Beasiswa INPEX: More than just a scholarship, It’s a life changing experience

0
163

Ketika memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri, hal pertama yang biasanya terlintas di dalam benak adalah kemana kita akan pergi. Selain kualitas institusi pendidikan tujuan, terkadang hobi maupun kegemaran bisa menjadi salah satu alasan untuk memilih negara tujuan. Sejak kecil, saya dan mungkin kebanyakan anak Indonesia lainnya banyak disuguhi tontonan anime dari Jepang. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari akan kelebihan Jepang di bidang sains, terutama Biologi, bidang yang kini saya geluti. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa kemudian saya memilih belajar di Jepang.

Bagaimana bisa ke Jepang?

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana saya bisa ke Jepang. Saya tidak mungkin mampu berkuliah di Jepang tanpa dukungan finansial. Beruntung, Jepang menawarkan berbagai jenis beasiswa yang bisa dimanfaatkan oleh orang Indonesia. Buat saya, jenis beasiswa tidaklah penting. Yang penting saya bisa bersekolah tanpa harus membebani kedua orang tua dan tidak pusing lagi memikirkan masalah finansial. Tidak lama setelah lulus dari Fakultas Biologi UGM, terbuka peluang untuk mendaftar beasiswa INPEX. Sebenarnya sudah beberapa tahun ini saya mengetahui tentang beasiswa tersebut. Namun, tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa beasiswa ini yang akan membawa saya ke Jepang. Akhirnya, dengan rasa percaya diri (kepedean), saya mengadu nasib dengan mendaftar beasiswa ini. Dan tepat pada tanggal 24 januari, saya mendapat email bahwa saya lolos beasiswa ini.

Sekilas mengenai beasiswa INPEX

Beasiswa ini merupakan beasiswa yang diberikan oleh INPEX Corporation kepada orang Indonesia sejak tahun 1981. Saya merupakan peraih beasiswa di tahun ke 33. Kuota beasiswa ini pun berbeda-beda tiap tahunnya. Namun beberapa tahun terakhir, umumnya kuota berjumlah 3 orang per tahun. Terbatasnya kuota membuat persaingan begitu ketat. Beasiswa ini mencakup tuition fee, exam fee, entrance fee, Japanese language school, tiket PP Jakarta-Tokyo, commuting pass, dan lain-lain. Untuk biaya hidup, tempat tinggal dan sebagainya akan kita bayar dari biaya bulanan yang diberikan, yaitu 160.000 yen plus 60.000 yen saat pertama kali tiba di Jepang sebagai settlement allowance.

Pendaftaran

Secara umum, applicant yang diperbolehkan mendaftar adalah WNI dengan gelar S1 dalam bidang sains dan IPK lebih dari 3, serta belum mendapatkan beasiswa lainnya. Pendaftaran biasanya ditutup pada bulan November tiap tahunnya. Berkas yang dibutuhkan adalah application form, Foto 5 cmx 3,5 cm sebanyak 2 lembar dengan dituliskan nama dibaliknya, transkrip, surat rekomendasi, certificate of graduation alias ijasah, CV, surat keterangan sehat, admission certificate, sertifikat TOEFL atau IELTS, sertifikat kemampuan bahasa Jepang, dan return envelope. Meskipun tidak ada dalam syarat, namun jika memang berniat untuk mendapatkan beasiswa ini, SANGAT DISARANKAN untuk melampirkan letter of acceptance dari profesor. Kata dosen, itu merupakan surat sakti. Dan memang benar-benar sakti karena memperbesar peluang lolos ke tahap interview dan menyisihkan applicant lain meskipun memiliki TOEFL dan IPK yang lebih tinggi. Semua dokumen tersebut dikirim ke kantor INPEX di Jakarta. Selanjutnya, bersabar dan berdoa agar mendapatkan hasil yang terbaik.

IMG_1885

Primary selection notification

Pada tahap ini, akan dipilih 10 orang yang akan mengikuti wawancara secara langsung di Jakarta. Meskipun dalam important dates yang tersedia menunjukkan bahwa pengumuman primary selection adalah pada bulan Januari, namun besar kemungkinan pengumuman datang lebih cepat. Pengalaman saya bahwa hasil diumumkan pada hari Jum’at pada tanggal 21 Desember 2013. Pada awalnya saya mengira bahwa pemberitahuan akan melalui surat, namun ternyata pemberitahuan dilakukan via telepon dan celakanya telepon rumah sedang error. Berkali-kali pihak INPEX menghubungi tapi tidak bisa tersambung. Tapi Alhamdulillah akhirnya komunikasi dapat terjalin.

