Apa Itu Homesick dan Bagaimana Mengatasinya?

0
209
Sumber: https://pixabay.com/en/person-women-distance-looking-lake-598312/

Berkuliah di luar negeri sudah pasti menjadi suatu pengalaman terbaik yang bisa kamu peroleh. Meskipun demikian, berkuliah di luar negeri memiliki tantangannya tersendiri – hidup jauh dari orang tua atau teman-teman terdekat, beradaptasi dengan tempat, makanan, cuaca, dan orang-orang yang berbeda dengan negara asal, dan masih banyak lagi.

Menjalani rutinitas baru di tempat yang asing setelah sekian lama hidup dengan kebiasaan tertentu di negara asal tentunya bukanlah hal yang mudah. Seringkali perasaan rindu akan rumah, orang-orang terdekat, tempat-tempat yang biasa dikunjungi, serta barang-barang yang biasanya digunakan di negara asal, muncul. Perasaan rindu ini terkadang bisa membuat kita sedih berkepanjangan dan bahkan menganggu keseharian kita.

Dalam artikel ini, saya akan membahas lebih detil tentang apa itu kangen rumah atau homesick dan bagaimana mengatasinya.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/kalexanderson/5884796087/
Sumber: https://www.flickr.com/photos/kalexanderson/5884796087/

Kenapa saya merasa kangen rumah/homesick?
Menurut para peneliti, perasaan kangen rumah sebenarnya lebih dari perasaan jauh dari rumah. Perasaan kangen rumah/homesick adalah perasaan yang timbul karena kehilangan hal-hal yang familier – misalnya, makanan yang biasanya disantap, orang-orang yang biasanya membuat kita tertawa, atau tempat-tempat yang biasanya kita kunjungi. Pada dasarnya, setiap manusia menginginkan hal-hal yang familier dan mudah ditebak karena hal-hal tersebut membuat kita merasa nyaman dan aman. Jika kita tidak bisa menemukan familiaritas tersebut, kita cenderung mencarinya (itulah sebabnya kenapa kalau kita ke luar negeri, kita suka membuat masakan atau mencari makanan Indonesia, bukan?). Jika kita tidak dapat menemukan hal-hal familier tersebut, kita pun merasa gelisah dan menginginkan untuk merasakan hal-hal familier tersebut – sehingga kita pun merasa kangen rumah.

Selain itu, ada kualitas-kualitas tertentu yang melekat pada hal-hal familier tersebut – masakan dari orang tua sebagai bentuk kepedulian dari mereka kepada kita, ataupun kamar pribadi sebagai bentuk rasa aman dan privasi, misalnya. Berpisah dengan hal-hal familier ini berarti kita berpisah dengan kualitas-kualitas tersebut – ketika kualitas itu tidak dirasakan di lingkungan baru, kita pun merasa homesick.

Sumber: https://www.flickr.com/photos/jjcd7/3195721184
Sumber: https://www.flickr.com/photos/jjcd7/3195721184

Apakah kangen rumah/homesick itu wajar?
Ada perasaan gelisah, sedih, dan tidak nyaman yang sering dirasakan ketika kita sedang kangen rumah, dan perasaan-perasaan ini muncul dari hal-hal telah disebutkan di atas. Alih-alih menghindari, menyangkal, atau menganggap perasaan kangen rumah ini sebagai sesuatu yang aneh, pahamilah bahwa perasaan ini adalah sesuatu yang normal. Anggaplah perasaan ini sebagai respon alamiah yang muncul ketika kamu berada di lingkungan baru. Selayaknya anak kecil yang baru masuk kelas 1 SD, beberapa dari mereka pasti ada yang menangis karena harus berpisah dengan orang tua mereka. Namun seiring berjalannya waktu, mereka akan terbiasa dan tidak akan menangis lagi. Demikian pula dengan kangen rumah. Riset menunjukkan bahwa perasaan homesick yang wajar berlangsung selama satu sampai dengan enam bulan.

Di artikel saya sebelumnya, telah saya ungkapkan bahwa perasaan homesick adalah suatu fenomena yang wajar – 50-75% orang yang jauh dari rumah merasakan hal ini. Kalau kamu saat ini sedang berkuliah di luar negeri dan sedang merasa homesick, jangan takut atau merasa bersalah – ingat, hal ini adalah wajar, dan bukan hanya kamu yang mengalaminya.

Sumber: https://pixabay.com/en/person-women-distance-looking-lake-598312/
Sumber: https://pixabay.com/en/person-women-distance-looking-lake-598312/

Apa yang harus saya lakukan jika saya merasa homesick?Meskipun perasaan homesick adalah sesuatu yang wajar dan berlangsung selama beberapa waktu saja, faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi durasi dan intensitas perasaan homesick antara lain: kepribadian seseorang, jarak negara dari rumah, kesulitan yang dialami di lingkungan baru, durasi selama berada di luar negeri, alasan perpindahan (apakah keinginan pribadi atau orang tua, apakah pindah sendirian atau dengan orang tua), dan pengalaman pada saat melakukan perpindahan. Faktor-faktor tersebut bisa membuat perasaan homesick menjadi semakin kronis dan intens dan dapat menganggu keseharian dan proses adaptasi dengan lingkungan baru.

