Pergi Berpetualang, Mencari Ilmu dan Cerita di Matsuyama

0
711

Mengisi waktu setelah kelulusan S1 dengan program exchange menjadi sebuah pengalaman menarik bagi Karin Thalia. Melihat dunia, mempelajari kebudayaan yang berbeda, menemukan teman baru Рsemua dialami Karin selama tinggal di Matsuyama, Jepang.

Pada 23 September 2017, saya pertama kali menjejakkan kaki di Jepang. Hari itu kira-kira satu bulan pasca ujian skripsi S1. Senang, senang dan senang karena untuk 6 bulan ke depan, saya akan berpetualang di negara yang sangat saya mimpikan. Tempat saya tinggal di Jepang yaitu sebuah kota kecil bernama Matsuyama. Sampai akhir Februari 2018 ini, saya mengikuti pertukaran pelajar di Ehime University. Kegiatan ini dibiayai oleh pemerintah Jepang.

Kegiatan utama yang saya lakukan disini yaitu melakukan penelitian bersama mahasiswa S2 dan S3 Ehime University di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Sebelum saya datang, saya telah memilih laboratorium mana yang akan menjadi tempat saya belajar. Sesampainya di sini, Sensei di laboratorium saya-lah yang mengarahkan penelitian saya. Saya juga mengambil kredit di beberapa kelas engineering dan juga kelas bahasa dan kultur Jepang. Program pertukaran pelajaran ini juga memuat beberapa kunjungan industri dan ekskursi.

Ekskursi ke Kurushima Kaikyo Bridge
Ekskursi ke Kurushima Kaikyo Bridge

Kondisi saya sekarang adalah mahasiswa yang akan wisuda namun belum menentukan mau lanjut kuliah, atau bekerja, atau… pilihan lain? Jujur, saya bersyukur sekali bisa mengikut program ini, karena saya mulai bisa mengintip bagaimana serunya sekolah lagi (program master ataupun doktoral). Selain itu, saya juga dapat mencicipi sedikit rasanya hidup di luar negeri sebagai seorang pelajar.

Dari pengalaman yang saya rasakan, belajar di sini menuntut diri saya untuk mandiri dan disiplin untuk mencapai target-target yang ada. Sebagai seorang mahasiswa S1 yang belum lulus, menurut saya melakukan penelitian itu sangat sulit. Saya harus belajar dari buku, jurnal, juga bertanya kepada mahasiswa S2 dan S3 yang ada di laboratorium saya. Di lingkungan laboratorium saya pun, kami dituntut untuk saling memberi masukan satu sama lain terhadap proyek yang sedang dikerjakan. Dari aktivitas ini, saya mendapat banyak masukan untuk lebih optimal dalam mengerjakan proyek.

Kegiatan di kampus juga diwarnai dengan beberapa kelas-kelas menarik yang sepaket dengan tugas dan ujiannya. Hal yang paling saya suka dari kegiatan kelas yaitu bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara. Obrolan sederhana tentang beli makan di mana, di mana ada toko yang diskon, sudah punya pacar belum hingga obrolan tentang perkuliahan di negara masing-masing membuat kami semua menjadi dekat.

KL 03KL 04

KL 05
Bersama teman-teman kuliah

Di luar kegiatan kampus, cerita di luar kampuspun tidak kalah menarik! Karena saya baru pertama kali ke luar negeri, saya belajar banyak dari sini. Hal kecil yang mungkin saya ceritakan: di sini, kehidupan sangat tertib, sehingga saya pun jadi sangat disiplin mematuhi peraturan yang ada. Setiap masuk ruangan, saya akan sempatkan 1 menit untuk mencoba membaca peraturan yang ada, agar tidak membuat kesalahan. Misalnya lagi, untuk membuang sampah. Di sini sampah terpilah dengan baik. Seminggu pertama, setiap di depan tempat sampah, saya bisa berhenti sekitar 1-2 menit untuk memilah sampah saya (karena sampah saya sangat tercampur), dan 2 menit berikutnya untuk membaca tulisan (bahasa Jepang) yang tertera di tempat sampah. Selain itu,, di sini sebagian orang Jepang dan orang yang belajar/bekerja di Jepang bekerja dalam diam. Saya kira kesunyian ini hanya terjadi di kelas atau di laboratorium tempat saya belajar, namun ternyata di bus/kereta, hampir semua orang yang saya temui diam selama perjalanan. Hal-hal di atas terasa baru bagi saya. Namun banyak hal positif yang bisa di ambil.

