ShareCup: Soaring to Greater Heights with Passion, Hardwork, and Humility

0
915

Dalam perjalanan hidup seorang Diaspora, seringkali mereka akan melalui persimpangan jalan di hidup mereka, di mana mereka akan berpikir bahwa Diaspora Indonesia hanya akan bisa berkontribusi di negara tempat mereka sekarang, atau kembali membangun bangsa. Namun, kerap kali mereka ragu untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara karena takut dengan minimnya peluang dan infrastruktur di Indonesia. What if we tell you that times are changing, Indonesia is growing, and with Passion, Hard work, and Humility, you can bring much impact to Indonesia?

Inilah yang akan menjadi bahan artikel Indonesia Mengglobal dalam kesempatan ini. Kali ini, tim Indonesia Mengglobal Bersama Yosua, Eunike, dan Steven, Diaspora Indonesia yang menjadi founder ShareCup dan pemenang Socio Digi Leaders 2017 dari Nanyang Technological University. Socio Digi Leaders (SDL) merupakan program untuk mendorong sekaligus menjaring talenta muda berbakat yang memiliki kepekaan sosial untuk mengimplementasikan ide dan gagasannya.

Mau tahu bagaimana perjalanan diaspora Indonesia Socio Digi Leaders? Mari Kita Simak Interview dengan tim ShareCup!

Apasih ShareCup itu?
ShareCup
merupakan ide di bidang marketing/advertising melalui penggunaan biodegradable cup untuk meningkatkan paparan iklan dan engagement dengan konsumen. Tim ShareCup menyadari ada masalah di metode marketing konvensional, di mana engagement dan exposure time mereka sangatlah kecil dan target market nya kurang spesifik. Maka dari itu, ShareCup memberikan solusi advertising yang inovatif dan kreatif, a new way of advertising!

“Kalau kalian biasa menonton iklan di TV, yang biasa kalian lakukan mungkin ganti channel atau pergi ke toilet. Sebagai konsumen, kita tidak terlalu mempermasalahkan, tetapi, sebagai pengiklan, kita bakal merasa bahwa metode iklan tidak efisien dan tidak mengena ke target market kita!”, ujar Eunike.

Sharecup itu terdiri dari siapa saja sih?
“Di ShareCup, kami ada 3 orang dengan latar belakang yang sangat berbeda. Pertama ada Steven, sebagai CEO ShareCup. Steven, dengan pengalamanya di industri Fast-Moving Consumer Goods di Unilever dan Johnson & Johnson, banyak berkontribusi di bidang finance dan client management. Yosua, dengan pengalaman di 3M dan SEA, atau yang dulunya dikenal sebagai Garena yang notabene merupakan unicorn startup di Asia Tenggara, banyak berkontribusi di bagian teknologi dan berperan sebagai CTO serta partner management. Sedangkan Eunike, yang berpengalaman di Operations and Supply Planning GlaxoSmithKline, berperan sebagai COO ShareCup, dimana dia mencari mitra bisnis yang eco-friendly dan dapat mewujudkan aspirasi ShareCup”, ujar Steven.

Kenapa kalian ingin membangun ShareCup?
“Awalnya berasal dari iseng mendengar lomba dari Telkom Socio Digi Leaders. Kita berawal dari teman lama yang sudah berteman lebih dari tiga tahun, namun, kita tidak tahu masalah apa yang ingin kita coba hadapi. Seiring berjalannya waktu, dengan latar belakang kita yang berbeda, kita mencoba untuk mencari solusi untuk 3 masalah: advertising, environment, and society,” kata Eunike.

Di bidang advertising, ShareCup akan membantu agen periklanan atau advertiser, dengan membantu mencetak ide bisnis maupun desain iklan suatu perusahaan di sebuah cup. Cup itu akan nanti di distribusikan secara gratis ke pedagang kaki lima, kantin sekolah, maupun kantin di kantor, sesuai dengan target market yang dituju. Metode ini jauh lebih efektif daripada banner maupun flyer karena orang rata-rata menghabiskan waktu 15 menit untuk menghabiskan minuman, dan bedasarkan riset mereka, metode ini hamper 10 kali lebih efektif daripada iklan tradisional, dengan biaya yang jauh lebih murah.

Di bidang lingkungan, ShareCup membantu pedagang kaki lima memakai cup minuman yang biodegradable. Cup ShareCup akan lebih mudah di daur ulang dan ramah lingkungan, sehingga tidak mencemari kota-kota besar layaknya sampah dari tempat minuman plastik biasa yang digunakan orang di kota-kota di Indonesia.

Dan terakhir, ShareCup juga ingin berkontribusi ke masyarakat dengan memberikan cup nya secara gratis kepada pedagang kaki lima, ibu-ibu kantin sekolah dan warteg sesuai target yang dituju. Sehingga, ShareCup bisa membantu usaha kecil dan menengah dengan mengurangi biaya pembelian cup plastik yang bisa mencapai ratusan ribu setiap bulannya.

Hal terpenting apa yang kalian sedang lakukan sekarang, tantangan apa saja yang kalian hadapi dan bagaimana kalian ingin mencapai target kalian?
“Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi, pe-er alias pekerjaan rumahnya sangat banyak! Mulai dari mencari partner, supplier, merencanakan produksi ke depan dan berbagai keperluan administrasi. Dalam jangka waktu dekat, kita akan mencari incubator dan accelerator untuk mempercepat pertumbuhan kami, serta mencari Mentor dan Investor untuk membawa kami menjadi suatu usaha yang impactful bagi masyarakat Indonesia”, kata Steven.

