Ritsumeikan Asia Pacific University (APU): Tempat Pergi untuk Kembali

0
558

Tidak banyak mahasiswa Indonesia yang memilih untuk berkuliah S1 di luar negeri. Tertarik dengan konsep internasional yang ditawarkan APU, Uyun Aziza berangkat menuju Beppu, Jepang untuk mendapatkan gelar sarjana. Seperti apa program yang ditawarkan APU dan bagaimana pengalaman Uyun menuju APU? Yuk baca di artikel ini.

Program APU

“Freedom, Peace, and Humanity”

“International Mutual Understanding And The Creation of The Future of The Asia Pacific”

Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) resmi didirikan pada musim semi tahun 2000 sebagai batu loncatan tahun dua milenium. APU mempunyai Japanese-English dual language education system dan dual enrollment system yaitu April dan September. APU juga merupakan salah satu universitas Jepang yang terpilih menjadi Super Global University type B / global traction type. Universitas ini dapat digolongkan sebagai internationalized university yang mampu bersaing dengan universitas lain dan menjadi rumah bangi banyak mahasiswa asing. Didirikan dengan jargon “shape your world”, universitas ini memang bertujuan untuk melahirkan banyak pemimpin muda masa depan.

APU menawarkan dua college untuk jenjang undergraduate, yaitu APS dan APM. APS adalah Asia Pacific Studies yang membawahi jurusan International Relations and Peace Studies, Environment and Development, Hospitality and Tourism, dan Culture, Society, and Media. Selepas kelulusan, gelar yang akan disematkan adalah Bachelor of Social Studies. APM adalah Asia Pacific Management, yang sekarang telah berubah menjadi International Management. APM ini membawahi jurusan Strategic Management and Organization, Innovation and Economics, Accounting and Finance, dan Marketing. Gelar yang akan disematkan adalah Bachelor of Business Administration. Selain itu, APU juga menawarkan program graduate school dan doctorate school.

Kampus ini lebih menargetkan mahasiswa jenjang S1 atau undergraduate. Proses pendaftarannya jelas dan mudah diikuti. Apalagi, terdapat kantor perwakilan APU di Jakarta yang siap menjawab pertanyaan dan membantu proses pendaftaran. Kuliah S1 ditempuh dalam 4 tahun, berjalan normal seperti mahasiswa di Indonesia. Percepatan kelulusan juga bisa ditempuh, dengan persyaratan tertentu. Program berbasis bahasa Inggris tidak mewajibkan untuk mengambil kuliah dalam bahasa Jepang. Bahasa Jepang diajarkan sebagai additional value untuk survive atau untuk meniti karir.

Biaya kuliah di APU diringankan dengan adanya tuition fee reduction yang berjenjang dari 100%, 80%, 65%, 50%, 30%, dan 0%. Jika mendapat keringanan 100%, berarti biaya kuliah mahasiswa tersebut gratis, walaupun keringanan ini tidak menutupi biaya hidup atau living cost. Beruntungnya lagi, living cost di Beppu, lokasi APU, relatif murah. Selain itu, ada banyak pilihan beasiswa yang bisa diburu setelah kedatangan. Untuk memperbesar peluang mendapatkan beasiswa, rajin belajar, aktif berkegiatan, dan kemampuan bahasa yang baik perlu dikencangkan.

APU adalah kampus dengan multicultural environment yang sangat kental. Setengah dari jumlah mahasiswa adalah mahasiswa asing. Sehingga, rasio antara pelajar asing dan pelajar domestik adalah satu banding satu. Selain itu, pengajar dan staf juga berasal dari berbagai negara. Mahasiswa juga bisa mengikuti pertukaran pelajar untuk merasakan kuliah di negara lain selama satu semester atau satu tahun. Jadi, ketika kuliah siapapun bisa menjerumuskan diri dalam kehidupan yang mengglobal. Fakta menunjukkan bahwa seseorang yang berinteraksi di tengah lingkungan dengan pelbagai budaya cenderung otaknya lebih berkembang. Maka, dengan bimbingan pengajar yang mumpuni di bidangnya, para lulusan dapat bersaing untuk mendapat peluang kerja yang tinggi. Network yang luas juga sangat mungkin didapatkan di sini. Menurut seorang alumni, bila beliau disuguhi sebuah globe dan dengan mata tertutup menunjuk suatu tempat, maka beliau tahu satu dua orang atau lebih dari tempat itu. Menarik, kan?

Terlebih lagi, banyak mahasiswa Indonesia belajar di sini dan tergabung dalam APU-INA yang saat ini mencapai sekitar 450 mahasiswa aktif. APU-INA terlibat aktif dalam misi pengenalan budaya Indonesia melalui banyak kegiatan local exchange hingga Indonesian Week yang ditutup dengan grand show yang sangat menarik. Jadi, tidak perlu merasa kesepian karena banyak keluarga Indonesia baru di APU.

