Studi Kebijakan Sosial di University of Pennsylvania: Roadmap to Frequently Asked Questions

0
1138
Di depan LOVE Statue, Kampus Penn bersama teman-teman dari Indonesia dalam rangka merayakan Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2017 silam

Sejak dua bulan silam setelah pamit di salah satu akun media sosial untuk menyambung studi di University of Pennsylvania, Philadelphia, Amerika, ada banyak sekali kawan sekolah, rekan kerja, atau sanak saudara di irisan pertemanan yang kemudian bertanya-tanya mengenai detail keputusan saya untuk melanjutkan studi di Amerika. Setelah sampai dan memulai perkuliahan, juga banyak pertanyaan dari teman satu jurusan atau dosen dan pengajar, atau sekedar dari komunitas Indonesia yang ada di Philadelphia. Dari setumpuk pertanyaan tersebut saya merangkum lima, gabungan pertanyaan dan pernyataan paling populer yang saya dapat, menulis responnya, dan meluruskan beberapa anggapan atau informasi yang selama ini hanya diketahui sepintas saja.

“Sambung sekolah di Penn? Penn State University?”

Berkunjung ke Museum of the American Revolution - mendapat pengalaman menggunakan pakaian prajurit dan kelompok wanita pendukung logistik perang bersama teman satu kampus.
Berkunjung ke Museum of the American Revolution – mendapat pengalaman menggunakan pakaian prajurit dan kelompok wanita pendukung logistik perang bersama teman satu kampus.

Seringkali ketika hanya menyebutkan nama singkat kampus, “Penn”, saat menjawab pertanyaan dari teman-teman, maka respon pertama yang muncul adalah konfirmasi apakah universitas yang saya maksud adalah Penn State University. University of Pennsylvania akrab disebut “UPenn” atau “Penn”, sedangkan Penn State University dikenal dengan “Penn State.” Ada dua perbedaan utama dari kedua kampus ini. Pertama, UPenn adalah Perguruan Tinggi Swasta sedangkan Penn State adalah Perguruan Tinggi Negeri; UPenn terletak di kota Philadelphia, sedangkan Penn State University memiliki kampus yang tersebar di 20 titik di negara bagian Pennsylvania dan kampus utamanya, Penn State University Park, berada di kota State College. Meskipun sama-sama terletak di negara bagian Pennsylvania, jarak dari komplek kampus Penn di University City, Philadelphia, ke State College cukup jauh, kurang lebih sekitar 300 km; setara dengan jarak tempuh Jakarta – Garut, tapi dengan kualitas jalan dan geografis yang mendukung, perjalanan dari Penn ke kampus utama Penn State dapat ditempuh dalam waktu tiga jam saja menggunakan transportasi darat (mobil atau bis).

“Apa sih bedanya belajar Public Policy sama Social Policy?”

Setelah lulus studi sarjana, saya sempat bergabung di Gerakan Indonesia Mengajar sebagai Pengajar Muda – mengajar selama satu tahun di dusun Rura, sebuah dusun kecil yang terletak di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Rura merupakan dusun di perbukitan yang terletak sekitar 300 m diatas permukaan laut dan belum dijangkau fasilitas listrik, sinyal telepon atau internet, dan memiliki akses kebersihan yang sangat terbatas (seperti toilet dan pengelolaan air bersih untuk konsumsi rumah tangga).

Selama penugasan, saya tinggal dengan penduduk lokal dan diterima sebagai anak angkat di sebuah keluarga dan pengalaman yang menjadi bagian penting bagi saya untuk melanjutkan studi di bidang kebijakan sosial ialah ketika orang tua angkat di dusun yang tidak berani memeriksakan diri ke Puskesmas mengeluhkan ketakutannya dikenai biaya mahal untuk pengobatan. Saya kemudian datang ke Puskesmas dan mendapatkan informasi mengenai program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), program asuransi kesehatan publik yang menjamin akses kesehatan di berbagai level fasilitas kesehatan, mulai dari Puskesmas hingga Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP), dengan cara mendaftarkan diri untuk memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang juga dikenal dengan kartu program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Program ini secara sederhana adalah asuransi seumur hidup dimana setiap pesertanya membayarkan premi sesuai kemampuan (ada tiga kelas dalam premi asuransi publik ini) setiap bulan, sehingga peserta tidak perlu lagi membayar biaya penanganan medis dan obat-obatan setiap kali membutuhkan fasilitas kesehatan. Menariknya lagi, tidak semua orang perlu membayar premi bulanan KIS, pemerintah juga memiliki program KIS Penerima Bantuan Iuran (PBI). Kelompok masyarakat yang ditetapkan “tidak mampu” oleh Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, atau didaftarkan oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja di kota/kabupaten setempat, dapat memperoleh KIS PBI tanpa harus membayar iuran bulanan.

