Belajar Kebijakan Publik di Negara Tetangga, Kenapa Harus Gengsi?

0
1198

Ketika memutuskan untuk melanjutkan sekolah, tentu faktor negara dan sekolah itu sendiri sama-sama penting. Ada orang yang ingin melanjutkan sekolah karena memilih negara tertentu, ada yang mengejar reputasi dan peringkat sekolahnya, ada juga yang karena menjadi penggemar berat dari klub sepakbola tertentu, dan alasan lain yang tidak perlu diperdebatkan. Raisa Annisa pun punya alasan tersendiri mengapa ia memilih National University of Singapore (NUS) untuk memperdalam bidang Kebijakan Publik. Ikuti serunya pengalaman Annisa saat belajar di Lee Kuan Yew School of Public Policy, NUS dalam tulisan berikut ini.

“Kenapa kuliah di Singapura?, gak yang lebih jauh sekalian?”

Ungkapan ini sering sekali saya dengar dari kerabat, teman, hingga pemberi kerja yang mewawancarai saya. Betul sekali, negara Singapura itu sungguh dekat dengan Indonesia. Ketika saya berkuliah pun, seorang staf di kedutaan pernah bercanda “Iya, orang Indonesia itu ke Singapura sudah seperti provinsi ke 35-nya”. Biasanya orang Indonesia juga ke Singapura untuk berwisata, berbisnis, berobat dan tidak jarang yang menjadikan Negara berikon Merlion ini sebagai destinasi pertama untuk mendapatkan cap imigrasi di paspornya.

Di Marina Barrage, mata kuliah Singapore Liveable Cities
Di Marina Barrage, mata kuliah Singapore Liveable Cities

Bagi saya, jawaban atas pertanyaan di atas karena Singapura itu unik. Kecil secara luas geografis, namun paling “makmur” secara ekonomi dibanding tetangganya. Hingga saat ini, Singapura masih menjadi favorit untuk studi di bidang sains dan teknologi. Negara ini masih menjadi magnet bagi talenta muda Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah. Mekanisme government loan-nya berhasil menarik putra-putra terbaik negeri di kampus terbaik mereka. Namun mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa pendidikan Singapura juga menawarkan program di bidang sosial-politik untuk jenjang magister dan doktoral. Salah satunya adalah di Lee Kuan Yew School of Public Policy, yang berada di bawah National University of Singapore. Tulisan ini akan mengupas tentang sekolah di negara tetangga ini yang menawarkan studi kebijakan publik.

Sedikit tentang National University of Singapore (NUS)  

National University of Singapore (NUS) merupakan salah satu kampus tertua di Singapura yang waktu itu masih menjadi bagian dari Malaysia. Sebagai bagian dari persemakmuran, kegiatan Pendidikan di NUS banyak dibiayai oleh Kerajaan Inggris. Sistem Pendidikan di NUS pun mengikuti Inggris, di mana nama-nama college dan hall-nya menggunakan nama raja dan tokoh penting di kerajaan Inggris. Sempat berganti nama dari University of Malaya, kemudian menjadi University of Singapore, akhirnya nama National University of Singapore pada tahun 1980. Hingga saat ini, NUS memiliki 16 fakultas di 3 lokasi berbeda, yaitu di Kent-Ridge, Bukit Timah, dan Outram.

Tentang Lee Kuan Yew School of Public Policy

Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP) didirikan pada tahun 2004, dengan mengusung nama Lee Kuan Yew, Perdana Menteri pertama dan terpanjang masa baktinya, di Singapura. LKYSPP awalnya mengadopsi program kebijakan publik dari Harvard Kennedy School. Meskipun relatif berusia muda dibandingkan sekolah lain pada bijak kebijakan publik, sudah banyak pencapaian yang didapat oleh sekolah ini, antara lain sebagai Sekolah dengan pendanaan terbaik dan penyedia dana publik (beasiswa dan grant) terbanyak setelah Princeton University.

