Menjadi Orang Indonesia di Mesir

0
1093

 

Being an undergraduate student in the oldest university in the world has its own delights and challenges. Going all the way from Indonesia to the borders of Africa makes it quite difficult to adapt, especially considering the distance. In this article, Mahardhika Mufti shares his insights and experience of living in Egypt and studying at Al-Azhar University in Cairo.

Tepat Januari lalu, saya merayakan anniversary setahun tinggal di Mesir sejak merantau dari Indonesia. Barangkali tulisan ini adalah perayaan terbaik yang dapat saya lakukan.

Tidaklah sulit menjadi mahasiswa Indonesia di Mesir. Faktanya, jumlah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Mesir; atau kita sendiri sering menyebutnya Masisir, berjumlah ribuan orang, dan itupun mayoritas mengumpul di ibukota,yaitu Kairo. Itu membuat setiap mahasiswa Indonesia khususnya saya mudah dan cepat beradaptasi di lingkungan saya yang baru.

Yang jadi permasalahan saya saat pertama kali tiba di sini adalah cuaca. Mesir adalah negara pertama selain Indonesia yang saya kunjungi, jadi saat pertama kali saya mendarat di Kairo, Kairo sedang dalam keadaan puncak musim dingin. Walau tidak sampai turun salju, tetapi suhu dan anginnya sudah cukup membuat tulang membeku. Terlebih lagi, badai pasir yang sering melanda Kairo membuat saya harus lebih berhati-hati jika ingin keluar dari asrama.

Dan untuk masalah makanan, Mesir memiliki berbagai macam alternatif. Mesir sendiri menjadikan roti sebagai makanan pokok mereka. Meski begitu, bukan berarti di sini tidak ada nasi. Karena di sini juga ada makanan khas Mesir yang berbahan dasar nasi: Urzbillaban (Nasi dengan campuran susu) dan kusyari (Nasi dicampur spageti, makaroni dan bawang).

Cukup aneh ya terdengarnya? Tapi tenang saja, karena banyaknya mahasiswa asal Indonesia ataupun dari negara Asia Tenggara lainnya yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok, di sini dapat dengan mudah kita temukan restoran-restoran Asia dengan makanan khas lidah orang Asia. Walau begitu, makanan khas Asia mengharuskan mahasiswa merogoh kocek lebih dalam dibanding makanan khas Mesir itu sendiri.

Untuk hal transportasi umum, Mesir masih mengandalkan angkutan umum sebagai jagoan pertamanya. Angkutan umum di Mesir terbagi menjadi 3 jenis: Tremco (semacam angkot), bis dan metro (kereta bawah tanah). Dan untuk tarif angkutan umum itu sendiri, saya rasa sesuai dengan kantong mahasiswa, karena tarif bis berkisar antara 1,5-3 pound, tremco 1 pound-5 pound dan metro 2 pound (1 pound = Rp800).

Di sini juga ada taksi, tapi penggunanya tidak sebanyak bis, angkot atau pun metro. Dan jumlah kendaraan pribadi di Mesir tidaklah sebanyak di Jakarta. Itu membuat jalanan di Mesir cukup lengang dan jarang sekali macet. Macet hanya ada pada titik tertentu dan jam tertentu, misalnya di pagi hari jika ingin ke kampus.

Dan satu hal yang harus kalian tahu tentang Mesir, Mesir bukanlah negara dengan padang pasir di sekelilingnya dan unta di pinggirnya, seperti tergambar di film-film Hollywood. Di Kairo sendiri, kita dapat dengan mudah menemukan gedung-gedung tinggi, mal serta bioskop.

Masyarakat Mesir pun sungguh menyambut warga asing yang hadir di negaranya. Saya sendiri sering mudah akrab dengan warga Mesir yang saya temui di jalan. Mereka baik-baik dan beradab. Mungkin sudah tak terhitung berapa kali saya ditawari makan gratis dan ingin diberi uang jajan oleh warga Mesir yang saya temui. Bahkan saking baiknya mereka, setiap bulan Ramadhan, warga Mesir saling berebut untuk berbuat kebaikan kepada orang-orang. Dari diadakannya buka bersama di setiap masjid atau rumah, nasi boks keliling serta uang saku yang diberi dadakan kepada orang-orang yang mereka temui di jalan. Keren, bukan?

