Kerja Paruh Waktu Selama Studi di Luar Negeri

1
443

Bukan merupakan hal yang sulit lagi untuk berkuliah di luar negeri. Apalagi saat ini tersedia banyak beasiswa, baik dari pemerintah Indonesia, lembaga internasional, maupun pemerintah negara lain. Peluang ini menjadi jembatan emas bagi anak negeri untuk mewujudkan mimpinya dalam menimba ilmu di luar negeri.  Meskipun demikian,  tidak semua lembaga donor memberikan beasiswa penuh. Ada yang hanya membiayai biaya kuliah (tuition fee) tanpa biaya hidup. Ada yang  menjamin tuition fee dan akomodasi, namun ada pula yang membiayai semua kebutuhan penerimanya.

Dua tahun lalu, saya mendapatkan beasiswa dari salah satu kampus terbaik di Thailand, yakni Thammasat University. Beasiswa yang saya terima terbatas, hanya menjamin biaya kuliah dan uang saku (stipend) yang jumlahnya tidak seberapa. Awalnya saya ragu mengambilnya, akan tetapi karena terdorong oleh keinginan untuk mewujudkan mimpi bersekolah ke luar negeri, akhirnya saya nekat untuk mengambil kesempatan itu. Setelah berkonsultasi dengan banyak pihak, mereka menyarankan saya untuk sebisa mungkin bekerja paruh waktu (part-time job) selama disana. Berikut saya bagikan sebagian pengalaman saya selama bekerja paruh waktu di Thailand.  Semoga pengalaman ini berguna bagi teman-teman yang hendak melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Negeri Gajah Putih.

1. Memperluas pergaulan dan jaringan

Sejauh yang saya rasakan, jaringan merupakan salah satu faktor maha penting yang dapat membantu kita mencari pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita. Koneksi dengan orang-orang yang telah memiliki banyak pengalaman akan memberikan solusi saat berjuang dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Berdasarkan pengalaman saya, setibanya di Bangkok, saya langsung menghubungi KBRI di Bangkok dengan mengirimkan email kepada Atase Pendidikan terkait permasalahan saya. Bapak Atase Pendidikan saat itu merespon dengan baik dan berjanji akan memberikan solusi.

Selain dengan kedutaan atau konjen terdekat dengan tempat tinggal kita, akan lebih baik jika koneksi diperluas di tempat lain, misal dengan dosen-dosen di kampus, pekerja/ pengusaha asal Indonesia yang ada di negara tersebut dan orang lain dari berbagai kalangan. Bergabung dalam beragam komunitas, misalnya Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) juga sangat penting untuk memperluas jaringan kita.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bersama Duta Besar RI untuk Kerajaan Thailand

Saya sendiri, akhirnya mendapatkan kerja paruh waktu dengan menjadi guru mengaji bagi seorang anak diplomat yang bekerja di KBRI Bangkok. Saya mengajar mengaji dua kali dalam satu minggu di saat tidak ada kuliah. Anak yang saya ajar berumur 7 tahun yang sedang ”aktif-aktifnya”. Selama belajar dengan saya, tak jarang anak yang duduk di kelas 2 SD tersebut banyak menanyakan pertanyaan kritis. Pertanyaan itu tidak hanya masalah bacaan Al-Quran, tetapi juga mengenai isu-isu lainnya, seperti mengapa ada berbagai macam agama di dunia ini, mengapa orang-orang Thailand banyak yang beragama Buddha, mengapa orang yang beragama Islam harus shalat lima kali dalam satu hari, dan seabrek pertanyaan kritis lainnya yang tak jarang membuat saya pusing.  Oleh karenanya, sebelum jam mengajar saya banyak membaca materi dan kisah-kisah Nabi dan sahabat Nabi untuk dapat berdiskusi dengannya. Pengalaman ini menjadi salah satu pelajaran yang berharga untuk saya. Selain mendapatkan upah yang layak dari hasil mengajar mengaji, ternyata saya juga belajar banyak dari murid saya.

2. Kuasai bahasa setempat

Dalam kasus saya, karena negara yang saya tinggali adalah non-English speaking country, jadi mau tidak mau harus belajar bahasa setempat untuk dapat survive. Bagi saya, yang terpenting adalah tahu bagaimana cara memesan makan dan menanyakan jalan. Rupanya, selain untuk keperluan bertahan hidup, dengan menguasai bahasa setempat juga akan memperbesar peluang kita untuk mendapatkan kerja paruh waktu. Di Bangkok sendiri, tidak banyak orang yang fasih berbahasa Inggris, sehingga keberadaan orang asing dengan kemampuan berbahasa Thai dan Inggris akan banyak dicari, misal untuk diminta mengajar di sekolah internasional maupun menjadi interpreter dalam berbagai forum.

Permintaan pengajar bahasa Indonesia di Thailand cukup tinggi karena masyarakatnya antusias untuk belajar bahasa Indonesia. Tampaknya negeri yang tak pernah dijajah oleh bangsa Barat tersebut sadar akan pentingnya menguasai salah satu bahasa negara ASEAN. Mereka tidak mau kalah dalam menghadapi kompetisi regional sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sehingga banyak sekolah/ universitas yang menawarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Di universitas saya, ada mata kuliah Bahasa Indonesia di Jurusan Southeast Asia Studies untuk mahasiswa S1 dan ASEAN Studies untuk mahasiswa tingkat master. Tak jarang saya dan beberapa teman dari Indonesia diminta untuk menjadi tutor, teaching assistant, maupun penguji mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini.