Ternyata, sebagai keluarga dengan pendapatan tetap kurang dari Rp. 200.000/bulan, keluarga angkat saya telah terdaftar di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Majene dan hanya perlu melaporkan diri untuk mencetak KIS di kantor BPJS. Kejadian ini kemudian menjadi salah satu pemantik minat saya untuk belajar lebih dalam mengenai banyak kebijakan pemerintah yang beririsan dengan upaya proteksi dan pelayanan terhadap masyarakat; studi kebijakan sosial.

Minggu Orientasi: bersama teman-teman mahasiswa internasional lainnya pada kegiatan minggu perkenalan sebelum perkuliahan dimulai.
Minggu Orientasi: bersama teman-teman mahasiswa internasional lainnya pada kegiatan minggu perkenalan sebelum perkuliahan dimulai.

Studi kebijakan sosial (Social Policy) adalah salah satu cabang ilmu spesifik di bawah studi ilmu Kebijakan Publik (Public Policy). Fokus utama pembelajarannya ialah analisa berbagai kebijakan yang mengakomodasi kesejahteraan sosial; berhubungan dengan masyarakat dalam skala besar dan erat kaitannya dengan kebijakan yang secara dasar didesain untuk mendukung pembangunan sosial seperti: kesehatan publik, pelayanan untuk penduduk yang fungsi fisik dan psikisnya kurang atau terganggu, tuna susila, dan banyak lagi.

Selain kebijakan sosial, di bawah payung studi Public Policy terdapat juga studi kebijakan transportasi, pendidikan, hingga ekonomi.

“Fatma sedang di Amerika ya? Hati-hati ya..”

Ini adalah salah satu pertanyaan yang jawabannya seringkali bukan hanya normatif, tapi juga melibatkan nasehat untuk meyakinkan diri saya sendiri. Sejak pemilu pemilihan Presiden Amerika pada bulan Januari 2017 silam dan kandidat Presiden dari Partai Republikan, Donald J. Trump menang – dengan gaya kepemimpinan uniknya yang mayoritas merupakan negasi dari gaya kepemimpinan Presiden pendahulunya, Barack Obama, dunia internasional ikut khawatir dengan isu-isu ketidakstabilan sosial domestik di Amerika Serikat yang mungkin memberi dampak bagi keamanan komunitas sosial tertentu, khususnya minoritas – sebut saja saya, seorang pelajar muslim berkerudung dari Indonesia.

Tidak perlu takut ya, sebab tidak semua yang diberitakan oleh media nasional maupun internasional adalah akurat dan relevan dengan kehidupan di Amerika. Untuk lingkungan akademika Penn sendiri merupakan tempat yang sangat inklusif dan aman; fasilitas dan kemerdekaan beribadah dijamin kampus, pulang larut malam juga disediakan shuttle bus sebagai bagian dari sarana transportasi pendukung yang mengantar mahasiswa pulang dari kampus langsung ke alamat masing-masing dan memastikan mereka sampai ke rumah dalam keadaan aman.

Sebaliknya, ini adalah salah satu dari momen terbaik untuk datang dan tinggal di Amerika! Kita bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung mengenai gejolak politik domestik serta pengaruhnya terhadap inisiasi dan perkembangan amandemen berbagai kebijakan kesejahteraan sosial yang berseberangan dengan idelogi politik partai penguasa.

 “Where do you come from again, Indonesia? Erhmmm..”

Pertanyaan ini muncul dari banyak teman-teman dan dosen/pengajar di kampus. Meskipun kebanyakan dari mereka pada dasarnya mengenal Indonesia sebagai sebuah negara, tapi mereka tidak akrab dengan Indonesia secara geografis dan asosiatif, sehingga seringkali saya harus menyebut “Southeast Asia” atau Asia hub to Australia? The archipelago country? Atau mencoba kalimat paling tidak ideal seperti, “Pernah mendengar Bali?”

