BEKERJA SAMBIL MENCARI SEKOLAH, PASTI BISA!

All About Education - Andrea

Seperti yang kita tahu, merencanakan studi lanjut S2 membutuhkan tenaga, waktu dan pikiran yang cukup banyak. Persiapan yang matang untuk menyusun personal statement untuk universitas yang diminati dan latihan tes TOEFL atau GRE/GMAT. Di samping itu, kesehatan yang baik juga diperlukan dalam persiapan agar hasilnya maksimal. Hal ini pun memiliki tantangan tersendiri jika disambi dengan pekerjaan full time. Senin sampai Jumat, dari jam 9 hingga jam 5. Belum lagi dengan jadwal lembur dan perjalanan dinas yang kerap akan menyita waktu di luar kerja.

Saya akan berbagi sedikit cerita tentang pengalaman mempersiapkan sekolah sambil bekerja. Setelah saya lulus S1, saya bekerja di lembaga pemerintah selama 2,5 tahun. Salah satu pertimbangan mengapa saya bekerja terlebih dahulu, sambil mencari sekolah, adalah biaya kuliah dan pengalaman kerja. Saya ingin merasakan dunia kerja seperti apa, sehingga dapat membantu pemilihan fokus saya nantinya di S2. Terkait biaya kuliah, sudah pasti saya membutuhkan dukungan beasiswa untuk mewujudkannya. Kebanyakan beasiswa mengharuskan pengalaman kerja minimal dua tahun (pada saat itu). Di samping itu, biaya pendaftaran ke beberapa universitas pun tidaklah murah, sehingga dengan pendapatan selama kerja dapat membantu aplikasi sekolah.

Keinginan untuk sekolah lagi sudah ada sejak lama, semenjak saya kuliah S1. Lingkungan di tempat saya bekerja waktu itu juga sangat mendukung untuk sekolah lanjut. Pertanyaan “Kapan sekolah lagi?” cukup sering terdengar. Hal-hal itu cukup memberi saya motivasi lebih dalam mempersiapkan sekolah. Namun, saya juga belajar banyak bahwa motivasi tanpa perencanaan yang matang juga tidak ada artinya.

Pengalaman ini mungkin bukanlah yang terbaik. Jika saya mengingatnya kembali, ada banyak hal yang menjadi pembelajaran. Jika ditanya “Berapa lama waktu yang tepat untuk menyiapkan sekolah?”, saya mungkin tidak dapat menjawabnya secara pasti. Berdasarkan pengalaman, saya cenderung untuk mencoba semua kesempatan yang ada dan membiarkan Tuhan bekerja dengan hasilnya.

Work_Andrea

 

Pilihan Universitas dan Beasiswa Sasaran

Mau sekolah ke universitas apa, dimana dan belajar apa menjadi salah satu pertanyaan besar. Kesempatan saya bertanya kepada kolega-kolega senior di kantor juga membantu saya menentukan pilihan. Penting juga untuk tahu beasiswa mana yang ingin disasar. Pada saat itu, saya cenderung memprioritaskan beasiswa terlebih dahulu, baru sekolahnya. Harus diperhatikan juga syarat dari beasiswa karena ada yang meminta letter of acceptance dari sekolah yang diminati. Hal-hal seperti ini dapat menjadi pertimbangan awal ketika meng-compile hal-hal yang dibutuhkan dalam aplikasi. Oleh sebab itu, perlu riset yang mendalam tentang pilihan-pilihan yang tersedia agar bisa menyiapkan aplikasi dengan baik.

Waktu itu, saya menggunakan situs http://www.beasiswapascasarjana.com untuk mencari daftar beasiswa. Untuk pilihan universitas, saya mencari dari kumpulan sekolah-sekolah yang menawarkan program Master of Economics dan langsung menuju ke situs sekolah tersebut. Situs Indonesia Mengglobal juga menjadi salah satu acuan saya sebagai referensi.


GRE + TOEFL + Statement Letter

Jurusan yang saya minati, yakni Ilmu Ekonomi, di hampir seluruh sekolah membutuhkan nilai GRE. Pada saat itu, saya menyicil untuk belajar GRE meski tidak begitu rutin. Sulit bagi saya untuk bisa fokus belajar setelah jam kerja, apalagi dengan energi yang terkuras setelah kerja seharian dan beban pikiran yang menumpuk. Kadang hal yang ingin saya lakukan setelah pulang kerja adalah merebahkan diri di kamar dan istirahat. Tapi, saya selalu ingat bahwa memang butuh pengorbanan untuk menggapai mimpi yang besar. Yang saya lakukan adalah meluangkan waktu minimal 1 jam sehari minimal untuk segala tes yang dibutuhkan dengan buku GRE dan TOEFL yang selalu siap di meja.