Dari cerita di atas, saya juga mau berbagi pemikiran saya untuk teman-teman yang akan keluar negeri berdasarkan pengalaman saya, antara lain:

1. Jauh-jauh dari kata ‘mager’
Karena saya tahu waktu saya terbatas di Jepang, sesampainya di sini, sebisa mungkin saya mengikuti kegiatan yang ada untuk berpetualang. Karena dari jalan-jalan dan berpetualang, saya bisa mendapatkan banyak teman maupun mendapatkan jaket winter seharga 100 yen (sekitar 15 ribu)! Saya juga menemukan tempat les bahasa Jepang gratis selama saya di sini.

2. Jangan pernah malu untuk banyak bertanya dan berbincang-bincang dengan orang sekitar
Karena saya suka mengobrol, secara tiba tiba saya diajak seorang teman yang adalah mahasiswa Jepang ke Hiroshima secara gratis! Percakapannya sangat sederhana pada saat itu. Teman saya bertanya, “Apakah kamu sudah pernah ke Hiroshima?”. Saya menjawab, “Belum, kamu?” Jawaban saya itu kemudian ditimpali dengan, “Belum juga, Yuk berangkat pake mobilku minggu depan!”

KL 06

KL 07
Berjalan-jalan di weekend

Pertanyaan lain yang sering saya ajukan yaitu mengenai kultur hidup orang Jepang (misalnya tata cara makan), karena terkadang ada beberapa hal yang kita anggap wajar, namun ternyata tidak lumrah di Jepang, dan begitu juga sebaliknya.

3. Saling membantu
Menurut saya, jangan ragu untuk membantu teman-teman sesama mahasiswa, walaupun baru kenal, karena merekalah yang ada di sekitar kita saat kita kesulitan di esok hari.

Teman dari Cina (yang sangat baik), memberi penjelasan cara menyalakan heater
Teman dari Cina (yang sangat baik), memberi penjelasan cara menyalakan heater

4. Jangan lupa tetap beribadah
Bagi yang muslim, jangan lupa tetap shalat ya! Yang saya rasakan di sini, memang jarang ada mushola, namun hampir semua orang Jepang yang saya temui, mereka dengan tanggap membantu kita mencari tempat yang dapat digunakan untuk beribadah jika kita menyampaikan kebutuhan kita.

5. Keahlian memasak
Karena saya masih bingung untuk memilih makanan mana yang halal atau tidak, saya memilih untuk memasak di apartemen saya sendiri. Dari sinilah saya menyadari, kemampuan memasak (dengan waktu yang terbatas) sangat dibutuhkan. Mungkin itu sebabnya, saya pernah melihat koper saudara saya yang kuliah di Eropa penuh dengan bumbu-bumbu racik instan Indonesia. Kemampuan masak saya sangat rendah, sehingga dua minggu pertama bekal saya tidak jauh dari nasi dan telur ditemani abon dan sambel terasi. Tapi setelah beberapa minggu disini, saya sudah tahu di mana makanan yang halal, sehingga saya bisa memakan makanan Jepang yang sangat enak nan sehat!

6. Pintar-pintar mengatur keuangan
Hidup di Jepang tergolong mahal. Untuk makan, tempat tinggal dan kebutuhan primer lainnya. Pintar-pintar untuk mengatur keuangan karena kadang-kadang pengeluaran tak terduga mendadak muncul. Dari pengalaman saya, ketika ban sepeda saya bocor, ternyata di sini tidak ada jasa tambal 10 ribu-an. Saya harus menambal ban sepeda saya dengan biaya 4000 yen atau sekitar 500.000 ribu rupiah per ban.

Kira-kira itu sebagian pengalaman yang saya rasakan ketika sedang melakukan pertukaran pelajar di Matsuyama. Ternyata cerita pertukaran pelajar ini, bagi saya bukan hanya tentang bagaimana saya melakukan penelitian di laboratirum canggih dan belajar di kelas dengan ajaran professor, namun juga tentang kehidupan saya di luar kampus yang membuat saya banyak belajar. Bagi teman-teman yang mau mencoba program pertukaran pelajar, saya pribadi merekomendasikan kepada teman teman untuk mencobanya! Selamat mencoba dan be confident!