Kelas tutorial bahasa Indo
Kelas tutorial bahasa Indonesia

Hal ini merupakan pengalaman yang  sangat berharga bagi saya. Selain berguna dalam menjalin jaringan pertemanan dengan banyak mahasiswa,  honor yang cukup layak kami dapatkan dari dosen. Hal menarik lainnya yang saya pelajari dari para mahasiswa saya adalah  komentar mereka mengenai budaya Indonesia, tempat-tempat wisata di Indonesia, bahkan film dan lagu-lagu Indonesia. Dengan mendengarkan mereka, saya bisa lebih memahami negeri saya sendiri dari perspektif orang asing.

3. Akan lebih baik jika kamu punya kemampuan yang spesifik dan unik

Memiliki kemampuan lain diluar bidang akademis ternyata juga memberi manfaat dalam mendapatkan kerja paruh waktu. Kemampuan menari, menyanyi, bermain alat musik adalah kelebihan yang dapat mendatangkan rejeki tersendiri ketika sekolah di luar negeri. Banyak rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Thailand yang memiliki skill seperti menari tarian daerah ataupun bermain alat musik tradisional, seperti Angklung. Orang-orang dengan kemampuan tersebut kerapkali diminta tampil, baik pada acara KBRI, acara kampus maupun acara yang diselenggarakan oleh instansi lain.  Penampilan mereka selalu diganjar dengan fee dari panitia acara. Meskipun nominalnya tidak seberapa besar, namun rasa bangga dan bahagia karena berhasil ‘unjuk gigi’ di event internasional ini terkadang mengalahkan keinginan untuk mendapatkan bayaran. Hehehe.

Pentas seni
Menari pada Acara Malam Internasional di Thammasat University

Jika ada diantara teman-teman yang jago memasak, skill itu juga pasti akan berguna kelak. Tak jarang kampus, KBRI atau instansi lainnya menyelenggarakan banyak event internasional yang mana acara tersebut memberikan kesempatan kita untuk memperkenalkan makanan atau masakan khas negara kita. Acara seperti ini juga dapat menjadi area untuk mendulang rejeki.  Di Thammasat sendiri, dalam satu tahun minimal ada satu event internasional yang memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa asing untuk menampilkan budaya negaranya dan memperkenalkan makanan atau masakan khas negara asal mereka.

4. Fokus pada kuliah dan jadi anak yang menonjol  

Bagi teman-teman yang khawatir  mendapatkan nilai yang jauh dari kata memuaskan karena terlalu sibuk bekerja paruh waktu di luar kampus, maka menjadi asisten pengajar (teaching assistant) adalah pilihan paling tepat. Selain mendapatkan tambahan uang saku, profesi ini juga memungkinkan kita tetap bisa fokus pada kuliah. Namun untuk mendapatkan kesempatan tersebut, kita harus lebih menonjol secara akademik dibanding teman-teman lain dalam satu program. Biasanya karena melihat prestasi ini, dosen akan meminta kita untuk membantu mereka dalam mengajar atau melakukan penelitian. Pekerjaan ini menjamin kita tidak akan ketinggalan materi kuliah. Hal lain yang mungkin akan kita dapatkan selama bekerja sebagai TA adalah berbagai kesempatan mengembangkan keilmuan, misalnya mengikuti seminar akademik di luar negeri atau koneksi luas dengan para akademisi terkemuka dari universitas lain.

Dalam kasus saya, tak jarang teman-teman yang menonjol di kelas diminta menjadi dosen tamu untuk mahasiswa-mahasiswa S1, membagikan pengalaman dan menyampaikan materi yang sesuai dengan keahlian dan minat risetnya masing-masing. Saya sendiri pernah diminta beberapa kali untuk membantu dosen mengoreksi tugas-tugas dan ujian. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri, karena selain menjadi lebih dekat dengan dosen dan profesor, kita juga ”dipaksa” belajar lebih banyak untuk menjalankan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya.

5. Rajin mencari informasi mengenai peluang lain dalam mencari tambahan uang saku

Ketika kita sedang berkuliah di luar negeri, sesungguhnya ada banyak cara kreatif dalam mencari tambahan uang saku untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Tidak hanya dengan bekerja paruh waktu, tetapi juga dengan kegiatan lain yang dapat mendatangkan uang. Tidak ada salahnya kita juga rajin-rajin mencari informasi mengenai hibah penelitian atau kegiatan semacamnya di kampus. Dengan mengikuti penelitian, setidaknya kita akan mendapat dua hal yang berharga.

Pertama, memperoleh pengalaman dan kedalaman ilmu yang kita pelajari selama berkuliah di luar negeri. Kedua, tambahan uang saku untuk menunjang studi kita atau biaya hidup kita. Bagi mahasiswa master, kesempatan mendapatkan research grant sesungguhnya sangat banyak, asal kita rajin-rajin mencari informasi. Saya sendiri pernah satu kali mendapatkan research grant dengan nominal yang hampir senilai dengan 10 bulan beasiswa saya. Prosedurnya waktu itu sederhana, hanya membentuk kelompok, mencari dosen pembimbing dan membuat proposal penelitian. Jika dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk penelitian tidak sampai setengah dari uang yang diberikan oleh pemberi grant.

Piknik
Piknik bersama dengan teman-teman Thai

Semoga pengalaman saya yang tertuang diatas dapat menjadi tambahan informasi dan pertimbangan bagi teman-teman yang memiliki keinginan untuk belajar ke luar negeri, namun dengan beasiswa yang terbatas. Yang jelas, uang bisa dicari  asalkan ada ikhtiar dalam diri, akan tetapi kesempatan untuk bersekolah di luar negeri tidak selalu datang dua kali. Jadi, jangan ragu untuk mengambil kesempatan itu meski hanya dengan jaminan beasiswa yang terbatas.

 

  • Imam Sulaiman

    Halo mba..
    Disana apakah ada kelas karyawan seperti yang ada di indonesia?