Kisah Muslimah Indonesia Berkarir di Negeri Sakura

0
3178

Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya selama tinggal di Jepang. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Yaya. Orang-orang di sekitar saya termasuk yang berada di Jepang lebih mengenal saya dengan nama Yaya Ramli. Saya sudah pernah tinggal di Jepang sebelumnya sewaktu saya masih kecil. Pada saat itu, saya mengikuti orang tua  saya yang pergi ke Jepang, tepatnya di kota Fukuoka, untuk melanjutkan studi di Kyushu University. Saat itu umur saya baru 8 tahun. Kalau sekolah di Indonesia, seharusnya saya sudah kelas 3 SD. Tetapi di Jepang ada aturan umur (umur 7 tahun menjadi syarat untuk masuk kelas 1 SD), sehingga saya harus turun kelas dan memulai kembali dari kelas 2 SD. Waktu itu, saya sama sekali tidak tahu bahasa Jepang dan tentu saja hal ini menjadi pusat perhatian seluruh siswa dan guru dalam kelas. Hal itu terjadi karena SD yang saya masuki adalah sekolah umum yang murid-muridnya hanya orang Jepang dan saya menjadi satu-satunya orang asing pada saat itu.  Tapi untungnya, saya dapat mencerna dan memahami bahasa dengan cepat sehingga dalam 6 bulan saya sudah bisa mengikuti pelajaran dan berkomunikasi dengan teman-teman sekelas. Hingga tak terasa 6 tahun berlalu, saat itu ayah saya telah menyelesaikan program master dan doktoralnya, maka tibalah waktunya kami sekeluarga untuk kembali ke Indonesia. Saat itu umur saya 13 tahun dan sudah masuk SMP. Saya sudah memiliki banyak teman, banyak pengalaman, dan banyak cerita. Sangat berat rasanya untuk kembali ke Indonesia, karena saat itu saya telah jatuh cinta dengan Jepang. Tetapi orang tua menasehati saya “jika ingin kembali ke Jepang, berusahalah dengan usahamu sendiri!”. Hal inilah yang memotivasi saya untuk berusaha keras agar bahasa Jepang saya, termasuk dalam kemampuan menulis dan membaca tidak terlupakan dan berusaha mencari segala macam informasi untuk dapat melanjutkan studi di Jepang.

Waktu berlalu dengan cepat dan akhirnya saya pun memasuki usia dewasa. Saya pun berkuliah di Universitas Hasanuddin, Makassar. Saat itu, saya sering mengikuti berbagai macam lomba menulis dalam bahasa Jepang dan salah satunya bertema “Dari mana lahirnya daya tarik Jepang”. Saya sangat antusias mengikuti lomba ini karena jika menang, saya bisa ke Jepang selama 3 bulan dan disponsori oleh JAL Scholarship. Betapa senangnya saya ketika masuk sebagai salah satu perwakilan dari tiga orang mahasiswa dari Indonesia. Dan kami bertiga diberangkatkan dari Jakarta kemudian begitu tiba di Tokyo kami pun berkumpul bersama wakil 11 negara lainnya yang mengikuti lomba ini. Dari total 33 mahasiswa dari berbagai negara, kami semua mengikuti berbagai macam kegiatan, seperti mengikuti pelatihan di Tokyo, melakukan pertukaran budaya di Ritsumei University di Kyoto, kemudian homestay di Kanazawa. Betapa senangnya mendapatkan kesempatan untuk berteman dengan wakil-wakil dari berbagai negara dan kami pun mempunyai cita-cita yang sama, yaitu ingin melanjutkan studi di Jepang.

