Menjadi Peneliti di Kampus Terkemuka di Jepang

0
1818

Jepang dikenal memiliki sistem seleksi yang ketat dalam merekrut para penelitinya. Terutama bagi mereka yang berasal dari luar negeri. Banyak syarat berat yang harus dipenuhi untuk masuk ke dalam bursa calon peneliti pada sebuah lembaga penelitian. Selain pendidikan yang mumpuni, pengalaman penelitian yang relevan serta rekomendasi dari seorang profesor yang ahli dalam bidangnya menjadi penentu seseorang diterima sebagai peneliti atau tidak. Tapi tidak ada yang tidak mungkin. “There is a will, there is a way”. Adalah Sugeng Wahyudi, lulusan Teknik Pertambangan ITB telah membuktikan bahwa orang Indonesia sekalipun bisa mendapatkan posisi sebagai seorang peneliti di Universitas Kyushu. Bagaimana ia melalui segala lika-liku dalam menggapai impiannya. Ikuti perjalanannya melalui wawancara berikut ini.

Anjas (A): Mohon ceritakan sekilas tentang diri Anda?

Sugeng (S): Nama saya Sugeng Wahyudi. Saya berasal dari kota kecil di Jawa Tengah bernama Juwana. Saya lulus S1 dari Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2003. Sedangkan S2 dan S3 dari Universitas Kyushu pada tahun 2008 dan 2011. Saat ini saya bekerja di Universitas Kyushu, Jepang.

A: Bagaimana Anda bisa belajar ke Jepang setelah lulus S1 dari ITB?

S: Saya belajar di Universitas Kyushu atas dukungan beasiswa Monbukagakusho program university-to-university (U-to-U). Kesempatan mendapatkan beasiswa ini datang dari seorang profesor Universitas Kyushu, yang mempunyai kerjasama dengan Jurusan Teknik Pertambangan ITB. Pada tahun 2003, ia datang berkunjung ke ITB. Kebetulan saat itu, ada dosen Teknik Pertambangan ITB yang tahu saya sedang mencari kesempatan meneruskan S2 dengan beasiswa.  Kemudian, saya diperkenalkan dosen ITB tersebut ke professor dari Universitas Kyushu. Ia menerima dengan baik perkenalan saya. Namun, ia tidak bisa menjamin saya bisa masuk ke Universitas Kyushu pada tahun 2005 karena sudah mendapatkan calon mahasiswa dari LIPI. Saya beruntung, teman dari LIPI tersebut mengundurkan diri sehingga saya bisa mengajukan beasiswa untuk tahun tersebut. Pada bulan Oktober di tahun yang sama, saya berangkat ke Universitas Kyushu untuk mengikuti program research student dengan belajar bahasa Jepang dan mempersiapkan ujian masuk program master. Pada April 2006, saya mulai mengikuti program Master di Universitas Kyushu.

A: Bidang studi apa yang Anda pelajari pada program S2 dan S3 di Universitas Kyushu?

S: Saya belajar tentang teknik peledakan secara umum dan getaran peledakan yang dihasilkan dari kegiatan pemberaian batuan secara khusus.

A: Bagaimana Anda bisa bekerja di Jepang setelah lulus S2 dan S3 di Universitas Kyushu?

S: Setelah lulus S3, saya bekerja di National Institute of Advanced Industrial Science and Technology (AIST) dengan posisi postdoc. Sebelum saya bekerja di AIST, saya sudah beberapa kali melakukan kerjasama penelitian dengan AIST sejak saya masih duduk di tingkat S2. Saat mengikuti program S3, saya pernah internship di AIST selama 1 bulan. Ketika melakukan internship tersebut, salah satu staff AIST mengatakan bahwa saya bisa bekerja di AIST setelah lulus nanti. Saya kira hanya bercanda, namun ternyata ia serius. Enam bulan sebelum lulus, saya mencoba mencari pekerjaan di Jepang, salah satunya dengan mengajukan lamaran ke AIST. Bulan Desember 2010, saya menerima pengumuman dari AIST kalo saya diterima di sana dengan posisi postdoc.

A: Anda bekerja di mana saat ini?

S: Saat ini, sejak 5 tahun yang lalu, saya bekerja di Universitas Kyushu.

A: Apa pekerjaan Anda sekarang? Mohon diceritakan?

