saya cukup mengagetkan adalah terbatasnya transportasi umum yang dapat digunakan. Dalam transportasi, Prefektur Shiga berbeda dari prefektur Jepang yang maju seperti Kyoto atau Osaka. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, saya hanya bisa menggunakan bus ataupun kereta lokal yang memiliki jalur terbatas. Tidak semua daerah di Prefektur Shiga dapat dilalui oleh kereta. Untuk itu, hal positif yang bisa saya ambil adalah saya bisa lebih sehat karena untuk berpindah tempat saya harus berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda.

Berikutnya, hal kedua yang mengagetkan yaitu keterbatasan convenience store dan supermarket. Saya pernah tinggal di asrama kampus selama kurang lebih 8 bulan. Lokasinya cukup strategis, hanya 5 menit untuk tiba di kampus. Asrama ini berada di belakang kampus saya, dan berdampingan dengan rumah penduduk sekitar. Namun, dari asrama kampus sangat sulit untuk pergi ke convenience store terdekat. Untuk tiba di supermarket terdekat dari asrama, dibutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Selain itu, waktu operasionalnya juga terbatas. Jadi, jika saat malam hari saya kelaparan, yang bisa saya lakukan hanyalah memasak atau meraih apapun yang ada di vending machine di asrama saya yang menyediakan makanan ringan. Setelah sekarang saya pindah ke apartemen sendiri, saya dapat hidup lebih nyaman karena saya bisa menjangkau convenience store terdekat dengan waktu kurang dari 10 menit.

Ketiga, surprisingly, biaya hidup di prefektur ini tergolong tidak terlalu murah dan tidak juga terlalu mahal. Untuk biaya tempat tinggal, saya akan menceritakan 2 lokasi tempat saya pernah tinggal.

Di asrama, Ritsumeikan University mematok harga sekitar ¥41,000 dan belum termasuk biaya listrik. Di sini, ruang yang didapatkan oleh penghuni cukup kecil dibandingkan dengan apartemen. Jika ingin mendapatkan kamar mandi di dalam, harganya akan ditambah ¥7000 menjadi ¥48000. Tentu saja, ada konsekuensi yang harus ditanggung, yaitu kamar menjadi lebih sempit dibandingkan dengan ruang yang kamar mandinya berada di luar.

Ketika tinggal di apartemen, harga sewanya relatif tidak berbeda jauh dengan asrama. Hanya saja, jika kalian tinggal di apartemen, dengan harga yang sama kalian akan mendapatkan ruangan yang lebih besar. Namun, jika tinggal di apartemen, semua administrasi harus kalian urus sendiri. Contohnya, jika tinggal di asrama, kalian hanya perlu membayar listrik dan biaya sewa kepada pengelola apartemen. Sedangkan, kalau kalian tinggal di apartemen, kalian harus membayar sendiri biaya listrik dan gas terpisah dengan biaya sewa apartemen kalian. Selain itu, membuang sampah di Jepang juga tidak semudah di Indonesia. Kalian harus memilahnya dan harus membuang sesuai dengan jadwal yang berlaku di lokasi tempat tinggal kalian. Jadi, ada kelebihan dan kekurangan dari segi keuangan dan kenyamanan dari tinggal di asrama dan di apartemen.

Asrama Ritsumeikan University Shiga
Asrama Ritsumeikan University Shiga

Sebagai mahasiswa, saya merasakan poin positif dan negatif selama belajar di prefektur Shiga. Saya akan mulai dari poin negatif terlebih dahulu. Di Prefektur Shiga, hiburan sangat sulit didapat. Untuk bisa menikmati hiburan yang paling tidak setara dengan pusat perbelanjaan yang ada di kota-kota besar di Indonesia, saya harus pergi ke Kota Kyoto terlebih dahulu. Ongkos transportasi cukup membuat saya berpikir ulang jika saya benar-benar bosan dan ingin hiburan. Sebenarnya, Prefektur Shiga masih memiliki tempat tempat lain yang memiliki pusat perbelanjaan atau tempat hiburan seperti yang ada di Kyoto. Namun, ongkos transportasi yang dibutuhkan sama dengan ongkos yang saya butuhkan untuk pergi ke Kyoto. Jadi, itu membuat saya memilih untuk pergi ke Kyoto saja.

Terlepas dari “kampung”nya tinggal di Prefektur Shiga, saya juga merasakan dampak yang menurut saya bagus. Karena saya tinggal berada jauh dari lokasi hiburan, saya merasa tersadar untuk belajar lebih serius. Mengapa? Untuk mendapatkan semua hiburan-hiburan itu, diperlukan biaya yang tidak murah dan juga lokasi yang cukup jauh. Selain itu, saya bisa belajar juga untuk tinggal di Jepang dari sudut pandang yang berbeda. Bayangkan, sangat sulit sekali berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris di prefektur ini. Hal ini tentu saja membuat saya tergerak lebih untuk menggunakan kemampuan bahasa Jepang yang masih jauh dari cukup untuk berkomunikasi. Paling tidak, situasi yang memaksa saya untuk benar-benar menggunakan bahasa tersebut, melatih saya untuk berlatih menggunakan bahasa Jepang di kehidupan sehari-hari.

Danau Biwa di musim panas, menjadi tempat hiburan warga Shiga
Danau Biwa di musim panas, menjadi tempat hiburan warga Shiga

Terakhir, bagi kalian yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jepang untuk menuntut ilmu, saya sarankan bagi kalian untuk tinggal di asrama terlebih dahulu. Jangan dilihat dari segi biayanya, tetapi lihat manfaatnya: kalian akan dibantu oleh orang-orang Jepang yang memang sengaja tinggal di asrama untuk membantu murid-murid asing. Seperti yang sudah saya singgung di atas, Prefektur Shiga belum seramah prefektur tetangga seperti Kyoto dalam penggunaan bahasa Inggris. Jadi, kalau kalian belum memiliki pengalaman bahasa Jepang, saya sarankan untuk tinggal di asrama. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kalian.

Foto disediakan oleh penulis

SHARE
Previous articleMy First Job at a #TechStartup in San Francisco
Next articleTaking the Road Less Traveled: My Year of Living (not so) Dangerously in Norway
Jason is a sophomore of Information Science Undergraduate Student in Ritsumeikan University, Japan. He is interested in embedded system, computer networks, and microcontroller. Recently, he was involved in some website projects which enhance his knowledge in HTML, CSS and Javascript with integrating Python language. He has been enthusiastic in joining non-acedemic activities since junior high school. Currently, he belongs to Indonesian Students Association Kyoto-Shiga Chapter and Indonesian Students Association at Ritsumeikan. On the other hand, he actively volunteers himself as a campus student ambassador, an English teaching assistant, and a participant in several international students activities.