Pengalaman Menjadi Guru di Negeri Kangguru: Berkolaborasi untuk Indonesia (Bagian Kedua)

0
1370

Pada bagian pertama artikelnya, Pengalaman Menjadi Guru di Negeri Kangguru (Bagian Pertama, Cynthia Hapsari bercerita mengenai pengalamannya menjadi guru pendidikan anak usia dini di Australia setelah mengemban pendidikan sarjana dan master di University of Melbourne. Pada bagian kedua ini, Cynthia berbagi pengalamannya membuat kurikulum sekolah pendidikan anak untuk rumah belajar Sangkabira yang berlokasi di desa Sembalun, Indonesia dan mengaplikasikan apa yang telah dipelajarinya di Negeri Kangguru untuk berkontribusi kepada bangsa tercinta.

Belajar menjadi seorang guru dan kemudian berprofesi menjadi guru pendidikan anak usia dini di Australia menyebabkan pergolakan batin tersendiri bagi saya. Bukan tidak bersyukur, tapi saya selalu memiliki keinginan untuk dapat berkontribusi dalam mencerdaskan anak-anak Indonesia. Hanya saja, saya tidak yakin harus memulai dari mana. Ditengah pergolakan batin saya menjelang semester terakhir pada program Master of Teaching di awal tahun 2014, seorang teman baik saya yaitu Reman Murandi, mengajak saya untuk bergabung dalam sebuah gerakan yang bernama Baraka Nusantara. Baraka Nusantara adalah gerakan yang ia rintis bersama beberapa koleganya yaitu Maryam Rodja, Muhammad Sahidul Wathan, Edison Sembahulun, Mona Bidayati, Harris Fanany, Syifa Rodja dan Putri Yulandari.

Baraka Nusantara

Baraka Nusantara adalah sebuah kewirausahaan sosial yang memiliki fokus untuk membangun model bisnis yang berkelanjutan. Baraka Nusantara bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui kegiatan yang memberdayakan potensi lokal. Gerakan ini dimulai di sebuah desa dibawah kaki Gunung Rinjani yang bernama desa Sembalun.

Para pendiri Baraka Nusantara bercerita mengenai niat mereka untuk membantu para petani kopi di Sembalun. Menurut hasil penilaian seorang Q-grader kopi profesional, kopi arabika lokal Sembalun memiliki nilai 83/100. Kopi lokal Sembalun memiliki potensi untuk bersanding sejajar dengan kopi lainnya. Kopi ini mereka namakan Kopi Pahlawan, dengan harapan bahwa para petani akan menjadi pahlawan bagi komunitasnya dalam meningkatkan kesejahteraan desa mereka.

Kegiatan "Pertunjukan Mini-Teater" pertama adik-adik Sangkabira yang merupakan program pengujian 1 Bulan Dongeng Sangkabira
Kegiatan “Pertunjukan Mini-Teater” pertama adik-adik Sangkabira yang merupakan program pengujian 1 Bulan Dongeng Sangkabira

Selain berdiskusi mengenai pengembangan dan pendampingan sumber daya lokal Sembalun ini, mereka juga mengutarakan keinginan untuk membangun sebuah rumah belajar bagi semua lapisan masyarakat di Sembalun. Rumah belajar ini nantinya juga akan menjadi pusat kebudayaan dan pusat berbagi ilmu. Ketika saya mendengarkan penjelasan mereka, saya merasa seperti menemukan jawaban atas pergolakan batin yang saya alami. Di akhir percakapan, mereka kemudian menanyakan kesediaan saya untuk membantu proses perancangan kurikulum Rumah Belajar dengan bergabung di Baraka Nusantara. Butuh waktu bagi saya untuk memikirkan ini matang-matang. Terdapat ketakutan bahwa nantinya saya tidak akan mampu. Namun akhirnya saya memantapkan hati dan mengiyakan permintaan mereka. Jawaban ini telah merubah hidup saya 180 derajat.

Menjadi bagian dari Baraka Nusantara merupakan salah satu keputusan terbaik. Saya bekerja bersama dengan orang-orang yang memiliki keikhlasan hati dan impian besar dalam berkolaborasi dengan masyarakat Sembalun untuk memperbaiki taraf hidup warga di daerah tersebut. Yang menarik dari kolaborasi kami adalah tidak semua dari kami tinggal di satu kota. Seringkali diskusi dan rapat dilakukan melalui Skype ataupun Whatsapp. Namun demikian, sepertinya memang niat baik selalu diberikan jalan oleh Tuhan. Semua hal yang kami rencanakan dapat berjalan sesuai harapan, mulai dari pengembangan produk Kopi Pahlawan bersama beberapa profesional kopi di Indonesia, kegiatan penggalangan dana pembangunan Rumah Belajar Sangkabira yang bekerja sama dengan beberapa komunitas sosial lain, hingga kegiatan penggalangan donasi buku yang bekerja sama dengan salah satu komunitas buku di Indonesia dan lima kafe di daerah Jakarta Selatan sekitar satu tahun yang lalu.