Interview

Interview merupakan tahap akhir setelah primary selection diumumkan. Bersyukur tiket pesawat PP tempat domisili-Jakarta ditanggung oleh INPEX. Tentunya, interview yang menjadi penentu akhir harus benar-benar dipersiapkan dengan baik. Persiapan yang saya lakukan pada saat itu adalah membuat daftar pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan saat interview.

Latihan interview saya lakukan dengan meminta bantuan teman untuk berpura-pura menjadi interviewer. Saya merekam pertanyaan tersebut dengan HP dan memperdengarkannya sambil menjawab pertanyaan sendiri. Memang terlihat gila, namun tidak ada pilihan. Saya harus maksimal dalam tahap ini. Selain itu, saya juga menyiapkan outline proposal thesis. Sebenarnya ini tidak wajib, namun saya hanya ingin menunjukkan kepada interviewer bahwa saya benar-benar siap untuk studi di Jepang, tidak sekedar ingin. Dan benar saja, pada saat interview di kantor INPEX Corp. Jakarta pada tanggal 8 januari 2014 secara umum pertanyaan yang ditanyakan masuk dalam list pertanyaan tersebut. Alhamdulillah bisa menjalani interview dengan baik dan lancar. Interviewernya 2 orang Indonesia dilakukan dalam bahasa inggris dengan suasana santai, jadi saya tidak tegang.

Pengumuman menjadi successful candidate

Tepat pada hari Jum’at tanggal 24 Januari 2014 pengumuman kelolosan diumumkan melalui email. Kaget? Tentu saja. Membaca email ucapan selamat dari sensei dan juga pengumuman lolos menjadi salah satu nominated candidate begitu mengharukan. Dalam pemberitahuan tersebut, disampaikan bahwa kita diminta mengonfirmasi kita menerima beasiswa ini sebelum tanggal yang telah ditentukan. Ah, tentu beasiswa ini tidak akan saya tolak.

Keluarga Baru di Sapporo

Saya merasa bersyukur karena memiliki teman-teman yang supportif dan baik seperti keluarga. Mereka turut merawat saya ketika saya sakit, membantu saya ketika saya ada kesulitan, dan menjalani hari-hari bersama. Teman-teman di Sapporo benar-benar menjadi penghangat di dinginnya Sapporo.

IMG_2197

Bagi orang tropis seperti saya, tinggal di belahan bumi utara yang hampir setengah tahun diselimuti salju tentu sempat membuat was-was di awal. Sapporo juga kota besar dengan populasi sekitar 2 juta yang paling bersalju di dunia. Selama 2,5 tahun, winter ketiga saya menjadi winter paling dahsyat yang saya rasakan. Di pertengahan winter, sempat turun salju terderas dalam 54 tahun terakhir, yaitu 90 cm selama 2 hari berturut-turut, kemudian terjadi serangan salju 40 cm dalam sehari. Salju memang indah untuk dipandang, tapi bayangkan kalau kita harus tinggal berbulan-bulan di bawah suhu 0 derajad. Terkadang suhu kulkas bahkan lebih hangat dari suhu di luar.

Terlepas dari dinginnya Hokkaido, alam yang indah di setiap musim menghapus segala ketidaknyamanan dari pulau ini. Musim dingin yang cantik dengan serbuk saljunya yang lembut. Musim semi yang dipenuhi bunga-bunga dan Sakura. Musim panas yang hangat dan bunga Matahari yang merekah, hingga musim gugur yang berwarna-warni. Selain itu, saya juga merasa bahwa kehidupan sebagai muslim di Sapporo sangatlah nyaman. Masjid yang mudah dijangkau, sekitar 5 menit dengan berjalan kaki, toko halal yang ada dimana-mana, hingga prayer room yang tersebar di mana-mana. Sayapun mengenal banyak orang Jepang yang fokus terhadap makanan halal di Jepang. Secara umum, saya merasa cukup puas dengan kehidupan saya di Sapporo.