Study trip ke Myanmar
Study trip ke Myanmar

Program yang ditawarkan dan prosedur pendaftaran

Hingga saat ini, LKYSPP menawarkan 4 progam master dan 1 program PhD, serta 1 program master dengan pengantar Bahasa mandarin. Program yang ditawarkan adalah sebagi berikut:

  • Master in Public Policy (MPP): program dua tahun penuh waktu, yang memberikan dasar tentang analisis kebijakan publik secara umum.
  • Master in International Affairs (MIA) – program dua tahun penuh waktu yang menggunakan pendekatan multidisiplin untuk memahami dunia hubungan international.
  • Master in Public Administration (MPA) – program satu tahun penuh waktu, yang diperuntukan bagi pemegang kebijakan tingkat madya.
  • Master in Public Management (MPM) – program satu tahun penuh waktu, yang diperuntukan bagi pengambil kebijakan senior, bekerjasama langsung dengan Harvard Kennedy School.
  • Master in Public Administration and Management, program untuk administrasi bisnis dan sector public dengan pengantar Bahasa Mandarin.
  • PhD in Public Policy – progam doktoral 4 tahun yang berfokus pada riset dan komunikasi di kebijakan publik yang berfokus pada regional Asia.

Lebih lengkap mengenai program yang ditawarkan silakan kunjungi tautan berikut: http://lkyspp.nus.edu.sg/admissions/graduate-programmes/

Proses aplikasi di LKYSPP hanya dibuka satu periode dalam satu tahun, biasanya dimulai di pertangahan tahun, semester kedua. Untuk tahun akademik 2018, periode pendaftaran sudah dibuka sejak 1 Agustus 2017 hingga 31 Desember 2018, dan proses belajar mengajar akan dimulai pada 1 Agustus 2018 mendatang. Tidak ada biaya pendaftaran yang dibutuhkan saat mengajukan aplikasi, dan berkas proses pendaftaran dilakukan secara online. Berkas yang diperlukan pada saat aplikasi yaitu transkrip IPK dan ijazah, CV, Hasil TOEFL/IELTS/GRE/GMAT/LSAT, esai, dan surat rekomendasi. Jika lolos untuk seleksi administrasi, maka calon peserta biasanya akan diminta untuk interview dan mengerjakan tes online. Hal ini untuk mengetahui lebih jauh tentang potensi dan minat dari calon siswa.

Pendanaan Pendidikan di LKYSPP

Tentu saja biaya mengenyam pendidikan di Singapura tidak murah. Namun berdasarkan pengalaman saya sendiri, tersedia berbagai tawaran bantuan pendanaan dari para donor yang sangat dibantu proses pengajuannya oleh sekolah. LKYSPP menawarkan bantuan pendanaan mulai dari beasiswa penuh, beasiswa biaya pendidikan (grant), dan beasiswa kerjasama dengan pemerintah negara terkait. Proses pengajuan bantuan pendanaan ini juga sangat mudah. Saya sendiri mengajukan bantuan pendanaan bersamaan dengan proses pengajuan aplikasi sekolah. Beasiswa yang saya dapatkan dari Li Ka Shing Foundation sudah mencakup uang kuliah, akomodasi, tiket saat kedatangan dan kepulangan, uang saku bulanan, uang pada saat kedatangan, dan uang untuk keperluan pembelian buku. Rekan-rekan seangkatan saya dari Indonesia juga mendapatkan jenis beasiswa yang sama, hanya berbeda donornya saja.

Conference a.k.a winter break in Berlin
Conference a.k.a winter break in Berlin

Mengapa MPP di LKYSPP

Kembali ke pertanyaan di awal tadi, jadi mengapa belajar kebijakan publik di Singapura. Setelah melaluinya selama dua tahun, bagi saya ada tiga alasan yang membuat saya tidak menyesal dan merekomendasikan untuk mendaftar ke LKYSPP.

