Pengalaman Menjadi Guru di Negeri Kangguru (Bagian Pertama)

0
61

Profesi guru terkadang dianggap sebelah mata dikarenakan faktor ekonomi yang diasosiasikan maupun citra yang melekat pada pekerjaan tersebut. Cynthia Hapsari menceritakan perjalanannya dalam memperjuangkan mimpinya sebagai pendidik dan pengalamannya sebagai guru di Melbourne, Australia.

“Memayu Hayuning Sariro. Memayu Hayuning Bangsa. Memayu Hayuning Bawana” – Ki Hajar Dewantara (Apapun yang di perbuat oleh seseorang itu hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya).

Ketika saya memutuskan untuk memilih Master of Teaching (Early Childhood) sebagai jurusan S2 saya, banyak yang bertanya:

“Buat apa sih lo jadi guru? Emang lo bisa hidup dari gaji guru? Jadi guru TK lagi. Kalau lo kembali ke Indonesia, emang lo mau dibayar rendah? Guru TK itu nggak butuh kualifikasi, semua orang kan bisa jadi guru TK! Udahlah kerja kantoran aja, lebih jelas juntrungannya, Cha.”

Hasil karya anak didik saya yang dibuat untuk memperingati minggu NAIDOC (National Aborigines and Islanders Day Observance Committee)
Hasil karya anak didik saya yang dibuat untuk memperingati minggu NAIDOC (National Aborigines and Islanders Day Observance Committee)

Namun, suara-suara negatif itu tidak saya hiraukan dan semua keraguan saya tepis guna memantapkan hati untuk mendaftarkan diri di jurusan ini. Ternyata tanpa saya sadari, pekerjaan ini merupakan keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup saya sejauh ini. Dua tahun berada di jurusan ini merupakan dua tahun yang paling menyenangkan di dalam perjalanan pendidikan saya. Dua tahun terbaik yang telah mempersiapkan saya dalam berkarir sebagai seorang guru pendidikan anak usia dini (PAUD) di kota Melbourne, Australia dan Koordinator Pendidikan di sebuah Wirausaha sosial di Indonesia yang bernama Baraka Nusantara*.

Inspirasi dan pengalaman belajar

Jika kalian bertanya, apa sih yang menjadi inspirasi saya sehingga memilih untuk menekuni profesi ini? Mungkin jawaban yang paling tepat adalah saya terinspirasi oleh kutipan Ki Hajar Dewantara di atas. Kutipan tersebut membuat saya berkali-kali bertanya kepada diri saya, “Apa kontribusimu untuk masyarakat sekitarmu, terutama negaramu?”. Kala itu, saya tahu betul bahwa bekerja di kantor bukan impian saya. Saya mau apa yang saya kerjakan bisa menjadi saluran berkat bagi orang-orang di sekitar saya. Sehingga ketika saya mencari-cari informasi mengenai jurusan Master of Teaching (Early Childhood), hati saya seperti tergerak untuk mencari tahu lebih lanjut. Rasanya seperti sebuah panggilan. Panggilan ini seperti terjawab ketika dekan fakultas pendidikan University of Melbourne hari itu menyambut kami semua di hari pertama kuliah. Masih jelas di ingatan saya, ia berkata, “Menjadi guru itu adalah sebuah panggilan dan tidak semua orang bisa menjadi seorang guru”. Sejak hari itu, saya tahu ini adalah awal dari segalanya.

Saya merasa beruntung mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berdiskusi langsung dengan para pengajar yang merupakan profesional di industri ini. Mereka bukan hanya seorang guru TK semata. Banyak dari mereka ternyata berkontribusi dalam perumusan Australian Early Years Learning Framework yang merupakan acuan kurikulum pendidikan anak usia dini dan beberapa kebijakan pendidikan Australia lainnya. Selain itu, kesempatan magang yang diberikan melalui jurusan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Melalui program magang yang telah saya jalani, saya memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan mengaplikasikan teori dan teknik mengajar yang telah saya pelajari langsung di kelas. Selain itu, saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengobservasi dan menganalisa dinamika anak-anak baik di dalam kelas maupun lingkup sosial, serta bagaimana teknik manajemen kelas yang baik. Kesempatan magang di beberapa institusi pendidikan berbeda inilah yang secara tidak langsung membentuk prinsip dan teknik mengajar saya sebagai seorang guru.

Mempelajari tentang suku lokal Australia dan penggunaan bahan alami di dalam permainan anak pada tahun pertama di University of Melbourne, tahun 2013.
Mempelajari tentang suku lokal Australia dan penggunaan bahan alami di dalam permainan anak pada tahun pertama di University of Melbourne, tahun 2013.

Mengikuti panggilan hati sebagai seorang guru

Di semester akhir masa belajar saya (sekitar tahun 2014), seorang teman sempat bertanya pada saya, “Sebentar lagi, lo akan menjadi guru. Artinya, ilmu lo bisa dong dipake untuk membangun Indonesia. Pendidikan itu sifatnya universal kan, dan ini berarti apa yang lo pelajari bisa juga dong lo gunakan disini. Apakah lo akan melakukan itu, Cha?”

