Jangan Hiraukan Kata Sukses!

0
95
Rama Adityadarma, Alumni University of Melbourne

Mempunyai pilihan karir yang tidak sesuai dengan stigma kesuksesan yang diadopsi khalayak ramai merupakan keluhan yang seringkali diucapkan oleh para millenials. Rama Adityadarma mengulik kata sukses dan pengalamannya dalam mengejar sukses dalam karir yang telah ia pilih, sebuah karir yang dipandang sebelah mata oleh lingkungannya.

Definisi sukses ketika saya tumbuh besar

Sukses. Kata itu selalu menjadi fondasi, penggerak dan tujuan akhir dari setiap aksi dan keputusan yang kita ambil. Tak terkecuali ketika kita berbicara mengenai pendidikan kita sendiri. Sukses, selalu menjadi kata kunci di kepala kita, ketika kita akan menentukan sekolah mana yang akan kita pilih, jurusan apa hingga nanti pada akhirnya karir apa yang akan kita tekuni.

Tekanan sebegitu beratnya yang diberikan oleh lingkungan disekitar kita, tak terkecuali tekanan dari keluarga, seringkali membuat kita enggan memilih sesuatu yang mungkin di mata kita menarik pada awal mulanya. Kita cenderung takut untuk mengambil risiko, dan ‘main aman’. Mengikuti apapun itu yang dipandang lingkungan kita jalan terbaik menuju kesuksesan.

Pada akhirnya, kita dihadapkan pada empat pilihan; dokter, hukum, teknik atau pegawai negeri. Bukannya tidak boleh atau tidak mampu, namun memang lingkungan sudah sedemikian rupa mendesain perspektif bahwa tidak semua jenjang karir bisa ditekuni. Bahwa sukses bergantung pada mata pencaharian yang diterima. Bahwa mata pencaharian yang diterima hanya akan datang dari pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Masih lekat di memori saya, ketika saya berumur delapan tahun, saya bergabung dengan sebuah sekolah sepakbola di Yogyakarta. Keputusan yang kala itu saya ambil karena inspirasi yang diberikan oleh kapten Tsubasa yang setiap sorenya muncul di layar kaca rumah saya.

Saya ingat betul ketika itu ayah saya mencetuskan kalimat “Pemain bola di Indonesia nggak akan bisa sukses, buat apa?”

Momen itulah, dimana mimpi pertama saya terhenti. Pupus menjadi ara.

Bukan salah ayah saya, bukan salah saya yang menyerah, namun memang keadaannya seperti itu. Lingkungan kala itu tidak mendukung untuk seorang pemain bola di Indonesia menggapai sukses. Salah satu cara yang terfikir adalah untuk pindah ke negara lain dan bergabung dengan tim muda mereka. Untuk lari ke fasilitas yang lebih mumpuni dan berharap bisa terus berlatih untuk menembus tim profesional tim besar Eropa. Tetapi, keputusan itu tentu terlalu mengerikan untuk sebuah keluarga kecil, demi mendorong mimpi seorang anak berumur delapan tahun.

Dukungan baik dari keluarga maupun lingkungan untuk mengejar mimpi sebagai pemain bola kala itu terlalu tipis. Sekali lagi bukan salah siapa siapa, namun prasangka dan asumsi bahwa bermain bola tidak akan memberi sukses (baca: uang) terlalu kejam dan nyata. Pada akhirnya, hingga sekarang pun, sepakbola menjadi suatu mimpi yang mustahil bagi banyak anak di Indonesia.

Bukan karena tidak mungkin juga. Sekali lagi, lingkungan yang tidak memperbolehkannya.Namun sebenarnya kalau dikejar, sebuah mimpi tidaklah mustahil untuk digapai.

Bersama teman-teman sekelas ketika berkuliah di Melbourne, Australia
Bersama teman-teman sekelas ketika berkuliah di Melbourne, Australia

Perjalanan mencari arti kata sukses

Saya juga ingat betul wejangan ayah saya ketika saya akan berangkat ke Australia pertama kalinya pada usia 17 tahun untuk mengambil pendidikan sarjana di University of Melbourne.

“Kamu sudah dewasa, sudah saatnya kamu memutuskan untuk diri kamu sendiri, lakukanlah apa yang kamu sukai.”