Tokyodome

Saat saya selesai kuliah, saya pun melanjutkan kerja di perusahaan Jepang yang ada di Makassar sambil terus mencari informasi dan mengikuti ujian agar dapat melanjutkan studi di Jepang. Dan syukur Alhamdulillah hal tersebut dapat terkabul dan akhirnya sayapun berangkat ke Jepang dengan bantuan beasiswa dari Monbukagakusho (MEXT). Sayapun akhirnya kembali ke Fukuoka setelah sekian tahun lamanya dan melanjutkan studi di Faculty of Design Engineering, Kyushu University. Saya sangat senang karena dapat mendalami ilmu tentang interior design dan psikologi ruang dengan menggunakan maket. Saya kuliah di Jepang tidak sekedar belajar saja, tetapi juga memperluas pergaulan dengan menjadi anggota dari sebuah organisasi perkumpulan mahasiswa asing yang bernama Fukuoka Overseas Student Assosiation (FOSA). Dan saya pun pernah diberi kepercayaan dan kesempatan untuk menjadi ketua pada organisasi tersebut dan masuk dalam struktur organisasi Perfektur Fukuoka yang berada dalam pengawasan Gubernur Fukuoka. Pada momen tersebutlah saya banyak menemukan relasi yang sangat baik dan akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di Jepang pada akhir tahun sebelum kelulusan.

Enam bulan sebelum menyesaikan studi, saya pernah mengikuti shuushoku katsudou, semacam internship dan memasukkan berkas lamaran kerja, kemudian mengikuti wawancara dan sebagainya. Saat itu saya dianggap telat mengikuti kegiatan ini karena pada umumnya dimulai pada bulan Maret-Juli, namun baru menerima berita kalau saya diterima di perusahaan tersebut pada bulan Agustus-September. Sehingga saya memulainya pada bulan Juni dan itu sangat terlambat. Tetapi Alhamdulillah berkat relasi yang saya punya, ada 2 perusahaan yang menerima saya saat itu, yaitu TOTO Co., Ltd dan Kedutaan di Tokyo. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan masuk di perusahaan TOTO Co., Ltd. bagian Planning Department pada tahun pertama dan pada tahun kedua masuk di Human Resources Department (HRD).

Setelah bekerja 1 tahun lebih di perusahaan itu, adik saya diterima di Kyushu University juga untuk melanjutkan studi pada program master, sehingga saya memutuskan berhenti dari TOTO Co., Ltd. Selain karena adik saya, alasan lain kenapa saya ingin pindah ke Fukuoka adalah saya ingin bekerja di bidang yang dapat menjembatani Indonesia dan Jepang. Akhirnya saya memilih masuk di perusahaan Kyushu Medical Co., Ltd. yang saat itu membutuhkan personil dalam bidang New Business Development Department. Kemudian sayapun dapat pindah kembali ke Fukuoka dan membuat office di pusat kota Tenjin/Hakata. Dan Alhamdulillah saya menemukan pekerjaan yang sangat menarik karena dapat melakukan perjalanan dinas ke Indonesia tiap bulan dan mengunjungi kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Sayapun membantu perusahaan tersebut sehingga dapat mendirikan pabrik di Bekasi, Jawa Barat.

Gakken Edu

Setelah 3 tahun bekerja di sana, sayapun memutuskan untuk pindah di perusahaan Gakken Educational Co., Ltd. di Tokyo, dalam bidang Global Business Department, dan mendapatkan tawaran dalam pengembangan proyek di Sulawesi Selatan. Alasan saya pindah dan menerima tawaran ini berdasarkan 2 pertimbangan yaitu Gakken adalah perusahaan terbesar di Jepang dalam mengembangkan pendidikan untuk anak-anak usia dini sehingga saya senang jika hal ini bisa diterapkan dan diperluas di Indonesia melalui program pemerintah dengan kerjasama Dinas Pendidikan. Kemudian alasan kedua, saya dapat bertemu keluarga saya di Makassar dengan mengikuti proyek ini.