Sempat ada pikiran untuk ikut les tambahan GRE atau TOEFL. Di satu sisi, les tambahan tersebut dapat memberi semangat lebih dan membuat kita semakin menjadi disiplin. Di sisi lain, uang yang dikeluarkan cukup besar. Waktu itu, komitmen untuk les cukup sulit diambil, melihat jenis pekerjaan saya yang membutuhkan perjalanan dinas ke luar kota. Saya pun memutuskan untuk belajar sendiri, karena saya lihat materinya pun cukup familiar dan yang dibutuhkan adalah latihan soal-soal secara rutin dan disiplin.


Membuat Work plan dan Memperhatikan Seluruh Tenggat Waktu

Memiliki work plan dapat membantu kita dalam pengaturan waktu. Work plan dapat dibuat secara berkala, menyesuaikan beban kerja di setiap bulannya. Buatlah target setiap minggunya, apa yang ingin dicapai. Lebih mudah untuk menentukan target akhir, misalkan pendaftaran terakhir beasiswa X 31 September. Lalu setelah itu bisa ditarik mundur dalam menyusun prioritas apa yang harus dilakukan. Dalam work plan, kita dapat menentukan target-target yang diinginkan, dari aplikasi sekolah hingga beasiswa. Bahkan dengan sudah menentukan pilihan universitas yang akan disasar, kita dapat mengetahui skor GRE akan dikirim ke universitas mana saja.


Surat Rekomendasi

Hal ini juga berlaku dengan pemberi rekomendasi. Dari aplikasi universitas hingga beasiswa, hampir seluruhnya membutuhkan surat rekomendasi. Saya sangat menyarankan untuk mengidentifikasi daftar pemberi rekomendasi untuk setiap kebutuhan. Perlu diingat bahwa butuh sekitar beberapa bulan sebelumnya untuk menghubungi mereka. Dengan bekerja, saya pun dengan nyaman bisa meminta surat rekomendasi ke atasan saya di kantor.  Jika dilihat lagi, banyak hal yang dibutuhkan untuk sebuah aplikasi sekolah dan beasiswa, dan perlu persiapan yang telaten dan matang.


Kegagalan sebagai Pembelajaran

Sebagaimana siapnya kita dengan aplikasi sekolah kita, saya percaya ada anugerah Tuhan yang bermain dalam segala rencana kita. Selama kurang lebih dua tahun, saya cukup banyak “bergempur” dalam mendaftar beasiswa dan mencoba beberapa universitas. Beberapa surat penolakan pun saya dapatkan dari beberapa pemberi beasiswa. Cukup sedih rasanya pertama kali menerimanya. Saya merasa cukup yakin dengan persiapan saya yang matang. Namun, saya pun belajar untuk menerima kegagalan. Setelah saya lihat lagi, kegagalan-kegagalan itu yang membuat saya berada di posisi ini, a lifetime learner. Kita pun juga harus siap mental jika rencana kita tidak sesuai dengan kenyataan.

 

Bekerja sambil mencari sekolah tentunya memerlukan banyak pengorbanan. Waktu untuk bersenang-senang setelah kerja akan berkurang karena harus latihan GRE di malam hari. Namun, di sisi lain, dengan bekerja, kita juga mendapat keuntungan pengalaman kerja yang dapat menjadi nilai lebih dalam aplikasi sekolah kita. Selain itu, apa yang saya kerjakan selama 2.5 tahun sebelum sekolah master menjadi bahan pendukung dari semua personal statement saya. Saya merasa cukup beruntung karena pada saat itu saya bekerja di bidang yang sama dengan jurusan yang akan saya ambil. Bekerja membuat saya yakin dengan apa yang akan saya ambil. Bahkan ketika sekolah master, saya merasa ilmu-ilmu yang saya dapat lebih bisa saya bayangkan di dunia riil.

Dari refleksi ini, saya merasa menyiapkan sekolah sembari bekerja full time, sangat mungkin untuk dilakukan. Dengan perencanaan yang matang, disiplin diri, dan semangat pantang menyerah, kendala yang ada dapat diselesaikan. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi kamu yang ingin sekolah lagi, namun jadwal kerjaan membuatmu mengesampingkan keinginan itu…

Andrea_BU

 

Foto oleh penulis




===========================================
Andrea Adhi currently works as a research associate at J-PAL Southeast Asia. Prior to joining J-PAL, she worked at the Republic of Indonesia’s National Team for Acceleration of Poverty Reduction (TNP2K). She was a Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Professional Fellow in 2014. Andrea holds a bachelor’s degree from Universitas Gadjah Mada in 2012 and a master’s degree from Boston University in 2016, both in economics major. In her spare time, Andrea enjoys watching art and music performance, playing piano and ukulele, or wandering around with her adventurous mind.
Posts