Di titik itulah, saya merasa terbebas sebagai manusia. Dari titik itu, saya mulai mencari minat dan kegemaran saya, hingga saya bertemu dengan dunia media dan komunikasi, pada tahun pertama studi saya di Australia.

Dari situ, setiap keputusan dan studi saya, saya dedikasikan kepada mimpi itu. Untuk menjadi bagian dalam industri media di dunia.

Mulai dari mata kuliah yang saya ambil, organisasi yang saya tekuni, hingga buku yang saya baca, semua tertuju pada satu tema besar. Mengenal media massa, apapun bentuknya dan di manapun tempatnya.

Media dan Komunikasi, atau mungkin lebih lekat di telinga anda Komunikasi mungkin bukanlah jurusan favorit dan utama. Terkenal mungkin, namun rasanya asumsi yang diberikan orang-orang adalah, jurusan ini dipilih karena mudah. Tidak banyak ‘orang sukses’ yang datang dari jurusan ini. Tentu hal itu juga membuat saya khawatir. Dan itu sangat wajar.

Namun saya sadar, ketika saya melakukan sesuatu yang sungguh saya minati semuanya akan nampak lebih mudah. Belajar serasa membaca buku cerita, bekerja serasa bermain. Ketulusan nampaknya bisa meningkatkan stamina kita dalam menjalani sesuatu yang nampak rumit.

Kesuksesan pun, mendadak tidak menjadi kekhawatiran, karena tiba-tiba banyak kesempatan yang datang. Mulai dari kesempatan untuk menjadi pendiri majalah bertajuk Perspektif ketika menjadi pengurus di PPIA, kesempatan magang di salah satu media terbesar di Australia yaitu Australian Broadcasting Corporation (ABC), kesempatan untuk membuat film bersama salah satu rumah produksi terbesar di Indonesia, hingga menjadi produser di salah satu televisi berita di Indonesia.

Tentu semangat untuk selalu belajar juga tidak bisa dilupakan. Setiap keputusan dan pengalaman harus selalu di refleksikan dan direnungkan, seberapapun kecilnya. Karena pada akhirnya, setiap pengalaman kecil dapat menjadi kamus untuk referensi di masa mendatang.

Pengalaman organisasi saya ketika bergabung bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) misalnya. Tidak hanya belajar bekerja bersama orang asing. Dari PPIA, saya juga belajar untuk lebih mengerti watak dan cara pikir berbagai orang yang berbeda, hingga akhirnya saya bisa beradaptasi untuk bekerja dan berorganisasi bersama siapapun di dunia professional.

Organisasi yang telah mendidik saya untuk mudah beradaptasi dan bekerja sama dengan orang dari berbagai latar belakang
PPIA, Organisasi yang telah mendidik saya untuk mudah beradaptasi dan bekerja sama dengan orang dari berbagai latar belakang

Selain itu, cara berpikir yang diajarkan University of Melbourne juga berperan penting. Tidak hanya dalam mengajari saya ilmu yang sesuai dengan jurusan dan profesi yang saya inginkan, namun juga untuk membuka pola pikir secara umum. Kultur pendidikan yang berdasarkan riset dan mendasarkan setiap argumen dari berbagai sisi berbeda dengan data yang relevan, membuat saya cenderung untuk mencoba berpikir lebih luas dan dari sisi yang berbeda-beda. Hal itu tentu membantu saya untuk mengambil keputusan, maupun menghadapi tantangan-tantangan yang menanti saya di dunia kerja.

Terakhir, kerja keras. Tidak selamanya konsep dan cara pikir yang sudah kamu pelajari bisa langsung kamu aplikasikan. Tidak melulu kamu bisa langsung menginjak pedal gas dan mencoba mengejar mimpimu. Terkadang kamu harus berjalan pelan sembari melakukan sesuatu untuk bertahan.

Di Melbourne, dana yang terbatas memaksa saya untuk melakukan pekerjaan sampingan di gerai cepat saji. Membuat burger, membersihkan peralatan, mengangkat kiriman dan mengurusi sampah menjadi tuntutan yang harus saya penuhi untuk bertahan hidup. Kerja keras yang tentu memaksa fisik untuk bekerja lebih keras.