What makes you thrive in a difficult situation?
“Dalam setiap situasi yang sulit, kami harus menekan ego kami masing-masing dan saling membantu dikala yang lain sedang kesusahan. Kami percaya bahwa setiap dari kami memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan kami harus saling memberi semangat apabila kami merasa lesu dan akan menorah. Ketika kami tidak yakin dan tidak mampu melakukan sendiri, kami akan selalu mencari cara untuk melakukannya bersama. We never let our ego gets in our way on achieving our goals,” ujar Yosua.

Where do you see yourself in 5 years?
“Di 5 tahun kedepan, ada 3 target yang ingin kami capai: Geography, Product, and Production. Secara geografis, dalam 5 tahun yang akan datang kami ingin ShareCup bisa sampai ke 80% kota di Indonesia, tak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta. Secara produk, kami ingin memperluas produk kami untuk tak lagi hanya di cup, tapi juga berbagai macam food packaging mulai dari kantong snack, hingga botol dengan berbagai macam versi. Terakhir, di bidang produksi, dalam 5 tahun yang akan datang kami berharap dapat memproduksi cup kami sendiri dan tak lagi bergantung pada supplier, dengan itu kami bisa menekan cost dan bisa memberi dampak yang lebih banyak kepada masyarakat Indonesia”, kata Eunike.

Kalian tidak takut gagal? Apa yang akan kalian lakukan kalau gagal?
“Gagal itu biasa, kenapa kok ga berhasil, pelajari semua kedepannya. Bisa dengan mengidentifikasi kenapa gagal, atau bisa ciptakan produk yang baru,” ujar Eunike.

Steven juga menambahkan bahwa di setiap usaha yang kita lakukan, pasti selalu ada resiko atau risk yang ada di baliknya. Tapi, bukan berarti kita harus diam dan sembunyi dari resiko. Yang penting adalah bagaimana kita mitigate those risk. Hal ini yang membedakan the greats from the average.

“Saya pribadi terinspirasi dari kata Mark Zuckerberg – The great successes come from the freedom of failure. Kalaupun kita gagal, pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga ini tidak akan hilang. Bahkan, kita bisa sampai ke titik ini karena kita sudah pernah gagal di berbagai macam bidang, dan pelajaran yang kita petik itulah yang membuat kita lebih siap dalam menghadapi tantangan”, tambah Yosua.

Lessons Learned and Motto
Pelajaran yang bisa kita petik dari Socio Digi Leader adalah, kalau kita ingin menjadi sukses di segala bidang yang kita tekuni, kita harus memiliki Passion, Hardwork, dan Humility.

Passion akan membantu kita untuk mendorong semangat kita untuk melakukan sesuatu yang lebih. Di kala waktu sulit kalau sama-sama capek atau banyak kerjaan, passion dapat membantu kita karena kita yakin passion kita akan membawa kita untuk membawa impact ke masyarakat. Hardwork atau kerja keras adalah sesuatu hal yang pasti harus dilakukan. Bisa dibilang, tidak ada orang yang sukses yang tidak bekerja keras. Ke depan, pasti akan selalu ada tantangan dan kita tidak boleh menyerah dan harus selalu bekerja keras. Yang terakhir adalah Humility atau rendah hati. Di atas langit masih ada langit, dan kita harus tetap humble dan belajar dari yang lain.

Yosua juga mau menyampaikan pesan kepada Diaspora dan anak muda Indonesia. “Untuk Diaspora, kami percaya bahwa Indonesia sudah berubah, mulai dari BUMN hingga environment startup di Indonesia. Pemuda-pemudi Indonesia sudah knowledgable, punya attitude and skill, serta open-minded. Diaspora janganlah ragu untuk kembali ke Indonesia dan membantu membangun masa depan negara. Untuk semua anak muda di Indonesia, percayalah bahwa kita anak muda bisa berkreasi. Hidup terlalu singkat untuk merenungi diri sendiri. Keluarlah dari zona nyaman dan ikutlah membangun komunitasmu. Belajar dengan baik dan peluang yang sangat luas akan datang menjemput. Kita tidak boleh cuma menunggu, tapi kita juga harus mulai berkontribusi kembali ke Indonesia!”

Final Parting Words
Begitulah, singkat cerita pengalaman dari ShareCup, Diaspora Indonesia yang mencoba untuk memberi dampak bagi masyarakat Indonesia. Akhir kata, ShareCup ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuhan YME, Telkom sebagai penyelenggara Socio Digi Leaders, berbagai mentor, juri, keluarga, dan teman-teman yang sudah membantu perjuangan ShareCup. Jangan menyerah dan terus berkarya, karena “Indonesia butuh kita!”

SHARE
Previous article(There’s Gotta Be) More to School
Next articleForeign Student Life Hack: Being a Smart Spender
Born and Raised in Surakarta, Ignatius is currently pursuing an Engineering degree at Nanyang Technological University (NTU) Singapore. Prior to joining Indonesia Mengglobal, Ignatius was a former public relations officer at PINTU (Pelajar Indonesia NTU) and is currently a Business and Corporate Executive at PPIS (Perhimpunan Pelajar Indonesia Singapura). Ignatius is a friendly, supportive and inquisitive person, and he always eager to connect with others. Feel free to find him at his Quora, LinkedIn, and Facebook pages at the description below or drop an email to ignatiusadityah@gmail.com.