S: Selama bekerja 5 tahun di Universitas Kyushu, saya terlibat dalam 3 program. Dari tahun 2013 hingga 2016, saya terlibat dalam program ASEAN-Japan Build-up Cooperative Education Program for Global Human Resource Development in Earth Resources Engineering (AJ-BCEP). Program AJ-BCEP ini diikuti oleh 3 universitas dari Jepang, yaitu Universitas Kyushu, Universitas Wased dan Universitas Hokkaido, dan 7 universitas dari ASEAN yaitu ITB, UGM, Universitas Chulalongkorn, Universitas Sains Malaysia, University of the Philippines, Ho Chi Minh City University of Technology dan Institute of Technology of Cambodia. AJ-BCEP ini mempunyai 3 program yaitu summer school, school on the move, dan double degree. Summer school untuk mahasiswa S1, sedangkan school on the move dan double degree untuk mahasiswa S2.

Photo 02

Program yang kedua adalah Joint Program for Sustainable Resources Engineering (JPSRE) dari tahun 2015 hingga 2017. Program ini adalah program joint degree antara Universitas Kyushu dengan Universitas Hokkaido.

Program ketiga adalah International Special Course (ISC) on Environmental Systems Engineering. Program ini adalah salah satu program S3 di Faculty of Engineering Kyushu University. Saya terlibat di program ini sejak tahun 2016 sampai sekarang.

A: Proyek apa yang sekarang Anda kerjakan?

S: Mungkin bukan proyek, tapi penelitian. Saat ini, saya fokus pada dua penelitian. Yang pertama adalah riset di bidang teknik peledakan, yang kedua adalah riset di bidang pengembangan grouting material dan pipe-jacking.

A. Hasil apa yang ditargetkan dari proyek yang Anda kerjakan sekarang?

S: Sebagai peneliti, tentu saja publikasi yang pasti. Akan sangat bersyukur, jika publikasi tersebut cepat diterima atau diaplikasikan dalam dunia industri.

A: Dengan pihak mana saja Anda bekerja sama? Bagaimana suasana kerja dengan mereka?

S: Dengan mahasiswa international S2 dan S3 dari laboratorium yang saya tempati sekarang. Mereka berasal dari Indonesia, China, Myanmar, Cambodia, Laos dan Mongolia. Saat ini saya juga sedang melakukan sebuah riset bersama Polytechnic School of the University of São Paulo dalam bidang pengontrolan getaran peledakan. Kalau bekerjasama dengan mahasiswa, bisa seperti dengan teman. Hampir tidak ada masalah dalam komunikasi dan pekerjaan bisa dilakukan dalam kondisi apapun dan kapanpun mengingat di kampus tidak mengenal jam kerja yang pasti. Mereka bisa tinggal di laboraturium seharian penuh. Berbeda dengan kerjasama yang saya lakukan dengan rekan saya dari Brasil. Karena rekan saya tinggal di Sao Paulo, komunikasi menjadi masalah yang sangat besar mengingat jarak yang jauh dan perbedaan waktu.

A: Tantangan apa saja yang Anda hadapi selama berkarir menjadi peneliti di Jepang?

S: Mungkin sama dengan peneliti di manapun juga yang berhubungan dengan eksperimen, masalahnya adalah dana penilitian. Meskipun Jepang menaruh perhatian yang besar dalam bidang penelitian, kompetisi mendapatkan dana penelitian di sana sangat ketat. Bahasa sudah hampir tidak menjadi penghalang karena saat ini banyak universitas di Jepang yang mempunyai program internasional dan jumlah mahasiswa internasional semakin meningkat.

Photo 03

A: Bagaimana Anda mengatasi tantangan tersebut?

S: Dengan terus mencoba menawarkan ide-ide baru agar bisa memenangkan kompetisi dalam mencari dana riset.

A: Apa target jangka panjang Anda dalam berkarir sebagai di Jepang?

S: Bisa mendapatkan posisi peneliti secara permanen.

A: Apakah Anda dapat memberikan nasihat bagi siapa saja yang ingin berkarir di Jepang sebagai peneliti?

S: Mungkin lebih khusus ke peneliti yah, karena untuk yang lain saya tidak tahu. Saya rasa semua peniliti sudah tahu, publikasi itu sangat penting. Kalau sudah pernah ada kerjasama dengan profesor di Jepang dan bisa berbicara bahasa Jepang tentu akan menjadi nilai tambah.

A: Bolehkan pembaca Indonesia Mengglobal (IM) mengontak Anda bila sewaktu-waktu ada yang ingin ditanyakan?

S: Silahkan dengan senang hati. Saya bisa dikontak melalui wahyudi.sugeng@gmail.com.