Begitu pula ketika saya bekerja sebagai Asisten Produksi di salah satu saluran televisi berita di Indonesia selepas studi saya selesai. Merangkak dari posisi dari bawah, tentu ilmu, konsep dan ideologi yang saya miliki tidak semuanya dapat tersalurkan begitu saja. Seringkali pekerjaan saya bahkan lebih menggunakan fisik dan bukan psikis.

Namn setiap aksi selalu diikuti dengan reaksi yang setimpal. Meski tapak menghambat, namun rintangan dan kerja keras itu justru menjadi salah satu bentuk pembelajaran terpenting yang pernah saya dapatkan. Dari menjadi pramusaji, saya belajar membagi waktu dan melayani. Dengan menjadi Asisten Produksi, saya juga justru memiliki waktu untuk mempelajari industri media dan berita di Indonesia, serta cara pandang yang berbeda dari berbagai narasumber dan tokoh penting. Dari situ, tentunya saya kini bisa membuat konten berita yang lebih informatif dan relevan.

Namun tentu saja, saya tidak mau puas begitu saja. Saya belum sukses. Masih banyak juga hal yang belum saya ketahui. Namun menekuni sesuatu yang saya minati dan cintai, membantu saya untuk terus belajar tanpa mengeluh. Peluh dan keringat tentu akan terus menetes, namanya bukan bekerja kalau tidak lelah. Usaha dan kerja keras terasa terbayar dengan rasa puas yang anda rasakan ketika anda melakukan sesuatu yang sudah menjadi mimpi anda.

Terus menggali potensi dan temukan bidangmu!
Tidak takut untuk mencoba hal baru untuk menggali potensi maksimal menjadi senjata dalam mencari arti kata sukses

Walaupun terdengar klise, mantranya adalah “jangan menyerah dan kejar mimpimu!”

Jadi apa sebenarnya yang ingin saya sampaikan?

Jangan takut dengan kata sukses. Hiraukan saja kata sukses. Kejarlah apa yang anda ingin kejar, apapun bentuknya, seunik apapun wujudnya. Karena tidak ada satupun orang, jurusan ataupun pekerjaan yang dapat memastikan kesuksesan.

Saya mungkin masih terlalu hijau untuk menjadi contoh sukses bagi anda. Siapalah saya ini. Namun lihatlah contoh-contoh manusia sukses yang sudah memulai perjalanan sebelum saya. Mereka-mereka yang tidak takut dan tidak ragu untuk mengambil keputusan dan mengejar mimpi mereka. Mereka bukan nekad, tapi berani mengambil risiko. Dari Mark Zuckerberg hingga The Beatles. Semuanya berani melawan arus lingkungan dan tak mengacuhkan seruan yang ingin mereka gagal. Seruan yang memaksa mereka belajar biologi atau fisika bukan karena cinta tapi karena nasib.

Sudah terlalu sering kita mendengar cerita orang seperti mereka yang bertemu dengan mimpi, yang hengkang karena ingin melakukan apa yang mereka minati dan cintai. Sudah terlalu banyak contoh dari mereka, yang akan sia-sia bila kita hiraukan.

Mungkin klise, tapi nyatanya memang kata-kata mutiara ‘kejarlah mimpimu sampai dapat’ memang harus kita simpan dibelakang kepala kita. Bukan sebagai motivasi, namun sebagai pengingat akan semua keputusan yang Anda ambil. Sebagai dasar setiap langkah dan keputusan yang akan Anda buat, untuk mengarahkannya ke mimpi apapun yang Anda punya.

Sekali lagi, bukan nekad, tapi berani mengambil risiko.

Ambillah risiko itu. kenalilah dirimu sendiri dan ketahuilah apa yang kamu benar-benar minati. Niscaya, risiko itu seharusnya bisa kamu taklukkan.

Karena hidup tanpa risiko itu hambar.

SHARE
Previous articleApa saja yang harus dipersiapkan sebelum mengikuti Summer Internship?
Next articleAmerican Born Indonesian Story in the East Coast
Rama is a news producer at CNN Indonesia, where he works for a social media based program called CNN Indonesia Connected. He holds a Bachelor of Arts degree with a major in Media and Communications from the University of Melbourne, and is looking forward to pursue further education in digital media. You can reach him at adityadarmarama@gmail.com