Sebagai seorang Muslim, saya merasa bahwa Mesir adalah tempat terbaik untuk menimba ilmu. Karena Mesir sendiri mendapatkan julukan “Kiblat Ilmu” dari ulama-ulama. Hal ini terbukti dengan banyaknya karya-karya literatur dari berbagai bidang ilmu yang dapat dengan mudah kita temukan di sini. Bukan hanya itu saja, Mesir yang diwakilkan oleh Al-Azhar sebagai tonggak pendidikannya, banyak menyebar sheikh-sheikh terbaik mereka untuk mengajar dan memberi kajian di masjid-masjid, jadi bukan hanya mahasiswa resmi Al-Azhar atau orang yang bersekolah saja yang dapat mempelajari ilmu Islam di sini, kajian-kajian itu dibuka untuk umum bagi semua orang yang ingin belajar ilmu Islam.

Dan ada satu universitas di Kairo, di mana hampir 90% mahasiswa Indonesia di Mesir menuntut ilmu, termasuk saya, yaitu Universitas Al-Azhar. Karena banyaknya jumlah mahasiswa yang berkuliah di Al-Azhar dan juga karena Kementerian Agama membuka beasiswa resmi untuk calon mahasiswa dari Indonesia untuk belajar di Universitas Al-Azhar setiap tahunnya, maka saya akan memberi tahu sedikit tentang Universitas Al-Azhar ini, tanpa mengesampingkan universitas-universitas lain.

Al-Azhar tidak memberlakukan sistem absen, jadi mahasiswa dibebaskan jika ingin masuk kuliah atau tidak. Karena sistem seperti ini yang diberlakukan, jadi mahasiswa dituntut belajar atas dasar kesadaran diri sendiri dan tekad pribadi. Jika saya ungkapkan dalam satu ungkapan, Al-Azhar menerapkan, “Jika Anda ingin belajar, ayo belajar, kami fasilitasi. Jika tidak ingin, terserah Anda, karena hidup Anda, Andalah yang menentukan.”

Berarti absen tidak mempengaruhi nilai sama sekali, lalu bagaimana sistem penilaiannya? Nilai yang diambil hanyalah nilai ujian setiap semesternya. Ujian biasanya dilakukan setiap bulan Desember (semester pertama) dan pada bulan Mei (semester dua). Sederhananya, jika saya tidak mengikuti perkuliahan, saya belum tentu tidak lulus. Tetapi jika saya tidak mengikuti ujian, saya dapat dipastikan tidak lulus. Dan di Universitas Al-Azhar sendiri, tidak ada yang namanya skripsi atau tugas akhir bagi mahasiswa S1, mulai ada penulisan jika berkuliah S2.

Sekali lagi, sistem di atas hanya dikhususkan untuk Universitas Al-Azhar, karena seperti yang saya sebutkan tadi, Universitas Al-Azhar adalah tempat saya dan mayoritas mahasiswa Indonesia di Mesir mengenyam pendidikan.

Kesimpulannya, hidup sebagai mahasiswa asing di Mesir tidaklah sulit. Pertama, karena masyarakat Mesir sungguh menyambut warga asing. Kedua, banyaknya jumlah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Mesir memudahkan saya beradaptasi. Dan ketiga, biaya hidup yang cukup murah jika dibandingkan biaya hidup di Jakarta sendiri. Dan masih banyak lagi kemudahan lain yang tidak akan cukup dituliskan dalam satu artikel singkat ini.

Dan kesulitan yang saya alami di Mesir adalah cuaca yang sangat berbeda dari Jakarta. Selain itu, bahasa yang digunakan di Mesir, karena Mesir memiliki bahasa Arab tradisional tersendiri, bahasanya berbeda dengan bahasa Arab internasional. Hal ini memaksa setiap mahasiswa untuk mempelajari 2 bahasa sekaligus: Bahasa Arab tradisional Mesir dan bahasa Arab internasional.

Photo provided by author.