Pertanyaan ini membawa saya kembali ke pernyataan Ki Hajar Dewantara yang sempat membuat saya bertanya-tanya mengenai arah masa depan saya dua tahun sebelumnya. Jujur, saya tidak pernah merasa seoptimis ini dalam menekuni sesuatu. Keputusan saya dalam memenuhi panggilan diri untuk menjadi seorang guru ternyata telah membuka kesempatan saya untuk berkontribusi kepada masyarakat sekitar dan terutama, Indonesia (di artikel berikutnya saya akan bercerita mengenai bagaimana saya bisa berkontribusi melalui Baraka Nusantara dalam mengembangkan pendidikan masyarakat suku Sasak di Desa Sembalun, Lombok Timur).

Setelah saya lulus, boleh dikatakan saya cukup beruntung. Saya langsung mendapatkan pekerjaan pertama saya di bidang ini, atas tawaran salah satu kepala institusi pendidikan tempat saya magang di semester terakhir program master. Saya bekerja sebagai Guru pengganti atau subtitusi di sebuah PAUD di daerah Southbank. Sebagai seorang guru pengganti, saya diharuskan untuk mengajar semua kelompok umur, tanpa terkecuali (0-5 tahun). Saya bekerja di PAUD ini selama setahun dan banyak hal yang saya pelajari. Salah satunya adalah bagaimana menjalin hubungan dengan anak-anak murid saya yang ternyata tidak semudah apa yang tertulis di jurnal-jurnal pendidikan.

Menemani anak-anak didik membereskan buku setelah bermain
Menemani anak-anak didik membereskan buku setelah bermain

Setahun kemudian, saya mendapatkan tawaran kerja di institusi pendidikan lain di daerah Elsternwick, untuk menjadi guru kelas bagi kelompok umur 0-2 tahun. Saya mulai bekerja di PAUD ini semenjak 2015 hingga kini. Posisi ini mengharuskan saya untuk merancang program belajar mingguan kelas, mengobservasi masing-masing anak didik, menganalisa minat, dan mengevaluasi dinamika kelas. Kurang lebih sesuai dengan apa yang telah saya pelajari dulu di program S2.

Berdasarkan pengalaman saya mengajar selama 3 tahun terakhir di Australia, tuntutan terpenting dalam profesi saya adalah untuk menjadi seseorang yang peka terhadap minat belajar anak. Hal ini dikarenakan pendapat dan masukan anak merupakan hal yang paling penting dalam proses perancangan program belajar. Selain itu, saya juga dituntut untuk pro-aktif dalam mengikuti pelatihan pengembangan profesional agar dapat terus memperdalam pengetahuan pedagogi profesional saya. Hal ini menjadi krusial karena bagi Kementerian Pendidikan di Australia, usia dini (0-5 tahun) merupakan usia terpenting dalam perjalanan perkembangan karakter anak. Dibutuhkan guru yang berkualitas untuk memfasilitasi perjalanan perkembangan generasi muda mereka.

Hal-hal ini yang membuat saya sadar bahwa peran saya, sebagai seorang guru PAUD  sangat penting dalam membentuk masa depan anak-anak didik saya. Saya tahu sekecil apapun kontribusi saya dalam perjalanan perkembangan mereka pasti memiliki dampak untuk kehidupan masa depan mereka nantinya. Kesempatan berharga ini mungkin tidak akan pernah saya dapatkan jika hari itu saya mengurungkan niat untuk mendaftarkan diri di program Master of Teaching (Early Childhood).

Jadi, bagi kalian yang merasa terpanggil untuk menjadi guru, jangan ragu untuk mengikuti panggilan hatimu. Kamu tidak akan pernah tahu kesempatan apa yang terbuka bagi kamu nantinya.

SHARE
Previous articleBEASISWA PROFESOR/LABORATORIUM DI BUSAN, KOREA SELATAN
Next articleBEKERJA SAMBIL MENCARI SEKOLAH, PASTI BISA!
Cynthia Annisa Ayu Hapsari is a Master of Teaching (Early Childhood) graduate from the University of Melbourne. She is currently working as a Room Leader (0-2 years old) in an Early Learning Centre in Elsternwick, Melbourne, Victoria. In parallel to her current work, she is actively involved in Baraka Nusantara, a social enterprise that is based in Jakarta and Sembalun, a village in the foot of Mt Rinjani – East Lombok. Baraka Nusantara focuses its project in developing Sembalun’s Arabica coffee farmer community and improving Sembalun’s quality of life through education. Baraka Nusantara is listed as top 60 social enterprises to watch for in Asia 2017 (according to DBS foundation and NUS Enterprise). She can be reached through her email: cynthia.annisa@gmail.com