Sebagai seorang muslimah yang tinggal cukup lama di Jepang, Alhamdulillah saya tidak pernah menemui kendala sama sekali, baik ketika masa kuliah maupun selama bekerja di beberapa perusahaan di Jepang. Orang Jepang pada umumnya sudah cukup paham tentang Islam beserta aturan dan kewajibannya. Kalaupun ada yang belum tahu atau belum paham, mereka terkadang bertanya “apakah kamu tidak merasa panas menggunakan hijab di musim panas?”, “apakah kamu tidak apa-apa tidak makan setengah hari (puasa)?”, “kenapa kamu tidak bisa makan babi?” dan pertanyaan lainnya. Namun, yang saya kagum sama orang Jepang, sekali mereka dijelaskan, mereka akan benar-benar menerima hal tersebut tanpa bertanya terlalu jauh apalagi mempertentangkannya. Mereka merupakan orang-orang yang sangat menghargai. Dalam urusan shalat misalnya, bisa dijalankan dengan mudah. Bahkan, kolega saya di kantor selalu mengingatkan untuk menjaga ketepatan waktu shalat dan mereka pun selalu berusaha menyediakan ruang yang memungkinkan untuk shalat. Karena mereka tahu bahwa shalat 5 waktu merupakan salah satu ibadah wajib bagi orang Muslim. Di TOTO Co., Ltd, tempat shalat disediakan di dalam ruang ganti baju atau ruang loker. Sebagai perusahaan yang bergerak pada bidang pengembangan produk, perusahaan tersebut juga menerima masukan dari pegawai muslim tentang desain instalasi perairan di dalam kamar kecil dan kamar mandi agar sesuai syariah.

cocoful

Mengonsumsi makanan halal juga tidak susah. Kyushu Medical Co.,Ltd., tempat kerja saya sebelumnya, mengakomodasi kebutuhan makanan halal karyawannya. Perusahaan itu membuat restoran Cocoful Pharmacy Cafe yang menawarkan menu vegetarian. Banyak menu makanan restoran itu yang menjadi pilihan saya. Saya pun berkesempatan menyampaikan menu halal, dan menyelenggarakan seminar soal kesehatan dan makanan halal dari sudut padang Islam. Apabila ada acara makan-makan kantor, misalnya merayakan keberhasilan kerja, restoran halal atau restoran vegetarian akan selalu jadi pilihan.

Di Gakken Educational Co., Ltd, tempat kerja saya sekarang, fasilitas penunjang ibadah bagi pegawai muslimnya juga tak kalah keren. Sebuah tempat shalat sengaja disediakan untuk saya, dan tamu Muslim yang berkunjung ke kantor. Kantin kantor kami juga menyediakan menu halal atau vegetarian yang bisa dinikmati oleh pegawai Muslim. Makanan halal bisa minta dibuatkan atau pesan jauh-jauh hari di kantin itu bila tamu Muslim akan datang ke kantor.

Satu hal lagi, memakai hijab juga tak jadi soal di perusahaan saya. Meskipun di Jepang, pakaian kantor diatur dengan ketat. Biasanya pegawai pria diwajibkan mengenakan suit. Sedangkan pegawai perempuan harus mengenakan blazer. Bila sudah memenuhi standard itu, gaya berpakaian kita akan aman. Boleh menambahkan jilbab sebagai bagian fashion kita. Yang penting, corak jilbab yang dikenakan senada. Lalu, kita harus  bisa menempatkan kostum sesuai dengan acara atau kegiatan. Tujuannya agar kita dan orang-orang yang berada di sekitar kita nyaman dengan apa yang kita kenakan.

makan bersama

Akhir kata, saya dapat pergi ke Jepang, tinggal di negara itu, dan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan sangat bahagia seperti itu berkat Allah SWT. Dukungan dari orangtua saya juga tak kalah penting. Karenanya, saya pun mendoakan mereka agar selalu bahagia lahir bathin. Tak lupa, doa khusus terpanjat agar lebih banyak lagi generasi muda Indonesia yang dapat melanjutkan karir, serta merasakan pengalaman hidup di Jepang seperti saya. Aamiin.

Foto disediakan oleh penulis