Rumah Belajar Sangkabira

Setelah tiga tahun bermimpi untuk memiliki sebuah Rumah Belajar, akhirnya Rumah Belajar Sangkabira pun mulai dibangun pada Januari 2016 di kaki Bukit Pergasingan, Sembalun Lawang. Rumah Belajar Sangkabira dibuka untuk umum pada tanggal 16 Juli 2017. Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata. Akhirnya, kerja keras kami bersama dengan para petani Kopi Pahlawan di Sembalun dalam menggalang dana melalui penggalangan dana melalui penjualan kopi, crowd funding, serta kegiatan donasi lainnya kini berdiri kokoh di hadapan kami.

Rumah Belajar Sangkabira
Rumah Belajar Sangkabira

Sebagai wadah pertukaran ilmu dan pusat kebudayaan di desa Sembalun, kami merancang beberapa program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar, yaitu program pelatihan dan pendampingan para petani kopi, pelatihan komunitas muda, dan program khusus yang diadakan setelah jam sekolah bagi anak-anak usia sekolah di Sembalun yang dimulai pada pukul 2 siang hingga 4 sore pada hari Senin hingga Sabtu. Sebagai acuan pelaksaan dasar, Rumah Belajar Sangkabira beroperasi dengan menggunakan Kurikulum Sangkabira. Sebuah kurikulum alternatif yang merupakan pernikahan antara kearifan lokal Sembalun, Kurikulum Berkembang Australia dan pendekatan holistik Reggio Emilia Italia.

Butuh waktu dua tahun bagi saya untuk melakukan riset terkait penulisan Kurikulum Sangkabira. Untungnya pada saat itu saya masih dalam proses menyelesaikan program Master of Teaching (Early Childhood) di University of Melbourne sehingga sangat membantu riset yang sedang saya lakukan pada kala itu. Hal-hal yang saya pelajari mengenai penulisan kurikulum, pendekatan pedagogi dalam mengajar serta bagaimana teknik mengajar yang efektif di dalam semester terakhir di kampus memiliki pengaruh besar dalam proses penulisan Kurikulum Sangkabira.

Jarak yang memisahkan saya dan komunitas Sembalun merupakan rintangan terberat dalam penulisan Kurikulum Sangkabira. Pada saat itu, saya belum pernah berinteraksi langsung dengan masyarakat Sembalun sehingga tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai kualitas pendidikan maupun dinamika kehidupan sosial masyarakat di daerah tersebut. Demi menyempurnakan Kurikulum Sangkabira, saya memutuskan untuk melakukan riset lebih dalam dengan terbang langsung ke Sembalun pada pertengahan Oktober 2014. Saya beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan beberapa pendidik di Sembalun. Mereka semua memiliki kekhawatiran yang sama, yaitu dampak modernisasi kepada generasi muda Sembalun dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi sikap dan perilaku mereka yang semakin jauh dari kearifan lokal Sasak. Mayoritas menginginkan generasi muda Sembalun untuk kembali mempraktekan pemahaman “Hidup bagai Lombok buaq, berprilaku sasak sankabira” (hidup lurus (re: jujur) seperti pohon pinang, berperilaku bersatu saling tolong menolong). Selain itu, mereka menambahkan harapan agar anak-anak dapat belajar dari dan di tengah alam. Bagi masyrakat Sembalun, alam adalah guru terbaik bagi manusia.

Berdiskusi langsung dengan pendidik di Sembalun ketika menyusun kurikulum untuk Rumah Belajar Sangkabira
Berdiskusi langsung dengan pendidik di Sembalun ketika menyusun kurikulum untuk Rumah Belajar Sangkabira

Berdasarkan landasan kearifan lokal inilah saya menemukan perekat yang tepat dalam menyempurnakan Kurikulum Sangkabira. Kurikulum Sangkabira lahir dengan menjunjung pentingnya nilai toleransi, tolong-menolong, kejujuran, kemandirian, kedispilinan, kemampuan menerima perbedaan, dan rasa bertanggung jawab dalam mendidik generasi muda Sembalun. Kurikulum Sangkabira juga memiliki empat prinsip utama, yaitu Perkembangan Holistik, Kerjasama dengan keluarga dan masyarakat sekitar, Hubungan timbal-balik yang penuh hormat dan rasa aman, serta Menghormati keragaman, sebagai acuan dasar proses belajar mengajar di Rumah Belajar Sangakabira. Pada prakteknya, kami selalu mengadakan banyak kegiatan belajar dan bermain di alam karena kecintaan anak didik dengan proses belajar di ruangan tak bersekat. Sebelum anak didik memulai kegiatan belajar, mereka selalu berenang di Sungai Sangkabira lalu berjalan bersama ke Rumah Belajar.