Jika kamu mulai merasa homesick, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan agar perasaan homesick ini bisa semakin membaik:

  1. Tetap terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bisa kamu lakukan. Cobalah untuk menyibukkan diri di kegiatan-kegiatan kemahasiswaan agar kamu bisa mengalihkan pikiran dan perasaan homesick kamu, karena biasanya perasaan homesick biasanya muncul ketika kamu sedang sendirian dan tidak sedang melakukan apa-apa.
  2. Tetapkan rutinitas pribadi. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, perasaan homesick muncul ketika tidak ada hal-hal familier. Dengan memiliki rutinitas pribadi, lingkungan baru akan terasa lebih familier dan terprediksi, sehingga membuat kamu merasa lebih aman dan nyaman.
  3. Bicaralah dengan seseorang. Carilah orang-orang yang bisa mengerti kamu dan memahami situasi yang kamu alami agar kamu tidak merasa sendirian. Namun, ketika kamu merasa kangen rumah, pilih-pilihlah orang yang kamu ajak bicara. Berbicara dengan orang tua yang terlalu khawatir misalnya, bisa membuat kamu semakin merasa tidak nyaman. Pastikan orang yang kamu ajak bicara adalah pendengar yang baik yang membuat kamu merasa lebih tenang, dan mendorong kamu untuk tetap bertahan di situasi tersebut.
  4. Bangun sense of belongingness dengan bergabung dengan komunitas. Rasa kesepian biasanya muncul ketika kamu merasa homesick. Oleh karena itu, cobalah mencari teman dengan cara bergabung dengan komunitas-komunitas yang ada di universitas kamu. Jika kamu memiliki kesulitan dalam bersosialisasi di lingkungan baru, kamu bisa memulai dari hal-hal yang lebih familier untuk kamu, seperti bergabung di komunitas Perhimpunan Pelajar Indonesia yang biasanya tersebar di berbagai negara ataupun komunitas religius/spiritual yang cenderung lebih suportif, agar kamu tidak merasa kesepian. Memiliki teman sebagai dukungan sosial adalah satu faktor penting yang membantu kamu untuk menangani perasaan homesick.
  5. Kenali informasi atau fasilitas-fasilitas yang ada di universitas yang membantu kamu untuk beradaptasi lebih baik. Setiap universitas memiliki fasilitas yang membantu kamu untuk dapat beradaptasi lebih baik, seperti pusat konseling mahasiswa misalnya. Hal ini penting ketika perasaan homesick ini mulai semakin berkepanjangan dan menganggu keseharian kamu. Konselor universitas ini bisa mengajarkan kamu teknik-teknik relaksasi ataupun manajemen stres yang membantu kamu untuk menangani perasaan homesick Atau kenali juga klub-klub mahasiswa yang fokus pada penanganan stres, seperti klub yoga misalnya.
  6. Pahami kesulitan apa yang kamu alami di lingkungan baru yang membuat kamu semakin merasa homesick dan lakukan sesuatu. Apakah kamu memiliki kesulitan berbahasa Inggris? Carilah komunitas untuk membantu kamu semakin lancar dalam berbahasa Inggris. Apakah kamu bermasalah dengan teman sekamar? Cobalah berkomunikasi dengannya atau pertimbangkan untuk pindah ke akomodasi lain. Apapun permasalahan itu, cobalah untuk mencari solusi sehingga kesulitan ini tidak memperburuk perasaan homesick yang kamu alami.
  7. Pahami bahwa perasaan ini akan berlalu. Ingat, perasaan ini tidak akan bertahan terus menerus. Namun demikian, pastikan kamu tetap melakukan hal-hal di atas agar perasaan homesick ini tidak berlarut-larut dan berkepanjangan.
Sumber: https://www.flickr.com/photos/wocintechchat/22506109386
Sumber: https://www.flickr.com/photos/wocintechchat/22506109386

Demikian hal-hal yang perlu kamu ketahui tentang homesick dan bagaimana kamu bisa mengatasinya. Semoga dengan mengetahui hal-hal ini, kamu bisa menangani perasaan homesick menjadi lebih baik ya.

Sumber artikel: 1, 2, 3




===========================================
Stefanus Suryono finished his undergraduate study in Psychology from James Cook University Singapore. Currently, he is working as a brain trainer for children aged 3-18 years old and is involved in several volunteering activities that focus on empowerment. He is a psychology enthusiast that has constant hunger for both learning and food. He aspires to become a psychologist that can contribute for the improvement of mental health, psychological well-being, and self-development of Indonesian community.
Posts | Facebook | LinkedIn
SHARE
Previous articleTips on Selecting Universities and Field of Study (Part 1)
Next articleJob Hunting Survival Kit
Stefanus Suryono
Stefanus Suryono finished his undergraduate study in Psychology from James Cook University Singapore. Currently, he is working as a brain trainer for children aged 3-18 years old and is involved in several volunteering activities that focus on empowerment. He is a psychology enthusiast that has constant hunger for both learning and food. He aspires to become a psychologist that can contribute for the improvement of mental health, psychological well-being, and self-development of Indonesian community.