Pertama, karena saya mengalami pendekatan asia (Asian approach) dengan pengalaman dunia (worldwide experience). Selama menempuh studi MPP di LKYSPP, saya banyak mengetahui kebijakan publik berbagai sektor yang digunakan di negara-negara di Asia. Misalnya saya belajar tentang pengentasan kemiskinan di India, kebijakan tata kota di Korea dan Jepang, dan bagaimana transisi sosial-politik di Myanmar. Meskipun begitu, saya juga tetap mengetahui isu sosial-politik di dunia, dengan adanya pengajar dari Eropa dan Amerika. Serta tak henti-hentinya sekolah mengundang tokoh penting dari berbagai belahan dunia seperti Tony Blair, Kevin Rudd, Tony Fernandes dan masih banyak lagi. LKYSPP juga memiliki kerjasama untuk program pertukaran (exchange program) dan dual-master (double degree) dengan universitas ternama di dunia seperti LSE di UK, SIPA-Columbia University di Amerika, Peking University-Tiongkok, University of Geneva-Swiss, serta University of Tokyo – Jepang.

Belajar tentang Urban Policy di atas perahu menyusuri Clarke Quay
Belajar tentang Urban Policy di atas perahu menyusuri Clarke Quay

Kedua, saya belajar di negara menarik yaitu Singapura dan tetap berada dekat dengan Indonesia. Jika orang lain melihat bahwa Singapura terlalu dekat, sehingga selama saya belajar di sana menjadi tidak menarik, bagi saya sebaliknya. Di Singapura saya bisa mengetahui apa ‘rahasia’ negara  ini hingga bisa menjadi seperti sekarang. Saya mengambil mata kuliah Public Policy and Management in Singapore, serta Livable and Sustainable Cities ­– A Singapore Case Study. Pada kedua matakuliah ini, saya mengetahui fakta-fakta menarik tentang kebijakan di Singapura, seperti kebijakan pembatasan kuota sesuai etnis dalam menempati komposisi penghuni rumah susun di Singapura, atau fakta bahwa dibutuhkan 10 tahun dalam membersihkan Clarke Quay yang saat ini menjadi salah satu destinasi wisata para turis. Selain itu, letaknya yang dekat dengan Indonesia membuat saya bisa memantau apa yang terjadi di negara, dan langsung mendiskusikannya di kelas pada saat sesi kuliah, ataupun sesi seminar. Misalnya pada saat Pemilihan Umum 2014, saya mendapatkan sisi lain bagaimana negara tetangga melihat situasi politik tetangganya.

Ketiga, usia sekolah yang relatif muda membuat banyak hal dinamis selama saya menempuh studi. Salah satunya adalah pendekatan multidisiplin dan studi kasus yang diterapkan pada kurikulum pembelajaran. Sebagai contoh, saya mendapatkan matakuliah Policy Challenges selama 2 semester, yang menggabungkan pendekatan ekonomi, hubungan internasional, dan governance dalam mengkaji tantangan kebijakan publik, dan menggunakan studi kasus negara Myanmar. Saat mengambil mata kuliah ini, saya seperti mengambil peran sebagai penasehat kebijakan Myanmar dengan membuat berbagai rekomendasi kebijakan ekonomi-sosial-politik, hingga mengunjungi langsung Ibukota negara tersebut, dan bahkan bertemu satu meja dengan pemegang kebijakan tertinggi di sana. Selain itu, meskipun terletak di Asia Tenggara, komposisi mahasiswa di LKYSPP cukup beragam. Saya memiliki teman dari Asia Selatan, Asia Tengah, Australia, dan mahasiswa pertukaran dari Eropa dan Amerika. Saya juga tinggal di asrama College Green yang merupakan salah satu bangunan bersejarah yang dilindungi Pemerintah, dimana di dalamnya saya juga belajar menyesuaikan diri dengan perbedaan.

Global Public Policy Network, Tokyo 2014
Global Public Policy Network, Tokyo 2014

Ketiga alasan di atas sedikit banyak merangkum pengalaman saya menempuh studi Master in Public Policy di LKYSPP. Jarak yang dekat dan usia sekolah yang relatif baru bagi saya justru menjadi kekuatan dan poin tambahan bagi saya dalam mempelajari kebijakan publik. Seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Bisa jadi memang ia lebih hijau, maka dari itu, tidak ada yang salah untuk mengunjungi dan tahu mengapa bisa seperti itu.

Foto disediakan oleh Penulis