Di dalam kurikulum ini kami juga memiliki teknik pengujian alternatif.  Kami tidak menitik beratkan pada kemampuan akademis anak dan lebih menekankan pada perkembangan kemampuan non teknis dan akademis murid. Setiap akhir bulannya, kami  mengadakan kegiatan berkemah bersama. Di dalam kegiatan 2 hari 1 malam ini, kami meminta murid untuk merancang sebuah kegiatan “tunjukkan dan beritahu” atau sebuah pertunjukan kecil di dalam kelompok besar maupun kecil untuk unjuk kebolehan atas topik yang telah mereka pelajari dalam sebulan terakhir. Teknik pengujian ini terbukti sangat efektif dalam mengevaluasi perkembangan kompetensi non teknis dan akademis serta pemahaman nilai-nilai kearifan lokal Sasak yang ingin kami tanamkan dalam diri mereka. Walaupun demikian, kurikulum ini masih dilengkapi dengan beberapa materi pendukung mengajar dasar seperti materi observasi, analisa kegiatan belajar, laporan evaluasi serta rancangan pembelajaran mingguan guna menjaga standar kualitas pengajaran.

Murid Rumah Belajar Sangkabira membangun permainan rintangan dengan menggunakan tali di pohon
Murid Rumah Belajar Sangkabira membangun permainan rintangan dengan menggunakan tali di pohon

Kini, Rumah Belajar Sangkabira telah beroperasi selama satu tahun dua bulan. Rumah belajar tersebut telah mempunyai murid program setelah sekolah sebanyak 35 anak, 3 pendidik lokal Sembalun, serta kegiatan pelatihan dan pendampingan komunitas rutin yang diadakan tiap bulannya. Rumah Belajar Sangkabira telah berkolaborasi dengan beberapa sukarelawan lokal maupun internasional dalam membantu proses belajar mengajar adik-adik Sangkabira dan komunitas Sembalun di tiap bulannya. Pada saat ini, kami sedang dalam proses perancangan program Proyek Pengelolaan Limbah Sembalun yang akan kami mulai di akhir Oktober ini. Program tersebut terpilih menjadi salah satu dari 25 proposal yang memenangkan dana hibah dari Skema Hibah Alumni Australia Awards.

Saya tidak pernah menyangka bahwa apa yang saya pelajari dalam program Master of Teaching (Early Childhood) di University of Melbourne dan pengalaman mengajar saya di Melbourne selama ini dapat membantu dalam proses perancangan dan pengimplementasian Kurikulum Sangkabira. Ternyata memang benar bahwa “Banyak Jalan Menuju Roma”. Walaupun saya masih bekerja di Australia, saya masih dapat berkontribusi dalam mengembangkan pendidikan anak-anak Indonesia  sesuai dengan apa yang saya impikan selama ini. Saya percaya ini adalah awal dari perjalanan karir saya di dunia pendidikan Indonesia dan sangat bersemangat untuk menjalaninya.

Jangan pernah takut bermimpi, karena percayalah bahwa Tuhan akan selalu ada di tiap langkah dan niat baikmu!

SHARE
Previous articleHow To Motivate The Unmotivated
Next articleTaking Chances, Going Places, and Making Changes: My Journey to the 2017 G(irls) 20 Global Summit in Germany
Cynthia Annisa Ayu Hapsari is a Master of Teaching (Early Childhood) graduate from the University of Melbourne. She is currently working as a Room Leader (0-2 years old) in an Early Learning Centre in Elsternwick, Melbourne, Victoria. In parallel to her current work, she is actively involved in Baraka Nusantara, a social enterprise that is based in Jakarta and Sembalun, a village in the foot of Mt Rinjani – East Lombok. Baraka Nusantara focuses its project in developing Sembalun’s Arabica coffee farmer community and improving Sembalun’s quality of life through education. Baraka Nusantara is listed as top 60 social enterprises to watch for in Asia 2017 (according to DBS foundation and NUS Enterprise). She can be reached through her email: cynthia.annisa@gmail.com