Perjalanan Menuju Negeri Matahari Terbit
Keinginan saya untuk kuliah di Jepang muncul setalah mengikuti short exchange program bernama Kizuna. Saya kagum dengan negara maju dengan tatanannya yang rapi, orang yang sopan, dan budaya yang masih lestari. Beberapa murid Jepang datang ke MAN Insan Cendekia tempat saya bersekolah untuk berdiskusi dan memamerkan budaya mereka. Keinginan menjadi warga dunia juga muncul setelah ikut olimpiade geografi internasional. Belajar peta dan atlas tak lengkap jika hanya dipelajari tanpa dikunjungi. Sebagaimana bahasa adalah jendela dunia, pendalaman bahasa menjadi modal utama. Saya banyak berlatih bersama teman-teman di asrama sekolah. Setelah satu kali mocking test, saya ambil official test, dan nilainya mencukupi.

Penerimaan universitas luar negeri tentu berbeda dengan tes masuk universitas di Indonesia yang mengandalkan nilai rapot atau nilai tes masuk. Pendaftaran di APU dibagi menjadi empat gelombang, dimulai sejak sebelas hingga lima bulan sebelum keberangkatan. Saya harus mempersiapkan aplikasi sejak jauh hari, karena tidak bisa dikebut. Setidaknya ada lima hal yang menjadi pertimbangan utama ketika penerimaan di APU. Pertama adalah perjalanan akademis selama SMA yang dilihat dari rekaman rapot selama SMA sampai semester terakhir yang ditempuh. Kedua, skor kemampuan bahasa Inggris yang dibuktikan dengan nilai TOEFL atau IELTS. Ketiga, application essay dengan menjawab beberapa pertanyaan di bundel pendaftaran. Keempat, aktivitas ekstra kulikuler selama SMA dan personal achievement seperti lomba atau kemampuan bahasa lain. Sedangkan yang kelima adalah nilai tes wawancara. Ketika wawancara, sangat penting untuk menguasai tulisan kita di application essay, mengartikulasikan apa yang ada di pikiran dan menjual diri dengan kelebihan kita.

Waktu itu, saya mengikuti gelombang pertama dan mendapat acceptance letter sekitar awal bulan Januari. Saya pun mencari beasiswa yang bisa menanggung living cost. Syukurnya, ada beasiswa dari Kementerian Agama untuk jenjang S1 di luar negeri. Beasiswa ini meliputi biaya hidup selama 4 tahun dan satu tiket pulang- pergi, dan ditujukan untuk lulusan Madrasah Aliyah yang ingin kuliah di luar negeri, meskipun tidak belajar agama di Timur Tengah.

Setelah berjalan…
Belajar ke luar negeri banyak sekali manfaatnya, dari dalam hal akademis hingga personal development. Salah satu keahlian yang saya capai adalah financial management. Biaya hidup di luar negeri biasanya lebih tinggi dari dalam negeri. Belum lagi, akan ada dinamika kurs dan banyak godaan seperti traveling. Saya harus pintar memilih beasiswa sebelum berangkat agar tidak keberatan ketika sudah merantau, serta harus pintar mengelola keuangan selama tinggal di Jepang.

Dampak lain dari belajar ke luar negeri yaitu merasa betah di negera lain dan seakan malas pulang ke Indonesia. Rasa sedih atau geram sudah pasti hadir pada siapapun yang pernah ke luar negeri, baik untuk liburan saja atau sampai menetap beberapa tahun. Membandingkan antara negara sendiri dan negara orang, pasti membawa pemikiran bahwa negara kita masih banyak cacatnya. Saat berada di Jepang mungkin rasanya ingin balik ke Indonesia, tapi siapa yang tahu, bisa jadi hati besok pagi memutuskan untuk mengabdi di negeri orang. Mengabdi untuk kejayaan negara lain itu boleh saja, tapi bagi saya pribadi, jika pada akhirnya saya memilih langkah tersebut, saya akan memanfaatkan momen itu untuk ‘mencuri’ resep kejayaan negara lain, agar dapat dimanfaatkan untuk Indonesia di kemudian hari.

Penutup
Our hope is that it will be a place where the young future leaders from countries and regions throughout the world will come to study together, live together, and understand each other’s cultures and ways of life, in pursuit of goals which are common to all mankind.”

Kalimat tersebut adalah cuplikan dari deklarasi pembukaan APU tahun 2000 silam. Harapan tersebut ingin diwujudkan 30 tahun kemudian yang termaktub dalam APU2030 vision: APU Graduates possess the power to change our world. APU hanya salah satu dari banyak tujuan yang bisa ditandangi sebagai kawah perubahan diri. Sebagai warga negara yang masih menuju kemerdekaan yang hakiki, seyogyanya kita ingat jalan pulang. Sejauh apapun kita pergi berjalan, masih banyak yang melambaikan tangan untuk mengajak kita kembali dan mengabdi.

Suasana wisuda APU yang mariah, di mana mahasiswa siap menantang dunia
Suasana wisuda APU yang mariah, di mana mahasiswa siap menantang dunia (Photo from apu.ac.jp)