Dalam satu dan dua kali percakapan, ini awalnya membuat saya cukup sedih karena ternyata Indonesia tidak sepopuler yang saya bayangkan. Wow, it’s the good news! Ada banyak kesempatan untuk bercerita dan memperkenalkan identitas, budaya, serta profil Indonesia kepada teman-teman di kampus. Selain itu, pertanyaan ini juga menjadi jembatan bagi kampus untuk mengenal komunitas orang Indonesia yang ada di Philadelphia, apalagi untuk mereka yang membuka restaurant atau toko pernak pernik khas Indonesia, “Sudah ke South Philadelphia, belum? Disana ada restoran Indonesia yang sangat terkenal di komunitas Indonesia lho, desain restaurannya juga mencerminkan banyak cerita tentang budaya Indonesia. Check out and let me know what you think about it!”

“How do you find Penn and Philly so far?”

Salah satu kebijakan yang menarik di UPenn ialah mahasiswa program master dan doktoral punya mata kuliah pilihan yang bisa dipilih dari 12 Graduate School berbeda yang ada di Penn, sepanjang memenuhi persyaratan registrasi untuk masing-masing kelas. Sebagai contoh, untuk Fall semester tahun ini, mata kuliah pilihan saya berada di luar School of Social Policy and Practice. Saya mengambil kelas Business Economics and Public Policy (Ekonomi Bisnis dan Kebijakan Publik) di The Wharton School, dan mengambil kelas Women Leaders & Emerging Democracies (Pemimpin Perempuan dan Kebangkitan Demokrasi) di The School of Arts & Sciences. Kelas bisnis yang saya ambil, menambah perspektif mengenai pertimbangan-pertimbangan moneter dari kebijakan yang memiliki irisan dampak dengan kesejahteraan sosial, sedangkan kelas kepemimpinan perempuan memberikan pandangan lebih komprehensif mengenai pengarusutamaan gender dalam pengambilan keputusan dan rumusan kebjakan. Kesempatan untuk mengambil kelas lintas disiplin ilmu ini membuat saya menjadi lebih kaya perspektif dan pendekatan saat meramu tugas dalam bentuk esai atau mengerjakan tugas kelompok.

Foto Sungai Delaware diambil dari Independent Seaport Museum, daerah Penn's Landing, kawasan kota tua Philadelphia.
Foto Sungai Delaware diambil dari Independent Seaport Museum, daerah Penn’s Landing, kawasan kota tua Philadelphia.

Oh ya, yang tidak kalah menarik dari studi di Penn tentu kotanya dong, Philadelphia. Kota yang akrab dipanggil Philly ini adalah salah satu kota tertua dan pernah menjadi Ibukota Negara Amerika Serikat di akhir abad 18. Philadelphia adalah kota bersejarah dalam revolusi Amerika dan saksi sejarah dalam perjalanan Amerika sebagai negara demokrasi yang multikultural. Buat yang suka dengan sejarah dan museum, tinggal di Philadelphia adalah surganya; ada museum salah satu Bapak Bangsa Amerika, Benn Franklin, ada Museum Liberty Bell, bel besar setinggi 3,7 m dan seberat 900 kg yang bunyinya menandai dibacakannya Declaration of Independence Negara Amerika Serikat, ada Philadephia Museum of Art yang menjadi landmark Philadelphia dalam film seri Rocky, Museum Revolusi Amerika, Museum Pelabuhan Laut Amerika di daerah kota tua (yang disebut Penn’s Landing – tempat William Penn pertama kali berlabuh saat berlayar dari Inggris, yang juga menandai salah satu masa awal kolonialisme Inggris di Amerika Utara) dan masih banyak lagi museum lainnya.

Jadi, tunggu apa lagi? Lanjut sekolah di Penn, yuk!

Photos are provided by the author

SHARE
Previous articleWhat’s the difference between studying in Indonesia and Australia?
Next articleRitsumeikan Asia Pacific University (APU): Tempat Pergi untuk Kembali
Fatma Rosi
Arliska Fatma Rosi, biasa dipanggil Fatma, sedang menempuh studi master di School of Social Policy and Practice, University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Fatma juga merupakan asisten peneliti paruh waktu untuk Real Estate Department, The Wharton School. Sebelum melanjutkan studi, Fatma mengerjakan portfolio kerjasama multisektor dalam pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Asia Tenggara bersama US-ASEAN Business Council. Di waktu senggang Fatma senang bercerita dan berwisata kuliner. Fatma dapat dihubungi melalui akun Facebook atau surel ke fatmarosi@gmail.com