Belajar Budaya Jepang

Jika kita tinggal di jepang, tentu tidak terlepas dengan bahasa dan budaya Jepang. Kebanyakan orang Jepang tidak bisa berkomunikasi secara aktif dalam bahasa Inggris. Untuk bisa memiliki kehidupan di Jepang yang lebih berwarna dan bermakna, saya berusaha untuk memahami bahasa Jepang. Saya memulai belajar bahasa Jepang setelah dinyatakan mendapatkan beasiswa INPEX. Sebelum berangkat ke Jepang, saya belajar selama kurang lebih 4 bulan dan dilanjutkan dengan belajar di Hokkaido University selama 6 bulan. Jadi secara kesuluruhan, saya mempelajari bahasa Jepang di kelas kurang dari 1 tahun. Di tahun pertama, salah satu teman baik saya mengenalkan saya dengan keluarga homestaynya. Kami bersama-sama merasakan bagaimana orang Jepang merayakan tahun baru. Hubungan ini juga tidak berhenti di situ saja, setelah itu, kami masih beberapa kali berjumpa dan mengisi waktu bersama dengan keluarga homestay kami.

farewell2017

Di Sapporo, saya juga mengajar bahasa Indonesia ke orang Jepang, menjadi International Student COOP (Kalau di Indonesia istilahnya Koperasi Mahasiswa) committee yang bertugas untuk menyelenggarakan beberapa acara untuk mahasiswa internasional, dan menjadi staff support desk yang bertugas sebagai semacam konselor bagi mahasiswa asing yang umumnya tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Meski saya harus membagi waktu dan otak untuk mempelajari bahasa Jepang, bahasa Inggris dan bidang ilmu, saya bersyukur karena jika saya tidak datang ke Jepang, mungkin saya hanya bisa menguasai 1 bahasa asing.

Tidak hanya mengeksplor Jepang

Selama di Jepang saya juga merasa bahwa akses untuk mengeksplor dunia jauh lebih mudah dibanding ketika saya di Indonesia. Selama 2,5 tahun, saya telah mengikuti setidaknya 5 forum internasional baik di Jepang maupun di luar negeri dan saya telah melakukan perjalanan ke 9 negara. Beruntung saya hampir selalu mendapat dukungan finansial dari berbagai pihak meski tidak penuh, seperti dari INPEX dan travel grant dari penyelenggara event. Saya telah menghadiri International Student Week in Ilmenau (ISWI) di Jerman, Symposium of Consortium of Southeast Asia Astudies (CSEASIA) di Kyoto, Jepang, European Conference of Tropical Ecology (ECTE) di Gottingen, Jerman, International Student Conference on Environment and Sustainability (ISCES) di Shanghai, Cina dan Annual Meeting of Association for Tropical Biology and Conservation (ATBC) di Montpellier, Perancis. Nampak menyenangkan bukan? Yap, ini memang menyenangkan ketika tercapai karena usaha panjang, uang dan waktu yang terkuras bisa terbayar.

Saya hanya orang biasa dengan aktivitas harian seperti orang pada umumnya. Saya bukan orang yang terlalu giat dalam bekerja. Kegagalan bertubi-tubi yang tidak terlihat kerap kali terjadi. Banyak pula pengalaman-pengalaman kelam, rasa sakit, keputusasaan, kesedihan, penyesalan yang orang lain tidak tahu. Saya juga memiliki masalah dengan kepercayaan diri dan public speaking. Tapi saya tidak takut untuk mencoba, tidak takut untuk gagal, dan tidak berhenti berusaha selama apa yang saya perjuangkan adalah kebaikan. Dan yang selalu saya ingat, kalau hanya mengandalkan otak, saya tidak akan bisa mendapatkan apa-apa karena masih banyak orang di luar sana yang memiliki otak lebih cemerlang. Jadi saya harus berusaha lebih keras untuk sekedar bisa menyetarakan langkah dengan orang-orang cerdas di luar sana. And after all, It’s just a beginning.




===========================================
Mukhlish Jamal Musa Holle adalah Alumni Graduate School of Environmental Science, Hokkaido University, Jepang yang juga peraih INPEX Scholarship. Kini penulis menjadi Dosen di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada.
Posts